
“Iya, Syila tahu kok, tapi ini ada apa ya?” Syila mulai tidak sabar dan penasaran, ada masalah besar ap aini?
“Syil, ini soal novel yang dibuat filmnya.”
“Novel itu? Ya, yang peran utamanya kau dan Hanum, ada apa dengan novel itu?”
“Kau mungkin akan kena sangkutan hukum karena novel itu ditemukan memiliki surat perjanjian kerja sama ganda ….”
“Apa? Aku tidak paham.”
“Kau lihat ini dulu.” Izraa memberikan komputer tablet dengan layar yang cukup besar pada Syila.
Syila akhirnya duduk dan menerima komputer tablet pintar itu dan melihat apa yang hendak ditunjukkan Syila.
“Apa-apaan ini!” Syila melihat sebuah serial dengan judul yang sama dari novel yang difilmkan.
“Ya, televisi berbayar ini telah menayangkan beberapa episode, alur ceritanya sangat amat mirip dengan novel yang kau buat.
Pak Ammarhudi Katarjo akan membuat tuntutan pada perusahaan televisi berbayar itu dan mungkin kau juga akan terkena masalah yang sama.”
“Loh, kenapa aku juga kena? Aku juga rugi dong, aku seharusnya ikut menjadi penuntut, bukan malah dituduh begini, apa tuntutan mereka padaku?” Syila protes.
“Mereka menuduhmu melakukan perjanjian kerjasama ganda, yang kau tahu dengan jelas, itu melanggar perjanjianmu dengan Pak Ammarhudi selaku Produse dan pemilik PH itu.” Izraa menjelaskan.
“Brengsek!”
“Syila.” Papi mengingatkan, kalau Syila telah berkata kasar, Syila meminta maaf karena telah kelepasan, dia sangat kesal hingga tak bisa menahan.
“Kalau mereka memang mau menuntutku, akan kutuntut balik, pertama, mereka harus punya bukti bahwa aku memang melakukan Kerjasama ganda itu, mereka harus menemukan dokumen kerjasamanya.
Kedua, mereka harus punya saksi, kalau mereka tak dapat penuhi kedua itu, maka mereka akan aku tuntut pencemaran nama baik.
Lalu aku juga akan menuntut televisi berbayar itu, aku akan menuntut mereka berdua, aku masih punya cukup uang untuk menyewa pengacara yang bagus, akan aku habisi mereka berdua. Enak saja main menuduh, aku kerja keras untuk novel ini, lagian, pemikiran dari mana sih Ammarhudi itu sampai bisa mencurigaiku, bukankah dia tahu, kalau aku adalah orang yang sangat berdedikasi untuk tulisanku.
Saat dia menawarkan difilmkan saja, aku harus hati-hati dan memberikan syarat banyak, masa ini aku juga ke televisi berbayar yang tidak punya nama, macam jual kacang goreng, tak punya otak sekali Ammarhudi.” Syila sudah sangat naik pitam, papi tersenyum, dia tahu, putrinya orang yang jujur, apalagi soal uang bukanlah masalah baginya, papi dan Alzam bisa memenuhi kebutuhannya jika dia memang benar-benar seseorang yang suka menghamburkan uang, tapi Syila bukan gadis seperti itu, dia orang yang jarang sekali belanja, bahkan untuk pakaiannya saja dia tak terlalu ambil pusing.
Mami yang selalu mendandaninya, dia membiarkan mami selalu membelikan pakaian yang cantik-cantik tanpa protes, kecuali kemarin itu saat akan ke prelaunching filmnya, karena itu berlebihan, selama tak berlebihan, Syila selalu membiarkan mami yang memilih semua pakaiannya.
Karena aslinya Syila lebih suka pakaian yang sederhana dan tidak terlalu ribet, dia juga lebih suka pakai celana dibanding gamis.
Maka kehidupannya sebagai anak orang kaya yang sederhana, akan sangat berbanding terbalik dengan yang dituduhkan.
“Bagaimana jika Ammarhudi punya buktinya?” Izraa tiba-tiba bertanya.
“Tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin, bagaimana kau bisa memberikan apa yang tak ada ….”
__ADS_1
“Seseorang bisa saja membuat bukti itu menjadi ada jika memang tujuannya menjatuhkanmu.” Izraa melihat Syila telah paham maksudnya.
“Kau yakin Ammarhudi punya buktinya?”
“Dia tak percaya padaku, aku menguping di ruang meeting sebelum mami dan papi datang kemarin.”
“Sebentar, mami dan papi datang kemarin ke PH?! Kok aku nggak tahu?” Syila menyadari itu, Izraa tak sadar dia keceplosan.
“Bisa kita bicarakan ini nanti?” Papi mencoba untuk membuat Syila fokus dulu, mami memelototi Izraa, Izraa hanya terdiam saja, dia lupa kalau ini tadinya proyek rahasia. Tapi mereka tak mampu menanganinya.
“Lanjutkan.” Syila akhirnya meminta Izraa lanjut.
“Aku mendengarnya, dia sangat marah karena ada yang mengirim sebuah dokumen ke kantor PHnya, dokumen itu untuk Ammarhudi, hanya dia yang membuka, pengirimnya anonim, dokumen itu yang membuatnya yakin kau melakukan Kerjasama ganda.
Dia tak merinci apa isi dokumen itu.”
