Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 56 : Pelaku 11


__ADS_3

“Kita harus segera temui Izraa, sekarang!” Berteriak setelah mendengar perkataan Aldo.


Juna menuruti karena tahu ini sangat berbahaya.


“Kau tahu lokasi Izraa di mana?” Juna yang saudaranya sungguh khawatir.


“Kami saling memasang pelacak pada HP, posisinya dia ada di sebuah lokasi, aku sudah mencari tahu di internet lokasi apa ini, sepertinya ini pabrik terbengkalai di luar kota, dia masih belum sampai, bisakah kau mengajarnya dengan cepat Jun?” Syila gemetar mengatakannya.


Juna menginjak gas agar laju mobilnya semakin kencang.


“Kita harus hubungi Polisi.” Juna berkata sambil terus fokus untuk mengendarai.


“Tidak bisa, aku tidak punya bukti, kita harus menemukan bukti untuk menyeretnya ke Polisi, ini kriminal tingkat tinggi!” Syila meneteskan air mata juga pada akhirnya.


“Bagaimana Izraa bisa alpa untuk masalah ini, bukankah dia selalu hati-hati jika didekati orang!”


“Kau tidak akan hati-hati pada orang yang menolongmu, kau akan cenderung percaya pada orang yang menolongmu di dekat kematian, tak heran dia kehilangan kemampuan untuk menilai orang, aku tahu, biasanya dia orang yang menjunjung tinggi antisipasi.


Tapi dia lengah karena dia pikir orang yang menolongnya adalah orang yang baik.”


“Itulah kenapa kita orang-orang seperti kita, tidak boleh percaya langsung pada orang lain, karena apa? Karena orang-orang yang tidak sekelas dengan kita akan mengambil kesempatan atau manfaat dari uang atau popularitas kita.


Tak heran, papinya Izra ingin kau menikah dengan Izraa, begitu juga keluargamu, karena kita ini bukan dari keluarga sembarangan yang bisa seenaknya menerima orang lain masuk ke dalam keluarga kita.”


“Jun, Izraa akan baik-baik saja kan?”


“Aku harap begitu, walau aku tidak menyukainya karena kau menyukai dia, tapi bagaimanapun, dia saudaraku, aku tak ingin dia celaka.”


Juna dan Syila fokus mengikuti Izraa.


Sementara Izraa ternyatas sudah sampai di lokasi yang ditentukan, ternyata benar, pabrik terbengkalai.


Izraa mengambil beberapa tas yang berisi uang 2 miliar itu dari bagasi, tak lupa dia menyembunyikan senjata apinya di pinggang bagian belakang tubuhnya, untuk berjaga.


Dia lalu berjalan masuk ke dalam pabrik itu, sesuai instruksi dari pesan singkat telepon genggam lawas yang ditinggal begitu saja di bawah tempat tidur ruang perawatan Fenita.


Izraa terus saja berjalan, semakin dia masuk pabrik, semakin gelap yang dia lewati, tentu saja, karena sudah terbengkalai, bahkan sudah tak ada yang menjaga pabrik itu, di dalam tidak ada apa-apa, yang tersisa hanya kayu-kayu tak berbentuk dan lemari yang sudah kosong.


Hingga dia masuk ke suatu ruangan yang lebih terang dan memiliki lampu, saat masuk … tentu saja, ada Fenita duduk di sebuah bangku, tangannya terikat ke belakang, di belakangnya ada beberapa pria, ada 6 orang tepatnya, Izra mengenali beberapa di antaranya adalah yang menembaknya.


“Kalian benar-benar orang yang sangat jahat, bagaimana mungkin kalian menyekap seorang perempuan yang lemah!” Izraa kesal karena melihat Fenita diikat seperti itu, ini sudah semalaman, apakah Fenita yang masih sakit itu harus duduk seperti itu semalaman? Itu yang Izraa pikirkan.


“Periksa tubuhnya, dia pasti bawa senjata.” Seseorang yang dulu menembak Izraa meminta anak buahnya untuk memeriksa, Izraa terdiam, dia memang hanya membawa itu saja, terus terang, walau dia orang yang menguasai bela diri, tapi menghadapi penjahat, belum pernah sama sekali, jadi ini akan sulit dihadapi, ditambah Fenitay yang terikat di sana.


Orang itu mendekati Izraa, jarak mereka dibatasi oleh sebuah tiang besi yang cukup tebal dan mereka mulai memeriksa seluruh tubuhnya segera setelah mencapainya, benar saja, di pinggang belakang tubuhnya Izraa ada senjata api yang mereka temukan, senjata api itu diambil.


