Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 34 : Terjebak (Lagi)


__ADS_3

Hari ini Syila akan ke lokasi syuting, sudah dua hari dia tidak datang, saat sudah sampai lokasi, dia melihat Izraa sedang membaca dialog, entah kenapa Syila merasa sungkan mendekatinya, sudah dua hari Syila tidak berhubungan dengan Izraa, dalam pemikirannya, mungkin Izraa sudah tidak menginginkannya lagi, baguslah kalau begitu.


“Syil, coba cek deh sini, ini bener dialognya begini?” Bang Aryo meminta Syila mendekat, di sana ada Izraa dan Bang Aryo.


“Iya Bang, kenapa?”


“Ini dialognya kaku nggak sih, kan udah berhubungan beberapa bulan nih, masa masih kaku?”


“Bener kok, gue mau mempertahankan sikap lelakinya yang tidak ingin menjadi jatuh terlalu dalam, jadi dia tetap memberi jarak pada hubungan yang sudah terjalin Bang.”


“Masuk akal sih, Syil.”


“Nggak masuk akal dong, masa udah komitmen berhubungan, tapi nggak ada pemikiran buka hati, tulisan lu terkesan nggak relevan Syil.” Izraa tiba-tiba ikut obrolan.


“Za, ini best seller loh, jauh sebelum film ini, buku sudah cetak, ada tiga editor yang cek buku ini baik kaidah kepenulisan dan juga temanya, lalu kamu mau koreksi saat semua sudah jalan, kau yang tidak relevan!” Syila mengatakannya tidak berteriak, tapi cukup memberikan penekanan.


“Za, gue pikir juga gitu deh, ini kan film ikutin buku, jadi kita harus menggunakan dialog pada buku.”


“Bang, tapi gue ngerasa bahwa ….” Izraa masih merasa keberatan, kita semua tahu, bukan pada buku itu dia merajuk, tapi pada hubungan mereka.


“Kalau lu mau ganti, seperti yang gue bilang, bikin buku lu sendiri, jangan rusak buku orang lain.” Syila mulai kesal.


“Itu masalahnya, kau terlalu memiliki pandangan sempit, Syil.” Izraa beranjak pergi setelah mengatakan itu.


Syila kesal karena dibilang berpikiran sempit.


“Lagi berantem ya?” Bang Aryo bertanya.


“Nggak kok, kenapa sih?”


“Si Izraa uring-uringan tuh sejak lu nggak masuk, yakin ya, nggak berantem?”


“Nggak kok, tapi kalau dia ada masalah, gue jujur nggak tahu, gue ngejar deadline buku Bang, dua hari ini.”


“Yaudah, lu bantu tenangin deh, soalnya dia rada nggak fokus.”


“Tapi Bang, kata Hanum dia jadi lebih ramah tuh sama semua orang, bahkan kemarin ikut acara makan bersama kan?” Syila memastikan.


“Masa lebih ramah? Gue liat biasa aja, malah kadang lebih parah. Soal dia ikut acara makan, iya bener, tapi dia cuma mau ngejar gue buat cek dialog, karena gue bilang mau makan, bukan karena dia mau ikut.”


“Astaga, serius?”


“Iya.” Bang Aryo lalu berdiri dan mulai mempersiapkan syuting hari ini.


Memang benar kata orang, kita nggak boleh dengar dari satu pihak, kayak Hanum bilang itu, nggak benar, bukan karena Hanum bohong, tapi karena Hanum melihat dari satu sisi.


“Za, bisa ngomong nggak?” Syila bertanya, Izraa sedang menghafal dialog.


“Lu nggak liat gue lagi hafalin dialog?!”


“Bentar aja kok.”


“Nggak bisa, sorry.” Syila ditolak, ini kali pertama Izraa menolak bicara, setelah mereka jadian.


Syuting dimulai, Syila masih merasa Izraa aneh, walau saat syuting, Syila tahu, Izraa berusaha untuk mengembalikan fokus dan mood, aktingnya masih tetap memukau walau dalam keadan kesal, kesal karena apa, Syila tidak tahu.

__ADS_1


[Syil, bisa dimajuin nggak ya, kita ketemuan sekarang? Om ada acara resmi sama Pak Menteri, jadi harus Tante temani nanti malam.] Maminya Izraa mengirim pesan singkat melalui aplikasi berwarna hijau itu.