“Siapa lagi yang melakukan ini padaku? Apakah tangan cacatku tak cukup!”
“Kau tak cacat, kau hanya sedang sakit!” Izraa berkata dengan keras.
“Jangan bentak anakku!” Papi ikut terbawa suasana, mami melihat semu orang tegang langsung berusaha menenangkan.
“Sudah cukup. Kau bisa jelaskan penyeleasaian apa yang bisa kita lakukan?” Mami berbicara dengan dingin pada calon mantu yang dulu dia sangat diinginkan di keluarga itu.
“Kau gila! Aku takkan lagi pernah muncul di public dalam keadaaan … begini!” Syila menunjuk tangannya.
“Kau harus melakukannya.”
“Tidak, kita maju saja ke sidang, aku ingin tahu, apa benar mereka memiliki bukti, kalau ya, artinya aku difitnah dengan kejam.” Syila lalu berdiri, dia enggan mendengar lagi.
“Syil, aku hanya ingin membantu, jangan bersikap seolah aku berada di sisi mereka.”
Syila berhenti dari niatnya untuk keluar lalu berbalik, “Kau tidak punya kewajiban untuk menolongku, aku akan cari jalan keluar sendiri.”
Syila lalu meneruskan niatnya untuk keluar dari kamar kerja ayahnya, meninggalkan sisanya.
“Sudah kubilang, takkan mudah untuk membujuknya.” Mami menatap Izraa dengan tajam. Papi hanya diam saja, tahu kalau ini memang tak mudah dan tak ingin tersulut pada apapun, hanya solusi yang menjadi fokus papi.
“Aku akan membantu Syila, aku akan pastikan dia takkan sampai pada pengadilan itu, jika pun aku harus mencuri dokumennya, aku akan lakukan apapun.”
“Sebaiknya begitu, Izraa, ingat ini baik-baik, kau takkan pernah mampu menjadi suami anakku, jika tak pernah melakukan sejauh yang Syila lakukan untukmu, ingat ini, Syila mempertaruhkan nyawanya untukmu, maka sejauh itu juga kau harus mampu melakukan apapun untuknya.” Mami pergi setelahnya.
“Tidak akan mudah Za, jangan ambil hati istriku, dia kalau sudah benci sama orang, akan tutup mata untuk segala kebaikan orang itu. Aku tahu itu buruk, tapi aku tak bisa memperbaikinya.”
“Aku tidak terlalu memikirkan itu Om, yang aku pikirkan saat ini adalah, membuat Syila bisa tenang, nyaman dan bahagia, hanya itu tujuan hidupku.”
__ADS_1
“Tidak bisa kalau kau hanya selalu kasar padanya, aku takkan memberikan anakku pada pria yang kasar.”
“Maaf Om, aku hanya tidak tahu harus berbuat apa untuk seseorang yang ingin aku bahagiakan.”
“Sudahlah, cari cara bagaimana supaya Ammarhudi bisa menunda laporannya, aku juga akan cari cara untuk bisa menemukan orang yang melakukan itu pada anakku.”
“Ya, aku akan cari cara Om.”
Lalu mereka berdua akhirnya keluar dari ruang kerja papi dan Izraa pamit pulang, hanya pada papi.
Saat keluar rumah, dia melihat Alzam, Alzam hanya menatapnya tajam dan melengos, dia tak menyapanya.
Berbeda dengan Hanum yang kebetulan memang akan mampir, seperti biasa, hampir setiap hari dia di sana.
“Za, sudah ketemu Syila?” Hanum menyapanya.
“Sudah.”
“Gimana?” Hanum bertanya lagi.
“Syila menolak bicara di depan publik.”
“Hmm, aku sudah duga, tidak akan mudah baginya untuk muncul di depan orang banyak, karena kondisinya. Saat ini dia bahkan sudah membaik, tapi masih tetap tidak ingin berhubungan dengan media sosial.”
“Tetap kabari aku soal Syila ya, terima kasih.”
“Ya, aku mendukungmu, karena aku tahu, akan sangat baik untuk seorang perempuan jika dia bersama orang yang mencintainya.” Hanum seorang calon kakak ipar yang baik, niatnya hanya ingin Syila bahagia.
Tapi dia tak tahu, bahkan Izraa tak paham dengan perasaannya, dia hanya ingin bersama obatnya, itu saja, cukup.
Sementara Syila di dalam kamar, dia menelpon seseorang.
[Ke sini sekarang!] Syila berteriak.
[Lu pikir lu siapa? Nyuruh-nyuruh orang!] Andi kesal karena adik sepupunya tidak sopan.
[Ini masalah yang seharusnya elu tangani sebagai Manager gue dan juga orang yang mengurus segalanya tentang tulisan gue.]
[Gue udah keluar dari lingkungan bisnis lu, jadi nggak usah hubungi gue.] Andi tidak suka dia disepelekan Syila, tapi Syila masih kesal karena Andi tak mampu untuk menjaganya, itu yang menjadi landasan dia marah, bukan benar-benar curiga padanya.
[Ke sini sekarang, aku membutuhkanmu.] Syila mengalah.
[Ya.] Andi lalu menutup teleponnya.
Dia tahu, adik sepupunya itu orang yang sangat baik, tapi kalau marah, sangat menakutkan, seperti maminya, sekali tak percaya, maka sulit untuk percaya lagi,
__ADS_1