“Kau ke sini untuk menyerahkan uang, bukan untuk balas dendam, untuk apa kau bawa senjata api ini?” Lelaki itu berkata sambil menerima senjata api milik Izraa dari anak buahnya.


“Hanya untuk berjaga jika saja kalian tidak menepati janji, sekarang lepaskan dulu Fenita.”

__ADS_1


“Tapi kau tidak menelpon Polisi atau membawa anak buahmu kan?”


“Tidak, aku tidak membawa anak buah, tidak menelpon Polisi, sekarang lepaskan Fenita, aku harap setelah uang ini aku berikan, urusan kita selesai, aku takkan pernah mengadukan kalian, urusan kita selesai sampai di sini, jangan celakai siapapun lagi.”


Izraa setangah memohon.


“Bisa diatur, tapi serahkan dulu uangnya.” Lelaki pemimpin itu meminta Izraa untuk maju dan menyerahkan uangnya.


Izraa maju mendekati mereka, dia menatap Fenita dengan iba, Fenita terlihat sangat ketakutan, dia memohon pada Izraa untuk diselamatkan melalui matanya, dalam pikiran Izraa, entah apa yang sudah mereka lakukan pada gadis itu, Izraa tak bisa membayangkan.


Izraa memberikan uang itu pada lelaki yang merupakan pemimpin mereka, posisinya dia berada di samping Fenita, karena lelaki itu masih di belakang Fenita.


Saat memberikannya, Izraa sekilas melihat Fenita berdiri lalu sekajap kursi yang dia duduki sudah mendarat pada tubuh Izraa, seketika Izraa ambruk, sebelum benar-benar runtuh, Izraa melihat Fenita tertawa melihatnya jatuh tersungkur, setelahnya semua gelap.



“Masih 10 menit lagi baru sampai Syil, kita juga nggak bisa berhenti tepat di sana, aku takut kalau sampai mereka melihat kita.


Ini kau pegang, kau bisa memakainya kan? Waktu SMA kita pernah berlatih menembak, ingat kan cara pakainya?” Juna memberi Syila senjata api dengan peluru karet itu, Juna memang tidak pernah berani memakai senjata api dengan peluru sungguhan, karena harus ada sertifikasi kepemilikan dan juga orang yang terlatih untuk memakai, sedang untuk senjata api karet ini, hanya perlu sertifikasi yang dikeluarkan oleh club menembak.


“Lalu kau pakai apa?” Syila bertanya.


“Aku ada itu.” Juna menunjuk di kaki Syila, kunci setir yang memang sangat berat itu.


“Ya, itu sangat berguna, Jun.”


“Karena itu berat dan mungkin tidak akan langsung membuat lawan tumbang, kau pakai senjataku, pokoknya tembak saja, itu takkan membunuh orang, hanya akan membuatnya lumpuh sesaat. Itu sih yang aku dengar dari pelatihku.”


“Sudah hampir sampai, kita berhenti di sana saja.” Juna menunjuk sebuah tempat yang cukup dekat dengan pabrik.


Mereka turun dari mobil, Syila memegang senjata api itu dengan erat, Juna memegang kunci setirnya juga, dia berada di depan Syila, mereka mulai mengendap masuk ke dalam pabrik, memastikan tak ada orang yang melihat mereka.


Butuh waktu 5 menit untuk akhirnya bisa masuk, karena mereka benar-benar memastikan tak ada yang melihat.


Mereka masuk semakin dalam, setiap ruangan memang sangatlah gelap.



“Kenapa kau melakukannya?” Izraa yang sudah terikat pada tangan dan kakinya, ikatan disematkan pada sebuah tiang yang tadi memang ada di tengah ruangan yang membatasi Izraa dan para penjahat itu. Bangku yang tadi menghantam punggung Izraa yang sudah hancur, pantas saja dia pingsan, memang tumbukan yang Fenita lakukan itu sangat keras.


“Melakukan apa sayang?” Fenita berdiri di hadapannya.


“Aku percaya padamu.”


“Aku juga percaya … percaya kalau lelaki dengan ketidakmampuan mempercayai orang lain, akhirnya akan tertipu juga.”


“Siapa kau? Apa tujuanmu hanya uang saja?” Izraa bertanya pada Fenita.


“Tentu saja tidak, itu hanya bonus dalam perjalanan kisah kita.”

__ADS_1


“Kisah kita? Apa maksudmu?”


“Ya, tadinya aku hanya ingin kau mati, tapi ternyata dia benar, kau memang tampan.”


