
Malam ini adalah malam pertama Izraa tinggal di rumah Syila, semalam Syila langsung tidur, tidak mengucapkan selamat tidur pada Izraa, padahal beberapa waktu ini mereka selalu saling mengucapkan selamat malam dan selamat pagi.
Itu semua karena Syila yang dirawat hingga membuat Izraa tinggal di rumah sakit sampai Syila bisa pulang, lalu menyusul Izraa yang ditembak, sungguh mereka menjadi saling terbiasa untuk melihat satu sama lain.
Tapi semalam Syila sangat dingin, sehabis surat perang terbuka yang dia layangkan pada keluarganya karena yakin dengan tinggalnya Izraa di rumah Syila adalah sesuatu yang direncanakan, Syila hanya takut satu hal, di sangat takut kalau harus terpaksa menikah dengan Izraa, seseorang yang belum dia cintai, setidaknya saat ini itu yang dia rasakan.
Tapi baru saja tertidur selama beberapa jam, dia terbangun, haus dan baru teringat, kalau dia belum minum sejak terakhir minum setelah makan malam bersama.
Dia juga lupa membawa air putih ke dalam kamarnya, hal yang biasa dia lakukan, tapi karena tadi kesal, dia jadi lupa banyak hal.
Maka itu Syila akhirnya turun ke bawah untuk mengambil air di dapur bersih.
Syila memutuskan untuk tidak menyalakan lampu, takut yang lain terbangun karena lampu yang tiba-tiba menyala terlihat dari dalam kamar.
Maka Syila berjalan mendekati dispenser, tapi saat berjalan, dia merasa ada seseorang di belakangnya, teringat akan Izraa yang baru saja dicelakai, Syila jadi was-was, siapakah orang di belakangnya ini? kenapa dia tak menyapa kalau memang anggota keluarga.
Takut kalau itu adalah orang jahat, Syila akhirnya mengambil apapun yang bisa dia raih, lalu berbalik dan memukul dengan sembarang orang yang ada di belakangnya, orang itu menghindar tanpa suara tapi Syila terus mengejar dan tak henti memukulnya, tiba-tiba ruangan menjadi terang benderang, ada yang menyalakan lampu.
“Izraa!” Syila baru melihat orang yang selama ini dia serang adalah Izraa, dia juga yang menyalakan lampunya.
“Ssstt, jangan berisik!” Izraa memperingatkan Syila kalau ini sudah malam dan tidak seharusnya mereka membuat kegaduhan.
“Iya aku tahu ini sudah malam dan tidak boleh berisik, tapi tidak seharusnya kau mengendap-endap!” Syila kesal karena Izraa tadi tidak bersuara sama sekali, makanya Syila menyangka dia itu orang jahat.
“Kau tahu kan, aku ini pasien, seharusnya aku dirawat, bukannya malah dipukul dengan ... apa itu! spatula! Astaga Syila, kau ini benar-benar ceroboh!” Izraa kesal karena dia diserang dengab spatula.
“Masih mending lah ini spatula, kalau tadi ada pisau di dekatku, pasti aku akan mengambil pisau itu dan kau pasti sudah tertusuk olehku, tapi karena di dekat dispenser ini ada spatula yang ditaruh di atas penggorengan kompor itu, jadinya hanya ini yang bisa aku gunakan! Salahmu, kenapa kau tak bersuara sama sekali! Mengendap-endap seperti pencuri.”
“Aku tidak mengendap-endap, aku hanya ingin memastikan, siapa kau, makanya aku juga tidak yakin kau itu siapa, jadi aku hendak menepuk bahumu, tapi kau keburu berbalik dan menyerangku.”
“Masa kau tidak tahu kalau aku Syila, kau kan melihatku, kalau aku wajar tidak tahu siapa kau, karena kau di belakangku, kau pikir aku punya mata di ubun-ubun hingga bisa tahu siapa orang di belakangku!”
Syila kesal dan mulai meninggikan suaranya lagi.
__ADS_1
“Bagaimana aku tahu kalau itu adalah kau, sedang ... rambutmu terurai, aku kan tidak tahu kalau tampilanmu sungguh berbeda saat tak memakai ... jilbab!”
