Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 77 : Berpisah tamat


__ADS_3

“Terima kasih karena Syila mau datang ke sini.” Ammarhudi menerima Syila di ruang meeting, dia bersama Izraa dan Andi, sementara Ammarhudi bersama sekertarisnya, Aryo si sutradara dan juga beberapa orang pengacaranya, dia sudah meminta pengacara datang saat Syila meminta bertemu dua hari yang lalu.


“Untuk saya, tidak mudah datang ke sini, karena saya harus fokus pada kecacatan ini,” Syila sengaja menggunakan kata kecacatan untuk menyindir Amamrhudi, jujur, bagi Syila, Ammarhudi adalah orang yang jahat, karena tak mau mengerti keadaannya, tapi bagi Ammarhudi, Syila juga bukan orang yang bijak jika tak mau menyelesaikan masalah ini bersama, “tapi saya tidak ingin sudah cacat dipenjara pula, karena kalau Pak Ammarhudi menuntut saya atas tindakan penipuna, karena pasal yang bisa dikenakan pada saya soal kontrak kerja sama ganda adalah penipuan, maka tuntutannya pidana, dimulai dari 2 tahun kan pak?” Syila masih terus menyindir Ammarhudi.


“Saya yakin kalau kita takkan sejauh itu Syila, kamu merasa terjepit, lalu bagaimana saya yang mengeluarkan banyak uang untuk membayar kamu, membayar semua orang pada proyek kamu dan tiba-tiba ada yang sengaja memplagiatnya dengan gratis, tidak lama kemudian, ini ada surat kontrak yang dikirim ke kantor kami begitu kasus ini mulai tersebar, itu pasti langkah dari mereka untuk bebas dari tuntutan karena merasa telah membayar padamu, maka dari sana aku merasa penting sekali untuk mengkonfirmasi bahwa kau hanya difitnah agar mereka juga tak bisa kabur lagi.


Aku rasa, permintaanku masuk akal.”


“Masuk akal kok pak, kau memang benar telah banyak keluar uang dan banyak orang yang harus diibayar olehmu, tapi setidaknya kau melakukan segalanya dalam keadaan sehat. Jangan bermain kata dengan seorang Penulis Pak Ammar, kalau ini cuma masalah hukum agar mereka tidak kabur, kita hanya perlu melakukan pelaporan bersama, bahkan tanpa konferensi pers pun, mereka akan kena, kalau memang tujuanmu hanya tuntutan, tapi kita sama-sama tahu, pertarungan ini bukan tentang kebenaran, tapi tentang ketenaran kan, Pak?” Syila menatap Ammarhudi dengan tajam, Izraa dan Andi terhenyak, baru sadar soal ini. Syila yang seperti inilah yang mereka kenal.


Ammarhudi tertawa dan mulai bicara lagi, “Kau tahu kan, kalau ada pasal pada perjanjian kontrak kerjasama kita, bahwa kau ikut bertanggung jawab pada pemasaran dari film ini dengan setuju melakukan upaya agar film kita akan dikenal, maka apa yang aku lakukan tidaklah salah.”


“Tujuan awalmu memang ini kontrak kerjasama baru kan? jujur saja pak, tidak perlu berbelit-belit apalagi bermain kata dengan saya, kau memanfaatkan plagiasi ini untuk mendapatkan kesempatan memperbaharui kontrak denganku, kau ingin meluncurkan film seriesnya juga kan? kau ingin dapat izin dariku untuk seriesnya juga karena film kita sukses, begitu bukan?” Syila membeberkan maksud dibalik semua kasus ini, Ammarhudi menatap Syila kagum.


“Aku hanya ingin karyamu semakin naik kelas.”


“Maka salah satu niatmu memintaku untuk mengadakan konferensi pers adalah untuk eksposure kan, sebelum bahkan seriesnya akan kau lucurkan, kau ingin series ini terkenal, agar kelak jika seriesnya kau lucurkan, maka kau tak perlu repot lagi untuk memasarkannya karena semua orang sudah kenal series ini karena kasus yang akan kita luncurkan di publik.


Kau tahu dengan jelas, orang-orang di negeri ini suka kegaduhan,  kau ingin gunakan kesempatan ini sebagai marketing gratis untuk series yang belum dibuat itu, kau kekeh menyertakanku agar aku setuju seriesnya dibuat karena takut kau melaporkanku bukan?” Syila semakin membuat Ammarhudi kagum.


