
“Kau kenapa?” Syila setelah membacakan puisinya dengan santai, tapi tak dapat dipungkiri, dia membaca dengan hatinya, hingga puisi itu terasa nyata.
“Aku iri dengan orang yang kau buatkan puisi seindah itu, aku tidak pernah membaca puisi semenyakitkan itu, ada rasa sakit, bahagia, dingin dan kritis. Rasanya aku ingin mati dan hidup dalam satu waktu, maksudku, cinta yang bertepuk sebelah tangan tapi sangat terasa indah, bagaimana kau bisa membuat tulisan itu, jika kau tidak memiliki objeknya.
Apakah ini untuk … Kevin?” Ini ternyata sasaran Izraa, dia merasa kecewa, karena Syila memang sedalam itu merasakan untuk Kevin.
“Tidak, dalam hidupku bukan hanya Kevin yang pernah aku cintai. Puisi tercipta sudah lama sekali, sebelum aku mengenal Kevin, ini untuk orang lain, orang yang pernah aku kagumi, tapi dia tak pernah melihatku, kami tak pernah saling berkenalan, tapi aku mengaguminya, cinta kami memang tak pernah saling terpaut, hanya terpisah bahkan sebelum dimulai, tapi aku bersyukur, karenanya, aku mampu membuat tulisan-tulisan indah.”
“Oh, maksudmu crush?” Izraa menggunakan istilah gebetan yang lebih modern.
Syila tertawa terbahak-bahak, “Ya, bisa dibilang begitu, orang yang tidak pernah tahu aku ada, mungkin juga tak pernah menganggap aku nyata, tapi membuatku mampu mencintapkan banyak warna pada tulisanku.”
“Aku bersyukur kau tidak pernah berani membuat langkah dengannya, karena jika dia melihat tulisanmu, mungkin dia akan mulai menganggapmu ada, aku bersyukur kalian tidak pernah saling mengenal.” Izraa terlihat tak jadi kecewa, karena bukan untuk Kevin ternyata.
“Tidak ada yang akan berbeda Za, karena kenal atau tidak, jikapun dia akhirnya membaca tulisanku dan tahu itu untuknya, dia takkan mencintaiku, dia hanya akan mencintai tulisanku.”
“Ya, akan sangat menyedihkan, karena mungkin dia akan mengiginkan cinta yang kau berikan, tapi tidak menginginkanmu sebagai pribadi. Memang menyedihkan, tapi aku bersyukur kalian tak pernah saling mengenal.” Izraa mengambil kesimpulan sendiri.
“Kau rupanya suka menari di atas penderitaan orang lain?” Syila kesal karen teringat tentang cinta lalunya yang bertepuk sebelah tangan.
“Aku tidak hanya akan menari pada penderitaanmu, tapi aku mungkin akan mengadakan syukuran dan juga hajatan besar-besaran pada setiap kisah cinta yang berakhir patah hati yang kau lalui dengan orang lain, aku akan selalu senang jika kau harus melaluinya, karena pada akhirnya, kau akan berada pada satu jalan, yang mempertemukan kita.”
“Wah, hanya diberi contoh sekali, izraa rupanya langsung menjadi murid yang hebat, aku takkan lagi memberimu ilmu, takut kau menjadi lebih hebat dariku.”
__ADS_1
“Guru tetaplah guru, meskipun murid mungkin akan lebih pintar, tapi tetap saja, sentuhan guru akan selalu berbeda.” Izraa memujinya dengan cara yang lain.
“Baiklah, sudah selesai basa-basi, mari kita masuk pada pembahasan pokok. Apa yang kau ingin bicarakan denganku terkait perusahaan baru kita.”
Izraa tersenyum sendiri, mendengar perusahaan baru kita, terasa sangat romantis, Syila telah menyerah pada kata kita, sebelumnya dia selalu merasa bahwa ini adalah perusahaannya.
“Kau sudah menyiapkan nama? Karena orang legal perusahaan harus segera mengurus perusahaan penerbitan kita, kau ingin cepat perusahaan beroperasi kan?”
“Oh ya, sudah ada nama yang aku persiapkan, namanya diambil dari bahasa sansekerta, CITRA SRAYA WALGITA.”
“Nama yang unik, apa artinya?” Izraa tertarik, bukan sekedar basa-basi, memang namanya terdengar unik.
