Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 39 : Hilang


__ADS_3

“Heh bangun! Bangun!”


Izraa menepuk-nepuk pipi Andi yang tergeletak di parkiran, Izraa kembali lagi karena merasa tidak enak hatinya setelah dia pergi dan menolak Syila tadi, entah kenapa dia yang tadinya bertekad untuk sementara waktu mengabaikan Syila yang tidak peduli padanya menjadi sedikit khawatir, makanya dia kembali ke lokasi syuting setelah berkendara beberapa lama, tapi saat kembali, dia melihat seseorang tergeletak di parkiran, tidak ada yang menolong karena lokasi syuting sepi, mungkin juga bukan jam security untuk datang ke parkiran.


Andi bangun karena tepukan ringan dari Izraa, kepalanya berat sekali.


“Syila mana!” Izraa mulai panik.


Andi mencoba menguasai keadaan, dia lalu berbicara.


“Za, tolong Syila Za, di-dia, dia … diculik!” Andi berteriak, Izraa melotot.


“Kok bisa? Kok bisa dia diculik!” Izraa berteriak tidak kalah kencangnya.


“Jadi, jadi gini, ya Allah, dimana Syila, Za, kita harus telepon Polisi, kita harus kasih tau mami, papi, Za ini penggemar gila, Za, tolongin gue.” Andi ketakutan, bukan karena takut akan Aldo, tapi takut kalau Syila akan dilecehkan.


“Sebentar! Sebentar!” Izraa membuka telepon genggamnya, dia membuka aplikasi, lalu dia menarik kerah Andi agar Andi tidak bisa masuk ke mobilnya dengan cepat.


“Kita mau kemana? Lu telepon semua orang dulu.”


Andi bingung, karena Izraa buru-buru mengendai mobilnya lagi.


“Nih, lu hubungin semua, Polisi, mami papi, siapapun yang lu pikir bisa dihubungi, kita akan ikuti GPS ini.” Izraa memberikan telepon genggamnya yang lain ke Andi, karena telepon genggam Andi masih ada di dalam mobil Syila dan telepon genggam utama Izraa digunakan untuk melacak lokasi telepon genggam Syila yang sengaja diinstall aplikasi pelacak secara diam-diam oleh Izraa.


“Lu pakein aplikasi tracker di telepon genggamnya Syila?!” Andi antara marah dan lega berkata.


“Ya, kan elu tahu, gue obsess sama dia, jadi jangan tanya dulu deh.”


“Dia tahu elu install aplikasi itu?”


“Ya, enggaklah, bodoh banget lu, pantes aja Syila bisa ilang!” Izraa kesal.


“Eh elu jangan asal ngomong ya, denger nih ….” Andi kesal, tapi omongannya diselak oleh Izraa.


“Telepon dulu Polisi dan yang lain!” Izraa memerintah, Andi teringat lagi kalau dia harus menelpon, dia lalu menelpon Polisi terlebih dahulu, sebelum teleponnya diangkat, dia mengambil air minum yang ada di bagian pintu mobil Izraa.


[Halo Pak, selamat malam, Pak tolongin adik saya Pak.] Andi berteriak setengah frustasi.


[Ini siapa? adik kamu kenapa?] Polisi bertanya, Andi menghubungi sambungan darurat Polisi.

__ADS_1


[Saya Andi Pak, adik saya diculik sama penggemarnya Pak.]


[Adikmu Artis?]


[Bukan Pak, dia penulis ternama, ini yang culik fansnya tulisan adik saya Pak.]


[Yaudah ceritain dulu kronologinya dengan singkat, dimana terakhir kau melihatnya dan apakah kau tahu kemungkinan adikmu dibawa ke mana?]


[Jadi gini Pak, kemarin tuh, si penggemar ini, namanya Aldo Pak, dia tuh kayak nguntit adik saya Pak, sampe ke apartemennya, semalem dia datang minta dibukain pintu, dia gedor-gedor pintu apartemen adik saya, tapi adik saya nggak bukain, pas paginya saya ke rumah adik saya, dia udah ketakutan sambil pegang stick golf saking takut kalau si Aldonya itu balik lagi.]


[Ok, lalu kenapa sekarang dia bisa diculik? Kau sudah memastikan dia tidak pergi ke rumah temannya atau ….]


[Nggak mungkin Pak, orang saya dibius pake sapu tangan, trus abis itu saya ditinggalin di parkiran, dia pasti hubungin adik saya pakai HP saya dan bawa kabur adik saya pake mobil itu, Pak kami lagi ngejar adik saya itu, karena ternyata pa … pacarnya adik saya itu install aplikasi tracker atau penyadap lokasi Pak di HP adik saya, untungnya begitu Pak, jadi kami bisa kejar penculik itu, sekarang kami lagi ke arah ….]


