
Segala hal yang diperlukan untuk melakukan konferensi pers itu sedang dipersiapkan Izraa, dia jadi lebih banyak datang ke rumah Syila, mereka memakai ruang tamu sebagai tempat yang paling cocok untuk melakukan konferensi pers online itu, karena ruang tamu adalah tempat yang paling baik menerima jaringan internet, walau mereka menggunakan jasa provider pribadi, tetap saja, tempat yang paling dekat dengan pusat jaringan, adalah tempat yang paling baik menerima sinyal.
Izraa menyulap ruang ramu rumah Syila menjadi ruang yang lebih resmi, sofa mewah sudah dipindahkan dulu ke gudang sementara waktu, hanya ada meja kerja dan bangku kerja, lalu Izraa juga khusus membeli kamera yang sebagai alat untuk mengambil gambar, nant iakan disambungkan dengan aplikasi meeting online, sehingga kamera terlihat jelas dan jernih.
Lalu Izraa juga memastikan arah datangnya cahaya tak mengganggu kamera, hingga dia mengganti gorden rumah Syila menjadi gorden black out berbentuk layer, karena kalau gorden rumah biasa, masih terasa mengganggu, Izraa juga menambahkan alat untuk memancarkan cahaya yang cukup besar, lagi-lagi agar video untuk mengambil gambar Syila saat bicara menjadi sangat jernih.
Hari ini adalah H-2 sebelum acara itu akan dilakukan. Ammarhudi setuju dengan semua persyaratan Syila, Syila juga sudah langsung menandatangi surat perjanjian baru untuk serial yang akan segera dilakuakn syutingnya, Bang Aryo terlihat senang, karena dia akan kembali menangani syuting serial dari novel yang sudah difilmkan itu.
Ammarhudi sudah mendapatkan apa yang dia mau, Syila sejak awal tahu bahwa kalaupunn benar sserialnya di plagiasi oleh PH kecil yang menjual serial itu ke televisi berbayar, popularitas dari filmnya Ammarhudi tidak akan terganggu karena film itu sudah selesai tayang dan meraup begitu banyak keuntungan, sejak awal Syila tahu, ini hanya celak bagi Ammarhudi untuk memperbaharui kontrak, karena Syila tidak terlalu suka kalau Novelnya dibuat serialnya, itu memakan waktu yang cukup banyak, mengingat dia takkan pernah membiarkan proses syuting tanpa dirinya.
Tapi karena Syila saat ini mau tidak mau harus rehat dari menulis karena tangannya belum pulih dan juga tidak akan membiarkan Ammarhudi benar-benar melaporkan karena dia keras kepala, maka Syila menerima apa yang dia curigakan sebagai trik yang Ammarhudi lakukan.
Yah, ini takkan pernah Syila lakukan jika saja tangannya tidak dalam keadaan sakit dan hampir tak berfungsi ini.
“Sudah sejauh apa, Za? Aku perlu bantu apa?” Izraa, Andi, Manager Izraa dan asistennya turun semua untuk membuat set dan juga memastikan bahwa koneksi tidak akan putus-putus, mereka melakukan tes dengan meeting online dari tempat yang jauh, meminta bantuan beberapa orang kenalan untuk melakukan meeting dengan mereka secara online di tempat berbeda, Izraa bahkan melakukan meeting online dengan temannya yang ada di luar negara ini untuk memastikan koneksinya baik, walau ini semua tidak akan berpengaruh jika saja lawan dari tempat meetingnya tidak memiliki jaringan yang cukup baik.
Maka Izraa juga sudah menyuruh beberapa orang ahli yang dia kenal untuk membangun jaringan yang jauh lebih baik yang dimiliki PH Ammarhudi di tempat konferensi pers yang akan dia hadiri, jaringan ini tidak bisa diakses siapapun, hanya bisa diakses oleh device yang akan digunakan oleh aplikasi meeting online itu untuk konferensi pers bersama.
Jaringan itu khusus hanya untuk konferesni pers online ini, sedang jaringan yang dimiliki gedung PH itu tetap bisa digunakan oleh banyak orang seperti karyawan dan juga mungkin pers yang datang nanti, karena kadang ada wartawan online yang bahkan mempublish berita on the spot, yaitu berita langsung di-upload di tempat kejadian tanpa jeda yang panjang seperti reporter koran atau tabloid, biasanya Ammarhudi memberikan akses jaringan pada wartawan itu agar membantunya memberikan pemasaran gratis atas berita apapun yang dia berikan.
Ammarhudi bahkan memberi apresiasi pada Izraa karena begitu detail, karena sepanjang Ammarhudi kenal Izraa, dia adalah orang yang sangat tidak peduli dengan siapapun, untuk Izraa, dirinya adalah prioritas, paling penting, VIP dan tidak boleh ada yang melangkahi kepentingannya, sesepele apapun kepentingan itu, dia harus didahulukan oleh agency dan dianak emaskan, masalah anak-anak orang kaya, tidak terlalu memikirkan masalah orang lain, yang penting kepentingannya harus di atas segalanya, tak bisa dipenuhi, ya sudah, selamat tinggal.
__ADS_1
Tapi dengan semua yang dia lakukan untuk Syila, semua terasa sangat asing dan berbeda, maka sejak awal Ammarhudi tahu, ada permainan cinta di sini. Ammarhudi tak tahu, bahwa ini masalahnya jauh lebih dalam dari yang dia perkirakan, tapi Izraa tak perlu menjelaskan apapun pada siapapun.
