
[Syil, bisa ketemuan nggak? sorry ganggu liburan lu ya.] Bang Aryo Sutradara bertanya, ini memang sudah dua hari Syila libur, karena jatah liburannya belum diambil, maka Syila memilih libur dulu selama dua hari terakhir.
[Ada apa sih Bang? kan gue libur sampe besok.] Syila bermaksud menolak.
[Soal … ketemuan dulu deh, penting banget Syil, urgent. Sama Andi juga ya.] Syila lumayan penasaran dengan perkataan Bang Aryo.
[Ok deh, tapi sorean ya, gue selesain beberapa deadline dulu.] Setelah masalah dengan Izraa dia pikir selesai, sudah satu hari tidak bertemu Izraa membuatnya sedikit senang.
Waktu berlalu, Syila sudah selesai dengan pekerjaan menulisnya, dia siap berangkat ke lokasi pertemuan dengan Bang Aryo, sedang Andi juga pergi ke sana sendiri dengan mobilnya, dia sedang tidak bersama Syila, jadi mereka bertiga janjian ketemu di suatu restoran yang cukup pribadi.
“Bang, Ndi, sorry telat, macet tadi.” Syila datang paling belakangan.
“Ya, nggak apa, lu pesen apa dulu deh, kita bakal ngobrol panjang nih.” Bang Aryo berkata.
“Ok.” Syila memesan makanan dan minuman secukupnya, lalu setelah pelayan pergi dia bertanya lagi.
“Bang, ada apa sih?”
“Ok, gue juga tadi belum buka ke Andi, biar kalian berdua dengar bersamaan aja, jadi begini Syil, Ndi, sebenernya Izraa sudah absen nggak masuk syuting selama dua hari ini.”
“Hah? Serius?” Andi kaget, Syila meminum air putihnya yang sudah datang duluan lalu tersedak.
“Iya, gue udah coba hubungi tapi nggak bisa, semua orang pusing, lalu kita syuting adegan yang memang Izraa ngga ada, tapi karena dia peran utama, adegan tanpa dia tuh dikit banget, gue terus coba hubungi dia, baru pagi ini dia terima telepon gue.”
“Bagus dong, apa katanya?” Lagi-lagi Andi yang merespon, Syila hanya terus mendengarkan dengan seksama sembari deg-degan.
“Bagus tapi juga nggak.”
“Kok gitu?” Andi penasaran.
“Dia bilang sudah email surat pengunduran diri sebagai aktor utama dari film ini, dia juga bersedia membayar Penalti atas keputusannya.”
“Mati lu!” Andi reflek berbicara dengan kasar.
Syila terdiam dan tidak mampu berkata apa-apa.
“Lu coba temuin dia belum? Bisa dibicarain baik-baik dulu kan?”
“Udah Ndi, begitu dia telepon, nggak pake lama, gue langsung ke apartemennya, dia mau ngomong ama gue, tapi akhirnya dia tetap pada keputusan untuk mengundurkan diri, dia bahkan udah siapin Pengacara supaya masalah ini cepat selesai dengan adil.”
“Dia udah niat banget sih, Cil.”
“Gue pergi dulu ya, sorry.” Syila bangkit dan lalu pergi begitu saja meninggalkan Produser dan Managernya, bahkan minuman dan makanan pesanan dia juga belum sampai ke meja.
Dia bukannya ingin lari dari masalah, dia akan menghadapi Izraa sendiri, ini pasti karena masalah mereka makanya Izraa melakukan ini, semoga ini hanya ancaman, Syila akan berusaha membujuk Izraa.
Setelah berkendara selama dua puluh menit, dia sampai di apartemen Izraa, dalam sekali tekan bel, Izraa langsung membukakan pintu, kelakuannya seperti anak remaja yang menunggu kekasihnya datang ke rumah dan meminta maaf usai pertengkaran sebelumnya, padahal mereka tidak berpacaran, jangankan berpacaran, berteman saja tidak.
“Aku udah denger keputusanmu keluar dari film, boleh aku tahu alasannya apa?” Syila berusaha berbasa-basi.
“Minum dulu.” Izraa sudah membuatkan Syila teh jasmin, dari baunya terasa sekali.
Syila hanya menatap teh itu saja, ada rasa takut untuk meminumnya.
“Kenapa? kau takut?”
“Tidak, kenapa aku mesti takut?”