Syila melihat keadaan sekitar, sepertinya dia bisa pergi sebentar, karena syuting tidak terlalu berat, jadi kehadiran Syila sepertinya tidak terlalu dibutuhkan.


[Iya Tante, bisa, kirim alamatnya ya, nanti Syila ke sana,] Jawabnya.


Setelah dia mendapatkan alamat restoran yang maminya Izraa berikan, Syila langsung berkendara ke sana, menyetir sendiri, karena Andi sedang meeting dengan publisher terkait novel terbaru Syila yang launching enam bulan lalu.


Sebelum pergi tadi Syila sudah mengirim pesan pada Bang Aryo, izin keluar sebentar, Bang Aryo tidak keberatan.


Setelah berkendara selama setengah jam, Syila sampai di restorannya, ternyata restoran hotel, Syila menuju restoran yang dimaksud, maminya Izraa memesan private restaurant, dimana hanya kami berdua tamunya dalam ruang makan tertutup.


“Tan, maaf ya, udah nunggu lama?” Syila berbasa-basi.


“Nggak kok, baru sampe juga, Syila mau makan apa?”


“Tidak usah Tante, belum makan siang, Syila biasanya nggak makan dulu, mungkin desert saja.”


“Boleh, kalau gitu tante pesankan Volcano Cake Ice Cream? Itu kesukaan Sofia.”


Malas rasanya mendengar nama itu, tapi sebagai sopan santun, Syila setuju saja.


“Syila pasti kaget ya, Tante panggil ke sini?”


Syila kaget, tapi dia tahu, kalau dia tidak akan dilempar pakai uang agar meninggalkan Izraa, kalau bisa malah itu lebih baik, karena dengan begitu, Syila bisa menjadikannya alasan untuk lepas dari Izraa.


“Lebih tepatnya bingung sih, Tan.”


“Begini Syil, sebelum itu, Tante mau terima kasih dulu sama kamu.”


“Karena membawa pulang anak kami yang tidak mau pulang selama … sepuluh tahun terakhir ini.”


[Apa! sudah sepuluh tahun?!] Syila kaget, kok bisa selama itu Izraa tidak pulang.


“Dua hari lalu, saat dia datang adalah hari dimana akhirnya aku mendengar dia memanggilku mami lagi, memanggil papi dan menunjukan betapa sayangnya dia pada Sofia.


Hanya Syila yang bisa melakukan itu, tidak ada satupun perempuan yang pernah Izraa perdulikan selain Sofia adiknya, walau mereka saudara tiri.” Maminya Izraa menahan perkataannya, Syila merasa maminya Izraa keceplosan, jadi dia tidak melanjutkan perkataannya, “Izraa bukanlah anak kandungku, Syil.”


“Tante, kalau tidak nyaman membicarakannya, tidak usah dipaksakan.” Syila mencoba membuat maminya Izraa berhenti membuka masalah mereka, Syila takut kalau ini akan menjadi beban bagi Syila jika mengetahui lebih jauh keadaan keluarga Izraa.


“Tenang Syil, aku bukan Pelakor, ibu kandungnya Izraa adalah kakak kandungku, dia meninggal saat melahirkan Izraa, tante dan papinya Izraa dinikahkan atas kehendak keluarga, agar Tante bisa menjaga Izraa yang masih bayi dan tentu papinya Izraa juga.


Bagi Tante, Izraa adalah anak sulung kami dan Sofia adalah anak bungsu. Karena aku merawatnya dari lahir, aku tahu pasti, kalau dia juga sayang denganku dan Sofia, sampai kejadian itu terjadi.”


“Kejadian?” Syila jadi penasaran.


“Sepuluh tahun lalu, Sofia masih SMA, dia ditabrak lari oleh seseorang, keadaannya kritis, aku dan papinya sedang di luar kota, pertemuan bisnis, ketika itu, papinya Izraa masih merintis rumah sakit ini, rumah sakit besar ini belum menjadi sebesar sekarang, kami membutuhkan banyak bantuan Investor untuk membangun rumah sakit itu.


Saat tahu Sofia kecelakaan, kami tidak bisa pulang karena harus meeting dengan salah satu pejabat daerah di sana, jadwal ini kami dapatkan setelah satu tahun menunggu, ini soal izin rumah sakit dan labnya.


