
Syila sudah bisa membayangkan bagaimana dia akan dihina lagi, Syila berkata sambil menangis, “Aku tak mau melakukan ini, aku tak mau!” Syila berusaha bangun dan ingin melepaskan diri dari Izraa, tapi Izraa menahannya, dia tak mau Syila kalah lagi, dia terus memeluknya dan berusaha agar Syila menahan amarahnya, di detik yang sama kamera milik Syila menyala, kamera itu menyiarkan secara langsung apa yang terjadi saat ini, yaitu ketika Izraa memeluknya dan Syila terlihat kalut, kamera itu seharusnya hanya menyala jika dinyalakan di tempat Syila, tapi sepertinya ada yang sengaja meretas sistem yang Izraa bangun dan mampu menyalakan kamera dari jarak jauh.
Andi memberi kode pada Izraa bahwa kamera sudah menyala, Izraa lalu mendorong tubuh Syila dengan lembut, mengambil bangku lain dan duduk di samping Syila, semua orang yang ada di tempat Amamarhudi terkejut, karena melihat pemandangan yang cukup mengejutkan tadi, Izraa memeluk Syila dengan erat saat Syila menangis.
Syila terdiam dengan tatapan kosong dan sendu, dia sangat marah dan ingin pergi, tapi kamera melarangnya, wajahnya sudah terpampang di layar tempat konferensi pers itu terjadi, Syila tak bisa kabur, itu akan membuat citra dirinya rusak.
“Apakah kau tahu, bahwa perkataanmu adalah tuduhan tanpa bukti? Kau menuduh Penulis penjahatnya, menuduhnya melakukan kontrak Kerjasama double, kalau tidak pernah ada kontrak kerja itu, maka ini namanya fitnah, pencemaran nama baik dan penggiringan opini public, jika Syila tak berkenan maka kami bisa saja melaporkanmu dan jangan bawa-bawa kebebesan pers, karena kebebesan pers juga punya etika, kau menuduh, bukan berusaha mendapatkan informasi.” Izraa mengambil alih situasi, dia benar-bener menemani Syila di sana.
Semua orang saat ini sorotnya pada reporter itu, sementara Syila dan Izraa di rumah masih berusaha bersikap tenang, Izraa memegang tangan Syila yang tertutup oleh meja di hadapannya, dia memegang tangan Syila dengan lembut, tapi Syila memegang tangan Izraa dengan sangat erat, mami yang tadinya di meja makan mempersiapkan makan, akhirnya ke ruang tamu dan khawatir karena Syila terlihat sangat gugup menahan nangis, mungkin di layar sana dia tak terlihat begitu, karena kamera tak dapat menangkap secara detail wajahnya, tapi jelas, Syila terkejut.
“Mohon maaf, baiklah kalau begitu saya perbaiki pertanyaannya, bagaimana jika kedua PH adalah korban dan ada dugaan Penulisnyalah yang melakukan kontrak kerja sama double. Kemungkinan itu bisa saja terjadi bukan?” Reporter itu tak gentar mengincar Syila.
“Kalau anda bicara kemungkinan, siapapun bisa jadi penjahatnya, bahkan tukang somay di depan kantor pun bisa saja jadi tersangkanya kalau main asal tuduh tanpa pemikiran yang jernih terlebih dahulu, hanya berdasarkan pemahaman sempit dan bermaksud menjatuhkan, tentu saja kemungkinan apapun bisa saja terjadi.
Tapi pertanyaannya adalah, setiap tuduhan harus ada bukti, bukti itu yang kelak akan menjadi penguat atas tuduhan anda.” Izraa kesal dan berusaha menyerang balik reporter itu.
“Saya tidak menuduh, saya menarik perkataan saya yang pertama, makanya saya memperbaiki pertanyaan saya.” Reporter itu mengelak.
“Tetap saja bahwa ….”
“Mohon maaf Mas Izraa, tapi saya bertanya pada Penulisnya, apakah anda merangkap menjadi Managernya saat ini?” Reporter itu mengejek Izraa.
