Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 54 : Pelaku 8


__ADS_3

“Jadi … apa Papi boleh tahu, ada apa?” Papi yang tadinya masih bekerja di rumah sakit, harus pulang karena telepon dari Syila itu.


“Kami belum menikah, maka tanggung jawab penjagaan terhadapku, masih di tangan Papi, aku hanya tidak ingin Izraa melewati batasan.” Syila tidak akan memberitahu papinya soal pertengkaran di kamar perawatan Fenita itu.


“Ya, tentu saja Papi tidak berniat mengalihkan tanggung jawab itu kepada Izraa sebelum dia menikahimu, lagi pula Papi juga merasa berlebihan dengan menaruh banyak orang di sini, karena jujur, kami terganggu.”


“Makanya, hanya tambah security saja, 2 orang, kita kan sebelumnya tidak pakai security, maka sekarang Papi rekrut saja security dan tambah kamera CCTV, aku kira itu cukup dibanding membiarkan banyak orang di sini, terlalu berlebihan.” Syila lalu naik ke kamarnya setelah dia berbicara dengan Papi, Andi hanya istirahat sebentar lalu pamit pulang ke rumahnya, sementar orang-orang Izraa sudah disuruh Papi pulang paksa, Papi juga tak lupa memberi mereka uang dan kembali ke Izraa, karena masa kerja penjagaan mereka terhadap Syila sudah berakhir.


“Aku harus keluar sebentar, kau akan dijaga oleh orangku, aku tidak jauh, kau tidak apa-apa kan?” Izraa pamit ke luar dari kamar Fenita.


“Ya, tentu saja, kau akan bertemu Syila kan? Kau akan meminta maaf padanya kan?” Fenita bertanya sebelum Izraa benar-benar keluar.


“Tidak, aku takkan menemuinya, aku akan menemui orang lain.”


“Tapi aku ingin kau untuk bertemu Syila, dia pasti sedih karena kau sudah kasar padanya.”


“Tapi dia juga kasar padamu, dia bahkan berani egois di saat seperti ini.”


“Za, dia kekasihmu, kau harus ….”


“Sekarang kau hanya perlu istirahat, urusan yang lain aku yang akan urus, mengerti? Dia kekasihku, tpai sekarang kau adalah adikku, aku akan menjagamu sama seperti aku menjaga Syila, jadi kau tidak perlu mengatur apa-apa yang perlu aku lakukan adan tidak, istirahatlah.” Izraa lalu keluar, dia meminta pada para penjaga, tak boleh ada yang masuk, selain Dokter, penjaganya paham.


Izraa lalu pergi ke parkiran, rupanya para anak buah yang tadinya di rumah Syila datang untuk mengadu.


“Kami diusir dan diberikan uang, katanya mereka akan memperkerjakan security professional saja.” Salah satu penjaga dari sekian banyak itu berkata.


“Syila atau papinya?”


“Sepertinya Mbak Syila yang meminta kami untuk diusir, karena papinya terlihat bingung dan buru-buru menyiapkan uang untuk kami.”


“Kalau begitu, kalian ikut aku, kita akan ke sana.” Izraa lalu berangkat ke rumah Syila setelah sebelumnya membagi para penjaga menjadi dua, penjagaan untuk Fenita ditambah.


Tak lama kemudian mereka sampai, sudah ada satu orang security, rupanya papi sudah langsung menghubungi perusahaan yang menyediakan jasa security perofesional untuk menjaga rumah mereka.

__ADS_1


Begitu Izraa sampai ruang tamu, dia melihat Bang Aryo dan Syila.


“Za, duduk dulu ya.” Rupanya Syila sengaja memancing Izraa untuk datang, dia perlu bicara dengan Bang Aryo secara tenang hingga bisa akhirnya paham, ini bukan masalah sepele, film ini harus segera dirampungkan.


“Oh, jadi ini hanya untuk membuatku bertemu Bang Aryo?” Izraa berkata dengan sinis.


“Za, bisa tolong duduk dulu nggak?” Syila mendekati Izraa dan berkata dengan lembut, dia sudah sangat merendah dan meletakkan harga dirinya jauh di dasar yang paling bawah.


Izraa menepis tangan Syila yang berusaha untuk menyentuh tangannya agar Izraa mau duduk.