“Bogor, dia ke arah Bogor.” Izraa membantu Andi untuk memberitahu lokasi mereka.


[Bogor Pak, Bapak ada aplikasi chating nggak, nanti saya bagi lokasi langsung supaya bapak bisa ikutin kami, gimana Pak?] Andi masih disambungan telepon genggam Izraa.


[Iya ada, saya akan kirim chatting nanti ke nomor kamu, di sini sudah terdafar nomor telepon kamu, tutup dulu dan kita sambung komunikasi melalui chatting ya.]


Lalu telepon di tutup, tidak lama ada pesan dari Polisi, Andi lalu membagi lokasinya secara langsung di palikasi chatting itu, sehingga Polisi bisa mengikutinya melalui GPS aplikasi chatting itu.


“Gue telepon papi dulu ya, semoga mereka nggak kenapa-kenapa.” Lalu Andi menelpon papinya Syila.


[Ada apa sih Ndi! Mamimu kenapa?] Papinya Syila mengangkat tidak lama walau nomornya tidak dikenali, papinya Syila seorang Dokter, kalau malam-malam ditelepon pasti untuk suatu hal yang mendesak, begitu dengar suara Andi, dia langsung menebak kalau Maminya Andi yang sedang sakit kenapa-kenapa.


[Nggak Pi, mamiku nggak kenapa-kenapa dia sehat, ini soal Syila Pi.] Andi ragu dan takut mengatakannya.


[Kenapa, kenapa anakku itu!] Papi kesal karena Andi memotong omongannya sehingga tidak jelas.


[Acil di culik Pi!] Andi menangis lagi, lalu terdengar suara tangis mami dari sebrang sana, karena papinya Syila langsung memberitahu pada mami dan tidak lama terdengar suara Alzam yang juga berteriak.


[Hubungi Polisi Ndi, kamu dimana, kok bisa!] Walau panik dan ketakutan, papinya Syila masih berusaha untuk menguasai keadaan, karena dia harus berfikir jernih sebagai kepala keluarga, maminya Syila pingsan, Kak Alzam yang mencoba membangunkan mami.


[Sekarang aku sama Izraa lagi ngejar penculiknya Pi, Izraa ternyata install aplikasi yang bisa sadap lokasinya Syila, jadi sekarang dari telepon genggamnya Syila itu, bisa dilacak keberadaannya sekarang. Aku juga sudah telepon Polisi dan membagi lokasiku langsung, jadi Polisi bisa mengikuti kami dan mengetahui lokasi kami.]


[Alhamdulillah, Izraa memang lebih bisa diandalkan, yasudah, kejar dulu dan tetap kabari kami, kamu juga kirim lokasi langsung kamu ke HPnya Alzam, Papi dan Alzam akan mengejar kalian.]


[Iya Pi, maafin aku ya Pi.] Andi menyesal.

__ADS_1


[Ndi! Fokus dulu temuin Syila, pastiin dia nggak kenapa-kenapa, jangan minta maaf seolah Syila celaka, ngerti!]


[Iya Pi.] Andi mengsuap air matanya dan menutup sambungan telepon.


Mereka masuk tol, mobil Syila masih jalan terus berdasarkan GPS yang Izraa tangkap di layar teleponnya.


“Ceritain sama gue, kenapa bisa dia diculik, dari awal kalian ketemu sama itu penculik, sampai elu bisa pingsan di parkiran itu.” Izraa meminta penjelasan.


“Jadi beberapa hari lalu, kita ada penandatanganan novel, Syila kayak biasa aja, tanda tanganin novel yang dibawa para penggemarnya, sampai ada satu laki-laki, namanya Aldo, kayak biasa Syila kasih dia kata-kata mutiara sebelum tanda tangan di halaman depannya, setelah itu, Aldo selalu ada dimana-mana setiap kami jalan.”


“Maksudmu ada dimana-mana?”


“Ya misal kita dua hari lalu ke teman jogging, gue parkirin mobil Syila lari duluan, ternyata pas gue samperin Syila si Aldo udah ada di sana, Syila keliatan lagi mencoba untuk pergi, tapi Aldo maksa ngobrol, pas gue dateng, akhirnya Syila bisa gue bawa pergi, di situ, Syila belum curiga, tapi udah gue peringatkan berkali-kali, jangan terlalu nggak enakan untuk nolak, apalagi dia lawan jenis, bisa bahaya kalau dia salah tangkap, tapi Syila masih merasa bahwa Aldo orang baik, dia memang naïf!”


