Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 59 : Pelaku 14


__ADS_3

“Aku tidak mengenal perempuan itu, sepanjang aku berhubungan dengan setiap orang, aku yakin betul belum pernah melihat wajahnya. Ketika dia menolongku, itu kali pertama kami bertemu, aku tidak kenal perempuan itu.” Izraa jujur, karena dia memang tidak pernah kenal perempuan itu.


Izraa bicara pada Managernya, dia orang yang paling Izraa percaya.


“Ini udah keterlaluan si Za, lu mau gue suruh orang-orang kepercayaan kita buat selidiki dia lagi? Karena kita sempat tertipu dengan identitasnya si Aldo.”


“Lu nggak salah sih, yang salah itu gue, kenapa gue percaya gitu aja sama Fenita, padahal jelas, kita udah cek data anak itu dan dengan mudah perempuan brengsek itu mematahkan data hanya dengan kebohongannya.”


“Tapi gue heran sih Za, lu akhir-akhir ini berubah parah sejak kenal  Syila.”


“Maksudnya?”


“Ya, elu jadi orang yang lebih terbuka sama orang baru, biasanya elu kayak nggak pedulian dan biasanya nggak terlalu percaya, tapi kenapa setelah sama Syila, rasa percaya lu sama orang jadi berlebihan.”


“Entahlah.”


“Jaga batasan Za, lu sama Syila bukan orang biasa, dari keluarga terpandang pula, kalau mau ngelakuin sesuatu, harus bener-bener dipikirin, gue selalu filter apapun yang bisa gue filter biar nama baik lu tetap baik, tapi lu juga perlu jaga diri, hati-hati ya.”


“Gue menjaga batasan sejak dulu, sekarang justru gue lagi nikmati, ketika batasan itu nggak ada. Tapi hanya untuk Syila, sisanya, hanya empati yang sekarang lahir dari hati yang sebelumnya sakit dan hampir mati.”


“Jangan main sajak ama gue, nggak ngerti gue, udah ah, gue bakal suruh orang kita selidiki keluarga Fenita dan Aldo, gue bakal pastiin kali ini informasinay valid.”


“Ya, gue butuh itu sekarang, gue mau tahu perempuan itu.”


Sementara di ruang perawatan lain, Syila sudah bangun, dia ditemani mami, Alzam dan Andi, papi kembali bekerja setelah sebelumnya sudah memastikan kondisi Syila stabil.


“Mi ….” Syila memanggil mami.


“Iya Nak, mami di sini, apa yang sakit?”


“Mi, Izraa gimana? Fenita ketangkep nggak?”


“Izraa baik-baik aja, Fenita sudah tertangkap, kamu yang terluka paling parah, udah sekarang kamu istirahat aja ya.” Mami mencoba menenangkan.


“Mi, ini tanganku kenapa sakit banget ya? Kok telapak tanganku sulit digerakkan?” Syila bertanya pada mami dengan panik.


Alzam mendekatinya lalu memberikan obat penenang, mungkin efek obat bius sudah hampir habis, lalu sekarang dia mulai merasakan sakit dari luka tusuk di bahunya. Alzam dan papi sudah menduga bahwa akan ada masalah pada tangan Syila sebelah kanan, karena tusukan di bahunya, mengenai saraf yang mempengaruhi kinerja lengan, walau belum tahu di bagian mana masalah itu akan muncul. Sekarang Alzam tahu, kalau telapak tangan Syila yang mungkin bermasalah.


Syila tertidur lagi, sementara mami mulia menangis.


“Mi, jangan terlalu stress ya, Syila butuh kita.” Alzam memeluk maminya.


“Kalau telapak tangannya sampai cacat, dia akan kesulitan menulis, kau tahu kan, itu artinya kita membunuh dia perlahan.”

__ADS_1


“Mi! jangan bicara yang macam-macam, kita bisa terapi dan menyemangatinya, jangan berbicara hal buruk!” Andi kesal karena mami ketakutan dan itu membuat semua orang menjadi ikut ketakutan.


Alzam hanya diam, karena dia tahu, perkataan mami, bisa saja benar, dia sudah membahayakan karir menulisnya, tapi ini resiko, pada hati yang dia pilih, bahkan mencelakakan takdir saja dia jalani.


“Katakan pada papimu, batalkan perjodohan ini.” Mami tiba-tiba bicara dengan wajah marah.


“Mi, bisa bicarakan hal ini nanti saja, kita harus fokus pada kesembuhan Syila, lagian ... Izraa juga sakit kan Mi, jangan sampai kita malah membuat kesehatan orang juga menjad buruk karena perkataan akibat marah.”


