Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 118 : Wanita itu 4


__ADS_3

“Wah Syil, jangan terlalu kejamlah pada kami, bukankah kau tahu, bahwa bisa jadi memang ada orang jahat yang menyusup, kami bukan tipikal orang yang suka menjebak, IYA KAN DENIA?” Ibu Hansyar menyindir.


Denia menatap Syila dan berkata … “Kau tahu kan kalau kita tidak akan pernah melibatkan Polisi jika ada masalah internal perusahaan?”


“Sayangnya, aku bukan orang internal bukan? Hingga pemahaman seperti ini tak bisa dipaksakan padaku.”


“Jadi, kau akan melakukan langkah sejauh itu?”


“Seperti perusahaan ini melakukan langkah sejauh ini, aku dipermalukan selama berhari-hari kelak, dengan video permintaan maaf dan denda yang cukup besar, sementara keadilan untukkku tidak bisa diberikan, padahal aku bagian dari client yang harus kalian lindungi keamanan dan kenyamanannya.” Syila menjadi bergairah dengan perdebatan ini, karena rasanya sudah lama sekali sejak dia berdebat dengan teman Bang Aryo dan juga orang PH yang biasanya suka menintimadasi, merasa mendapat lawan yang sulit, Syila bersemangat.


“Kau tega membuat nama baik perusahaan milik calon suamimu hancur hanya karena makan siang?”


“Menarik Denia, karena kau membawa masalah ini menjadi personal, maka aku juga akan melakukan langkah yang sama, pertama, namaku sudah kalian hancurkan, di perusahaan ini, maka kalau aku balas dendam, kurasa itu manusiawi, karena aku bukan malaikat. Kedua, calon suami? Itu juga masih kemungkinan yang harus menunggu keputusan Tuhan, kita tak pernah benar-benar tahu jodoh kita siapa bukan? Jadi kalau kau bicara aku menghancurkan nama perusahaan calon suamiku, itu tak masuk hitungan, karena kemungkinan pernikahan juga masih kecil.” Syila memberitahu bahwa dia bukan wanita biasa yang bisa diatur seenaknya.


Izraa tersenyum mendengar itu, Syila pandai membalikkan kata Denia, wanita licik yang katanya keluarga itu.


Mami dan papi terdiam, walau Syila selalu menggunakan kata kalian sebagai representasi atas perusahaan yang akan dia lawan, padahal tujuannya jelas, ini sudah empat lawan satu, Denia sendirian walau yang lain diam.


“Baiklah, lalu apa yang kalian inginkan?”


“Aku, bukan kalian Denia, kau hilang fokus sepertinya, tapi aku yakin kau tahu mauku.”


“Baiklah, aku akan turunkan videonya dan batalkan denda, tapi kau juga harus urungkan niatmu melaporkan perusahaan ini, bukan?”

__ADS_1


“Aku tidak masalah dengan video itu, sungguh, karena bagiku dipermalukan hanya berlaku bagi si pembuat kesalahan, untukku, meminta maaf bukan berarti mengakui kesalahan, aku meminta maaf karena harus berada di depan anak buahku, jadi tak masalah sama sekali jika akhirnya video itu tetap disebarluaskan, aku tidak masalah.


Begitu juga dengan dendanya, aku tidak masalah Denia, aku akan bayar, karena pada kenyataannya, anak buahku melakukan kesalahan dengan bingung terhadap peraturan perusahaan kami dan akhirnya melakukan kesalahan.”


“Jadi, apa maumu?”


Syila memajukan tubuhnya agar cukup dekat dengan Denia, lalu berkata, “Lakukan seperti apa yang aku lakukan, buat video permintaan maaf, minta maaflah karena telah menuntutku melakukan permintaan maaf tanpa investigasi, lalu bayar kerugian atas penuntutan yang tak adil itu sebanyak aku membayar dendanya. Aku rasa itu cukup adil.” Syila tersenyum dengan wajah liciknya dan mundur kembali ke bangkunya.


Papi dan mami terlihat terkejut, sungguh langkah yang tak terpikir sama sekali, anak ini … gila dan arogan.


Mami dan papi saling pandang dan tersenyum.


Izraa menutup mulutnya dengan gelas kopi yang dia minum, dia menutupi senyum senangnya, karena gadis kecil ini sangat bermental baja.


“Aku akan bicarakan dengan timku, karena yang meminta kau meminta maaf adalah timku, aku akan meminta mereka meminta maaf, Citra akan meminta maaf dan disiarkan, seperti yang kau lakukan.”


“Mereka dibayar untuk melakukan pekerjaannya, jadi mereka harus melakukan perintahku, seperti permintaanmu, aku akan melakukannya, anak buahku akan aku perintahkan untuk memenuhi permintaanmu, kukira sampai sini saja meeting ini, aku pamit, selamat pagi.” Denia lalu berjalan dengan langkah tenang, tapi makin lama makin cepat, terlihat sekali kalau dia memang gugup, dia tak sadar, wanita dengan tangan cacat ini bukan wanita biasa.