“Tentu saja saya bukan Managernya, tapi saya punya hak untuk menjawab.” Izraa masih tak mau kalah.
“Bolehkah saya tahu, atas dasar apa anda memiliki hak itu?” Reporter itu malah adu argument tidak mau kalah.
“Saya adalah tunangan Syila.” Izraa mengatakannya dengan tenang. Syila yang tadinya gugup jadi terkejut, dia menengok ke arah Izraa bermaksud menanyakan apa yang dia katakan.
__ADS_1
“Loh! Kalau benar anda adalah tunangannya, jadi rumor yang dulu itu benar dong? Soal anda memiliki hubungan dan Penulis itu digosipkan sebagai pelakor, tapi anda berdua menyangkal, apakah pernyataan kalian sebelumnya bohong?” Reporter itu melihat ini sebagai celah yang akan dimanfaatkan, teringat tentang kejadian dulu ketika Izraa dan Syila pernah digosipkan memiliki hubungan dan menjadi pelakor dari hubungan Hanum dan Izraa, ini benar-benar menjadi semakin rumit.
“Anda bertanya saat ini atau kemarin, kami memang tidak pernah ada hubungan saat melakukan konferensi pers terdahulu, kami hanya berteman, tapi seiring berjalannya waktu kami akhirnya setuju untuk menjalin hubungan, lagi pula tidak pernah ada hubungan antara aku dan Hanum selain rekan kerja, Hanum juga adalah kekasih dari kakak kandung Syila yang bekerja sebagai Dokter di rumah sakit keluarga kami, bisa dibilang orang tua kami memiliki hubungan bisnis, maka dari itu kami sepakat untuk memiliki hubungan ini karena kedua orang tua sudah saling mengenal.
Tapi hari in ikan bahasannya bukan soal perjodohan kami, hari ini pembahasannya tentang kasus yang Syila hadapi.
Kenapa kau sekarang jadi tertarik dengan masalah pribadi kami, jadi bisa tolong fokus?” Izraa memperingatkan.
“Saya hanya sedang mendapatkan informasi soal kakak Penulis yang seharusnya tidak plin-plan dalam memberikan pernyataan, karena dia ….”
“Boleh saya tahu anda dari media mana?” Syila tiba-tiba bertanya dan memotong perkataan wartawan itu.
“Kenapa anda bertanya, saya ….”
“Bolehkah saya tahu anda dari media mana?” Syila bertanya lagi dengan lebih lantang, dia hendak membalas semua yang dilakukan oleh wartawan ini.
“Bukankah media nusantara tidak termasuk dalam undangan?” Syila menatapnya dengan tajam.
“Sebentar saya ….”
“Anda memakai tanda pengenal siapa? Apakah anda penyusup?”
“Saya adalah ….
“Atau jangan-jangan anda adalah mata-mata dari PH yang sedang memiliki sangkutan hukum dengan kami?” Syila senagaja tak memberinya kesempatan untuk bicara, dia ingin reporter itu ditendang keluar.
“Kok anda jadi menuduh?”
__ADS_1
“Kalau masuk diam-diam dengan ID card orang lain, apa namanya selain penyusup? Minta tolong usir lelak ini dari sana, saya takkan melakukan pernyataan apapun jika masih ada penyusup, saya juga akan melaporkan anda sebagai wartawan yang tidak punya etika dalam meliput berita, saya akan pastikan anda mendapatkan hukuman atas perbuatan anda mempermalukan seseorang!” Syila berkata dengan tegas, beberapa orang Security terlihat masuk dan menarik wartawan itu keluar dari ruangan.
Izraa tetap menggenggam tangan Syila, sedang Syila menunduk sebelum akhirnya siap memberikan pernyataan.
