
“Kan sudah kubilang akan kujemput.” Izraa sudah di ruang tamu, Syila belum bersiap.
“Kau kan yang ada janji, aku tak perlu datang.” Syila duduk di sampinngya.
“Tidak bisa, pemetaan karakter harus kau awasi, kalau salah gimana? Kau kan tahu, kalau serial, ekspresi lebih bold dibanding dengan film, banyak tekhnik yang harus dilebihkan bukan?” Izraa beralasan, karena tak ada dia pun, sebenarnya tak masalah.
“Alasan itu, nggak perlu aku di sana.” Syila membaca maksud Izraa.
“Yasudah, tapi kalau nanti serialnya tidak berjalan sesuai yang kau mau, kau tidak boleh komplein dan marah, apalagi meminta ulang syuting.” Izraa masih mencoba membujuk dengan memberitahu kemungkinan terburuk.
“Kan kalian semua sudah pernah syuting hal yang sama, hanya saja ini lebih panjang, sudahlah, tinggal ikuti sebelumnya.”
“Syil, kok kamu memperlakukan anakmu dengan cuek seperti ini, kau kan yang bilang kalau karyamu adalah anak-anakmu, kau itu ibu dari karyamu, lalu kenapa sekarang kau malah seperti tak peduli pada tumbuh kembang anakmu?” Izraa terus memojokkannya agar Syila ikut.
“Za, aku memang sudah mengakui kalau aku sakit, tapi bukan berarti aku sudah bisa bertemu banyak orang lalu pamer aku orang cacat.”
“Kau tidak cacat!” Izraa terlihat marah karena terus mendengar itu.
“Lihat ini, tanganku tidak berfungsi, bagaimana aku tidak dibilang orang cacat!” Syila kesal.
“Karena kepalamu yakin kau cacat, maka tubuhmu percaya kau itu cacat, aku tak heran terapi yang kau lakukan sulit berhasil. Karena yang dalam otakmu hanya kau tak mampu, maka tubuh percaya. Syil, aku merasa tak mengenalmu, kau dulu itu sangat pembangkang dan percaya diri, ini bahkan bukan seluruh tubuhmu, tapi kenapa kau seperti cacat keseluruhan, bahkan jika pun kau cacat keseluruhan kau tidak boleh menjadi lemah, kau lebih dari ini!” Izraa kesal lalu pergi, walau dia sebenarnya tahu dengan jelas, kalau tidak seharusnya dia marah, tapi dia sungguh kesal dengan segala kepesimisan Syila pada dirinya sendiri.
Walau kesal, dia harus tetap pergi ke acara itu karena ini adalah workshop untuk pendekaatn karakter pada serial, walau mereka semua orang yang sama pada film dan serialnya, tetap saja harus ada pendekatan karakter lagi, mengingat karakter yang sempat terpisah lama.
Hanum diizinkan Alzam tetap syuting karena dia tahu, syuting bersama Izraa tak masalah, Izraa takkan macam-macam dengan Hanum, dia hanya macam-macam dengan adiknya.
Begitu sampai ke lokasi workshop Izraa terlihat sangat kesal, Bang Aryo tahu, ini pasti karena kekasihnya tak mau ikut.
“Syila nggak mau ikut?” Bang Aryo tanya basa-basi, karena dia tahu dengan jelas, Syila tak terlihat bersama Izraa, sudah pasti tak ikut dong.
“Nggak mau katanya.”
“Yaudahlah, nggak apa-apa, kemarin aja buat dia mau konferensi pers susahnya minta ampun, tapi akhirnya mau juga kan, jadi … udahlah jangan maksa.”
“Iya.” Izraa hanya berkata dengan singkat.
Semua pemain satu-persatu datang dan juga beberapa kru yang memang dibutuhkan.
__ADS_1
Lalu workshop dimulai.
…
Sementara Syila ada di rumah sedang di ruang tamu, hanya membaca buku, akhir-akhir ini dia lebih sering membaca karena belum bisa menulis.
Saat sedang sibuk membaca dia mendengar ada suara gerbang rumah dibuka dan suara mobil menyusul, sepertinya ada tamu.