“Jadi itu yang terjadi di taman jogging.” Izraa bergumam.


“ Trus abis jogging gue sama Syila makan bubur, si Aldo ada lagi, dia ngajak makan bareng, Syila keliatan mulai nggak nyaman, akhirnya gue sama dia cepet-cepet makannya dan pamit pulang, gue sama Syila pikir semua udah berakhir dan ternyata nyokap gue sakit, jadinya gue nggak bisa nemenin dia untuk masuk apartemen, karena harus buru-buru anter nyokap ke rumah sakit.


Tapi ternyata kata Syila hari itu Aldo masuk lift saat Syila di lift mau naik ke unitnya juga, Aldo bahkan memencet lantai yang sama di mana unit Syila berada, karena itu Syila berbohong pada Aldo kalau unit apartemennya ada di lantai sembilan, padahal lantai tujuh, itu agar Aldo tidak tahu dimana unit Syila, katanya Syila sempat mengulur waktu di lantai sembilan agar tidak bertemu Aldo lagi, hari itu berhasil, Syila tidak diganggu lagi sama Aldo.


Lalu puncaknya kemarin, gue nggak bisa temenin dia di apartemen karena nyokap masih sakit, Syila akhirnya sendirian di apartemennya, si Aldo brengsek dateng dan minta Syila bukain pintu, tapi Syila tetap diam agar Aldo tidak tahu kalau Syila ada, tapi sepertinya Aldo tahu Syila ada di unitnya, makanya dia menggedor-gedor pintu unit Syila, Syila akhirnya masuk kamar dan memegang stick golf sampai subuh karena ketakutan.


Katanya semalaman dia menelpon, gue, Alzam dan … elu! Dia juga nelpon elu kali! Elu kenapa nggak angkat?!” Andi jadi marah.


Izraa tidak menjawab, dia ingat ketika malam itu Syila telepon, sebenarnya dia ingin angkat telepon dari Syila, tapi dia masih kesal karena ketidakpedulian Syila akan dirinya, rasa marah itu membuat Izraa tidak jadi mengangkat telepon dari Syila, seperti barusan Syila minta diantar, Izraa akhirnya mengerti, Syila ketakutan dan bodohnya Izraa tidak sadar, Izraa menginjak rem lebih dalam, dia bahkan menyentuh kecepatan seratus enam puluh kilo meter, dia tidak ingin terlambat, karena mobil masih terus jalan, GPS menunjukan mobil Syila masih terus melaju, artinya penjahat itu masih sibuk menyetir.


“Trus kenapa elu bisa pingsan di parkiran?”


“Jadi pas gue mau jemput Syila, gue buka pintu mobil, maksudnya mau turun, tapi tiba-tiba gue dipepet orang dan dia membekap mulut gue pake kaen gitu, gue pikir itu sapu tangan, seingat gue, gue baru aja mau keluar, posisi pintu mobil kebuka, kejadiannya cepet banget, jadi gue bener-bener nggak bisa ngelawan dan nggak punya kesempatan.”


Setelah si Aldo membekap mulut Andi, dia mendorong tubuh Andi agar berada di kursi penumpang samping supir, lalu Aldo mengambil telepon genggam Andi dan menelpon Syila, setelah itu, Syila dibawa kabur.


“Kita harus nemuin Syila, kalau gue nggak bisa nemuin dia atau dia kenapa-kenapa, gue bersumpah bakal cari kemanapun untuk menemukan pelakunya dan habisin pelakunya, gue nggak akan pernah maafin si brengsek itu!” Izraa tampak sangat murka.


Sementara di kediaman Syila papi dan Alzam segera meluncur mengikuti lokasi langsung yang dikirimkan oleh Andi melalui telepon genggam Izraa.


“Mami nggak apa-apa kan Pi?” Alzam cukup khawatir, takut maminya kena serangan jantung.


“Ada si mbak yang jaga, Papi juga udah cek mami tadi, Insyaallah aman, sekarang Syila jauh lebih penting.”

__ADS_1


“Pi, tadi sejam yang lalu Syila sempat telepon, tapi nggak keangkat, aku ketiduran Pi, capek.” Alzam, memiliki penyesalan yang sama dengan semua orang.


“Nyetir yang fokus, Syila akan baik-baik saja, kita harus cepat mengejarnya, ingat fokus dan hati-hati, mengerti!” Papi meminta Alzam untuk tidak memikirkan hal yang lain selain mengejar penculik itu.


__ADS_2