Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 19 : Srigala dan Si Kerudung Merah


__ADS_3

Syila absen selama 5 hari dari kegiatan filming, dia memutuskan pulang dari puncak hari itu juga, dia takut, ketakutan dengan sikap Izraa yang menjijkan.


Syila tidak menyangka bahwa Izraa sudah menjelma seperti Srigala yang siap menangkap Si Kerudung merah yang lengah, Si Kerudung merah itu adalah Syila.


“Lu bisa kasih tahu gue nggak, kenapa sih tiba-tiba nggak mau ke lokasi syuting, Bang Aryo udah nelepon gue terus Syil, ada beberapa hal yang harus dia diskusikan, kalau elu begini terus, kemungkinan syuting akan ditunda.” Andi membujuk Syila yang sedang berada di apartemen.


“Gue bisa bicara di telepon aja nggak?” Syila bertanya.


“Nggak bisa, orang dialognya banyak, ada apa sih, Syil?” Andi mencoba mengorek lagi, karena Syila berubah dengan drastis, dia seperti ketakutan pergi ke lokasi syuting.


“Nggak ada apa-apa, gue cuma lagi nggak mood aja.”


“Seorang Syila nggak mood? Apalagi soal karya, boong lu, lu pikir gue Juna yang gampang lu begoin.” Andi protes dengan kencang.


“Yaudah, bilang Bang Aryo gue dateng ke workshop final minggu depan, gue koreksi semua di sana, gue cuma bakal dateng pas workshop, abis itu gue pantau dari jauh, gue cuma mau fokus sama novel baru gue aja.” Syila akhirnya mengalah, dalam pikirannya workshop bakal lebih aman, karena mereka akan bertemu di satu ruangan bersama, membahas bersama-sama tentang adegan per adegan yang sudah difilmkan.


Intensitas bertemu dengan Izraa akan sedikit, jadi kemungkinan Izraa mengganggu Syila akan sangat kecil.


Syila bertekad akan menjauhi Izraa sejauh mungkin, dia tidak ingin bertemu dengannya, Izraa sangat menakutkan, siapa yang tahu bahwa Izraa akan nekat, dalam pikiran Syila, jika memang benar kaki Syila menjadi obat bagi penyakitnya dan kakinya adalah pembangkit gairah yang selama ini tertidur, maka Izraa tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang dia inginkan.


Untuk orang yang tidak sakit saja, mereka bahkan tidak bsia menahan nafsu dunia, apalagi yang telah sakit dan akhirnya bisa merasakan 'itu' untuk pertama kalinya, dia tidak akan berhenti, Syila bergidik membayangkan bagaimana kemungkinan terburuk yang akan dia alami jika Izraa nekat.


Walau beberapa hari ini tidak ada chat ataupun telepon dari Izraa, tapi Syila tetap merasa harus waspada.


Oh ya, Syila lupa, seharusnya dia belanja ke mini market di bawah, bahan makanan dan cemilannya sudah habis.


Syila mengambil dompet dan buru-buru pergi, Andi sudah pulang sedari tadi setelah puas memarahi adik sepupunya itu.


Lift terbuka, Syila bergegas masuk, ada beberapa orang, Syila memencet nomor lift lantai 1, tempat di mana mini market berada, walau tidak  besar, mini market itu bisa melayani pesanan dari pemilik unit apartemen, Syila sudah memesan kebutuhan dapur kemarin, sekarang dia harus mengambil pesanannya.


Lift sudah turun, Syila keluar, dia berjalan santai ke mini market. Semua biasa saja, tidak ada sesuatu yang salah, tapi yang dia tidak tahu, ada seorang lelaki, memakai topi berwarna hitam, jaket berhodie yang menutup kepalanya dan kacamata hitam serta masker yang menutup wajahnya. Lelaki itu memperhatikan Syila dari jauh.


Lelaki itu sudah mengawasi Syila beberapa hari ini, dia terus mengikuti Syila dari jauh, dia tidak berniat jahat, dia hanya ingin melihat … sasarannya.


Srigala telah menetapkan targetnya, dia adalah srigala berjenis Alpha, srigala pemimpin, jika sudah menetapkan target, dia tidak akan berhenti sampai mendapatkannya.


“Nan, mana pesenan aku?” Syila bertanya pada Nani pegawai mini market, Syila biasa memesan keperluan dapur padanya, Nani tidak keberatan karena tips dari Syila biasanya cukup banyak.