Syila yang baru tersadar kalau dia tak memakai jilbab saat turun tadi, menjadi alasannya tidak menyalakan lampu juga, karena takut Izraa melihatnya tanpa jilbab dan akhirnya sekarang kejadian, Syila yang tersadar, kembali terburu-buru mencari apapun yang bisa menutupi rambut panjang sepinggangnya yang hitam legam dan sehat itu.
Syila meraih handuk kecil yang mama sediakan untuk mengelap bagian kotor meja dapur, handur itu dia pakai untuk menutup kepalanya, menutup auratnya, tapi ternyata tidak bisa karena handuk kecil itu terlalu kecil untuk menutup semua bagian kepala dan rambutnya, Syila terus mencari-cari apapun yang bisa menutup kepalanya, Izraa menyadari itu dan berkata ....
“Kau sedang apa!” Izraa bertanya.
“Jangan melihatku! Jangan melihatku!” Syila panik, “aku sedang mencari kain untuk menutup kepala dan rambutku!”
“Kau ini bodoh atau apa sih! saat menyalakan lampu tadi dan sesaat melihatmu tanpa jilbab, aku langsung berbalik, tidak melihat ke arahmu! Kau tidak melihat aku memunggungimu!” Izraa kesal karena gadis ini saat panik ternyata menjadi sangat bodoh.
“Oh iya, tapi tetap saja, aku harus ke atas lagi dan untuk itu, aku perlu melewatimu, makanya aku harus mencari sesuatu untuk menutup kepalaku!” Syila masih terus mencari kain penutup.
“Kau itu kan tinggal menarik kerah bagian belakang baju tidurmu ke atas, hingga akhirnya seluruh kepala dan rambutmu masuk ke baju, itu akan membuat kepala dan rambutmu tertutup sempurna, pastikan bagian bawah bajumu tidak memperlihatkan perutmu!” Izraa memberi jalan keluar.
“Oh ya, ide bagus.” Syila lalu menarik kerah bajunya yang memang sangat longgar itu sampai ke kapala hingga baju itu menutup sempurna kepalanya, bagian perut Syila tak kelihatan karena baju itu memang sangat longgar.
“Kok tahu?” Syila terkejut karena Izraa tahu dia akan ambil minum.
“Kau pikir aku membajak otakmu makanya bisa tahu! Ini semua kan soal logika, kau turun ke bawah, aku melihat orang mendekati dispenser, ternyata itu kau yang tidak memakai jilbab, makanya aku tidak mengenalimu di dalam kegelapan, karena tidak seperti biasanya, sudah pasti, kau akan mengambil air kan! kalau ambil air artinya haus, itu logika yang siapa saja bisa terpikir kan, Syil!” Izraa benar-benar kesal karena Syila masih saja bertanya.
“Iya, iya!” Syila jadi merasa sangat bodoh sekali, karena bertanya hal yang semua orang harusnya paham.
Syila mengambil botol minuman yang biasa dia dunakan lalu mengisinya dengan air sambil terus memegangi baju yang menutup kepalanya, lalu setelah penuh dia bergegas naik ke atas, Izraa kembali memutar badannya ketika Syila melewatinya, Syila merasa bersyukur kalau Izraa tak melihat dia tanpa jilbab.
Setelah Syila naik, gantian Izraa yang mengambil air, saat mengambil air, terbayang kembali beberapa detik yang dia lewati tadi, tepat saat dia menyalakan lampu, dia meliaht Syila tanpa jilbab, hanya beberapa detik, dia lalu tersadar dan memutar tubuhnya agar memunggungi Syila.
Beberapa detik itu membuat jantungnya seperti berhenti berdegup, nafasnya menderu dan keringat dingin keluar dari keningnya, dia sungguh merasa habis melihat seorang ... dewi!
“Brengsek! Dia cantik sekali!” Izraa sampai harus mengumpat karena sulit menahan gairah yang menderu di dalam hatinya.
Sementara setelah Syila naik ke kamarnya, dia masuk kamar lalu menutup pintu kamar dan berkata, “Untung dia sopan dan tidak melihat rambutku, bahaya sekali kalau dia sampai lihat rambutku.”
__ADS_1
Syila tersenyum dan berjanji akan menggunakan jilbab begitu keluar kamar, dia tadi merasa aman karena sudah malam, dia yakin hanya dia yang akan terbangun untuk mengambil air, dia lupa bahwa kemungkinan Izraa keluar untuk ambil air juga masih ada, kemungkinan itu bukankah selalu bisa muncul jika kita tidak hati-hati.
