Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 117 : Wanita itu 3


__ADS_3

Pagi yang cerah, tapi mungkin banyak jiwa yang kelabu, bisa jadi karena hujan semalam belum juga surut dinginnya, sehingga tubuh dan hati enggan bangun dari tempat di mana  tidur adalah peraduannya.


Pagi ini begitu sampai kantor, Izraa melihat langsung siaran itu lagi, bagaimana kekasih yang hendak dia persunting dipermalukan, tujuannya jelas, menjatuhkan harga diri, parahnya si korban tak tahu kalau dia sedang dikerjai.


Izraa sudah duduk di ruangan Syila bahkan sebelum si empunya datang.


Syila terkejut karena pria yang beberapa hari ini tidak bisa dia temui sudah ada di ruangannya.


“Soal video siaran itu kan?” Syila bertanya karena tahu, Izraa pasti mempertanyakannya.


“Apakah sulit jika tak ada aku di sini, hingga langkahmu salah terus?” Izraa langsung menyerang Syila.


“Ya, aku minta maaf.” Syila tak ingin bertengkar, dia tak punya tenaga untuk hal lain, dia hanya ingin bekerja saja dengan tekun, sisanya dia tak ingin mengurusinya.


“Permintaan maaf bukan hal yang penting saat ini, kau sudah dipermalukan, bagaimana mungkin kau biarkan harga dirimu diinjak secara sukarela tanpa perlawanan?”


“Memangnya siapa yang harus kau lawan?” Syila bertanya dengan kesal, karena dia sama sekali tak tahu sedang dijadikan bidak catur yang langkahnya diatur.


“Kalau kau mau tahu musuhmu, ikut aku meeting untuk banding, aku tidak terima kau dihakimi bahkan tanpa pengadilan.” Izraa menarik tangan kiri Syila dan meninggalkan Andi yang kebingungan di sana, karena Izraa langsung menariknya tanpa mengajak, mungkin memang bukan urusannya.


Mereka berdua naik lift hendak ke lantai paling atas, tentu saja ruangan orang tuanya Izraa.


“Kita ngapain ke sana? Kalau kau mau cari masalah, jangan ajak-ajaklah, aku tidak bisa terus menyebabkan keributan Za.”


“Kau tidak dengar kataku? Kau ini sangat ceroboh membiarkan mereka menghakimimu tanpa melalui pengadilan terlebih dahulu, kau dituduh lalu langsung saja iya, tanpa perlawanan, Syila yang kukenal sih nggak kayak gitu ya.”


“Syila yang kau kenal sudah hilang, sekarang Syila yang dewasa ada di hadapanmu.”


“Nggak usah banyak alasan, kedewasaan tidak menuntutmu untuk menjadi ceroboh dan senang memberi harga diri untuk diinjak orang.”


Mereka sudah sampai di lantai orang tuanya Izraa, Pak Hansyar dan Ibu Hansyar pasti ada di ruangan, sebelum masuk, Syila menarik tangan Izraa yang masih terus menggenggamnya, seolah Syila bakal lari.


“Kenapa?” Syila bertanya.

__ADS_1


“Aku bisa jalan sendiri, kau mau menyebrang atau apa hingga kita harus seret-seretan begini?” Syila kesal karena Izraa terus menariknya seperti anak kecil saja.


“Oh, ok. Sekarang sudah bisa masuk?” Izraa bertanya, Syila mengangguk dan Izraa membuka pintu ruangan pemilik perusahaan ini.


Begitu masuk Syila melihat ada tiga orang di sana, suami istri Hansyar dan satu orang perempuan lagi, penampilannya sangat anggun, dia menggunakan pakaian formal tapi terlihat sangat mahal, jelas dia bukan orang biasa, rambutnya panjang digerai dengan bebas, tapi terlihat sangat rapi. Wajahnya sangat cantik, cara duduknya juga terlihat anggun, dia menghias kakinya dengan alas kaki berhak cukup tinggi, tapi tetap terlihat menawan.


Wanita itu tersenyum sambil terus mengobrol dengan orang tua Izraa, walau dia tahu dua ada dua orang yang masuk, seolah sudah memprediksi kedatangannya, wanita itu telihar tenang dan tak terusik dengan kedatangan Izraa dan Syila.


“Oh ya, Denia, kenalkan ini Syila.” Pak Hansyar memperkenalkan Syila.


Syila yang baru saja masuk dan memang tak kenal dengan perempuan ini, mengulurkan tangan kirinya untuk berjabat tangan.