“Nih Mbak, tapi cabe lagi mahal ya.” Nani memberikan kantung belanjaan.


“Iya, ditotal aja.” Syila mengambil cemilan yang dia inginkan lalu ke kasir.


“Mbak tumben kok sering banget ke sini, lagi nggak sibuk emang, biasanya minta dianterin, saking sibuknya.” Nani bertanya.


“Iya, lagi kosong aja.” Syila tersenyum, dia membayar semuanya dan tidak lupa memberikan tips yang besar untuk Nani.


Saat keluar, dia berjalan masuk ke lift, liftnya tidak mau terbuka padahal sudah ada di lantai unit Syila, dia melihatnay dari monitor lift.”


“Mbak, kayaknya error deh, nggak bisa dipakai loh itu liftnya.” Security lewat dan memberitahu.


“Yah, terus gimana dong?” Syila bertanya.


“Tunggu aja, paling setengah jam bisa lagi, kemarin gitu.”


“Buset lama amat, setengah jam, naik tangga aja deh, soalnya kan deket lantai 5.” Syila lalu berjalan menuju tangga darurat, Syila memang sering naik tangga jika hal ini terjadi.

__ADS_1


Syila berjalan dengan santai sembari menyalakan lagu pada telepon genggamnya, dia menyalakan pengeras suara, karena tidak membawa headset, ditambah tak ada orang juga, jadi dia merasa bebas membuat kebisingan.


Dia terus berjalan, sudah sampai lantai tiga, saat akan sampai lantai empat, tidak sengaja, kakinya terpelesat karena tidak melihat langkahnya dengan benar, dia bersiap akan jatuh karena terpeleset itu, seketika kehilangan keseimbangan, yakin wajahnya akan menubruk tangga yang terbuat dari semen itu, dia memejamkan mata, tapi ternyata tidak, tubuhnya tertahan oleh sesuatu, dia lalu membuka mata, melihat perutnya, karena pada bagian itu dia merasa sesuatu menahan tubuhnya jatuh, sial! bukan sesuatu, tapi seseorang, Syila melihat tangan, itu tangan ….


Lelaki itu menarik tubuh Syila dan menyandarkannya pada dinding, mereka berhadapan, lelaki itu menaruh tangannya di tembok di mana Syila disandarakan, Syila gemetar, bukan karena jatuh, tapi dia takut bahwa orang itu berniat jahat, di sini sepi, tidak ada CCTV!


Syila berusaha melepas tubuhnya dari orang ini, tapi lelaki ini terus menahan tubuh Syila ke dinding, dia memegang bahu Syila dengan kedua tangannya.


“Aku mohon, aku mohon, jangan.” Syila menangis, dia menutup matanya tidak ingin melihat lelaki yang menyerangnya.


“Bukankah kau bisa beladiri?”


Syila membuka matanya. Lelaki itu telah membuka masker dan hodie yang menutup kepalanya.


“Za.” Syila menatap dengan perasaan lega, lupa kalau dia adalah srigala juga, tapi dia kenal.


“Bukannya kamu bisa beladiri? seharusnya kau menendang atau memukulku, bukannya malah memohon.” Izraa kesal.


“Aku pikir kau penjahat, kau bermaksud melakukan hal yang ….”


“Jadi kalau sama penjahat kau lebih lunak, sedang denganku kau sangat kejam?!”


“Za, lepas.” Syila mengingatkan bahwa Izraa telah memegang bahu Syila dengan cukup kencang.


Izraa melepas tangannya dan memposisikan tangannya seperti orang yang menyerah.


“Makasih, Za.” Syila tidak ingin berlama-lama dengan Izraa, mungkin Izraa bukan orang jahat, tapi dia orang yang cukup berbahaya. Syila berjalan, bahkan hendak berlari, dia bahkan tidak bertanya, kenapa Izraa bisa ada di tangga darurat itu.


“Syi!” Izraa berteriak, Syila menghentikan langkahnya.


“Gue cuma mau liat …” Wajah Izraa menunduk, “gue cuma mau liat wajah lu, apa itu berlebihan?” Izraa kemudian menatap Syila, matanya memerah, dia seperti tidak tidur berhari-hari. Wajahnya penuh penderitaan, seperti seorang remaja yang sedang patah hati dan menderita.