Fenita mengusap wajah Izraa, Izraa mencoba menghindar, dia jijik dengan tangan perempuan itu.


“Jadi aku pikir, lebih baik memang … bermain saja dulu, masa hanya dapat mayatmu, aku juga ingin uangmu, ingin orang yang dekat denganmu menjauh, pokoknya aku ingin kau menderita dulu.


Dan aku berhasil, lihat, uangnya aku dapat, kau bahkan kehilangan Syila dan uangmu.


Syila pasti sedih sekali kalau melihatmu mati nanti, aku akan menemani Syila setelah ini, aku akan membuatnya juga … menderita.


Aku akan selalu mengingatkannya tentang kematianmu yang disebabkan oleh Aldo, karenanya kau mati, itu pasti perlahan akan membunuhnya juga.”


“Jangan sentuh Syila! Cukup kau membunuhku saja, tapi jangan sentuh Syila.”


“Justru! Sikapmu ini membuatku semakin ingin membuatnya menderita!”


“Apa Aldo menawarkan sesuatu yang lebih besar padamu?” Izraa ingin tahu, apa yang membuat Fenita sejahat ini, apa dia adalah komplotan Aldo dan keluarganya? Izraa sungguh ingin tahu.


“Oh Aldo, si bodoh itu? Tidak, dia hanya orang bodoh yang mencintai orang yang salah, si tolol itu bahkan tidak diterima keluarganya karena memang bodoh.”


“Maksudmu? Keluarga mafianya tidak mendalangi ini semua?!” Izraa bertanya dengan kesal.


“Keluarga mafia yang mana? Oh! Kau percaya pada dokumen yang aku berikan tanpa mengkonfirmasi ulang? Dasar bodoh!” Fenita tertawa lagi.


“Jadi kau juga mengarang soal dokumen itu?”


“Tentu saja, kau ini orang yang skeptis, datang padamu tanpa data dan ketulusan, tentu saja kau takkan percaya, jadi bagaimana mungkin aku datang padamu tanpa persiapan, aku sudah mempersiapkan ini sejak lama, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengeksekusinya! Dan ditengah jalan, ternyata aku berubah pikiran. Karena skema awalnya adalah, dia menembakmu, lalu setelah itu kami akan pastikan kau mati.


Tapi setelah melihat wajah tampan dan juga mobil mewahmu, aku tergiur hal lain, membuatmu menderita, tentu suatu hal yang akan sangat menyenangkan. Soal Aldo, aku mengarang dokumen itu dan memastikan, anak buahmu takkan bisa mengendus dan membuktikan kalau dokumen itu palsu. Tentu selain itu, kau sangat percaya padaku dibanding kekasihmu sendiri, jadi, mudah sekali membodohi orang yang sangat percaya pada seseorang.


Benar kata para ahli, kalau ingin membunuh seseorang tanpa ketahuan, kita harus sangat dekat untuk menikamnya, dia takkan pernah memiliki kesempatan untuk mengelak, karena jarak yang dekat itu.


Aku sudah mendapatkan kepercayaanmu dan Syila … wanita itu ternyata lebih sulit didekati, tapi mendapatkanmu saja sudah cukup, setelah ini aku akan menyiksanya, jadi kau tenang saja ya, aku akan membuat kematianmu perlahan dan menyakitkan!”


“Apa salah kami padamu!” Izraa bertanya dengan berteriak, karena itu Syila mendengarnya, dia dan juna jadi tahu di mana keberadaan Izraa.


Mereka berlari ke suatu ruangan, di mana suara Izraa berasal.


Syila dan Juna mengendap, mereka akhirnya menemukan ruangan yang lebih terang dan melihat dari balik kaca, Izraa terika pada tiang di tengah ruangan itu.


Sementara Fenita membawa belati yang dia pegang, belati yang cukupe besar dan tajam, saking tajamnya, belati itu berkilauan.


“Salahmu? Biar Tuhan yang beritahu!” Fenita mengayunkan tangannya, hendak menusuk belati pada dada Izraa.


Tapi Syila berlari dan menarik bahu Fenita dengan kencang, hal itu membaut mereka berdua jatuh, tubuh Fenita mendarat tepat di tubuh Syila.


Cairan hangat terasa di tangan Fenita, cairan yang rembes keluar entah dari tubuh siapa.

__ADS_1


“Syila!” Juna berteriak, Izraa melihat itu langsung lemas, dia lemas melihat … darah itu keluar dari tubuh … Syila!


Pisaunya menancap tepat di tubuh kekasihnya.


__ADS_2