
Makan siang tiba, Izraa datang ke restoran VIP, ramai, ternyata para Direksi makan siang di sana, Izraa tak tahu apakah pemandangan makan siang selalu seperti ini?
“Terlalu ramai, bisakah kau menyiapkan makan siang untuk Syila, tanya padanya ingin makan apa, sediakan juga untukku, aku akan makan bertiga dengannya dan Andi, kau juga harus tanyakan Andi mau makan apa, aku harus menemui ibuku dulu.” Izraa rupanya meminta Jane menemaninya ke restoran VIP, dia hanya ingin kembali menegur ibunya, lelah sekali naik turun di antara dua perempuan ini. Itu yang Izraa pikirkan dalam hati.
“Apa kau yang bermaksud mempertemukan Syila dengan para Direksi?” Izraa bertanya.
“Apa maksudmu?” Maminya ternyata sedang makan siang dengan papi, mereka berdua makan di ruangan kerja, mereka memang tidak pernah makan di restoran VIP karena terlalu ramai.
“Kau mengganggu makan siang kami.” Papi menegur Izraa yang tak sopan.
“Apa yang membuatmu menuduhku seperti itu?” Mami kali ini yang bertanya.
“Karena aku tahu, para Direktur itu sebenarnya tidak suka makan siang di restoran, mereka lebih suka makan siang di ruangan karena kau memberikan beban pekerjaan yang berat pada mereka hingga sulit menemukan waktu untuk sekedar makan siang.” Izraa jadi lebih tenang lagi dan dia berbicara sambil berdiri dengan jauh lebih santai.
“Cepat atau lambat Syila harus diperkenalkan pada kolega kita, kalian kan akan memimpin perusahaan ini, jadi wajar.” Papi menjawab.
“Belum saatnya, kalian ini sangat tidak sabaran! Dia sedang tak stabil karena keadaannya, jadi ....”
“Apa kau malu karena memiliki calon istri yang tidak sempurna?” Mami memberikan pertanyaan yang membuat Izraa terdiam.
“Aku tidak pernah malu pada keadaannya.”
“Kalau begitu apa masalahnya? Dia harusnya boleh diperkenalkan oleh mereka semua kan?” Mami mengakui rencananya secara tak langsung ternyata acara makan siang ini ulahnya lagi. Baru hari pertama, tapi sudah dua kali wanita ini menabuhkan genderang perang.
“Aku hanya takut dia tak siap dan merasa tertekan.”
“Justru ini akan jadi terapi yang baik untuk dia.” Mami berdiri dan tersenyum, Izraa tersadar sesuatu.
“Ah! Kau keterlaluan!” Izraa berlari ke lift VIP dan dia masuk ke ruangan Syila, kosong. Andi dan Syila tak ada, Jane juga tak ada, benar saja yang Izraa khawatirkan, tak seharusnya dia percaya Jane!
Izraa akhirnya berlari ke restoran, karena yakin mereka semua ada di sana.
Begitu sampai di restoran, Izraa mencari keberadaan Syila, ruangan terasa ramai, di mana Syila dan Andi, Izraa terus mencari mereka, sampai dia menemukan Jane yang sedang makan siang, asyik mengobrol dengan Direktur Keuangan.
“Jane, di mana Syila?”
__ADS_1
“Oh Pak, Ibu Syila sedang di toilet, diantar Pak Andi.” Jane mengatakannya dengan tenang, membuat Izraa ingin melemparnya dari ruangan ini, karena dia tak menjalankan perintah Izraa.
Tapi itu tak penting sekarang, karena dia harus menemui Syila terlebih dahulu.
Dia berlari menuju kamar mandi, melihat Andi yang sedang berdiri dengan khawatir di pintu masuk kamar mandi.
“Mana Syila!” Izraa bertanya, padahal dia tahu Syila pasti di dalam.
“Di dalam.”
“Apa di kena serangan panik lagi?” Izraa bertanya. Andi mengangguk.
“Minta siapapun untuk tidak masuk toilet ini, di dalam ada orang lain selain Syila?”
“Sepertinya tak ada Za.”
“Tahan siapapun yang ingin masuk kamar mandi ini.”
“Iya.” Andi setuju karena takut Syila terguncang.
Paling belakang, bilik paling belakang yang Syila tempati.
“Syil, ini Izraa, boleh keluar? Kita ke lantaimu, jangan di sini.” Izraa membujuk Syila dengan lembut.
“Tidak, aku baik-baik saja, aku hanya perlu waktu.”
“Aku tahu kau baik-baik saja, tapi aku ingin melihatmu, kita di lantaimu saja ya.” Izraa membujuk lagi.
“Tidak ... aku ....”