Denia berdiri dan melihat Syila dengan tatapan menghardik, tatapannya seolah mengatakan, tak tahu sopan santun, bisa-bisanya dia bermaksud berjabat tangan dengan tangan kiri.


Denia enggan memberikan tangannya untuk berjabatan tangan, dia hanya melipat tangan di dada dan menyebutkan nama.


Izraa kesal melihat itu, lagi-lagi wanita ini berbuat kasar dibalik gaya sok anggunnya.


“Maaf Denia, tangan kananku tidak berfungsi, sisanya hanya tangan kiri, aku berusaha untuk tetap sopan padamu dengan sisa tangan yang kupunya, kalau pakai kaki kanan kan jadinya lebih nggak sopan, maaf ya kalau kau tidak berkenan, karena aku tetap berusaha menjaga etika dengan sisa tanganku yang masih berfungsi.”


Syila tersenyum menyeringai, rupanya dia memiliki energi yang cukup baik dari rasa malu kemarin, melihat musuhnya secara langsung membuatnya bersemangat, Syila langsung paham apa yang Izraa maksud kalau dia harus bertemu langsung dengan musuhnya.


Masih menatap Denia dengan tatapan yang tenang, Syila duduk di sofa yang kosong, sementara Izraa di sampingnya, Denia kembali duduk di tempatnya, yaitu di hadapan Syila sedang mami dan papi Izraa ada di bangku utama yaitu yang menghadap Syila dan Denia.


“Jadi ini calon istrimu?” Denia bertanya pada Izraa.


“Ya.” Izraa menjawab singkat, Syila melihatnya dengan tatapan kesal karena lagi-lagi dia dipaksa masuk ke skema pernikahan.


“Dan … tidak.” Syila menambahkan jawaban Izraa, agar menjadi abu-abu, ya dan tidak.


“Kurangnya sepupuku apa Syila? Kenapa jawabanmu ragu?” Sepupu, ya, Denia adalah anak dari adik tiri papinya Izraa. Bisa dibilang dia keponakan Pak Hansyar, tapi tidak legal, kau tahu lah ya, orang kaya terkadang memiliki anak di luar perikahan, maka begitulah status ibunya Denia. Adik tiri tidak legalnya Hansyar.


Walau adik tiri Hansyar tidak memiliki hak atas harta warisan dan tidak bisa menuntut di pengadilan karena bukan anak dari hasil pernikahan yang legal, surat wasiat membuatnya bisa masuk ke perusahaan ini, menjadi orang-orang yang memegang saham cukup besar.

__ADS_1


Hansyar memang membangun bisnisnya sendiri sejak dia muda, tidak banyak bantuan dari ayahnya sejak dia merintis bisnis ini, tapi Hansyar pernah ada di posisi di mana perusahaannya hampir saja kolaps, ayahnya Hansyar datang dengan bantuan dana yang cukup banyak, tapi tentu saja untuk bantuan tersebut ada syaratnya, yaitu bagian saham. Maka ketika ayahnya Hansyar meninggal dunia, dia memberikan seluruh bagian sahamnya atas nama anak tidak legalnya, ibunya Denia, dengan begitu, dia akhirnya bisa masuk ke perusahaan ini dan menjadi salah satu orang penting dalam pengambilan keputusan. Hansyar tetaplah pemegang saham tertinggi, tapi Denia dan ibunya bukanlah musuh yang bisa disepelekan.


Denia menjabat sebagai General Manager, tugasnya ada di divisi HRD termasuk payroll dan GA. Dia menggantikan ibunya yang sudah tak mampu lagi bekerja dikarenakan penyakit yang dia idap. Sayangnya Denia bukan gadis bodoh, dia belajar bisnis sampai ke luar negeri, maka ketika Sofia kecelakaan dan Izraa pergi dari rumah, Hansyar sangatlah gusar, bisa jadi kalau dia tak punya penerus, Denialah yang akan menguasai perusahaan ini.


Ide membawa Syila dan Izraa masuk ke perusahaan ini adalah ide ibu Hansyar, dia ingin agar Syila dan Izraa kelak menjadi pion catur mereka untuk akhirnya mengalahkan Denia agar perusahaan tetap aman di bawah kekuasaan Hansyar, jadi, taman bermain Syila yang dibuat oleh keluarga Hansyar itu memang hanya kamuflase agar mereka berdua masuk dulu ke perusahaan itu dan perlahan menjadi bagian dari perusahaan itu.


Ibu Hansyar melihat bagaimana Syila menggunakan kecacatannya untuk menghina Denia langsung merasa takjub, kalau calon menantunya adalah orang yang tepat.


