Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 31 : Terperangkap


__ADS_3

Semua masalah berakhir dengan baik, syuting dimulai kembali, Hanum dan Izraa kembali membangun chemistry dengan sangat baik, semua menjadi jauh lebih kooperatif, syuting berjalan sangat lancar, tidak terasa tinggal seminggu lagi syuting berlangsung, semua orang senang, karena tinggal proses branding setelahnya.


Syila dan Izraa menghabiskan waktu seperti biasa dengan cara saling berkunjung ke apartemen masing-masing, perlahan Izraa mulai bisa solat, belum tertarik membaca Al Quran, tapi Syila membacanya di depan Izraa agar dia tertarik.


Hubungan pacaran mereka masih sangat sehat, Izraa menikmati moment bersama ini, dia tidak meminta lebih, semua perasaan itu dia rasakan betapa nikmatnya. Memiliki perasaan cinta kepada seorang lawan jenis. Hal yang dulu tidak pernah dia bisa rasakan pada jenis kelamin apapun.


Syila dan Izraa menikmati peran pacaran terpaksa ini, seperti sekarang, libur syuting mereka janjian akan liburan ke lokasi wisata sea world, sebenarnya Syila ingin observasi mengenai judul baru, yang salah satu tulisannya mendeskripsikan lokasi wisata sea world, makanya dia ingin ke sana segera, Andi dan kakaknya menolak karena katanya bukan tempat untuk orang dewasa, nanti kalau mereka punya anak baru akan ke sana.


Sementara Izraa mau diajak kemana saja, dia memang mau saja kalau selama Syila yang ajak, walau sulit mengatakan dia orang yang asik diajak jalan, karena dia terlalu pendiam dan dingin, jarang sekali bercanda, apa memang lelaki tampan itu tidak humoris dan lelaki humoris tidak tampan? entahlah.


“Bawa apa tuh?” Izra bingung karena Syila bawa keranjang khas orang akan piknik, keranjang itu langsung diambil oleh Izraa.


“Makanan.”


“Lah, beli aja, repot amat, masih jaman apa?” Izraa protes, mereka masih di depan apartemen Syila, Izraa punya kebiasaan baru, sejak pacaran, kalau menjemput akan naik sampai di depan pintu apartemen, tidak menunggu di parkiran atau lobby.


“Gue mau rasain kalau makan bawa gini, trus makan di lokasi itu apa rasanya, gue mau dapet feel buat nulis suasananya, kayak saat kita duduk di lapangan luas, lalu merasakan semilir angin, merasakan debu menimpa wajah kita dan ....”


“Emang harus selalu observasi feeling kayak gini kalau buat nulis?” Izraa bertanya, mereka berjalan ke arah parkiran mobil di basement.


“Iyalah, emang elu pikir gampang nulis, trus jadi best seller? Nggak segampang itu, kita harus relate sama kehidupan nyata, jadinya cerita kita nggak ngambang karena terlalu jauh dari realita.”


“Kalau ada adegan kayak gini!” Izraa tiba-tiba mendorong Syila, mereka sudah di dalam lift menuju basement. Izraa mendorong Syila ke arah dinding lift, tangannya berada di samping kanan dan kiri tubuh Syila, keranjang makanan yang dipegang Izraa jatuh ke bawah.


“Apaan sih!” Syila menunduk lalu membungkuk berusaha melepaskan diri dari kedua tangan Izraa.


“Kalau ada adegan kayak gitu, misalnya, apakah elu harus mendalami rasanya? Berarti harus ada lawan yang bisa buat lu rasain, kan?”


“Nggak segitunya, gue cuma mau rasain membangun suasana, melihat apa yang terjadi di sekitar, bukan adegan mesum kayak tadi.” Syila kesal, kenapa lift ini terasa lama sekali.


“Oh gitu.” Izraa seperti tidak benar-benar mendengar, dia hanya sedang meledek saja.


Mereka tiba di basement, Izraa menaruh keranjang makanan Syila ke bagasi mobil, seperti biasa dia tidak membukakan pintu untuk Syila, karena menurutnya, yang terpenting menjemput Syila dari unitnya, karena bahaya bisa saja terjadi saat dia tidak melihatnya, sedang dengan Syila masih di depan matanya, bahaya bisa di-handle, jadi membuka pintu mobil tidak menjadi hal yang penting.


Mereka mulai berjalan ke arah lokasi wisata itu, begitu sampai, Izraa membayar biaya parkir mobil di pos pendaftaran, setelahnya menuju sea world, lalu mendapatkan parkiran dekat tempati tujuan itu, mereka berdua jalan ke arah pos penjual karcis.


Izraa memberikan dompetnya seperti biasa dan menyuruh Syila membeli tiket, Syila membeli tiket, lalu setelahnya mereka masuk ke sana.