Mami keluar rumah melewatinya, Syila hanya sekilas melirik dan melanjutkan membaca, itu pasti tamu mami, mereka akan bicara di ruang tamu pada sisi lain rumah itu, maka Syila tak perlu pindah.
Tapi dugaannya salah, tamu itu ternyata masuk ke ruang tamu dan menyapanya.
“Syila, apa kabar?”
“Oh … iya tante.” Syila terlihat terkejut karena maminya Izraa yang datang.
Maminya duduk di samping Syila memeluknya dan bertanya keadaan Syila.
“Baik kok Tan, begini aja sih.”
“Kemarin Tante lihat loh, kamu kerena banget, itu reporter siapa sih? Mau tante cari tahu nggak?” Maminya bertanya, seolah dia tak tahu siapa wartawan itu.
“Tapi kalo Syila terganggu, Tante bisa kok cari tahu orangnya dan kasih dia peringatan.” Maminya Izraa tersenyum penuh makna, sementara maminya Syila yang tadinya masih ke dalam untuk menaruh beberapa buah tangan yang dibawa, ya, buah tangan yang cukup banyak seperti buah, kue keringa dan makanan ringan sampai berat, ini lebih mirip seperti seserahan sih dibanding buah tangan untuk menjenguk orang sakit.
“Tidak perlu lah, energi kita nanti habis untuk orang sampah seperti itu Jeng, terima kasih ya sudah datang, itu bawaanmu banyak sekali.”
“Kan aku jarang ke sini, ya aku bawalah semua kesukaan Syila, ada buah leci, strawberry, mangga, trus ada sambal goreng ati, ada kentang mustofa dan ada beberapa merk kopi kesukaanmu, karena bingung mana yang mesti aku bawa, ya aku beli semua saja.” Lalu dia tertawa, seolah itu lucu, membuat Syila dan maminya saling berpandangan dan mau tak mau akhirnya ikut tertawa.
“Syila hari ini Izraa mulai proyek serial ya? Kok kamu nggak ikut ke sana untuk workshop?” Pertanyaan menyebalkan, maminya Syila hendak menjawab, tapi Syila menahannya, karena dua keluarga ini cukup dekat, maka Syila tak ingin basa-basi.
“Karena Syila tak ingin orang fokus ke tangan Syila, aku ingin mereka fokus ke serialnya, makanya Syila memutuskan untuk tidak ikut ke sana.”
“Oh begitu, kamu bijak sekali ya, semua dipikirkan untuk karyamu, kamu sangat sayang karyamu ya, makanya mereka melesat sangat tinggi mencapai penggemar yang sangat banyak. Tak heran banyak orang kecil yang berusaha ikut memanfaatkan popularitas novelmu untuk meraup keuntungan.”
“Ya, aku harap mereka kapok dan tidak seenaknya lagi untuk melakukan plagiasi, karena membuat karya itu tak mudah.”
“Ya, ya, aku setuju sekali dengan yang kau katakan.” Maminya Izraa mengatakan itu sembari meminum teh yang disediakan oleh maminya Syila, teh yang maminya Syila tahu, kesukaannya, karena teh itu juga kesukaan maminya Syila, bisa dibilang kesukaan lingkaran pergaulan mereka, teh yang satu kotaknya bisa mencapai 500 ribu dan hanya berisi 15 kantung teh, mahal bukan? Yaaa, kaum jetset memang terkadang tidak lagi memikirkan kuantiti, tapi kualiti, walau kadang terasa berlebihan, “tapi ada satu hal yang seharusnya kau lakukan juga Syil.” Sambung maminya Izraa.
__ADS_1
“Apa itu tante?” Syila penasaran, maminya juga.”
“Melindungi karyamu sendiri secara penuh dan utuh.”
“Hah?” Syila bingung.
“Ya, seperti membuat perusahaan penerbitan sendiri, kau yang menulis, kau yang mengurus legalisasi cetaknya dan memproduksinya sendiri, lalu mempersiapkan metode marketingnya sebelum benar-benar siap dipasarkan, apalagi kau sudah punya nama, pasti jauh lebih mudah untuk membangun perusahaan itu.”
