Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 99 : Jebakan 10


__ADS_3

“Aku rasa, Novia ok.” Syila, Jane, Andi dan Izraa ada di ruangan Syila, mereka semua duduk di sofa yang cukup besar di ruangan Syila itu.


“Ya, aku pikir juga ok.” Andi setuju.


Jane hanya manggut-manggut saja, sedang Izraa terdiam.


“Kau tidak suka dengan Novia?” Syila bertanya.


Mereka telah selesai melakukan interview pada 5 orang yang sudah disortir dari CV yang Syila cek satu persatu.


“Hmm, aku kurang suka, untuk menjadi pegawai keuangan, aku tidak suka dia terlalu fleksibel.” Izraa memberikan pendapatnya, Syila terdiam.


Dia paham bahwa untuk seorang yang bekerja di divisi keuangan, menjadi fleksibel adalah sikap yang tidak tepat, mengurus keuangan perusahaan, jika banyak fleksibel maka akan banyak peraturan yang bisa saja dilanggar jika soal aliran dana, bisa jadi dana yang keluar tidak sesuai dengan SOP karena sikap fleksibel tadi.


Karena aliran dana perusahaan harus dijaga dengan sangat ketat, apalagi untuk perusahaan yang barus saja berdiri, mengatur keuangan itu sangatlah sulit.


Aliran dana itu gerbang utamanya adalah bagian keuangan atau orang biasa menyebutnya finance, ketika seorang pegawai mengajukan dana dibawah satu juta, biasanya dana itu akan diatur dalam petty cash perusahaan, dana yang berada di rekening petty cash bisa digunakan segera, butuh saat ini, dana bisa dikeluarkan saat ini juga, tentu pegawai harus mengajukan terlebih dahulu, pengajuan bisa dengan cara mengisi form permintaan dana dengan jumlah kecil yang ditanda tangani pegawai yang meminta dana untuk keperluan perusahaan seperti, mengunjungi client jadi butuh uang untuk transport dan mengajak client makan siang, maka dana ini bisa diajukan dengan mengisi form petty cash, dilengkapi dengan tanda tangan atasannya, karena saat ini semua orang bertanggung jawab pada Syila maka perlu tanda tangan Syila sebagai persetujuan.


Kelak sebagai bagian pertanggungjawaban, si pengaju dana harus memberikan struk pengeluaran pada finance, lalu akhirnay finance akan merekap pengeluaran itu dan menjadikannya pengeluaran perusahaan, transaksi seperti ini dibutuhkan laporannya untuk menghitung pengeluaran perusahaan.


Ini hanya baru pengajuan untuk petty cash, yaitu dana harian kecil, belum untuk dana yang lebih besar, di mana biasanya setiap perusahaan memiliki jadwal untuk mengeluarkan dana tersebut, tidak bisa setiap hari minta, misal dana tersebut diatas satu juta, tapi hari itu belum jadwal perusahaan untuk keluarga dana besar, maka pegawai yang mengajukan harus menunggu sampai jadwal pengeluaran dana besar itu berada.


Selain hari yang ditentukan sebagai jadwal pengeluaran dana besar, maka dana besar tak boleh keluar, semerengek apapun pegawai, seurgent apapun pegawai, kecuali ada catatan dari atasan, di sini hanya Syila mungkin finance bisa keluarkan, tapi tetap saja ada proses pembuktian dari finance yaitu dengan form konfirmasi pengeluaran dana besar di luar jadwal.


Jika saja bagian keuangan fleksibel maka dia bisa saja melewati satu SOP, setelah satu SOP lewat, maka perusahaan yang akan rugi dan peraturan akan berantakan, maka dari itu dengan begitu rumitnya proses pengeluran dana, bagian keuangan haruslah orang yang detail, kaku dan sangat menjunjung tinggi SOP perusahaan, bahkan bisa dibilang, ketika bos ingin melanggar aturan, bos pun harus melewati serangkaian SOP lain yang tidak berusaha dilanggar.


“Aku paham maksudmu, aku suka padanya karena nilai untuk hitungannya sangat tinggi, dia juga menyusun jurnal dengan benar.” Syila mencoba membela penilaiannya.


“Tapi saat interview banyak jawabannya yang fleksibel, aku tidak suka, dia bisa saja menyetujui banyak pelanggaran peraturan, aku justru lebih suka Lidya, karena dia sangat kaku dan bahkan jawabannya jelas dan tegas, sikapnya santun tapi tetap mengawasi, sungguh sempurna sebagai kandidat untuk mengurus keuangan kita.”

__ADS_1


“Hmm, jujur Lidya adalah kandidat keduaku, maka bagaimana kalau kita voting?” Syila bertanya pada semau orang, Izraa hanya mengangguk.


Syila lalu memanggil nama pertama dan meminta siapapun yang setuju dengan nama yang dia sebut, harus mengangkat tangan sebagai sikap persetujuan dengan nama tersebut untuk menjadi pegawai.


Hanya Syila dan Andi yang setuju dengan nama Novia.


Lalu Syila sebutkan nama Lidya, Izraa dan Jane yang mengangkat tangan.


“Jane kau juga setuju dengan Izraa? Kenapa?” Syila tiba-tiba kesal.