“Jadi, ada hal penting apa hingga aku dipanggil ke sini tante?” Denia bertanya pada ibu Hansyar.


“Izraa ingin mengajukan banding atas tuduhan kalian pada tenant kita. Kau meminta Syila membayar denda dan melakukan permintaan maaf tanpa berunding dulu denganku, mereka tenantku, berada di bawah naungan perusahaan kita, maka seharusnya kau juga bersikap adil, sayang.” Ibu Hansyar berkata dengan tenang dan santai.


“Jadi, calon sepupu iparku ini keberatan dengan denda dan permintaan maaf yang disetujui kemarin? Kenapa baru bilang sekarang setelah videonya tersiar?” Denia mengatakannya sembari mengejek.


“Aku tidak pernah mengatakan pada siapapun kalau aku keberatan Ibu Denia, tapi aku mengaku salah karena biar bagaimanapun, perusahaan yang aku miliki, bukan mutlak milikku sendiri, kemarin aku minta maaf atas nama perusahaanku, yang seharusnya telah disepakati juga oleh rekan bisnisku, yaitu Pak Izraa, tapi aku melewati batasan dengan mengambil keputusan sendiri, maka jika sekarang Pak Izraa meminta banding, aku bisa apa, Bu? Ini kan juga perusahaannya dia.” Syila membela dirinya dengan baik.


“Hei Syila, itu urusan internalmu, tak perlu kau mengatakan itu di sini, aku tak peduli, tapi persetujuanmu sudah kami terima dan langkah yang kita lakukan kemarin, terkait denda dan siaran video adalah langkah final. Jadi, jangan meminta hal di luar dari kesepakatan kita.”


“IBU … SYILA!” Syila berkata dengan sedikit keras, Denia terkejut melihat Syila yang setegas itu, “aku kagum dengan sikap anggunmu sebagai GM yang terhormat di perusahaan ini, tapi asal IBU DENIA tahu, saya adalah CEO dari perusahaan milik saya, maka ada baiknya, Ibu Denia turut menjaga profesionalisme dalam perbincangan resmi ini agar kita sama-sama nyaman, mungkin kalian keluarga, tapi aku bukan, maka tolong jaga profesionalitas anda dalam mempelakukan rekan bisnis.” Syila menatapnya tajam, karena sikap anggunnya berbanding terbalik dengan cara dia berkata.


“Baiklah ibu Syila, tapi saya menolak banding yang akan kalian lakukan, saya berhak karean saya di divisi HRD dan legalitas, maka keputusan saya sudah final, tidak akan ada yang berubah baik untuk denda maupun untuk siaran videonya akan terus ditayangkan, sesuai kesepakatan kita sebelumnya.” Denia memang menyuruh Citra untuk mewakilinya kemarin karena tidak ingin bertemu langsung dengan Syila, tapi hari ini tak dapat dielakkan.


“Tak masalah, kalau memang anda tidak ingin menerima pengajuan banding kami, tapi … jika saja kami menemukan bukti bahwa karyawan kami dijebak, maka … saya akan menempuh jalur hukum.”


“Atas tuduhan apa Ibu Syila?” Denia masih tidak paham arah perkataan Syila.


“Pertama atas tuduhan wanprestasi, karena kalian tidak menjalankan pasal perjanjian antara tenant dan perusahaan pemberi fasilitas, yaitu melindungi kami. Sebagai perusahaan penanam modal, kalian tidak menjalankan kewajiban dengan baik.


Lalu kedua, pencemaran nama baik, buktinya video siaran itu, kau memaksaku untuk melakukan siaran video dan meminta maaf, padahal ada kemungkinan kami tidak salah, jika saja bukti itu bisa kami temukan, maka jelas kalian bisa aku tuntut untuk dua tuduhan tersebut.” Syila tersenyum lagi, tentu dengan senyuman yang sedikit menakutkan. Denia mundur sejenak, baru paham arah pembicaraan ini, karena jika Syila nekat, melibatkan Polisi di perusahaan ini untuk menyelesaikan masalah, adalah bunuh diri.


Nama baik perusahaan akan hancur, saham mungkin juga akan turun karena berita buruk ini.


“Wah Syil, jangan terlalu kejamlah pada kami, bukankah kau tahu, bahwa bisa jadi memang ada orang jahat yang menyusup, kami bukan tipikal orang yang suka menjebak, IYA KAN DENIA?” Ibu Hansyar menyindir.

__ADS_1


Denia menatap Syila dan berkata ….


__ADS_2