
“Apa ada yang salah denganku?” Syila bertanya, karena Kevin sudah mulai tak pernah menjawab telepon dan juga pesan singkatnya lagi.
“Tidak, kau seharusnya paham bagaimana kesibukanku sebagai Dokter.”
Kevin tak pernah menceritakan kasus tentang dirinya yang sedang terkait masalah hukum, dia tak ingin melibatkan Syila dan keluarganya lagi, karena Alzam dan ayahnya sudah membuatnya terpojok.
Pagi ini Kevin mendapat kabar kalau keluarga pejabat itu telah mencabut laporan, Kevin senang, tapi dia tahu, ada harga yang harus dia bayar. Walau pemilik yayasan bilang tak pamrih soal bantuannya, tapi … siapa lagi yang bisa melindunginya kelak jika terjadi masalah yang sama lagi selain orang yang memang berkuasa.
Maka Kevin memutuskan untuk mencoba hubungan dengan Sofia, tanpa melepas Syila terlebih dahulu, karena jujur, dia memang mencintai Syila.
Kevin hanya mencoba banyak kemungkinan, cinta tak terlalu menjadi soalan baginya.
Hari ini dia berjanji akan makan malam dengan Sofia, mereka akan makan malam di suatu tempat yang cukup mewah, Sofia yang menyiapkan tempatnya saat Kevin bilang ingin bertemu, Sofia lalu berkata untuk makan malam bersama.
Sofia memang tipikal wanita yang sangat tegas pada keinginannya, dia tidak ragu mengeluarkan uang untuk orang yang dia cintai, walau bukan benar-benar uangnya, mungkin itu alasannya bagi Sofia saat begitu mudah mengeluarkan uangnya.
Malam tiba, mereka sudah sampai di restoran mewah itu dan makan malam bersama, hal yang sudah Syila nantikan sejak lama, tapi seringkali Kevin melanggar janji dengan alasan pasien rumah sakitnya.
“Terima kasih karena sudah menerima ajakan makan malamku, Dok.” Sofia atau yang biasa Kevin panggil Winda itu berkata.
“Aku yang seharusnya berterima kasih, karena kau menyiapkan segalanya.”
“Tentu saja harus aku, karena kau itu sibuk, aku senang sekali bisa makan malam dengan Dokter.”
“Winda, bolehkan aku bertanya.”
“Ya, tentu saja, katakan apa yang ingin kau ketahui?” Winda bersemangat, karena sebelumnya Winda sempat mengira Dokter Kevin orang yang kaku, tidak bisa menemukan topik untuk berbicara dengannya. Tapi Dokter Kevin sangat hangat dan menyenangkan.
“Apakah kau tahu kalau aku sudah memiliki pasangan?”
__ADS_1
Winda terdiam, sendok yang sedang menyuap itu batal masuk ke dalam mulutnya.
Winda menatap Dokter Kevin dengan mata sendu, dia berdandan sangat cantik padahal, tapi Kevin malah berbicara seperti itu.
“Dokter, apakah Dokter tahu bahwa, sebuah buku yang menarik selalu aku baca berulang?” Winda malah bertanya hal lain.
“Tidak, kau baru memberitahunya sekarang, tapi aku juga begitu, jika suka dengan suatu buku, aku akan membacanya berulang.”
“Pak Dokter juga harusnya paham, jika aku menyukai seseorang aku akan coba selalu tahu tentang orang yang aku sukai, walau aku tidak menyelidiki siapa kekasihmu, tapi aku tahu dari para suster, bahwa kau sudah memiliki kekasih. Maka jika kau bertanya apakah aku tahu kau sudah punya pasangan, jawabannya … aku tahu.”
“Lalu kenapa semua ini? Kau bahkan membujuk ayahm untuk membujukku bukan?”
“Ya, tentu saja, aku memang tertarik padamu Dokter, aku sangat bahagia jika datang ke rumah sakit, kau selalu memberikan pelajaran pada setiap kedatanganku, tentang bagaimana penerimaan diri dengan keadaanku yang seperti ini, aku mencoba tahu diri dengan tidak mengganggumu secar personal, tapi jujur, aku benar-benar tertarik padamu, makanya aku minta ayahku bertanya, tentang kemungkinan kita menjalin hubungan.
Tapi Demi Tuhan, aku tidak pernah berniat untuk memisahkanmu dengan kekasihmu secara paksa, saat tahu kau sudah punya kekasih, aku juga berusaha untuk mundur dan secara tiba-tiba hari ini kau menghubungiku untuk bertemu, maaf jika aku menyusahkanmu, Dok.” Winda tampak sedih, karena ini mungkin jalannya untuk meninggalkan Dokter itu, yang sudah secara terbuka mengatakan bahwa dia sudah punya kekasih.