Kami tahu, bahwa waktu itu kami egois, Izraa memohon pada kami untuk segera pulang, tapi papi meminta Izraa untuk menjaga Sofia sementara mereka mengurus bisnis, Izraa yang masih muda juga saat itu sangat marah, dia merasa kami telah mengabaikan Sofia, anak kami yang dalam keadaan kritis.


Setelah tahu Sofia tidak bisa berjalan lagi karena kecelakaan itu membuat kakinya harus diamputasi, Izraa semakin marah pada kami.


Jujur saat itu hatiku pun hancur, aku ibunya, bagaimana mungkin aku tak sedih, sedang anak perempuanku kakinya harus diamputasi.

__ADS_1


Tapi bisnis ini adalah apa yang papinya Izraa kerjakan selama bertahun-tahun, kami harus tetap bertemu dengan pejabat itu dan membuat kerjasama, kalau kami batalkan saat itu, kemungkinan bertemu dengannya lagi sangat mustahil.


Aku kalut, tapi mencoba tetap ikhlas dengan semua keadaan ini, akhirnya kami memutuskan untuk tidak menjawab panggilan telepon Izraa hari itu, aku sudah tahu keadaan Sofia dari Dokter yang merawatnya, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa, tapi dalam bisnis ini, kami bisa berbuat sesuatu supaya bisnis ini jalan, yaitu, dengan menemui Pejabat Daerahnya.”


“Lalu, apakah kalian akhirnya pulang setelah meeting itu selesai?” Syila bertanya.


“Tidak,” Maminya Izraa mengusap air mata yang muncul pada ujung matanya, “jadwal kami di luar kota itu adalah sebulan, maka kami tidak pulang selama sebulan itu, sepuluh tahun lalu memang teknologi belum secanggih sekarang, ada video call atau meeting-meeting berbasis Online, kami hanya berkabar melalui telepon genggam dan telepon rumah.


Aku menelpon anakku setiap hari memastikan keadaannya baik-baik saja, tapi sejak kami bilang kami takkan pulang sampai meeting selesai, Izraa sudah tidak menghubungi kami lagi, maupun menjawab teleponku.


Kami tahu dia marah, tapi kami juga tahu, marahnya akan mereda, yang kami tidak tahu adalah, ternyata dia bukan sekedar marah, tapi dia kecewa.


Setelah sebulan kami mendapatkan proyek itu, izin bisnis kami pun di setujui, kami buru-buru pulang untuk menemui Sofia, saat itu setelah kami sampai di Jakarta, kami langsung ke rumah sakit untuk melihat Sofia, ada Izraa di sana.


Izraa ngamuk melihat kami, dia membanting semua barang yang ada di ruang perawatan rumah sakit itu, kami mencoba menenangkannya, tapi tidak berhasil.


Dia bilang padaku, bahwa aku adalah ibu yang kejam, anak kandungku saja bisa aku abaikan padahal kakinya telah diamputasi, maka dia tidak berharap banyak padaku untuk bisa menyayanginya seperti anak sendiri.


Aku tahu, dia menjadi sangat marah karena kami mengabaikan Sofia, tapi dia saat itu belum dewasa, pertaruhan kami terlalu besar untuk pulang, karena kaki Sofia tidak bisa kami selamatkan, maka bisnis ini harus selamat.” Air mata maminya Izraa mengalir deras.


Syila tahu, itu pasti berat buat maminya Izraa, tapi meninggalkan anak yang sedang kecelakaan, kritis dan kakinya diamputasi, adalah perbuatan yang kejam, di titik ini, dia tahu apa yang Izraa rasakan. Kecewa dan marah.


“Maaf,” maminya Izraa selesai menghapus air matanya, dia lalu melanjutkan ceritanya, “Izraa bilang, dia tidak akan pernah memaafkan kami, dia bilang dia tidak mau hidup bersama kami lagi, waktu itu dia bahkan menarik Sofia untuk ikut dengannya, tapi aku menghalangi, papinya juga menghalangi Izraa membawa Sofia, akhirnya Izraa pergi sendiri, tanpa membawa baju, uang ataupun barang berharga lain, dia benar-benar pergi tanpa apapun.


Kami mengira hanya buuh beberapa bulan, dia akan kembali lagi, tapi kami salah, kecewanya sungguh sangat dalam, selama sepuluh tahun ini kami melihat dia bisa hidup di kakinya sendiri, tanpa bantuan kami, dia tidak menerima bantuan dari kami dalam bentuk apapun.