“Ah tante, tidak perlulah, Syila niatnya bagi-bagi rejeki ke perusahaan penerbitan, makanya tidak cetak sendiri, Tan. Syila mau fokus menulis saja, itu juga sekarang sulit dilakukan, yah, tante tahu kan.” Syila melihat tangannya yang masih sakit.
“Justru karena ini makanya Tante mengatakan ide itu.” Maminya Izraa menunjuk tangan Syila.”
“Maksudnya, Tan?”
“Kalau masalah bagi-bagi rejeki, kamu bisa menggunakan perusahaan penerbitan kamu untuk membantu Penulis lain menerbitkan bukunya, kau tahu kan, untuk menerbitakan buku saat ini sulit, pertama karena sekarang orang lebih suka baca di hp, kedua sulitnya memasarkan karya Penulis yang belum dikenal, terakhir, biasa menerbitkan buku, mulai dari mencetak dan pemasaran itu kan sangat mahal, jadi, kau bisa bantu para Penulis baru untuk menerbitkan buku mereka yang mungkin berkualitas, tapi tak ketemua perusahaan penerbit yang mau menerbitkan buku mereka karena hitungan keuntungan yang tipis.
Tapi tante tahu, Syila pasti mau membantu para Penulis baru itu kan? Syila saat ini mungkin rehat dari dunia menulis, tapi Syila bisa tetap menjaga kemampuan menulis dengan cara menjadi editor.”
Syila terdiam dan termenung mendengar itu, sungguh ini tawaran yang sangat membuatnya berdebar, tak terpikir olehnya bahwa ini bisa jadi cara Syila kabur dari ketidakmampuan menulis, dengan mengoreksi tulisan orang lain, sungguh ini ide liar yang sangat membuatnya berdebar.
“Tapi nanti kamu lelah loh, bikin perusahaan, jadi editor, ngurus legalnya juga, pemasaran juga, wah itu repot banget sih.” Maminya mengatakan itu sembari menatap maminya Izraa, mereka berdua memang sudah sepakat menggiring Syila melakukan ini, rencana yang matang untuk membuat Syila lebih produktif daripada merenungi Nasib sialnya.
“Repot sih, tapi nggak benar-benar perlu dua tangan untuk melakukan itu, karena kalau mengoreksi tulisan, kau hanya perlu mata dan juga kecerdasan, koreksian bisa kau tandai saja dan kita bisa merekrut orang untuk melakukan koreksi menyeluruh setelah kau periksa, tuh … lapangan kerja lagi buat orang Syil. Kau bisa membangun kerajaan kecil kepenulisan di sana nanti, kau ratu yang akan memimpin dengan bijak di kerajaan yang kau bangun sendiri.”
Syila masih diam, tapi jujur, dia sudah termakan ide cemerlang mengarah ke gila itu, sebelum ini, tak pernah terpikir baginya untuk membuat perusahaan penerbitan seperti yang maminya Izraa katakan.
“Tapi Tan, Syila tak punya modal sebanyak itu, untuk mengurus perusahaan.” Syila akhirnya jujur, karena walau uangnya banyak, tapi mendirikan perusahaan dengan tenaga kerja yang banyak, itu tak mudah.
“Nah ini dia Syil, proposal penanaman modal untuk perusahaan barumu kelak, kamu baca ya, tim analisaku sudah susun semua biaya yang mungkin kau butuhkan untuk membangun sebuah perusahaan, mulai dari legalisasi sampai tempat yang mungkin kau butuhkan, dana akan kami siapkan begitu kau siap.”
Syila menerima proposal dari map hardcover berwarna biru itu, dia terkejut karena sepertinya ini sudah disiapkan, apakah ini akal-akalan dua keluraga itu lagi?
“Boleh Syila pelajari dulu Tan?”
“Tentu saja, take your time, pikirin baik-baik, tante siap bantu pokoknya.”
Lalu kedua mami itu saling tersenyum tersembunyi karena melihat ekspresi Syila yang sangat sumringah, dia pasti bersemangat karenanya.
__ADS_1
Lagi-lagi maminya Izraa mampu menyusun langkah untuk bisa mengendalikan calon menantunya.