“Tulisan menolong tulisan. Seperti visi yang perusahaan kita akan miliki, menolong para penulis untuk menerbitkan tulisannya, maka tulisan menolong tulisan, begitu. Apa menurutmu itu ok?”
Syila merasa senang mendapat pujian itu, tapi langsung jatuh lagi, karena ternyata Izraa belum menyelesaikan perkataannya.
“Tapi sayang, tidak mahir memilih pasangan, tak heran kau ditinggalkan.” Khas Izraa, si paling suka menghina.
“Kau mau kuhajar! Seolah kau tak tahu, aku berkorban untuk siapa!” Syila mengingatkan, bahwa dia melakukan ini untuk Sofia, adiknya Izraa. Hal ini sengaja dibawa Izraa sebagai candaan walau harusnya tema yang sensitif jika dilontarkan. Agar Syila tak merasa ini hal yang menyakitkan lagi, bukankah kata orang, jika saja kita mampu bercanda dengan rasa sakit, artinya sudah tak sakit lagi.
“Baiklah, aku tahu itu. Tapi nama yang kau pilih tadi sungguh bagus, aku suka, itu akan jadi nama perusahaan kita, karena nama itu sungguh mempresentasikan perusahaan kita dengan baik. CITRA SRAYA WALGITA, TULISAN MENOLONG TULISAN.” Mereka berdua lalu tersenyum dengan sangat puas, sementara ada beberapa orang yang mengawasi, rupanya itu adalah penggemar Izraa yang ingin berfoto.
Salah satu akhirnya berani datang ke meja itu dan berkata, “ Boleh minta foto nggak kaka Izraa?” tanya orang itu.
__ADS_1
“Boleh.” Izraa mengatakan dengan hangat, dia kembali ke mode artisnya, padahal aslinya dia itu sangat sombong dan angkuh, tapi penggemar tidak boleh disakiti, hukum dasar keartisan.
“Kak, boleh fotokan kami?” Orang itu meminta Syila untuk memfotokan mereka, Syila terdiam, karena ini pasti moment yang akan membuat namanya tercoreng lagi, karena dia akan mengambil handphone penggemar itu dengan tangan kirinya, itu tidak sopan.
Syila terdiam lalu tiba-tiba ada orang dari belakang yang berbicara.
“Aku aja sini, emang nggak mau sekalian foto sama mbak Syila juga, ini Penulis ternama loh.” Pelayan yang memang penggemar Syila itu berkata dengan senyum yang tulus.
Penggemar itu lalu berbinar, karena tidak tahu siapa Syila, mereka setuju dan akhirnya nama baik Syila terselamatkan sekali lagi.
Mereka berfoto dan para penggemar puas dengan foto itu, mereka meninggalkan Izraa dan Syila.
“Hei, terima kasih ya.” Syila menarik tangan pelayang itu dan mengucapkan terima kasih.
“Aku penggemarmu, aku tahu saat ini adalah saat tersulit bagimu, tapi percayalah, penilaianku tentangmu tak pernah turun, justru bagiku, kau itu inspirasi, keadaan tak pernah membatasimu, aku berjanji, setiap kali aku berada di titik terbawah, aku akan ingat ini, bahwa aku memiliki seseorang yang hebat sebagai panutan, jadi ini bukan pertolongan, tapi dedikasi.” Pelayan itu berkata, membuat Syila bercaka-kaca, sementara Izraa tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa?” Syila kesal Izraa merusak moment mengharukan ini.
“Kau salah menilai orang, perempuan ini manja, jangan terlalu berharap padanya.” Izraa meledek, pelayan itu tahu, bosnya bahkan terlihat sangat mencintai Syila, maka pelayan itu juga tertawa, Syila ikut tersenyum karena paham, Izraa sedang mencairkan suasana agar tak jadi kikuk karena drama penggemar dan penulis yang dia idolakan itu.
“Kalau begitu, aku balik kerja lagi ya, nanti kalau butuh apa-apa, panggil aku.” Pelayan itu lalu pergi, meninggalkan dua orang yang masih menyisakan tawa pada bibirnya.
“Lihat, dunia luar tak begitu kejam bukan, jika mungkin ada orang yang tidak menyukaimu, tapi akan banyak orang yang membelamu, kau terlalu meremehkan dirimu.” Izraa berkata dengan santai tapi membuat Syila terdiam, Syila merasa memang dia terlalu pengecut sebelumnya, tangan ini bukanlah batasannya, dia harus lebih kuat.
__ADS_1