Kami hampir menyerah untuk bisa tinggal bersama lagi, tapi ketika kami melihat tayangan infotainment itu, kami tahu, bahwa Izraa menatapmu dengan sangat dalam, dari situ, aku melihat ada secerca harapan, bahwa mungkin saja, kau bisa menolong kami mendekatkan Izraa pada keluarganya.


Maaf aku menyelidiki latar belakangmu, ketika kami tahu kau adalah anak dari salah satu Direktur rumah sakit kami, sungguh seperti pertolongan dari Tuhan, kami akhirnya mengundang kalian makan siang bersama.


Kejadian selanjutnya kamu masih ingat kan? Kami tidak salah, Izraa datang ke rumah setelah sepuluh tahun tidak pulang, Izraa memanggilku Mami dan Papi, betapa rindunya aku pada anak sulungku, walau dia tidak lahir dari rahimku, tapi aku yang merawatnya dari dia baru lahir, aku yang mengajarkannya jalan, aku yang menyuapkan nasi pertamanya, aku yang mengajarnya membaca, untukku dia adalah anak yang sangat aku cintai.


Walau dia tahu aku bukan yang melahirkannya, karena kami selalu membawa Izraa ke kuburan kakakku, ibu kandungnya sebulan sekali.


Tapi aku tahu bahwa Izraa juga tahu, aku sangat menyayanginya sebagai seorang ibu.”


Syila mendengar ini terasa sedih sekali, berarti memang ada yang salah, makanya dua hari ini dia tidak menghubungi Syila, mungkin karena dia ingin menata hatinya dulu, setelah sepuluh tahun tidak pulang rasanya pasti haru sekali melihat rumah yang sudah dia tinggalkan selama sepuluh tahun terakhir, bertemu orang tua dan adiknya.


“Tapi Tante, hubungan kami tidak sedekat itu, kami memang masih berpacaran, tapi kami belum pada tahap serius untuk menikah, kami hanya baru mencoba saling mengenal saja, apa yang Tante kira, bahwa aku bisa membuat Izraa tinggal bersama kalian lagi, itu sepertinya sulit, karena Izraa tidak akan mudah disuruh.”


“Aku tahu anakku, dia bukan pemuda yang mudah diperintah-perintah, dulu dia tidak pernah membawa pulang satu perempuan pun, kami mengira memang karena dia tidak tertarik pacaran, lalu ada gosip menjijikan itu, tentang dia suka lelaki, jujur jika ada lelaki yang bisa membawa dia pulang, aku tidak akan terlalu peduli dengan penyimpangan itu, yang penting anakku pulang.


Tapi melihat bagaimana khawatirnya dia melihatmu ketumpahan kopi, membuatku yakin, bahwa dia sangat mencintaimu, dia meruntuhkan egonya untuk menarikmu keluar dari rumah kami, rumah yang dia bersumpah tidak akan pernah injak lagi seumur hidupnya, apa yang Izraa lakukan untukmu, hanya bisa dilakukan oleh orang yang sangat mencintaimu, Syil.”


“Tidak begitu, Tante, jangan salah paham.”


“Insting seorang ibu tidak pernah salah, mungkin bukan Izraa yang tidak mencintaimu, mungkin kamu yang belum mampu mencintainya, apa itu benar?” Maminya Izraa bertanya dengan hati-hati.


“Aku … aku tidak tahu, aku mencoba untuk mampu mencintainya, dia orang yang baik, tapi aku tidak bisa memaksa hatiku saat ini.” Syila sudah mendengar persoalan keluarga Izraa begitu dalam, tidak ada salahnya Syila juga membuka apa yang dia rasakan pada Izraa, karena dia tidak mau maminya Izraa berharap terlalu banyak padanya.


Maminya Izraa memegang tangannya Syila, dia lalu berucap.


“Dia pasti mampu membuatmu mencintainya, anakku lelaki yang hebat, percayalah, dia akan melindungimu jauh lebih baik dari pria manapun di muka bumi ini, cara dia menjaga Sofia, membuatku yakin, jika ada satu perempuan yang mampu membuatnya jatuh cinta, perempuan itu akan sangat beruntung, karena Izraa adalah orang yang setia dan loyal pada orang yang di sayang apalagi cintai.”


Syila melihat ada harapan yang sangat tinggi pada hubungannya dengan Izraa di mata maminya Izraa, lagi-lagi Syila terjebak.

__ADS_1


__ADS_2