Wanita Penulis itu terlihat senang berjalan melihat akuarium besar, binatang-binatang ya hidup di air atau lingkungan hidupnya di dua alam.


Izraa terkadang terkesan dengan kesenangan sederhana itu.


Setelah puas obeservasi sea world, mereka keluar dan mencari taman terbuka untuk menggelar tikar mini yang Syila bawa bersamaan dengan keranjangnya, bukan tempat yang indah tapi cukup membuat mereka bisa menikmati sekitar, menikmati semua wahana yang disediakan, termasuk melihat laut walau masih di batas aman pantai. Bagian pantai yang masih tertutup dan tidak banyak orang, jadi mereka bisa menghindari pengambilan foto secara diam-diam dan menggunakannya untuk menyerang film Syila, seperti yang terakhir kali mereka hadapi.


“Masak sendiri?” Izraa menjawab, Syila ternyata masak nasi goreng pedas dengan isian yang cukup lengkap, Izraa terlihat senang, ternyata makan siang itu sudah Izraa tunggu, dia capek dan cukup kelaparan, tadi pagi karena senang akan pergi dengan Syila, dia lupa sarapan.


“Kan udah sering makan nasi goreng gue, kenapa sekarang lebay gini, kelaparan ya?” Syila meledek.


“Hmm.” Izraa makan sembari mengusap kepalanya karena rambutnya tersapu oleh angin berkali-kali, hingga menutupi mata.


“Mau pake ini?” Syila menawarkan jepitan, biasa dia gunakan untuk menjepit jilbabnya jika diterpa angin, sehingga jilbab tidak terbang dan memperlihatkan rambutnya.


“Nggak, malu-maluin aja.” Izraa menolak.


“Nggak-nggak! bagus, sini gue pakein.” Syila memaksa, mengusap rambut yang menutupi kening Izraa dan menjepit rambut itu ke bagian belakang kepalanya.


“Biar makannya tenang, lagian sepi kok, nggak ada orang, ngapain malu, cuma ada gue. makanya potong rambut, jangan sampe panjang gini.” Syila berkata sambil mengerlingkan mata.


“Tetap saja, ini memalukan.”


“Kata siapa? Kak Alzam dan Andi bahkan aku pasangkan bandana jika mereka sedang makan dan kerepotan dengan rambut.”


“Mereka dan aku berbeda, nggak usah disamain.” Izraa tidak terima.


“Yaudah makan dulu, abis itu kita makan puding, gue buat puding strawberi kesuakaan lu.” Syila tersenyum.


“Darimana taunya gue suka puding strawberi?” Izraa bertanya.


“Lu itu kalau makan apapun yang terbuat dari strawberi terlihat lebih senang dan riang, jadi gue pikir memang karena suka strawberi.”


“Jadi lu memperhatikan?” Izraa percaya diri.


“Lu gila! aku hanya suka mengamati orang, itu saja.”

__ADS_1


“Ini proyek kemanusiaan lagi?”


“Za, makan, jangan ngomong mulu.”


Izraa tersenyum, Syila ternyata memperhatikannya.


Setelahnya Mereka menikmati pemandangan laut dari batas aman pinggir pantai, benar Izraa suka puding strawberi. Syila juga mendapatkan apa yang dia inginkan, hubungannya dengan Izraa benar-benar dia syukuri, tapi mungkin hanya sebagai teman yang memiliki karakter yang sama saja, tapi kalau benar-benar menjadi kekasih, Syila merasa belum saatnya, hatinya masih belum merasakan cinta yang selalu Izraa katakan.


Tidak seperti perasaan Syila ke Kevin, walau perasaan itu sepertinya hampir hilang ditelan waktu.


Setelah selesai dengan kegiatannya, Syila dan Izraa pulang, Izraa tak mampir, karena katanya dia lelah sekali.



“Papi kok ngerasa kamu jarang pulang?” Papi Syila bertanya, mereka sedang duduk di halaman depan rumah, semalam mereka makan malam wajib keluarga, pagi ini Syila terbangun di tempat tidur keluarganya, dia menginap di sana.


“Banyak kerjaan, Pi.”


“Kamu beneran suka sama Izraa?” Papi bertanya lagi, padahal badai itu sepertinya telah berlalu, Papi percaya bahwa mereka telah putus dan semua foto itu dihiperbola saja.


“Biasa aja, kayak pacaran lalu putus, yasudah cari yang lain.” Syila menganggap enteng.


“Apa kamu masih memiliki perasaan juga pada Kevin?” Syila yang sedang menikmati jalan depan rumah tiba-tiba terdiam, papi jarang sekali menanyakan hal ini, terutama Kevin.