“Za, sorry, gue … gue, nggak bisa.” Syila kemudian berlari dan memastikan langkahnya tepat, sehingga tidak perlu terjatuh lagi dan membuat Izraa menolong lagi.


Izraa menunduk, dia duduk di salah satu tangga yang dia pijak saat itu, menatap kosong.


[Gue nggak tahu kalau cinta menggebu seberat ini, semelelahkan ini, gue nggak tahu bahwa semua terasa hambar, makanan, minuman dan semua hiburan itu, terasa menyesakkan, wajah Syila terbayang tanpa henti, melihatnya dimana-mana, perasaan gila macam apa ini, seharusnya aku tidak pernah sembuh, aku tidak tahu bahwa terapi yang aku lakukan hanya untuk penderitaan seperti ini, aku benci perasaan cinta ini, rasanya akan mati setiap kali melihat punggungnya, rasanya sesak melihatnya tadi hampir jatuh. Sudah lima hari aku di sini, melihatmu dari jauh, bahkan hal seperti itu saja membuatku puas, cinta gila macam apa ini, sayangnya aku tidak bisa mundur, semua organ, sel dan jiwaku mengatakan untuk tidak berhenti, aku bukannya tidak mau tapi tidak mampu menahan serangan gila ini.] Izraa mengatakannya dalam hati, dia lalu bangun, hari ini dia harus ke lokasi dulu, nanti setelah itu dia baru akan ke sini lagi. Memperhatikan perempuan itu dari jauh lagi.


Izraa menjadi penguntit bodoh bagi seorang Syila yang dulu dia anggap hanya seorang manusia, karena dia tidak mampu merasa apapun, hingga Tuhan memberinya kesempatan sembuh dari penyakitnya dan sekarang dia menjadi gila karena cintanya. Apakah ini adalah akumulasi apa yang Tuhan tak berikan padanya sejak lahir, sehingga rasa menggebu ini sungguh sangat menyiksa dan berat.



Workshop dimulai, semua sudah berkumpul, Izraa duduk di sebrang Syila, Syila datang, tapi dua terlihat berbeda, sangat berbeda dari biasanya.


Syila memakai gamis panjang hingga menutup kedua kakinya, tentu saja dia tidak lupa memakai kaos kakinya saat ini, jilbabnya juga panjang dan lebar, pakaian yang bahkan lebih syari dibanding Hanum.


Andi heran dengan kelakuan sepupunya, biasanya dia tidak pernah memakai gamis panjang yang bahkan terseret saat dia berjalan, karena seking panjangnya.


“Jadi, kita sekarang kumpul untuk review adegan, kita cek lagi apa yang kurang sebelum final, ini adalah half final ya.” Bang Aryo membuka, semua orang mengemukakan pendapat satu persatu, Syila berusaha untuk fokus, begitu juga dengan Izraa.


“Tapi yang gue heran, kenapa beberapa adegan terlihat lambat ya, Bang?” Syila mempermasalahkan adegan romantis yang terasa kurang dapat karena Izraa tertatih saat berdialog.


“Iya Za, gue juga ngerasa gitu, kemarin lu selalu sempura deh ngucapin dialog romantis, kenapa lu sering lupa sih akhir-akhir ini?” Bang Aryo menegur.


“Sorry.” Izraa hanya mengatakannya dengan datar, wajahnya nampak pucat dan matanya terlihat lingkaran yang tegas.

__ADS_1


“Kurang-kurangin ke club, Za.” Bang Aryo meledek, yang lain tertawa.


“Izraa mana suka ke club, orang dia ngilang tiap sebelum sama abis syuting lima hari ini, kemana sih Za?” Asistennya menanyakan itu dengan spontan, Izraa menunduk, hal yang tidak pernah Syila lihat, Izraa tidak fokus, sama sekali tidak terlihat seorang bintang yang hebat itu.


Syila melihat ke arah Izraa, dalam hatinya bertanya, 5 hari, kenapa sama dengan absennya Syila dari kegiatan syuting. Lalu kenapa dia kemarin ada di tangga darurat apartemen Syila, apakah dia … mengikuti Syila, menguntit? Syila bergidik membayangkan hal itu.


“Yaudah paling ini nanti diulang lagi ya Syil?” Bang Aryo bertanya.