“Karena saya pikir benar bahwa seorang bagian keuangan haruslah kaku dan tidak boleh fleksibel Bu,” Jane menjawab dengan sikap yang berusaha tenang, agar tak begitu terlihat dia memang sedang mengambil hati Izraa, padahal dia tak punya analisa apapun.


“Seri, lalu gimana dong?” Syila kesal.


“Kita rekrut saja keduanya, tawari Novia jabatan lain, kau suka dia kan, maka kita kasih dia posisi lain, banyak kok yang kerja tidak sesuai jurusannya, jadi, kita tawari, kalau dia menolak, artinya dia memang bukan jodoh kita.” Izraa memberikan jalan keluar.


“Ya, aku setuju, kau benar sekali, sikapnya dia memang susah dibilang sebagai orang yang memang divisi keuangan banget, dia bisa jadi publishing aku, atau bisa juga posisi lain, misalnya HRD, kita beri dia pelatihan lalu ....”


“Saya akan minta OB untuk menyiapkan makan siang di sini.” Jane tiba-tiba berdiri.


“Tidak Jane, Bapak dan Ibu mengajak kami makan siang bersama, Andi kau mau ikut?” Yang dimaksud Izraa bapak dan ibu adalah mami dan papinya, tapi Izraa dan Syila sengaja memanggil ibu dan bapak untuk bersikap formal, padahal tak ada yang peduli juga, suka-suka keluarga mereka lah, mereka yang punya perusahaan kan?


“Oh, jadi tidak makan siang di kantor ya, Pak?” Jane terlihat sangat kecewa, dalam hatinya, dia ingin dirinyalah yang diajak makan siang, dengan penampilang yang begitu anggun, sepatu hak yang dia gunakan dengan sangat mahir dan juga beberapa perhiasan mahal, seharusnya, dialah yang diajak makan siang, bukan Syila, gadis berjilbab yang sederhana ini, gayanya sangat bossy, Jane sungguh semakin kesal.


“Gue nggak ikut, males ah makan siang formal, kalian aja, gue mau makan di bawah, ngobrol cari gosip!” Andi menolak ikut, dia ingin makan bebas dan santai, sementara Syila tak bsia menolak karena investornya yang ingin ketemu, Izraa tahu Syila takkan bisa menolak.


Maka mereka berdua akhirnya keluar menuju restoran yang telah disiapkan untuk makan siang bersama.


Sementara Andi pergi ke restoran untuk makan siang, Jane kembali ke ruangannya, dia tidak makan siang, dia hanya makan biskui diet saja, karena menjaga tubuhnya.

__ADS_1


Ada beberapa orang lain yang memang belum pergi makan siang, mereka terlihat penasaran dnegan wajah kesal Jane.


“Kenapa lu?” Tanya seorang sekertaris pada Jane.


“Kesel gue, mereka lagi makan siang tuh.”


“Mereka siapa sih, Jane?” Tanya orang itu lagi.


“Noh bos kecil baru sama anak bos, diajak yang punya kantor makan siang.”


“Wah, udah bener-bener susah masuk ya, Jane? Mereka terlalu rekat untuk direnggangkan.” Seorang yang lain tiba-tiba berkata pada mereka, sekertaris lain yang baru saja kembali dari ruangan bosnya.


“Nggak lah, apa saja bisa terjadi, bahkan satu jam sebelum pernikahan saja banyak pernikahan batal, apalagi ini, tanggal pernikahan belum ditentukan, masih bisa lah.”


“Tak berhenti sampai janur kuning melengkung?” Temannya menimpali.


“Ya, tak berhenti sampai saat itu.”


“Mungkin hari ini mereka akan bicarakan tanggalnya, buktinya mereka makan siang bersama.” Teman yang lain mencoba mematahkan kepercayaan diri Jane yang sangat tinggi tanpa melihat situasi.


“Tidak, mereka pasti membicarakan perusahaan yang baru dibuat itu.”


“Eh soal perusahaan itu, yang letaknya tepat di bawah lantai CEO, katanya itu adalah hadiah bujukan agar ibu Syila mau menikah dengan anaknya CEO, katanya, Pak Izraa lah yang mengejar-ngejar Ibu SYila, tapi belum juga disetujui lamarannya, ini aku dari sumber terpercaya loh.” Sekertaris itu berkata, yang lain semakin terlihat kecewa, terutama Jane.


“Tapi ada yang aneh nggak sih sama tangan Ibu Syila? Kok aku ngerasa tangannya itu kayak ... cacat.” Tiba-tiba orang lain nimbrung untuk gosip lagi.


“Soal itu aku juga punya infonya, ini dari orang restoran yang lihat mereka makan siang waktu itu, katanya ibu Syila makan pakai tangan kiri! Dia kan berjilbab ya, kalau makan pakai tangan kiri aneh kan? nggak mungkin dia makan pakai tangan kiri kalau .....” Sekertaris yang menebar gosip soal pernikahan itu berkata lagi.


“Kalau tangan kanannya baik-baik saja.” Semuar berteriak hal yang sama.

__ADS_1


Mereka saling tersenyum, merasa bahwa Syila hanyalah gadis yang cacat.


__ADS_2