Winda tersenyum, tentu dia tahu kalimat selanjutnya pasti Kevin hendak berkata untuk menjauhinya, karena dia mengatakan hal yang memujinya terlebih dahulu untuk membuat Winda tidak merasa kecil hati, dia berusaha menguatkan diri untuk mendengar kalimat itu.
“Maukah kau menungguku untuk menyelesaikan hubunganku dengan kekasihku dulu, setelah hubungan kami berakhir aku akan menemui ayahmu untuk melamarmu, apakah kau mau menungguku?”
Winda mendengar itu hampir tersedak, dia sangatlah tidak menyangka bahwa ini yang akan dikatakan Kevin padanya.
“Aku … aku sangat tersanjung kau mau memintaku untuk menunggu, tapi Dokter, apakah ketidaksempurnaanku tidak menghalangimu sama sekali?” Winda bertanya soal kakinya, karena dia tahu, menerima orang dengan kaki yang teramputasi, tidaklah mudah.
“Aku sering sekali melihat ketidaksempurnaan tubuh pada seluruh pasienku, aku bukan orang yang berpikiran sempit karena pekerjaanku, maka jika maksudmu adalah kakimu, aku tidak keberatan sama sekali, aku tidak pernah memandang orang dari fisiknya.”
Tentu memiliki pasangan dengan kaki teramputasi tak eprnah terpikir oleh Kevin, apalagi memiliki kekasih seorang anak dari rumah sakit besar, itu sungguh seperti mendapat durian runtuh.
Kevin sudah memikirkannya matang-matang, dia merasa bahwa tidak ada yang mampu menolongnya jika terkena masalah lagi selain uang, maka dia harus memiliki uang yang banyak untuk bisa menjadi Dokter hebat.
__ADS_1
Kevin menjadi dendam pada ayah dan kakaknya Syila karena tidak mau membantu sama sekali, sedang ayahnya Winda dengan mudah mengirim pengacara dan membantu Kevin agar terlepas dari masalah hukum itu.
Entah sudah berapa banyak uang yang ayahnya Winda keluarkan untuk bisa membuat anak pejabat itu mencabut laporannya.
Makan malam itu berjalan dengan baik, Winda pulang dalam keadaan senang dan dia sangatlah bahagia, karena akhirnya bisa memiliki kekasih seorang yang dia sukai, selama ini Winda selalu merasa rendah diri hingga tak pernah berani menyukai seorang lelaki, hingga Kevin datang dalam hidupnya, sekarang Winda merasa bahwa dia siap menerima apapun resikonya atas cinta ini, termasuk dicap pelakor, walau Winda tak tahu dan tak mau tahu siapa wanita yang sudah menjadi kekasih Kevin, cintanya sudah buta hingga tak bisa lagi melihat ke segala arah.
…
Pagi ini Syila tak mengirim lagi kotak makan walau pesannya masih saja tidak dibalas, dia sedikit marah pada kekasihnya, karena sudah menolak makanan yang dia bawa, tapi tetap Syila merasa bahwa, Kevin tidak seharusnya menolak makanan yang dia bawakan.
“Ada apa?” Papinya Syila bertanya karena melihat Syila termenung di meja makan saat sarapan ini.”
“Nggak ada apa-apa Pi.”
“Kok cemberut dan nggak mau makan, itu nasi goreng kesukaanmu loh, mami masak sendiri malah.”
Papi memang sudah khawatir bahwa Syila akan tahu masalah di rumah sakit dan Kevin tidak lagi mau pada anaknya karena masalah itu, makanya papi terlihat ingin tahu.
“Serius nggak apa-apa kok Pi.”
“Lagi bertengkar dengan Kevin?” Papi bertanya hal yang sangat sensitif, Syila menggeleng, Alzam yang melihat itu menatap adiknya, lalu bergantian menatap ayahnya.
“Kok Papi bisa bilang begitu?” Syila bertanya, dia cukup terkejut, apakah ada masalah di rumah sakit hingga ayahnya bisa menebak, apa Kevin membuat masalah atau memang dia sedang mendapat masalah? Syila langsung khawatir.
“Tidak, hanya menebak saja, pikiran anak muda zaman sekarang memang aneh, hanya masalah cinta bisa membuat tidak bertenaga.”
“Aku tidak sedang punya masalah cinta, aku juga bertenaga.” Syila menolak dibilang orang yang melankolis karena cinta, dia memang tidak suka menjadi pelaku drama dalam suatu hubungan, itu menyita waktu dan pikirannya, sedang dia butuh pikirannya untuk menulis, makanya dia benci drama dalam hubungan.
Seperti sekarang dan kelak juga dengan Izraa.
__ADS_1