“Kau tidak bingung kenapa kemarin bisa tertidur begitu saja dan tidak mampu bergerak saat kugendong ke kamar?” Izraa tiba-tiba mengungkit hal itu lagi.
“Aku ….”
“Kau tahu, kebiasaanmu mengusap wajahmu itu adalah hal yang berbahaya.” Izraa mengatakan hal yang membuat Syila bingung.
“Apa maksudmu?”
“Kau ternyata hanya pintar teori, pada prakteknya kau itu bodoh sekali.”
“Za, jangan keterlaluan!” Syila mulai kesal.
“Kau pernah membawa Ketamin ke dalam salah satu novelmu sebagai serbuk yang berbahaya, tapi kau tidak tahu bentuk dan juga baunya, kan?”
“ Apa hubungannya dengan pembicaraan kita?”
“Karena tahu kebiasaan burukmu yang selalu mengusap wajah itu, aku jadi mudah menidurkanmu, bahkan tanpa melakuan tindakan kriminal seperti menaburkan sesuatu ke dalam minumanmu.”
“Aku tidak mengerti, bagaimana bisa?”
__ADS_1
“Aku menaburkan bubuk Ketamin pada tanganku, saat kita bersalaman, kau tidak sengaja menghirup bubuk itu, karena kebiasaan burukmu yang selalu mengusap wajah, hanya butuh waktu kurang dari setengah jam kau tertidur dan lemas, tentu Ketamin dalam dosis yang tinggi yang kau hirup itu.”
“Kau!” Syila kesal dan hendak memukul Izraa, tapi Izraa menangkap tangan Syila dan melempar tubuh Syila ke sofa.
“Jangan kau berani dekat-dekat denganku lagi atau memperlihatkan dirimu di depanku lagi, atau aku tidak akan seperti kemarin, ragu untuk berbuat buruk kepadamu.” Izraa kembali duduk dengan kesal.
“Za, aku tahu kamu orang baik, kau bahkan tidak melakukan apapun kemarin, kau aslinya baik, aku yakin itu, makanya bantu aku ya, kembali ke filmku.”
“Apa aku begitu penting untukmu hingga kau memohon begini?”
“Ya, kau orang yang paling tepat untuk menjadi pemainnya, tidak bisa yang lain.” Syila terus membujuk, padahal dia baru saja tahu habis dikerjai oleh Izraa hingga bisa tertidur dan lemas ketika itu.
“Aku tidak bisa.”
“Kenapa? apa karena masalah kita? Kalau begitu, aku tidak akan datang ke lokasi syuting dan membiarkanmu fokus.”
“Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, kau yang menyebabkan masalah ini dan ingin kabur gitu?”
“Bukan gitu Za, aku hanya ingin kau kembali itu saja.” Hilang semua harga diri Syila, dia terus mencoba membujuk Izraa.
“Baiklah, kalau kau ingin aku kembali main di filmmu, aku punya syarat.”
“Baik, apa itu?” Syila tidak ragu bertanya.
“Kau yakin sanggup melakukannya?”
“Selama tidak melanggar hukum Negara dan hukum Tuhan, aku akan berusaha memenuhinya.”
“Baiklah, aku ingin kau … jadi pacarku!”
“I-itu melanggar hukum Tuhan, dalam islam kita tidak diperbolehkan berpacaran.”Syila berkata dengan gugup.
“Aku hanya ingin berpacaran, aku tidak akan melakukan hal yang tidak kau izinkan pada tubuhmu, aku akan menahan sekuat tenaga, tapi tetap di sisiku sebagai wanita yang aku inginkan.”
“Tidak bisa, kita berdua akan terjerumus, Za.”
“Bisa, setidaknya kalau aku tidak bisa menikmati tubuhmu, tapi aku bisa merasakan gejolak itu, gejolak yang mereka rasakan di waktu remaja, gejolak keinginan yang besar berada di sisi wanita yang diinginkan, kau tahu, rasanya menyenangkan sekali saat melihat rambutmu yang tergerai itu.”
Syila menarik jilbabnya agar tetap tertutup rapat, ingat bahwa kemarin Izraa sempat melihat rambutnya karena jilbab itu sudah terlepas saat dia bangun.
“Za, aku tidak boleh berpacaran, kamu tahu, wanita muslim tidak boleh ….”