“Kau tahu, kau ini sebenarnya berbakat menjadi pengusaha Syil, kau tahu dengan jelas maksudku, maka tanpa berlama-lama lagi, aku membawa pengacara bukan untuk menuntutmu seperti yang aku ancamkan, tapi aku ingin memperbaharui kontrak kerjasama, kalau kau setuju, maka kita akan tetap adakan konferensi itu karena aku butuh untuk eksposure, lalu syuting series akan segera dimulai beriringan dengan tuntutan terhadap perusahaan PH kecil yang memplagiasi karyamu. Bagaimana, apa kau setuju?”


“Aku tidak pernah keberatan jika kau ingin karyaku dibuat seriesnya, tapi yang aku tidak suka adalah caramu mendapatkannya, aku tidak akan menolak, asal angkanya tepat, kau tahulah, orang cacat ini butuh uang.” Syila kesal karena Ammarhudi berani sekali mempermainkannya, maka dia sekalian saja mengambil keuntungan, toh karyanya menjadi primadona di perusahaan bos licik ini.


“Aku buat double dari perjanjian sebelumnya, bagaimana?”


Syila diam, dia lalu mengambil kalkulator yang ada di meja ruang meeting itu, menghitung sesuatu, cukup lama, lalu setelahnya dia sudah jatuh pada keputusan, Andi dan Izraa jujur penasaran pada angka yang akan disetujui Syila.

__ADS_1


“Double dari double, itu angka yang aku inginkan.”


“Astaga! Kau perempuan yang perhitungan!” Ammarhudi kaget, karena maksud Syila adalah 4 kali lipat dari pembayaran sebelumnya.


“Angkaku masih masuk akal Pak, kau akan mendapat bayaran yang berkali lipat, bahkan mungkin 10-20 kalinya setelah kau meluncurkan series ini dengan pemasaran dan pengenalan yang gratis dariku, angkaku tak ada apa-apanya dibanding dengan yang akan kau dapatkan.”


“Empat kali lipat terlalu besar Syila, aku punya banyak orang yang harus dibayar.”


“Aku punya kecacatan yang harus aku abaikan untuk mengadakan pemasaran gratis itu dengan alasan pernyataan publik itu, maka aku pikir taruhannya sesuai.”


“2,5 kali lipat, aku tidak bisa lebih dari itu.”


“Tidak bisa, aku ingin 4 kali lipat.” Syila keras kepala.


“Syil! Ayolah.”


“Yasudah, ini tawaran terakhir, aku bahkan sudah naik 2 kali ya, maka kau harus setuju, aku akan membayarmu 3 kali lipat! Deal?”


“Deal!” Syila langsung jabat tangan disaksikan pengacaranya Ammarhudi.


“Good, tiga kali lipat ya, tulis itu, jangan sampai gadis ini memerasku lagi.”


“Oh ya satu lagi pak.”


“Apa lagi!” Ammarhudi sudah kesal karena dia harus membayar Syila dengan nominal yang fantastis, bahkan angkanya hampir mencapai 1 miliar rupiah, gadis itu tidak bisa disepelekan.


“Aku punya syarat.”

__ADS_1


“Syarat lagi! kau juga dulu memberi syarat untuk film layar lebarnya, sekarang apalagi?” Ammarhudi mulai muak dengan tingkah gadis cerdas ini.


“Satu doang pak dan ini harga mati, tak boleh ditawar.”


“Aku mau tahu dulu, karena bisa jadi ini berat, karena tidak mudah mengerti isi kepalamu yang mudah menebak isi kepala orang lain.” Ammarhudi tahu kalau Syila pandai menebak niat orang lain karena kecerdasannya, kalau dia tenang banyak hal dia bisa selesaikan dengan mudah.


“Aku ingin pernyataan publiknya kita lakukan bersama, tapi di tempat yang berbeda.” Syila mengatakan ide Izraa, ide yang masuk akal bagi Syila.


Ide ini diberitahu Izraa di malam itu, saat dia datang ke rumah dan semua orang berkumpul, maka Izraa akan sekali lagi menjelaskan idenya.