“Aku sudah bicara baik-baik ya, Syil. Jangan buat aku mendobrak pintu ini dan membuat keributan di hari pertama kita bekerja.” Izraa tidak bisa menahan kesabaran lagi, dia ingin melihat Syila.
Pintu bilik yang ditempati Syila dibuka, lalu dia keluar, karena Syila tahu, kalau Izraa takkan pernah tidak melaksanakan apa yang dia katakan, maka Syila tak ingin membuat keributan.
“Kau menangis?” Izraa bertanya, Syila menunduk.
__ADS_1
“Tidak, aku tidak menangis.” Syila berbohong, matanya bengkak karena bekas menangis.
“Kita ke lantaimu.” Izraa merangkulnya, Syila tak mau menepis, dia memang butuh tubuh Izraa untuk menutupi tangan kanannya yang terasa memalukan, yang membuat Syila terpaksa keluar dari restoran itu dan pergi kamar mandi.
Syila ingin tangan itu ditutupi oleh tubuh Izraa, karena saat Izraa merangkulnya, tangan kanan Syila jadi tertutupi oleh tubuh Izraa.
Izraa terus merangkul Syila sampai mereka keluar dari kamar mandi.
Andi terlihat khawatir.
“Syil ....”
“Panggil Jane, tinggalkan apapun yang sedang dia makan sekarang, bilang padanya, tunggu di ruanganku. Aku antar Syila ke ruangannya dulu.” Izraa memerintah pada Andi, Andi hanya mengangguk dan pergi ke arah restoran.
Saat Izraa merangkul Syila, semua pegawai wanita yang mereka temui terlihat memandang Syila dengan iri, karena putra mahkota pada kerajaan perusahaan ini telah menetapkan calon putrinya, ini adalah langkah terbuka memperkenalkan Syila sebagai calon istri tanpa harus berkata dia adalah calon istrinya.
Tentu saja, gosip tentang siapa sebenarnya Syila langsung tersebar, dia bukan gadis biasa, dia adalah calon istri putra mahkota dari pemilik perusahaan ini, maka kelak ada yang berusaha baik, ada pula wanita-wanita yang merasa Syila tak pantas dan bermaksud berlomba-lomba merebut hati Izraa, sang pangeran yang sebelumnya tak pernah terlihat batang hidungnya.
Dalam pikiran mereka kalau Syila saja bisa jadi calon istri dengan wajah pas-pasan dan penampilan sederhana, apalagi meereka yang sudah merasa sangat cantik dan berpakaian bermerk. Bagi mereka merebut hati lelaki adalah dengan cara memuaskan matanya, padahal tidak semua begitu kan, mereka tak punya apa yang Syila punya. Karena jenis kelamin ketiga, hanya milik Syila.
Jane terlihat berlarian menuju lift biasa, karena Syila dan Izraa sudah naik, Andi berjalan santai ke arah lift menuju lift VIP menunggu lift itu turun lagi setelah naik mengantar Izraa dan Syila. Tidak seperti Jane yang panik karena Andi berkata dengan keras barusan, Jane belum selesai makan dan malu karena harus ditegur Andi.
Sementara mereka masih menghadapi serangan panik Syila, seorang pegawai lelaki yang sejak hari pertama Syila datang ke tempat ini sudah mengawasinya dari jauh. Dan sekarang waktunya laporan pada majikannya, karena lelaki itu bisa dibilang anjing penjaga yang mahir.
“Jadi, bagaimana hari ini?” Wanita itu bertanya.
Lelaki tegap yang setia bak anjing penjaga itu lalu melapor, di hadapan mami dan papi Izraa.
“Semua orang sudah melihat Izraa merangkul Syila, rumor tentang mereka adalah pasangan, sudah kupastikan tersebar, Syila kena serangan panik dan berlari ke kamar mandi, maka rumor tentang kelemahannya juga akan aku pastikan tersebar. Ada satu pelayan restoran yang melihat Syila makan dengan tangan kiri, aku akan mulai darinya, aku akan beritahu dia bahwa Syila cacat, maka dia akan menjadi penyebar berita itu, dalam minggu ini, semua pegawai akan tahu kalau Syila cacat.”
“Baiklah, tetap pada rencana itu, pastikan kalau satu minggu ini, calon menantuku jadi headline, dia harus selalu dibicarakan, biarkan calon menantuku tahu dirinya digosipkan, aku sangat senang dengan pertarungan ini, karena untuk yang satu ini, aku menang.” Mami senyum menyeringai.
“Jangan terlalu keras, ingat, kau tak boleh mendorong sampai ke ujung, dia akan memberontak.” Papi mengingatkan.
“Kau tahu kan, aku selalu menang dalam setiap pertarungan mental.” Mami terdengar sangat sombong, tapi papi tak dapat memungkiri hal itu.
__ADS_1