“Aku meninggalkan orang yang mungkin saja celaka di rumah sakit itu, sendirian, dia celaka karena kita berdua dan sekarang kau malah sibuk kesana kemari hanya untuk sebuah cita-cita dan pembuktian?” Izraa tidak membentak, tapi dia cukup menekan seluruh katanya, kata-kata yang sudah dia ulang sejak dia menyakiti Syila dengan kata-katanya.


“Za, kau sudah menjaga Fenita dengan baik, Fenita juga sudah tahu kau akan ke sini, tadi aku menelponnya, aku bilang kau mungkin akan ke sini untuk bicara masalah pekerjaan, Fenita sangat mendukung pekerjaan kita Za, dia juga paham, kalau kita pun harus tetap menjalani hidup lagi setelah badai ini.”


“Nggak usah lu bujuk gue pakai diksi-diksi lu yang manis, kalau akhirnya ada yang celaka lagi, siapa yang bertanggung jawab, bisa ngerti nggak sih Syil? Lagian Bang, kalau cuma masalahnya uang, aku akan carikan dananya, aku akan bertanggung jawab, baik untuk pinalti Syila dan juga diriku.”


“Brengsek sekali kau Za! Sepele sekali kau anggap karyaku dan puluhan orang di belakangku, serta ratusan orang di belakang PH kami, kau pikir nilai dari pekerjaan kita yang sudah dilakukan berbulan-bulan ini hanya soal uang. Kupikir Syila sudah memberitahumu masalahnya  dengan sangat jelas! Ini bukan cuma tentang mimpi Syila, mimpi gue, mimpi PH, mimpi banyak orang lainnya. Kita kerja bukan Cuma buat Syila, tapi buat kita semua, termasuk lu yang seharusnya sangat menghargai jerih payah kita semua, karena lu juga harus inget, nama lu lagi turun, film ini bisa naikin pamor lu lagi, kerja keras lu selama ini harusnya lu bisa balikin dengan film ini.


Jadi jangan ngomong uang sama gue, karena kerja keras kit aitu nggak ternilai sama sekali, lu nggak akan bisa bayar. Satu kesalahan lu, lu nggak seharusnya selesaikan masalah ini sendiri, negara kita punya hukum, lu seharusnya percayakan ini sama hukum di negara kita, bukannya malah sibuk sok preman dengan selesaikan ini sendirian, pakai uang lu untuk menjaga semua orang yang perlu lu jaga, biar gue dan Syila yang nambal semua masalah ini, kita nggak butuh elu.”


[Bos, Fenita hilang!] Orang itu berteriak dengan panik, Izraa yang mendengar itu tanpa memberitahu pada Syila langsung bergegas akan pergi ke rumah sakit, tapi Syila menahannya, dia menarik tangan Izraa.


“Za, kenapa!” Syila bertanya.


“Sekali lagi kau mengacaukan segalanya! Fenita hilang, kalau dia sampai celaka, apa kau akan masih mampu melanjutkan film ini?! mari kita lihat!” Izraa lalu menepis lagi tangan Izraa dan pergi ke rumah sakit. Syila terdiam, bagaimana mungkin Fenita hilang begitu saja, apa yang terjadi sebenarnya, kenapa Aldo begitu jahat, kenapa Syila bisa seceroboh ini!


“Syil, Fenita hilang?” Bang Aryo bertanya, Syila hanya menangis, mami yang sebenarnya mendengar semua pembicaraan ini dari dalam karena menguping, akhirnya memeluk Syila, “Pak, maaf, sebaiknya bapak pulang saja dulu ya, keadaan tak kondusif untuk melanjutkan pekerjaan apapun, maaf ya Pak.” Maminya Syila lalu menarik Syila untuk masuk ke dalam kamarnya di lantai 2.


“Fenita hilang, Izraa akan cari. Kau hilang saja dia bisa temukan, tenang saja ya sayang, semua akan baik-baik saja, tapi jujur, Mami tidak bisa menerima perlakuan Izraa padamu, menumpukan semua salah padamu itu sungguh tak bijak. Sebagai kekasihmu, seharusnya Izraa paham, bagaimana kamu berusaha untuk karyamu dan tidak bermaksud jahat untuk apapun, mengenai bagaimana cara orang menanggapi sikapmu, itu sepenuhnya tanggung jawab orang itu, bukan tanggung jawabmu Syil.