“Iya, gue mau adegannya lebih menjiwai, bukan biasanya ini nggak masalah ya, Za?” Syila bertanya dengan kesal.


“Nggak akan ada masalah kalau gue masih sakit.” Izraa tertawa sinis, Syila mundur, dia kaget Izraa berkata gitu.


“Lu sakit, Za? Pantes kurang fokus, lu mau istirahat dulu?” Bang Aryo tidak mengerti maksud perkataan Izraa, maksudnya ketika dulu dia sakit dari penyakit mentalnya, dia tentu bisa menciptakan perasaan cinta palsu kepada siapa pun, karena tidak ada perasaan yang dia libatkan, semua terasa mudah.


Tapi setelah dia sembuh dan mampu merasakan cinta yang menggebu, ternyata, menyatakan perasaan pada orang yang bukan dia inginkan, terasa aneh dan berat. Dalam pikirannya, hanya ingin Syila, dia hanyan ingin Syila yang berbicara di hadapannya. Sungguh seperti srigala kelaparan yang merindukan daging.


“Iya Za, istirahat aja dulu.” Asistennya berkata.


“Nggak! Paksain, gue mau jadwal syuting tetap pada rencana, lu artis hebat Za, gue tahu elu pasti bisa, makanya mening lu banyak istirahat abis syuting. Lu jagain dong artis lu, jangan lu tinggalin, pokoknya lu 24 jam harus sama Izraa.”  Syila memerintah, dia melewati batas, sebenarnya tujuan dia berkata itu adalah agar Izraa kelelahan dan lupa pada perasaannya.


Izraa menatap Syila dengan kecewa.


Workshop bubar, Syila segera ke mobil, Andi sudah duluan, tadi Syila ke toilet dulu, saat keluar toilet, Izraa sudah menunggunya, Syila berjalan cepat, Izraa mengikuti dengan kecepatan yang sama.


“Lu tahu nggak Syil, daripada kaki lu, yang paling ganggu itu, wajah lu, kalau lu mau gue fokus lagi, elu harus di lokasi, biarin gue liat wajah lu saat melakukan adegan romantis itu, lu bakal dapetin semua yang lu mau, tapi biarin gue pinjam wajah lu sebagai fantasi kegilaan gue, dateng ke lokasi setiap hari.”


Syila berhenti mendengar itu, dia merasa jijik dan merinding saat mendengarnya, tapi tidak mungkin membentak Izraa di sini.


“Baik, gue bakal dateng setiap hari, cuma itu kan syarat supaya lu bisa fokus dan selesaiin syuting?” Syila memenuhi syarat itu.


“Iya.”


“Ok, gue pastiin bakal dateng setiap hari, tapi lu juga harus janji, syuting bakal selesai tepat waktu dan lu bakal fokus. Selain itu, jauhin gue, jangan mendekat kurang dari tiga langkah, bagaimana?”


“Iya, gue janji.:”


“Bagus, lu harus tepati janji.” Syila lalu pergi.


[Kau pikir dengan menutup rapat tubuhmu, ingatanku tentang kaki dan wajahmu akan hilang, wanita bodoh. Apa kau pikir bisa kabur setelah menyebabkan semua kekacauan di dalam hatiku ini!] Izraa mengatakannya dalam hati dan tersenyum.


______________________________


Catatan Penulis :


Ada yang pernah bilang, bahwa wanita harus hati-hati dengan seluruh tubuhnya, karena seluruh tubuhnya adalah pesona yang menjerumuskan.


Bukankah jelas bahwa ini semua salah Syila, seharusnya dia tidak lupa dengan kaos kaki itu, Syila adalah pelaku sedang Izraa adalah korban, Syila harus bertanggung jawab.


Bahkan pria lurus seperti Izraa bisa berubah menjadi srigala yang  menakutkan.


Seperti si gadis berkerudung merah yang berjalan sendiri di hutan tidak heran srigala yang memang tinggal di sana mengincarnya, seandainya gadis berkerudung merah tidak kekeh mengunjungi neneknya, tentu Srigala tidak akan melihatnya dan menjadi lapar, membuat nenek bahkan menjadi korban srigala.


Seandainya dia tidak memaksa ke hutan, neneknya akan tetap hidup, srigala akan tetap hidup tanpa menjadi pembunuh nenek itu.


Ada yang sepemikiran?

__ADS_1


__ADS_2