
“Za, mau sesempurna apa lagi sih?” Bang Aryo kesal, ini sudah dua minggu dan proses editing tidak pernah maju secara signfikan, bagaimana tidak? dia selalu merasa ada yang kurang di banyak bagian.
“Gue mau proyek ini jadi sempurna Bang, karena ini proyek pertamanya Syila kan? jangan sampai menodai citra bukunya yang best seller itu.”
“Yaudah terserah sajalah. Oh ya, gimana keadaan Syila sekarang, sudah dua minggu kan, dia masih tak mau bertemu dengannmu?”
“Dia sudah keluar rumah sakit dua hari lalu, kami masih tidak bisa bertemu, dia atau keluarganya memang tak ingin kami bertemu.”
“Kasihan, cinta memang sulit sekali, makanya aku tidak terlalu ingin fokus pada cinta, tapi kau tahulah, cinta itu sesuatu yang menyenangkan, tapi sulit digenggam.”
“Oh ya, tapi aku sangat suka merasakannya, aku ....” Izraa tak bisa melanjutkan perkatannya.
“Kau ini kayak anak ABG, labil! Sudah umur 30 tapi masih saja menggebu, di umurmu ini seharusnya kau tak menggebu lagi, tapi mulai dewasa dalam soal cinta.”
“Memang dewasa soal cinta itu seperti apa?” Izraa tak paham karena memang dia tak memiliki fase seperti itu.
“Cinta yang tak lagi menggebu, hanya berjalan pada sisi hampa, orang bilang, sisanya tanggung jawab.”
“Aku makin nggak paham.” Izraa benar-benar butuh seorang mentor.
“Ya, kau tahu saat umur kita belasan, kita punya cinta yang menggebu, kebanyakan prilaku kita didasari dari nafsu karena tidak punya pengetahuan yang cukup untuk memilih keputusan yang benar Za, pengetahuan itu didapat dari pengalaman, lalu ketika kita akhirnya berumur 20an, kita mulai paham bahwa hidup perlu diperjuangkan dan tidak soal cinta, tapi perasaan menggebu itu masih mendominasi, karena pengalaman sudah ada, tapi gairah masih sangat banyak.
Sedang, ketika kita mulai memasuki umur 30 tahun ke atas, kau akan sadar, bahwa perasaan menggebu itu hanya fase sia-sia yang membuat kita banyak melakukan kesalahan, banyak sikap dan prilaku yang akan kita sesali di umur ini, termasuk pernikahan.
Pun ketika kita ada di fase ini tapi tak bisa lari apalagi kabur, maka kita menjalaninya sebagai tanggung jawab.
Di sini nih banyak orang akhirnya terjebak mulai melenceng dari arah awalnya, misal dalam rumah tangga, mulai berselingkuh, bisa jadi karena memang sudah tak berpatokan pada arah yang sama.”
“Bang, berat banget.”
“Gini deh, lu coba cek kalau punya waktu, rata-rata bagi kita seorang lelaki, berselingkuh pada pernikahan itu, biasanya di mulai dari umur 30 sampai 40an, kenapa? karena di umur ini kita sudah matang, saking matangnya, sampai lupa kalau kodrat wanita yang kita cintai itu adalah, dominan perasaan ketimbang logika.
Maka wanita yang mulai tahu, dia diselingkuhi, tidak diselingkuhi tapi tidak dicintai juga, wanita akan paham dan mulai menagih janji yang tidak pernah dikatakan, tapi dijanjikan pada awal pernikahan, yaitu akad.
Akad adalah janji untuk menjaga, membimbing dan mencintai seumur hidupnya, tapi lelaki itu makhluk logika, ketika dirasa benefitnya berkurang, maka cinta itu itu juga berkurang bahkan habis, sisanya hanya jalan karena waktu yang terus bergulir.”
“Apakah pernikahanmu seperti itu Bang?” Izraa bertanya.
“Bisa ya, bisa nggak.”
“Kok gitu?”
“Gue pernah mengalami titik balik yang cukup membalik kehidupan gue sangat berat Za, saat itu pernikahan kami hambar, lalu kami mulai saling tak peduli satu sama lain, aku tidak berselingkuh, dia juga tidak, tapi tak ada cinta yang membuat kami bertahan.”