“Pertama saya hendak meminta maaf karena membuat kegaduhan ini, tapi jujur, tak ada niat sedikitpun bagi saya berbuat curang, lihat saja barusan sudah ada terjadi kegaduhan lagi, ada penyusup yang harus kita selidiki datang dari mana, kalau memang benar saya adalah orang yang dia bilang, lalu kenapa acara hari ini berusaha disabotase? Kenapa ada orang yang ingin menjatuhkan mental saya agar konferensi pers hari ini untuk release pernyataan tidak terlaksana, mengingat bahwa saya memang dalam kondisi tidak baik karena kecelakaan.
Maka dari itu saya memohon pada seluruh rekan pers yang saat ini ada di sana, dapat mengerti bahwa saya sedang tidak bisa bertemu dan muncul di hadapan publik akibat dari kecelakaan itu kondisi saya tidak baik.
Tapi karena masalah ini saya menguatkan diri untuk melakukan konferensi pers sebagai wujud dari pertanggungjawaban saya terhadap karya yang telah diadaptasi atas bantuan Pak Ammarhudi hingga menjadi film yang cukup dikenal.
Saat ini kami juga sedang berencana untuk memulai proyek baru, yaitu pembuatan serial atas novel tersebut, hal ini membuat apabila di luar sana ada plagiasi atas karya saya, mengadaptasinya tanpa izin, tentu saya dibantu pak Ammarhudi harus segera melakukan pernyataan yang menentang hal tersebut.
Bukan hanya saya yang jadi korban atas tindakan plagiasi ini, tapi juga pak Ammarhudi yang menanggung begitu banyak pekerja turut menjadi korban.
Maka saya setuju melakukan ini di tengah kondisi saya yang tidak baik, jadi kalau ditanya kenapa saya tak di sana, kenapa saya di sini, jauh dari tempat itu untuk melakukan penyataan publik, maka jawabannya adalah saya tidak mampu berada di manapun selain di rumah saya karena kondisi kesehatan yang belum pulih.
Saya ingi Pak Ammarhudi mengambil langkah tegas untuk segera melaporkan PH yang diduga melakuakn plagiasi atas karya saya untuk memastikan hak cipta yang telah kami berdua miliki, saya selaku Penulis Novel dan Pak Ammarhudi selaku pemilik hak cipta atas adaptasi akan bawa masalah ini ke ranah hukum dengan tuntutan pelanggaran hak cipta.
Baik, sebagai penutup, saya ingin kita semua menghargai karya orang lain dengan baik, tidak boleh asal comot lalu tanpa bertanggung jawab seenaknya menguasai karya tersebut, mengingat setiap Penulis berdarah-darah dalam membuat setiap karya.
Kami juga mau memberikan kabar gembira bahwa, novel akan kembali diadaptasi oleh Pak Ammarhudi dengan PHnya, saya sudah jauh-jauh hari sepakat untuk proyek serial ini karena percaya bahwa tangan dingin Pak Ammarhudi dan Bang Aryo mampu kembali membawa novel saya menjadi novel yang bermanfaat untuk banyak orang melalui film, serial dan mungkin banyak hal lain.
Mohon maaf, hanya sampai sini saja pernyataan saya, saya takkan ada di sesi tanya jawab, kurang dan lebihnya akan disempurnakan oleh tim Pak Ammarhudi, saya izin pamit, selamat siang, jaga kesehatan ya semuanya.” Lalu kamera dimatikan oleh Andi sesaat setelah Syila mengakhiri kata-katanya.
Begitu kamera mati, Syila langsung lemas, tubuhnya bahkan lunglai hampir jatuh dari bangku. Izraa buru-buru menangkap tubuh itu.
Mami melihatnya sedih tapi haru, karena Syila melewatinya dengan hebat, Izraa menggendong Syila di kedua tangannya, Syila tak menolak karena memang dia butuh bantuan untuk kembali ke kamar, dia ingin istirahat dan menenangkan diri, mami dan yang lain juga tak protes.
__ADS_1
Saat Izraa dan Syila masuk ke kamar, mami bergumam, “Aku rasa memang benar, saat ini, hanya Izraa yang mampu menjaga Syila.”