“Itu karena mereka tidak memperhatikan perintah Tuhan, bahwa wanita muslim dilarang berpacaran.”
“Aku tidak peduli! Aku hanya ingin kita berpacaran, aku tidak memintamu tidur denganku, kan? aku hanya ingin kita berpacaran, itu saja!”
“Za, apa yang kau rasakan itu hanya sebuah nafsu belaka, Za. Lihat, dalam setiap katamu tidak pernah kau katakan bahwa kau mencintai atau menyayangiku bukan? kau selalu mengatakan kau menginginkanku, berkali-kali kau katakan. Itu karena tidak ada cinta dan rasa sayang dalam hatimu untukku, kau hanya menginginkan tubuhku, itu nafsu!” Syila mulai kesal.
“Kau pikir aku tidak cukup dewasa untuk tahu itu? aku tahu dengan jelas itu nafsu, satu-satunya hal di dunia ini yang tidak bisa aku rasakan sebelumnya, nafsu remaja, nafsu dewasa dan debaran karena bertemu dengan wanita yang kita inginkan! Aku merasakannya setelah belasan tahun menanti, itu semua hanya padamu! Hanya padamu aku mampu merasakan itu!”
“Za, denger aku, kalau kita nggak bertemu lama, kau akan lupa padaku, kau akan bertemu wanita lain dan akhirnya tidak menginginkanku lagi.”
“Kalau semudah itu, tentu aku tidak akan segila ini menginginkanmu! Sudah kubilang, masalahnya aku tidak bisa mengidentifikasi jenis kelamin lain yang mampu membuatku menginginkannya seperti aku menginginkanmu! Kau ini beneran bodoh atau pura-pura bodoh, sih!” Izraa berkata dengan keras karena ikut kesal.
“Aku nggak bisa! Maaf.”
“Apa karena kau masih menunggu Kevin?”
“Hei! Kenapa kau membawa-bawa namanya! Dia tidak ada urusannya dengan masalah kita.”
“Ada, kau bilang tadi kalau wanita muslim tidak boleh berpacaran, tapi kenapa kau berpacaran dengan Kevin, apakah keyakinanmu itu fleksibel? Kalau dengan Kevin yang tidak menginginkanmu kau boleh berpacaran sementara denganku yang benar-benar menginginkanmu kau tidak boleh berpacaran?”
“Hati-hati dengan perkataanmu! Kevin menginginkanku tapi kami terjebak situasi!” Syila terpancing.
“Situasi apa yang membuat seorang pria meninggalkan wanita yang dicintainya menunggu dalam ketidak pastian!”
“Kevin tidak ada hubungannya dengan masalah kita, kembali ke masalah yang sedang kita bicarakan!”
“Keputusanku sudah bulat, kau ingin aku kembali ke filmmu, maka jadilah pacarku, titik.”
“Kalau begitu, keputusanku juga bulat, kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan, hatiku tidak untuk orang yang penuh nafsu sepertimu.”
“Jadi kau ingin hatiku juga? kau ingin aku cintai?” Izraa mengejek.
“Bukan itu poinnya tuan!” Syila menunjuk wajah Izraa.
“Lalu apa Nona? Kalau aku bisa memberikanmu hatiku, apakah kau rela memberikan hidupmu padaku?”
__ADS_1
“Aku tidak tertarik dengan hatimu, itu intinya” Syila menghujam Izraa dengan kata-kata yang menyakitkan.
“Baiklah, berarti kita sudah pada akhir diskusi ini, silahkan keluar, Pengacaraku akan mengurus penati yang harus kubayar, semoga kau bisa mendapatkan seorang pemain yang lebih baik dariku.” Izraa berjalan ke kamarnya meninggalkan Syila begitu saja.
Syila mellihat punggung Izraa dengan tatapan benci, tidak seharusnya Syila terjebak masalah receh seperti ini, dalam hatinya, dia akan mencari seorang pemain yang lebih baik lagi dari Izraa, lihat saja, Syila akan buktikan kalau Izraa yang akan terpuruk, bukan dirinya!
…
“Lu yakin kita cari pemain baru?” Andi bertanya, mereka berdua sudah ada di apartemen Syila.
“Iya.”
“Ini tinggal sebulan lagi syuting kelar Syil, masa kita mulai dari awal lagi? udah 6 bulan lebih kita kayak orang gila kejar-kejaran syuting, siapa yang nanggung semua biaya itu?”