“Sudah hampir selesai, mungkin besok akan menjadi gladi resik terakhir untuk tes jaringan antar tempat Ammarhudi dan juga rumahmu, aku akan adakan tes meeting dari sini ke sana selama satu jam, melihat jaringan apakah tetap stabil.”
“Butuh bantuanku?” Syila bertanya.
“Kau sudah selesaikan naskah untuk acara itu?” Izraa bertanya, walau sebenarnya dia tak butuh bantuan Syila, tapi Izraa tahu, jika menjawab tak butuh bantuannya, maka Syila akan tersinggung, dia menjadi lebih sensitif jika sudah merasa disepelekan, padahal banyak orang tidak pernah bermaksud begitu.
“Oh ya, sudah selesai, kau mau lihat?” Syila terlihat bersemangat.
“Tentu saja.” Izraa tersenyum, dia lalu meminta Andi dan yang lainnya tetap melanjutkan yang belum selesai.
Izraa sungguh ingin selalu membantu Syila dan menjadi tangan kanannya. Dia selalu ingin bersamanya dan memastikan Syila baik-baik saja. Izraa mulai merasakan posesif sejak Syila sakit karena dirinya.
“Gimana?” Syila bertanya, mereka sudah duduk di meja makan dan melihat draft yang Syila buat, Izraa membacanya paragraf demi paragraf, dia memastikan bahwa apa yang akan dikatakan Syila akan sangat aman baginya.
“Bagian ini aku rasa perlu ditambahkan dengan kata, indikasi, karena mereka akan berbelit-belit dan mungkin akan berkilah, akan menyangkal bahwa mereka tak memplagiasi, karena ini baru beberapa episode, kalau kau mengatakan bahwa ini sebagai plagiasi murni, mereka akan menuntut kita pencemaran nama baik yang termasuk dalam UU ITE, kau taulah UU itu banyak celahnya, kau harus gunakan indikasi dan juga kata terduga, karena itu akan membuatmu aman.” Izraa memberi masukan.
“Oh ya, aku lupa.” Syila buru-buru memperbaikinya dan bersyukur dia meminta Izraa untuk melihatnya dulu.
“Sini aku liat lagi.” Izraa mengambil kembali laptopnya, mereka melihat laptop itu bersama lagi dengan jarak yang sangat dekat hingga bahu mereka bertemu, maminya Syila keluar dari kamar hendak menyiapkan makan siang, dia melihat itu dan terdiam. Tak dapat dipungkiri bahwa mereka terlihat sangat serasi, Izraa yang memiliki tubuh tegap, tinggi dengan wajah yang sangat tampan, sedang Syila perempuan mungil yang juga sangat cantik, dalam hati mami, membayangkan, jika terlahir anak dari rahim Syila atas pernikahan mereka, maka anak itu pasti sangat cantik atau tampan, cucunya akan sangat ....
__ADS_1
“Astagfirullah!” Mami merasa berlebihan dalam membayangkan sesuatu, dia kan masih marah pada Izraa dan belum mengizinkan mereka berpacaran lagi.
“Kenapa, Mi?” Syila bertanya karena terdengar mami menyebutkan istigfar.
“Nggak, itu mami pikir ini masih jam sebelas, tapi ternyata sudah jam 12, makanan belum ada untuk kalian semua makan. Mami ketiduran.” Mami hanya beralasan, padahal dia sudah memesan makanan dari luar sejak tadi.
“Pesan saja Tante, mau Izraa pesankan?” Izraa bertanya.
“Tidak perlu, Za. Terima kasih, biar tante saja. Kamu bantu Syila saja.” Maminya Syila lalu menyiapkan semuanya bersama beberapa orang asisten rumah tangga.
“Za, Sekertaris Ammarhudi bilang reporter yang kemarin menanyai soal tangan Syila ikut dalam daftar wartawan yang akan ikut dalam konferensi pers nanti. Ammarhudi bertanya, apakah kalian akan membiarkannya ikut atau mau di blacklist?” Andi bertanya, karena dia dikabari oleh sekertaris Ammarhudi.
“Jangan! aku tak mau melihat wajahnya!” Syila masih kesal dengan pertanyaannya dari reporter itu kemarin saat prelaunching filmnya.
“Jangan sertakan, blacklist namanya.” Izraa setuju pada permintaan Syila.
“Ok, aku akan bilang pada sekertaris itu untuk mengeluarkan namanya dari daftar wartawan yang boleh hadir.” Andi lalu melanjutkan lagi pekerjaannya serta Syila dan Izraa juga masih melanjutkan draftnya.
Saat sedang mengerjakan draft itu, tiba-tiba telepon genggam Izraa berdering, Izraa melihat siapa yang menelponnya, lalu Syila tak sengaja reflek melihat ke arah layar telepon pintar milik Izraa itu dan saat sama-sama melihatnya, Syila tersadar kalau layar telepon Izraa backgroundnya adalah foto dirinya, Syila jadi kikuk dan pura-pura melihat laptopnya lagi.
Sementara Izraa tetap tenang dan santai menerima telepon yang ternyata dari salah satu orang suruhannya itu.
__ADS_1