Dalam kasus ini, Syila jelas salah, sudah dua kali tanpa sengaja dia menggoda izraa dengan auratnya, maka tak heran, Izraa semakin mabuk kepayang pada obatnya.
...
“Morning, makan yang bener kamu, kamu juga Za, biar kalian berdua cepet sembuh.” Mami memperingatkan uda anak muda yang sedang sakit itu. Dua-duanya karena diserang orang, sungguh sesuatu yang kebetulan.
“Ini tuh jodoh nggak sih, Mi? mereka sama-sama sakit, sama-sama diserang orang, sama-sama harus di sini berdua, kayaknya kalian jodoh deh.” Papi mulai melakukan teknik serangan secara langsung, pada intinya. Syila menatap papi dengan tajam.
“Jangan ngaco ya, mana ada kejadian serangan itu pertanda jodoh, pemahaman dari mana itu Pi? Bukankah papi adalah orang yang menjunjung tinggi logika? Lalu kemana semua logika itu!” Syila kesal.
“Tidak ada yang kebetulan di dunia ini Syila sudah ada yang mengatur.” Alzam menunjuk ke atas, maksudnya Tuhan.
“Tentu saja aku tahu itu, masa kau tidak memikirkan kemungkinan aku tahu itu, tapi kan ... terlalu berlebihan jika menganggap kami ini jodoh hanya dari sebuah kecelakaan yang kami alami dalam tenggat waktu berdekatan, yang benar itu, justru kami perlu memikirkan ulang hubungan ini, masa baru jadian sudah banyak kejadian, jangan-jangan kami tidak cocok, makanya semesta menolak.” Syila mengucapkan itu, seolah Izraa tak ada, karena ini bisa saja menyinggung pria yang ingin bersamanya.
“Kalau memang semesta menolak, lalu kenapa aku bisa di sini bersamamu?” Izraa yang sedari tadi diam, akhirnya bicara. Dia terlihat kesal dengan perkataan gadis kejam itu.
“Karena konspirasi petinggi rumah ini.” Syila membalas, dia masih tak peka juga, sudah membaut Izraa tersinggung, mami memberi kode pada Alzam untuk menyelamatkan keadaan dua anak muda itu agar tak perang dunia di rumah ini.
“Syil, udahlah, jangan mikir yang aneh-aneh, udah, makan yang tenang.”
“Katakanlah ini konspirasi, tapi kenapa konspirasi ini begitu mulus dan lancar, jika memang ini dilakukan dengan jalan yang kotor? Kenapa sekarang aku bisa di sini bersamamu tanpa kendala apapun? Bukankah ini tanda alam semesta setuju.” Izraa masih membuka arena pertarungan ternyata, semua orang mulai tegang, termasuk papi, salah membuka obrolan tadi.
“Logikamu ikut hilang karena terlalu banyak bergaul dengan keluargaku? bukankah kau makhluk paling logis di dunia ini, lalu kenapa sekarang percaya semesta mampu mendukung atau menolak! Kalian ini mau menggantikanku menjadi Penulis Novel sepertiku? Mengarang cerita dengan plot yang bagus? Perlu kumentori!” Syila kesal dan akhirnya meninggalkan meja makan, dia benar-benar tidak ingin obrolan ini bergulir terlalu jauh.
Papi lalu menatap Izraa dan meminta maaf, Izraa lalu tersenyum dan berkata, “Gadis itu memang, sangat luar biasa, Om mendidik Syila dengan sangat baik, dia sulit dijangkau! Mampu menjaga kehormatannya, aku beruntung, karena beberapa kali dia lalai saat aku didekatnya.” Izraa berkata dan membuat satu keluarga tertawa walau tak sepenuhnya paham maksud Izraa, sementara Syila kesal dan akhirnya terbenam dalam bantal untuk berteriak.
__________________________________
Catatan Penulis :
Kau tahu rasanya menahan rindu yang menjadi sembilu? Menghujam jantungmu terus menerus dengan rasa sakit, tapi kau harus bertahan, karena orang yang kau rindukan, tidak merindukanmu, bahkan mungkin, ingin kau pergi dari hidupnya.
__ADS_1