“Izraa akan membayar penaltinya.”
“Itu ke kantor, kalau pemain lain? Hanum udah bangun chemistrynya loh bareng Izraa, lu pikir dia mau mulai dari awal lagi? terus pemain lain juga belum tentu.”
“Kalau Hanum nggak mau, kita ganti dia juga.”
“Nggak bisa, dia ponakan Produser, gue tau itu dari selentingan orang pada ngomong, makanya da sedikit arogan.” Andi menjelaskan.
“pikirin itu nanti, sekarang kita fokus cari pemain dulu.”
“Kita bujuk dulu yuk.”
“Lu pikir gue tadi dari mana! Gue tadi buru-buru pergi itu ke apartemennya Izraa.”
“Oh gitu, trus?” Andi penasaran.
“Ya dia tolak usulan gue, dia malah ngajuin syarat supaya bisa kembali ke film.”
“Apa syaratnya?”
“Dia … dia mau gue … ih sumpah geli gue!”
“Apa?”
“Dia mau gue jadi pacarnya.”
“Mampus lu!” Andi kesal.
“Yakan?”
“Nggak lah, yaudah, gue coba negoin yang lain deh, lu fokus cari artis pengganti, pokoknya jangan sampai elu pacaran ama dia, bisa suram masa depan lu, karena dia itu terkenal anti menikah!”
“Hah? Gosip lagi tuh?”
“Iya, dia itu dulu terkenal suka lelaki, lalu terkenal juga, paling anti pernikahan.”
“Gosip kali, soal dia suka lelaki aja kita udah tahukan, kalau itu nggak bener.” Syila bukannya membela dia hanya bicara fakta.
“Ya, kalau itu gosip. Tapi, kalau soal dia anti pernikahan, ini karena dia ngomong sendiri dulu saat diwawancara.”
“Oh ya, dia ngomong apa emang?”
“Dia ditanya sama salah satu wartawan saat jumpa pers tentang filmnya, lalu ada yang iseng tuh tanya, dia rencananya kapan nikah, trus dia jawab, kalau dia nggak ada rencana nikah dalam waktu dekat ataupun panjang.”
“Oh, itu mah jawaban diplomatis.”
“Makanya jangan potong dulu omongan gue, Cil. Trus si Wartawan nanya lagi, kira-kira umur ideal dia nikah tuh, umur berapa. Eh tau nggak, dia jawabnya begini, dia itu nggak percaya pernikahan, makanya dia mungkin tidak akan menikah, karena menikah pilihan, makanya dia memilih untuk nggak milih itu.”
“Wah dia emang arogan ya, berani banget ngomong gitu di Indonesia, di mana budaya ketimuran itu kental banget dan pernikahan bagi orang timur itu suatu kewajiban jika sudah cukup umur.” Syila semakin yakin untuk tidak menjadikan Izraa bagian dari hidupnya, cukup berpacaran palsu saja dengannya dulu, tidak ingin membuat itu jadi kenyataan.
“Yaudah, sekarang kita fokus deh, semoga semuanya berjalan lancar ya, Cil. Gue nggak mau dia seenaknya jadiin lu mainan dengan alasan apapun!” Jiwa pelindung Andi mulai keluar lagi.
Apakah Syila mampu menemukan pemain itu dalam waktu dekat? walau dia ragu, tapi menjadi kekasih seorang yang jelas arogan seperti Izraa adalah sesuatu yang lebih menakutkan, apalagi kalau ayah dan kakaknya tahu, terlebih jika Kevin tahu, Syila hanya akan menjadi seseorang yang menjilat ludahnya sendiri.
Jujur karena masalah ini dalam pikiran Syila, Kevin sudah tidak pernah ada lagi, pikirannya penuh dengan Izraa, kelakuan Izraa yang menyebalkan karena begitu dinginnya dia dulu, sekarang dia berubah menjadi hangat bahkan panas, Syila takut membayangkan jika dia menjadi kekasih Izraa, pasti nama baiknya akan tercoreng.
____________________________________
Catatan Penulis :
Ada yang setuju nggak kalau mereka pacaran?
Kalau setuju tulis alasannya di Coment ya, kalau nggak setuju, juga tulis alasannya ya.
__ADS_1
Terima Kasih untuk para pembaca setia.