“Pada Kevin juga sama, Izraa dan Kevin masa lalu, Pi.”


“Kalau begitu, jika Papi jodohkan dengan orang lain mau?”


“Juna? Ogah!”


“Bukan, dengan lelaki lain, dia dari keluarga yang baik dan terpandang, anaknya temen, Papi.”


“Nggak perlu, Syila bisa cari sendiri.”


“Bisa? Kamu kerjaan aja nggak jelas, masa bisa cari jodoh sendiri.”


“Papi!” Syila kesal.


“Bercanda Cil.” Papi tersenyum, walau otoriter, papi adalah orangtua yang sangat bertanggung jawab, Syila mengerti bahwa ini semua untuk kebaikannya, tapi dia tidak suka, papi selalu ikut campur.


Papi terdiam, dia meminum kopinya dan mulai menjawab.


“Karena ayah wanita itu memohon, katanya anaknya sakit dan hanya Kevin yang bisa menolongnya.” Papi menjawab, Syila merasa sakit mendengarnya, bagaimana bisa dia memikirkan anak orang lain dibanding anaknya sendiri, apakah naluri Dokternya terlalu melewati batas.


“Jadi sehatnya anak itu lebih penting dariku?” Ada nada kecewa dalam kata-kata Syila.


“Tidak begitu, anak itu sakit parah, sedang kau sehat Cil, Papi merasa ada di posisi ayahnya dan jadi takut, jika karma ini menimpa diri kita, makanya Papi mendukung hubungan itu, karena sama-sama takut kehilangan anak, bagi seorang ayah akan melakukan apapun untuk anaknya, termasuk memohon.” Papi menunduk, Syila tidak menyangka ternyata memang sedalam itu pemikiran papi, dia memikirkan Syila makanya mau menolong, anaknya Papi sehat, sedang anak orang itu tidak sehat.


Syila memang memutuskan sendiri untuk putus, alasannya mirip. Papi tidak tahu, dia hanya tahu Syila tiba-tiba putus dengan Kevin.


“Syila nggak nyalahin Papi, makasih ya Pi, udah jadi ayah yang sangat baik buat Syila.”


“Bukannya Papi sukanya maksa?” Papi meledek.


“Kadang.” Mereka berdua tertawa.


“Ikut Papi minggu depan ya, hanya ikut saja, setelahnya kamu boleh memilih, Papi tidak maksa, yang penting kenal saja.”


“Kok ke situ lagi!” Syila protes.


“Kenalan aja Cil janji deh, beneran nggak bakal maksa, kalau kamu setuju, malah lebih baik.”


“Katanya nggak maksa, ini apa namanya?”


“Ini anak kepala yayasan rumah sakit, dia bilang ingin menjalin silaturahmi dengan kita, dia punya dua orang anak, lelaki dan perempuan, kemungkinan dia ingin memperkenalkan anaknya dengan kamu, bisa bantu Papi?”


“Tuh, kan, kerjaan lagi! Papi nggak bener nih, tadi ngomong apa, sekarang apa.”


“Cil, kenalan aja kok.”


“Yaudah, tapi ada syaratnya.” Syila seperti biasa, si anak pemeras, kalau papinya meminta sesuatu padanya, dia pasti minta bayaran.


“Apa?”

__ADS_1


“Syila boleh nggak pulang dua minggu sekali aja? Dua minggu setelah pertemuan itu, Syila deadline Pi, mau naik cetak, kalau Syila sibuk di sini, Syila kapan kelarin novelnya.”


“Yaudah ok, tapi dua minggu nggak lebih.”


“Deal, Papi yang kasih tahu mami ya, Syila juga nggak boleh ditelponin.”


“Banyak banget minta kamu.”


“Lah, pertukarannya harus sepadan, dong.” Syila memang wanita cerdas yang licik.


“Ok.” Papi mengulurkan tangan untuk salaman, mereka berdua sepakat untuk saling menguntungkan.



Hari ini Syila berdandan dengan sangat cantik, dia menggunakan gaun yang cocok dengan hijabnya, berwarna pastel, semua keluarganya juga menggunakan baju dengan warna senada.


Papi, mami, Syila dan Alzam sudah siap, Syila berdandan dengan sangat cantik. Kan kata papi cuma kenalan, nggak apa dia berdandan cantik, setelah ini dia mendapatkan kebebasan untuk menulis tanpa diganggu dulu oleh keluarganya.


Mereka naik satu mobil dengan Alzam sebagai supir, papi duduk di depan, Syila dan mami di belakang.


Mereka tiba pada satu rumah yang sangat besar, jarak dari gerbang depan ke pintu masuk rumah, sangat jauh, lalu setelah mereka sampai di depan pintu rumah, ada seorang dengan seragam mirip supir menunggu mereka.