“Lalu akhirnya?”
“Belum berakhir Za, kami masih di fase belajar lagi. Saat di fase titik balik itu, istriku mengajukan gugatan cerai, alasannya merasa tak dicintai lagi.
Lu gila nggak? gue di luar cari uang buat dia dan anak-anak, eh dia malah gugat cerai gue cuma karena perasaannya yang merasa diabaikan, itu kakanakkan!”
“Iya sih, itu kekanakkan.”
“Ternyata enggak loh! Saat itu, aku membujuknya untuk menurunkan ego dan pergi konseling untuk pernikahan, lalu kami ngobrol banyak dengan ahlinya dan kami menemukan masalahnya, kalau istriku itu merasa kosong, tidak dicintai bahkan sejak awal pernikahan karena hal-hal kecil, seperti aku yang tidak pernah mengatakan aku mencintainya, atau sekedar mengecup kening.
Kau tahu, aku pikir setelah menikah itu semua hal yang sangat sepele, tapi buat dia itu hal yang sangat besar, karena inilah kami akhirnya tidak mampu bertahan pada pernikahan, karena nggak ketemu titik tengah.”
“Lalu akhirnya bagaimana kalian mampu tetap bertahan dalam pernikahan? Masih bertahan, kan Bang? nggak cerai kan?”
“Ya, aku bilang aku akan berusaha untuk berubah, tapi aku juga mau dia berubah, seperti ketika aku lupa, dia harus ingatkan, karena, kan ini rumah tangga untuk dua orang yang malah sudah ada banyak anggota baru, anak-anak kami maksudnya.”
“Apakah benar fase cinta akan serumit itu bang?”
“Lah, elu emang nggak ngerasain menggebu lalu padam?”
“Belum sih, baru menggebunya aja.”
“Berarti elu telat ya pubernya? Masa baru puber umur 30, ngaco ah!” Bang Aryo hanya bergurau, tapi ... dia menebak dengan tepat dan itu membuat Izraa tersadar satu hal.
“Bang! kan elu menikah saat di fase cinta udah mulai nggak menggebu lagi hingga akhirnya kehilangan minat satu sama lain, begitu kan? walau akhirnya kalian berhasil menyelamatkan pernikahan, tapi sebenarnya begitu, kan intinya?”
__ADS_1
“Iya, kurang lebih sih.”
“Jadi, kalau kita nikah di fase menggebu, kemungkinan pernikahan itu akan langgeng dong? kan fasenya akan berjalan sesuai dengan lamanya waktu kebersamaan? Bener nggak?”
“Iya begitu, trus?”
“Berarti, saat paling tepat untuk menikahi Syila adalah sekarang dong Bang? saat gue lagi menggebu-menggebunya sama dia, bener nggak!”
“Lu gila! dia nemuin lu aja nggak mau, sekarang lu bilang mau nikahin dia, otak lu geser kayaknya karena banyak masalah, udah ah! Gue mau cek yang lain.” Bang Aryo pergi dari ruang editing, meninggalkan Izraa dengan pemikiran gilanya.
Dia sedang menyusun rencana agar bisa menikahi Syila dalam waktu dekat ini, dia ingin memanfaatkan moment menggebu agar bisa memiliki pernikahan yang panjang dengan manusia satu-satunya yang mampu membuatnya bergairah!
...
“Gue cuma pengen nulis lagi Ndi.” Syila terlihat sangat sedih karena belum ada kemajuan sama sekali tentang tangannya. Mereka sudah di rumah orang tuanya Syila.
“Yang sabar dong, terapi juga belum sebulan, pasti bisa, orang kata Papi ini cederanya masih bisa disembuhin, cuma elu mesti sabar, jangan stres ya.”
“Ndi, kalau gue nggak bisa nulis lagi, apa gue masih bisa hidup dengan baik?” Syila menatap ke arah luar jendela, dia duduk di depan pintu balkon yang tertutup.
“Pasti bisa, mana sih Syila yang selalu bersemangat? Masa kalah sama luka kecil kayak gini.”
“Ndi, tangan gue aja diangkat nggak bisa! Masa iya bisa sembuh?”