Denia keluar, lalu mami tertawa terbahak-bahak.


“Aku sungguh khawatir denganmu saat lihat video itu, sungguh, aku benar-benar ingin menjitak anak perempuan itu, tapi saat melihatmu menghadapinya, aku pikir sekarang aku bisa lebih tenang, aku tidak tahu kau punya kemampuan negosiasi yang tinggi, aku bahkan tak terpikir kalau kau akan memintanya melakukan hal yang sama dengan yang dia minta padamu.” Maminya Izraa mendekati Syila dan memeluknya, seolah dia memenangkan suatu pertandingan.


“Aku hanya merasa bersemangat saja Tan, karena jujur, video permintaan maaf itu sama sekali tidak menggangguku, satu negeri ini sudah tahu dengan jelas, bahwa aku wanita cacat dan kurasa aku tak perlu lagi takut pada apapun, memang apa yang lebih berat dari pada mengetahui kenyataan bahwa tangan yang menjadi alat untuk menggapai mimpiku sudah tidak bisa digunakan lagi? Maka ketika kita kehilangan sesuatu yang sangat besar, maka sudah tak ada lagi yang mampu membuatku takut lagi.”

__ADS_1


“Syila kau tidak cacat, kami sedang mengusahakan banyak cara untuk mengembalikan fungsi tanganmu, kau hanya butuh mengistirahatkannya dan kelak akan bisa berfungsi lagi.” Papi yang berbicara kali ini, Pak Hansyar sangat menyukai calon menantunya ini, dia sangat ingin Syila menjadi menantunya, dia akan melakukan apapun agar mereka menikah dan akhirnya mewarisi perusahaan ini, perusahaan yang dibangun olehnya dengan susah payah.


Mami dan papi pamit karena ada pertemuan dengan para pejabat, acara pertemuan para pengusaha katanya.


Syila dan Izraa kembali ke lantai mereka, semua karyawan sedang bekerja di tempatnya masing-masing.


Andi melihat Syila masuk dan menuju ruangannya, sementara Izraa juga, dia segera menyusul Syila.


“Jadi, apa yang terjadi?” Andi bertanya.


“Ada perempuan gila yang hendak menundukkanku, aku punya backingan yang cukup banyak ternyata, mereka takkan menusukku dari belakang, tapi wanita itu mungkin.”


“Kalau begitu bagus kan, Syil? Setidaknya mami dan papi Izraa adalah musuh nyata yang sangat besar, kalau musuh kau itu adalah mereka, makan pasti sulit dikalahkan bukan?” Andi mengambil kesimpulan.


“Justru, kau harus hati-hati, keinginan mereka pasti akan mereka dapatkan, pernikahan itu, pasti sekuat tenaga akan diraih, aku harus waspada.”


“Apa alasanmu tak ingin menikah dengannya? Jangan bilang tak cinta ya, kau nyaman dengannya, cinta bisa datang seiring waktu kan? pasti ada alasan lain bukan?”


“Ndi, kau bicara seolah pernikahan adalah sesuatu yang mudah, cuma bilang ya, lalu terjadi? Tidak bisa begitu, pertama, tentu saja alasannya aku tidak mencintainya, aku memang nyaman, tapi mencintai dan nyaman hal yang berbeda Andi, aku nyaman denganmu, lalu apakah kita bisa menikah? Kan tidak! Lalu kedua, aku tidak mau menjadikan mantan pacarku sebagai adik ipar, itu jauh lebih menjijikan dari sekedar menikah tanpa rasa cinta, itu lebih membuatku muak dan hampir tak bisa benafas jika saja akhirnya kami jadi keluarga, tapi adik dan kakak ipar, padahal sebelumnya kami merencanakan berkeluarga sebagai pasangan! Kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku kelak?


Terakhir, Izraa tidak mencintaiku, ada kemunginan dia sembuh atau ada kemungkinan perempuan lain bisa saja berperan menjadi obatnya Izraa, kalau besok ada perempuan yang hanya memperlihatkan kakinya dan Izraa bergejolak seperti dia melihat kakiku, sementara aku mungkin telah mencintainya tapi pensiun jadi obatnya karena wanita lain yang mungkin bisa membuat Izraa sembuh juga, maka habislah aku, aku mungkin akan berakhir menjadi wanita yang menyedihkan.


Maka pernikahan untukku saat ini adalah hal gila yang mungkin aku lakukan, apalagi dengannya.”

__ADS_1


“Baiklah memang berat sepertinya, tapi Syil … kau uring-uringn akhir-akhir ini karena Izraa tak selalu bersamamu bukan? Kau sepertinya mulai rindu kehadirannya yang selalu menghilang itu bukan?” Andi masih bersikeras.


“Kau dibayar ya? Kenapa sangat gigih sekali ingin menyatukan kami? Aneh tahu!” Syila menuduh sepupunya, Andi lalu pamit keluar dari ruangan, takut kalau adik sepupunya akan murka dan mulai tantrum, itu akan menjadi babak menyebalkan menjalani hari ini.


__ADS_2