Mengenai hilangnya Fenita, biar Mami dan Papi yang bantu urus, Mami maunya kamu istirahat, ingat, tanganmu juga belum pulih betul, tapi ingat ini, Mami tidak suka cara Izraa memperlakukanmu, apapun yang papi bicarakan di belakang dengan papinya Izraa, mami tetap akan menilai ulang hubungan ini, mami tidak mau seumur hidup, anak mami sedih diperlakukan tidak baik seperti ini, dia terlalu kasar untuk anak mami yang selalu mami perlakukan dengan lembut.”


“Mi, tapi Izraa itu ....”

__ADS_1


“Cukup, Syila tahu kan, Mami nggak pernah minta yang macem-macem sama Syila, selalu dukung apapun keputusanmu, tapi kali ini, Mami mau kamu juga dengar Mami, jangan ikut campur lagi masalah Izraa dan Fenita, biar orang tua yang atur masalah ini, Mami mau kamu fokus pada penyembuhan tanganmu.”


Syila menatap mami dengan sedih, ini kondisi yang cukup berat untuk Izraa, karena tidak mendapat restu mami, akan sangat berat ke depannya.


Sementara itu Izraa sudah berkendara ke rumah sakit, begitu sampai, dia sendirian, karena anak buahnya tetap dia suruh berjaga di dekat rumah Syila, tidak di dalam rumah seperti sebelumnya.


“Ada apa ini!” Izraa melihat seluruh anak buahnya dalam keadaan panik.


“Ada seorang Dokter datang untuk memeriksa keadaan Fenita, kami membiarkannya masuk, lalu tiba-tiba keadaan Fenita menjadi gawat, dia tidak sadarkan diri, Dokter itu meminta kami untuk menghubungi perawat karena katanya tombol darurat tidak berfungsi, dua orang lalu memanggil perawat, sisanya berjaga. Tak lama kemudian Dokter itu menyuruh semua orang masuk untuk membantu, tapi teryata itu jebakan, dia lalu membius kami dengan gas, dia menjatuhkan gas di dalam ruang perawatan Fenita, lalu setelah itu kami pingsan.


Saat bangun, Fenita tak ada, beberapa perawata baru datang dan membantu membangunkan kami. Rupanya perawat lama datang karena pergantian shift dan beberapa Perawat lain sedang membantu Dokter visit, jadinya di pos penjagaan kosong.”


“Fenita dibawa Dokter gadungan itu?”


“Ya, katanya memang tak ada jadwal visit siang ini, seharusnya jadwal Dokter visit ke ruang ini adalah sore nanti.”


“Brengsek! Kalian tidak bisa jaga yang benar! Sekarang kita harus mencarinya di mana!” Izraa marah, seluruh anak buahnya merasa menyesal karena mengecewakan tuannya.


Saat semua orang sedang bingung, tiba-tiba terdengar suara telepon berdering, suara itu datang dari bawah kolong tempat tidur ruang perawatan Fenita.


Izraa mencari-cari suara telepon itu dan akhirnya menemukan juga, setelah mengambil telepon dari kolong tempat tidur itu, dia lalu mengangkat teleponnya, terdengar suara dari sebrang sana.


[Apa kau kehilangan seseorang?] Suara seorang lelaki, Izraa tak yakin suara siapa yang dia dengar.


[Apa kau yang menculik Fenita!] Izraa berteriak.


[Datang ke lokasi yang kami tentukan, taruh uang 2 miliar di dalam tas, kami akan kembalikan wanita itu!]


[Sebentar-sebentar! Aku ingin mendengar suara Fenita!]


[Za, toloooonggggg!] Fenita berteriak diiringi dengan menutupnya sambungan telepon itu.


Setelah sambungan telepon ditutup, lalu ada SMS masuk, rupanya sebuah alamat, tempat di mana Izraa harus menyerahkan uang itu.

__ADS_1


Izraa terdiam, dia memang punya uangnya, tapi menyiapkan secepat ini uang cash sebanyak itu, rasanya akan sangat berat, tapi dia harus usahan.


__ADS_2