“Bisa!” udah cepet makan! ini mami masakin masakan yang enak banget loh.
“Nggak mau Ndi.”
“Lu bisa nggak sih jangan manja, udah cepet mangap! Kalau nggak gue paksa masukin nih sendoknya!” Andi kesal karena Syila jadi sangat kurus karena malas makan.
...
“Jadi, hasilnya buruk Pi?” Alzam bertanya.
“Iya, kita harus lakukan beberapa operasi lagi.”
“Harus dilakukan, walau dia curiga, jangan sampai terlambat, atau dia akan kehilangan fungsi tangannya.”
“Pi!”
“Kamu pikir ini mudah buat Papi? Papi mulai menyesal membiarkan dia berhubungan dengan Izraa, karena dia anakku menjadi cacat.”
“Dia sangat suka menulis Pi, dia pasti akan sangat sedih kalau tidak bisa menulis lagi, dia pasti akan depresi, bagaimana dia menjalani hidup, Pi?”
“Kita harus berusaha menyembuhkan dia, Nak.”
“Aku akan lakukan apapun!” Papi bertekad.
“Maaf aku datang, karena ada hal mengenai yayasan yang harus kita bicarakan.” Ternyata Papinya Izraa datang tanpa mengetuk, dia langsung masuk ke ruang kerja papinya Syila.
“Masuklah, kami sudah selesai.”
Alzam hanya mengangguk dan keluar dari ruang papinya.
Papinya Izraa masuk dan duduk di hadapan papinya Syila, dia memberikan laporan yang agak sensitif, mereka terpisah meja.
“Ya, ini memang laporan yang sedang kuteliti, ada beberapa kesalahan input pembayaran, kami sedang investigasi.”
“Tapi ini membuat laporan ini mengatakan keuntungan kita menurun karena kesalahan ini, aku pikir ada orang dalam yang sengaja melakukannya.”
“Aku tahu, makanya kubilang kami sedang investigasi.”
“Suasana hatimu sedang tidak baik?” Papinya Izraa bertanya, karena papinya Syila terdengar sangat ketus.
“Tidak, biasa saja.”
“Apa Syila baik-baik saja?” Papinya Izraa bertanya lagi.
“Ya, tentu saja, anakku baik-baik saja.”
__ADS_1
“Apakah tangannya sudah membaik?”
“Ya, kau tidak perlu mengkhawatirkannya.”
“Aku bisa bantu fasilitasi kalau ....”
“Sudah cukup, aku punya uang untuk melakukan itu, jangan campur aduk masalah pekerjaan dan keluarga kita.”
“Tapi Pak, kau yang mencampuradukkan masalah pekerjaan dan keluarga.”
“Apa maksud, Bapak?” Papinya Syila tersinggung.
“Aku mendapat banyak laporan kalau ... kau tidak fokus menjalankan rumah sakit ini, kau adalah orang yang aku percaya untuk menjalankan rumah sakit ini dan kau sekarang mungkin kesulitan untuk fokus.”
“Bapak hanya perlu meminta laporan perfomansi kerja padaku jika ingin tahu kinerjaku, tidak bisa dibicarakan seperti ini dan mendengar desas-desus saja!” Papinya Syila mulai terpancing.
“Aku sudah tahu kondisi anakmu.” Papinya Izraa mulai memojokkan lagi.
“Bukan urusan Bapak, itu tanggung jawabku.”
“Apakah kelak ada laki-laki yang mau menikahi putri bapak, jika Syila ... tidak bisa mengembalikan fungsi tangannya lagi seperti semula?” Tanpa hati-hati papinya Syila berkata dengan sangat terang-terangan.
“Kau sudah keterlaluan!” Papinya Syila kesal dan berteriak.
“Aku tidak akan pernah melepaskan Syila untuk menjadi menantuku, aku akan lakukan apapun agar Izraa dan Syila bisa bersama, aku tidak pernah melihat anakku begitu tergila-gilanya pada satu perempuan.
Maka, kau dan aku hanya perlu bekerja sama agar mereka bisa bersama.”
“Aku takkan membiarkan anakku celaka lagi dengan memiliki hubungan dengan anakmu.”