“Syila selalu menjadi orang nomor satumu, tapi kenapa kau sekarang membela orang lain?” Mami berkata dengan kasar.


Tak terasa, Hanum datang, dia membawa buah tangan, mami yang tadinya terlihat penuh amarah, mencoba menahan rautnya agar tak terlihat calon menantunya. Biasanya orang yang jarang marah, malah akan menjadi orang yang paling menakutkan jika saja memutuskan untuk marah.


“Maaf aku datangnya telat, masih briefing untuk sesi edit, aku isi dubbing di film kita, karena beberepa scene suaranya tidak jelas, jadi harus di dubbing ulang.” Hanum mencoba memberi alasan dia datang telat.


“Nggak apa-apa dong Num, lagian Syilanya bobo. Bawa apa nih? Repot banget sih.” Mami terdengar basa-basi.


“Buah aja Mi.” Hanum sudah memanggil ibunya Syila dengan sebutan mami agar merasa semakin dekat.


“Yaudah, sini mami taruh dulu, kamu istirahat deh, kan tadi abis kerja juga.” Mami mengambil keranjangnya dan mempersilahkan Hanum untuk duduk, pacar Alzam ini memang selalu sempurna di mata mami.


“Alzam izin tugas dulu ya, mami ditemani Andi dan Hanum, nggak apa-apa kan, Mi?” Alzam memang harus bekerja lagi.


“Ya, pergilah, jangan lupa untuk tetap ke sini secara berkala ya, jaga adikmu, karena tidak ada yang mampu menajga keluarga selain keluarganya. Kita tak bisa selalu mengandalkan orang lain.” Mami berkata dengan pedas, masih ada rasa marah pada kejadian ini.


“Ya, nanti Alzam ke sini lagi.” Alzam pergi, Andi ikut keluar dia akan membeli kopi, itu pamitnya pada mami, padahal ....


“Nggak apa-apa, nggak ada memar atau patah.”


“Za, gue cuma bilang gini, mami minta Alzam bujuk papinya untuk menyetujui pembatalan perjodohan.” Andi mengadu, dia bukannya berada di pihak Izraa, tapi dia hanya tidak ingin Izraa kembali mengancam Syila, Andi tahu dengan jelas, hubungan mereka tidak didasari rasa cinta, bahkan pacarannya saja bohongan.


"Aku sudah bica menebak, tante akan membenciku, aku juga tidak yakin, apakah Syila akan tetap bisa menerimaku setelah semua ini, dia berusa sekuat tenaga untuk meyakinkanku, tapi aku bodoh, karena merasa memiliki budi besar, aku kehilangan kemampuan untuk waspada karena merasa ditolong saat hampir mati, tapi malah dia yang sebenarnya pelaku dari penembakan itu, brengsek."


"Kau akan melakukan apa setelah ini? kalau perjodohan ini selesai, bisakah kau melepaskan adikku? jangan lagi memaksa berhubungan dengannya, aku tahu kau sakit dan Syila obatnya, tapi bisakah kau tetap bertahan dengan penyakitmu selama sisa hidup? bukankah kau sudah menjalani sakit mental itu selama puluhan tahun, lalu kenapa sekarang kau tidak bisa hidup dengan penyakit itu di sisa umurmu? Aku tahu ini kejam, tapi percayalah, apa yang kau lakukan pada Syila, juga sama kejamnya."


"Aku akan menyerahkan hal ini pada Syila, jika saja dia ingin aku pergi, maka aku akan lakukan. Tapi izinkan aku berjuang sekali lagi."


"Terserah kau saja, tapi ... jika kau mendekat, apakah dia akan baik-baik saja? kau bisa jamin itu?"


"Setelah kejadian ini, satu yang aku yakini saat ini, hanya Syila, hanya Syila yang bisa aku percaya."


"Terlambat, karena ketidakyakinanmu kemarin itu, semua orang akhirnya menjadi tak yakin juga padamu, tak percaya kau bisa melindungi adikku. Pokoknya aku sudah peringatkan, kalau sekali lagi dia celaka, mungkin bukan hubungan kalian yang selesai, mungkin hubungan bisnis antara kedua orang tua kalian juga akan selesai, percayalah, papi akan menjadi gila jika anak perempuannya sakit lagi, dia takkan peduli dengan bisnis, biarpun dia terlihat sangat otoriter, tapi dia ayah yang sangat protektif, jadi jangan uji kesabarannya."