Semua orang keluar dari mobil, lalu pegawai yang memakai pakaian seperti supir itu, mengambil kunci mobil dan memarkirkan mobilnya, mereka harus naik anak tangga yang cukup tinggi dan antara satu anak tangga ke anak tangga lain jaraknya lebar, di pintu depan ada beberapa orang yang memakai seragam yang mirip seperti seragam supir di bawah tapi dengan potongan yang lebih resmi, mungkin mereka adalah asisten rumah tangga.


“Saya ingin bertemu dengan, Pak ….” Papi berkata, tapi langsung dipotong.


“Baik, sudah ditunggu tuan, mari ikut saya.” Para Asisten Rumah itu mengantarkan semua orang ke ruang tamu, rumahnya sangat besar, Syila saja kagum, bahkan dia terpikir satu judul novel baru karena melihat betapa kayanya pemilik rumah ini.


“Pak.” Ketua yayasan keluar dengan istrinya, dia menyalami semua orang lalu duduk di sofa utama.


“Ini Alzam dan Syila?” Ketua yayasan itu bertanya.


“Iya, betul.”


“Wah, terakhir kita ketemu, kalian masih kecil ya, sekarang sudah berprestasi semua. Alzam Dokter, Syila penulis ternama.” Syila tersenyum mendengarnya, dia dipuji oleh seseorang di depan ayahnya, karena biasanya yang dapat jatah pujian cuma kakaknya saja, ini yang membaut Alzam sangat sayang Syila, dia tahu kalau banyak yang merendahkan Syila karena prestasi kakaknya yang jauh lebih baik menurut kebanyakan orang.


“Iya, itu hobi yang membuat dia menjadi terkenal, anak saya ini memang unik.” Papi tiba-tiba seolah mendukung pekerjaan Syila, pasti karena ingin meninggikan nama Syila agar bisa disepadankan dengan anak pemilik yayasan itu.


“Hebat itu, tidak semua orang yang hobi pada satu hal lalu menjadi sumber penghasilannya. Om dengar kamu lagi kerjain proyek film ya?” Ketua yayasan itu bertanya.


“Iya Pak.”


“Panggil Om saja Syil.” Ketua yayasan itu berkata, istrinya menawarkan minuman dan makanan pada semua orang, wanita yang sangat cantik di umurnya yang hampir lima puluh tahun itu.


Sungguh uang bisa membuat kecantikan seseorang bertahan lama.


“Iya, Om.”


“Anak om juga dulu seorang pekerja seni, tapi karena kecelakaan, akhirnya dia harus melupakan mimpinya menjadi seorang Ballerina.” Ketua yayasan itu sedih.


“Maaf Om.” Syila hanya bersikap sopan saja.


“Tidak apa, memang sudah takdir.”


“Sofia mana?” Ketua yayasan itu mencari anak perempuannya yang katanya sakit karena kecelakaan itu.


“Sebentar lagi keluar, katanya sedang menyelesaikan lukisan barunya.” Istri ketua yayasan menjawab.


Tidak lama kemudian suara roda bergesek terdengar, ada seorang perempuan yang keluar menggunakan kursi roda elektrik, sehingga dia tidak perlu mendorong kursi rodanya untuk bisa berpindah tempat, Syila spontan menatapnya, dia terpaku, dia terdiam, air matanya hampir jatuh, wanita itu adalah ….


“Selamat siang semuanya, mohon maaf saya terlambat.” Sofia anak pemilik yayasan menyapa, semua menjawab kecuali Syila.


Perempuan itu menjalankan kursi rodanya ke arah dekat ketua yayasan.


“Ini Sofia anak bungsu saya.” Semua mengangguk pertanda salam kenal.


Sofia ... nama yang berbeda, wanita yang membuat kisah percintaan Syila dan Kevin kandas, wanita yang bahkan tidak tahu bahwa dia telah merebut kekasih seseorang dengan alasan sakit, ini kah sakitnya?


Syila berdiri lalu pamit mau ke kamar mandi, dia tidak mampu menahan air mata, semua orang fokus pada kehadiran Sofia sehingga mengabaikan Syila.


________________________________________________


Catatan Penulis :

__ADS_1


Ada seseorang yang telah mengambil hatiku sepenuhnya, membuatku tidak mampu lagi merasa pada siapapun, tentu saja aku tidak pamrih, aku berharap begitu ... lalu kenapa sakit ini tetap terasa, saat kau mampu tersenyum, tertawa dan bahkan bertemu sesuka hati dengannya, tapi tidak padaku, aku yang telah menunggumu, bahkan untuk dapat terlihat saja, aku tak mampu. Apakah aku serendah itu di hadapanmu? apakah aku memang setidakpantas itu?


__ADS_2