“Itu salahnya, karena kita tak pernah ikut campur dengan hubungan mereka, akhirnya mereka jatuh berkali-kali karena banyak yang ingin mereka pisah, kita yang harus menjaga anak-anak agar hubungan mereka stabil, aku akan memperlakukan Syila sebagai menantu yang sangat diterima, maminya, adik iparnya, semua akan melakukan apapun yang Syila mau. Asal pernikahan ini tetap berlanjut.
Adakah keluarga yang terpandang sepertiku, menerima anakmu dengan hati terbuka, lalu kesepakatan ini.”
Papinya Izraa memberikan sebuah map, map pembangunan sebuah rumah sakit yang sangat besar.
“Aku tahu ini impianmu bukan? kau sangat ingin membangun rumah sakit yang sangat besar dengan fasilitas yang lengkap? Hingga warga di negeri ini tak perlu ke luar negeri lagi karena rumah sakit ini bisa membuat siapapun berobat dengan adil?
Aku tidak punya modal sebanyak itu, tapi kau tahu, reputasiku bisa menarik banyak investor, kau tahu, kan, bagaimana aku dan istriku mampu membangun nama kami sedemikian rupa?”
“Kau menyuapku untuk menjual anakku?”
“Bukan, aku memberimu banyak alasan untuk memilihku sebagai besan. Adakah yang mampu menandingi tawaranku? Anakmu akan bahagia bersama anakku, dia sangat mencintai Syila, buktinya dia berkorban untuk Syila dan Syila juga mencintainya karena dia juga berkorban untuk Izraa. Aku takkan bisa menemukan kandidat perempuan setangguh Syila, makanya sekarang aku ingin kita berdua ikut campur secara penuh untuk hubungan mereka.”
Papinya Syila terdiam, papinya Izraa tahu, tawaran dia sudah masuk ke dalam ranah dipertimbangkan oleh calon besannya.
“Ini perhitungan budjet untuk pembangunan, aku sedang melobi pemerintah pusat untuk ikut mendukung, kau tahu kan, tahun depan aku bermaksud mencalonkan diri menjadi Gubernur, aku butuh kau dan juga hubungan anak kita untuk menaikkan elektabilitasku. Pertimbangkan dengan hati-hati, keputusanmu akan membuat jalan kita mudah atau sulit ke depannya.”
Papinya Izraa lalu pergi ke luar dengan perasaan penuh harap.
Papinya Syila mengambil map perencanaan pembangunan rumah sakti besar itu, dia sangat menginginkan ini lama sekali, tapi apakah ini langkah yang sangat tepat untuk putrinya? Apakah Izraa benar orang yang tepat?
Tapi tawaran ini siapa lagi yang mampu memberikan, keluraga terpandang, lelaki gagah sehat yang kaya raya, sedang Syila kelak harus berjuang sembuh agar tangannya bisa berfungsi lagi, ini bukan tawaran yang main-main.
...
“Aku akan pastikan, anakku mendapatkan apa yang dia inginkan, aku akan buat dia kembali lagi ke rumah dan ikut berkecimpung dalam bisnisku, aku tak punya siapapun lagi untuk meneruskan semuanya, Syila dan Izraa harus meneruskan usahaku, sedang anak perempuanku, kelak dia akan dibawa suaminya.”
“Kau harus mendorong papinya Syila untuk menerima tawaranmu, kau harus ciptakan keadaan yang membuatnya tak bisa menolak.” Maminya Izraa ada di ruangan kerja papinya, mereka memang dua orang yang solid jika soal bisnis. Bahkan perjodohan ini adalah sebuah hitungan bisnis yang sangat menguntungkan.
“Tapi mungkin sulit meyakinkan maminya Syila, karena dia sepertinya sudah sangat membenci anak kita.”
“Soal itu, biar aku yang tangani, aku akan pastikan, dia tidak lagi membenci anak kita, aku akan gunakan cara paling bersih sampai paling kotor untuk membuatnya kembali menyukai Izraa.”
“Kau memang istriku yang paling bisa diandalkan.”
“Kau tahu kan, aku memang cerdas.”
Maminya Izraa lalu keluar dari ruangan suaminya dan bersiap untuk rencana pernikahan.
__ADS_1