Andi lalu pamit, tidak lupa membeli kopi, agar tak ketahuan kalau dia telah ke kamar Izraa, bukannya pergi beli kopi dan makanan.

__ADS_1


...


"Aku ingin bertemu dengannya sebentar saja, Tan." Izraa memohon, ini hari ketiga mereka dirawat dan kali kedua Izraa ditolak masuk.


"Tidak, sampai kondisi anakku benar-benar pulih."


"Tan, aku mohon, aku hanya ingin melihatnya."


"Dia tak ingin bertemu denganmu."


"Biarkan aku bicara dengannya sekali saja, Tante. Satu kali saja." Izraa membuat keributan, dia tak akan kasar pada maminya Syila, tapi dia terus memaksa masuk, sampai Alzam harus memanggil keamanan untuk mengusir Izraa.


Papinya Izraa yang kebetulan sedang kunjungan rutin ke rumah sakitnya, mendengar itu buru-buru mendatangi tempat terjadi keributan itu.


Disana sudah berkumpul, Papi Izraa, Papi Syila, mami Syila, Andi dan Alzam serta petugas keamanan yang tak berani mengusir anak pemilik rumah sakit, Alzam kesal melihatnya, dia sebenarnya enggan untuk melihat wajah pria yang membuat adiknya celaka.


"Dok, bisakah izinkan anak saya melihat kekasihnya, sebentar saja?" Papi memohon pada papinya Syila.


"Tidak bisa! anak saya tidak mau bertemu anak anda, mungkin suami saya terlibat hubungan bisnis dengan anda, tapi maaf, saya ibunya, saya takkan biarkan dia bertemu dengan anak saya! anak saya tidak ingin bertemu dengan anak anda, bisakah kalian hargai keinginannya?" Mami bersikeras, papi hanya menggeleng pada papinya Izraa, tanda dia tak bisa berbuat apa-apa.


"Ini benar Syila yang tak ingin bertemu denganku atau tante yang tidak ingin lagi aku menjadi kekasihnya?" Izraa terpaksa mengatakannya.


"Dia benar-benar tidak ingin bertemu denganmu, bukan aku yang mempengaruhinya!" Mami terlihat kesal karena dituduh, walau itu benar.


"Tidak mungkin, dia bahkan mendatangiku saat aku disekap Fenita, dia pasti mau bertemu denganku dia ...."


"Adikku Cedera Rotator Cuff, dia mengalami kerusakan tendon keseluruhan, tangan kanannya tidak bisa digerakan sama sekali akibat tusukan itu, kami baru menemukan ini setelah observasi. Bukan hanya kau! dia bahkan tak ingin bertemu dengan siapapun selain keluarga!


Umurnya baru 30 tahun, tapi dia sudah cacat! brengsek!" Alzam yang biasanya sangat tenang, menjadi kasar dan harus berterus terangan soal keadaan Syila.


Papinya Izraa terkejut, dia sungguh tak menyangka bahwa Syila benar-benar terluka parah. Banyak hal memang baru diketahui setelah operasi, hal itu diketahui saat masa observasi dan disembunyikan Alzam hingga dia benar-benar yakin dan memastikan keadaan Syila setelah dia bangun.


Izraa mendengar itu langsung lemas, dia mundur sesaat, papinya memegang tubuh Izraa agar tak jatuh, lalu papi meminta beberapa perawat membawa kembali Izraa ke ruang perawatannya.


Setelah Izraa dibawa, mami masuk lagi ke kamar perawatan Syila, Papi Izraa mendekati Alzam dan papi Syila.


"Apa itu benar?" Papi Izraa bertanya.


"Bapak pikir saya akan berbohong keadaan adik saya!" Alzam kesal, Papi Syila membiarkan anaknya berbicara kasar.


"Aku akan menjaga Syila seperti anakku, dia menjadi menantu atau tidak, dia anakku, aku takkan lepas tanggung jawab."


"Kami masih mampu Pak, terima kasih." Alzam pergi karena kesal.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak bisa mengendalikan keluargaku, karena ini pukulan untuk kami semua, anakku depresi, dia tidak bisa lagi menulis, maka sekarang aku paham, sebanyak apa dia menyukai menulis." Papi Syila berkata dengan sedih.


"Aku takkan meninggalkanmu, Dok. Aku akan selalu mendampingi kalian, aku mohon, jangan usir aku seperti kalian mengusir Izraa, ini tanggung jawabku, maaf." Papi Izraa memohon, papinya Syila hanya menganggu dan mereka lalu pergi pada pekerjaan masing-masing.


__ADS_2