“Apa maksudmu? Aku tidak paham.”  Ammarhudi bingung.


“Izraa akan jelaskan, Pak.” Syila meminta mantan kekasih palsunya untuk menjelaskan ide yang dia bawa pada Andi pertama kali lalu dia sampaikan ke keluarganya Syila dan semua orang setuju, sebelum memberitahu Syila, lalu Syila juga setuju pada akhirnya, dua hari lalu itu.


“Kita akan adakan konferensi pers terpisah, kau di tempatmu, lalu Syila di rumahnya, Syila akan terhubung dengan aplikasi meeting online, aku akan pastikan jaringan kami kuat, hingga sesi konferensi pers tanya jawab, Syila akan bergabung secara penuh, jadi kalian akan tetap konferensi bersama tapi di tempat yang berbeda, sediakan televisi pintar dengan layar besar, lalu letakkan di dekat Pak Ammarhudi, sehingga Syila terasa berdampingan menghadap para wartawan, lalu ada satu buah laptop yang kalian harus sediakan untuk ikut menggunakan aplikasi meeting online itu sehingga Syila juga bisa melihat kondisi di tempat konferensi Pak Ammarhudi secara realtime dan jelas, jadi pernyataan publik bisa dilakukan bersamaan, walau Syila tidak hadir di sini.”


Ammarhudi terdiam, ini jalan keluar yang baik, tapi kok dia lebih suka Syila ada secara fisik agar terasa dukungan penuhnya, tapi saat dia sedang berpikir, Izraa lalu sengaja mengalihkan perhatiannya Ammarhudi.


“Pak, kalau kita membiarkan Syila melakukan pernyataan publik dengan online, maka pembicaraan mengenai Syila yang tidak mampu hadir di hadapan publik akan semakin ramai, maksudku begini, kalau Syila hadir secara online, mereka para reporter akan semakin gatal untuk membicarakan hal negatif mengenai sakitnya Syila, mereka akan membuat pemberitaan mengenai sakit Syila secara membabibuta, maka karyanya Syila akan semakin membuat banyak orang penasaran karena berita sakit itu, kau mendapatkan apa yang kau mau dibanding hanya sekedar menampilkan Syila di konferensi pers bersamaan, karena itu akan membuat pemberitaan tentang sakitnya teredam, mereka akan mulai meragukan sakitnya Syila, ingat, Syila ini penulis terkenal, kalau dia dikenal, maaf Syil, cacat, tersandung kasus, lalu tetap berkarya, menurutmu apakah publik tidak akan terbagi dua? Akan ada yang mendukung dan pasti akan ada yang percaya kalau Syila memang orang jahat yang menggandakan kerjasama, maka kita bisa mengambil keuntungan dari dua kubu ini yang pasti akan terus membicarakan Syila.” Izraa menjelaskan hal yang membuat Ammarhudi berbinar, uang sudah terasa di tangannya dan nominal besar sudah terlihat di matanya, walau hanya sekedar angan.


“Aku setuju, kalian tim yang sangat mengejutkan.” Ammarhudi bahkan tak menyangka Izraa berhasil membujuk Syila ikut permainan, cacat-cacatannya ini.


Syila dan tim barunya pamit pulang, semua orang pergi dengan satu mobil saja, di dalam mobil Syila diam, dia duduk di samping Izraa, yang mengemudi Andi, dia tidak protes hanya duduk di bangku kemudi sendirian seperti supir, dia tahu kalau Izraa ingin berduaan dengan Syila walau hanya sejenak.


“Maaf karena tadi mengatakan hal kasar soal sakitmu, aku ....”


“Kita sudah bahas ini, aku tidak keberatan kau memakai istilah cacat untukku, lagi pula jalan ini jauh lebih baik dibanding aku harus melakukan konferensi pers itu di sana, aku tak mau tubuhku di foto dan direkam dengan seenaknya lalu mereka mengolokku, aku lebih suka mereka terus menebak sampai mati penasaran. Aku tak mau kasih jawaban pasti agar mereka senang, para reporter busuk itu.” Syila dan Izraa sudah membicarakan kemungkinan Ammarhudi menolak, maka Izraa hanya punya jalan, menggunakan kelemahan Syila sebagai senjata, yaitu kecacatannya.

__ADS_1


__ADS_2