
“Aku tidak menyangka kalau dia akan mengatakannya.” Izraa berkata pada semua orang yang ada di meja makan, ada mami, papi, Andi, Alzam dan Hanum, semua orang makan malam bersama kecuali Syila, karena tidak ada yang harus dirayakan saat ini untuk dijadikan alasan makan malam bersama, Syila sejak siang tadi setelah selesai acara konferensi pers online tidak keluar kamar, mami mengantarkan makan untuknya, Syila hanya ingin tidur dan lupa apa yang terjadi di acara itu.
“Gue juga sih Za, gue pikir itu ketakutan terbesarnya untuk kasih tahu banyak orang kalau dia dalam kondisi sakit.” Andi menimpali.
“Adikku memang kadang terlihat seperti penakut, tapi percayalah, dia bukan pengecut, apalagi pertanyaan reporter tadi bukanlah pertanyaan yang wajar, Syila sejak kecil tidak pernah sekalipun tidak melawan jika ditindas, dia dididik dengan baik oleh ayah dan ibuku, tak heran dia melawan walau harus menunjukkan kelemahan terbesarnya.
Aku sedih dia harus menghadapi itu sendirian.” Alzam kali ini yang bicara.
“Ada aku, Andi, tante dan semua orang yang mendukungnya di PH itu, dia tak sendirian.”
“Kalian bukan keluarga, tentu saja tak akan paham.” Alzam masih tak merestui hubungan ini.
“Gue bukan keluarga, Zam.”
“Lu ngerti kok maksud gue Ndi.” Alzam ingin Andi paham kalau dia bermaksud ingin mengatakan bahwa Izraa belum diterima sepenuhnya di rumah ini.
“Cepat atau lambat, kita akan jadi keluarga kok.” Dengan percaya diri Izraa mengatakannya.
“Kau bercanda?!” Alzam sinis.
“Sayang, ini aku yang masak loh, kamu nggak mau coba?” Hanum mencoba mengalihkan fokus Alzam, sejak Syila sakit, Alzam jadi jauh lebih dingin dan membatasi diri, bahkan untuk tertawa pun Alzam terlihat tak nyaman.
Mereka berdua memang bukan anak kembar, tapi percayalah, Alzam sangat mencintai adiknya lebih dari apapun, bahkan dulu ketika Hanum berseteru dengan Syila, tanpa ampun Alzam memutuskan Hanum, beruntungnya Syila juga melakukan hal yang sama untuk Alzam, ingin Alzam bahagia dia bahkan pernah menunduk di hadapan Hanum dulu.
Maka sekarang, Alzam selalu merasa bersalah jika berbahagia padahal kondisi adiknya masih sangat buruk. Hanum bersabar karena dia tak ingin meninggalkan Alzam dalam keadaan apapun.
“Serius Hanum yang masak tuh, Zam.” Mami mendukung langkah Hanum, Papi paham dan dia hanya diam, karena jujur dia juga marah karena anaknya disudutkan barusan, tapi apa boleh buat, ini memang harus dilewati.
“Kalau sudah makannya, aku butuh bicara denganmu ya.” Syila keluar dari kamarnya dan naik ke lantai 2, dia bermaksud mengajak Izraa bicara berdua saja, tapi di balkon, tidak di kamarnya, tempat terbuka agar tak menimbulkan fitnah. Yang lain sempat terdiam, tapi melanjutkan makan lagi.
Izraa menyudahi makannya, membawa piring makannya ke belakang dan menyusul Syila.
“Ada apa?” Izraa bertanya, dia sudah di hadapan Syila dan duduk di sampingnya, mereka berdua duduk terpisah meja. Di balkon ada bangku besi untuk duduk-duduk.
“Kenapa kau bilang aku tunanganmu di acara tadi?” Syila langsung pada intinya.
“Apa itu salah? kita berdua masih dalam hubungan pacaran.”
__ADS_1
“Za, ayolah, hubungan kita sudah berakhir, kalau pun iya, itu juga hubungan palsu, bukan tunangan, itu terlalu jauh.”
“Syil, kau tahu kan, banyak orang menikah tanpa cinta, tapi hubungan mereka langgeng.”
“Apa ini? apa kau berusaha memberi impuls pada diriku untuk melakukan hal yang hanya kau saja yang ingin?”
“Tidak, aku hanya memberikanmu pandangan.”
“Za, jangan paksa.”
“Aku tidak memaksa, ini hanya berusaha saja.”
“Maka ... berhentilah.”
“Tidak, itu sulit, kau tahu kenapa.”
“Kalaupun iya aku cinta, kita tak mungkin menikah.”
“Kenapa?!” Izraa terlihat sangat terkejut dengan perkataan Syila.
“Kau sepertinya tak tahu ini, tapi ... Kevin adalah kekasih Winda.”
“Bahkan adikmu yang menyebabkanku berpisah dengan orang yang aku cintai, lalu apakah kau pikir aku mampu menikah denganmu dan hidup bersama keluargamu? sementara orang yang pernah aku cintai dan mungkin masih ada sedikit rasa itu menjadi iparku? Bahkan aku masih membenci Winda tanpa mengenalnya, lalu aku tahu dia adikmu, sekarang setelah tahu ini, apakah kau bisa berhenti?” Syila ingin rehat dari huru-hara perasaan ini, ada kalanya dia suka keberadaan Izraa, tapi dia sengaja memutuskan harapan Izraa hanya agar tidak lagi masuk lebih jauh dalam drama ini.
“Aku pamit, jaga kesehatan, tapi maaf Syil, aku masih tak mampu berhenti.” Izraa lalu turun ke bawah dan pamit pada semua orang dengan wajah sangat bingung.
Maka tempat yang dia tuju adalah kediaman orang tuanya.
Izraa berkendara untuk beberapa waktu lalu sampai di rumahnya.
Ayah dan ibunya ada di rumah baru saja selesai makan malam, mereka terkejut Izraa datang, mengira bahwa Izraa hendak datang berkunjung, tak tahu bahwa ada hal yang perlu dipastikan di sini.
“Aku ingin bicara dengan kalian berdua.” Izraa tak mau berbasa-basi.
Lalu papinya mengajak Izraa ke ruang kerjanya yang mewah itu dan juga mami ikut.
“Ada apa?” Papi bertanya.
__ADS_1
“Apa benar kalau Sofia berpacaran dengan Kevin? Dokter Kevin?” Izraa bertanya.
Papinya terdiam, mami menutup mulut, terkejut akhirnya Izraa tahu setelah sekian lama mereka tutupi.
“Jadi kalian tahu kalau Kevin adalah mantan kekasih Syila?
“Duduk dulu.” Papi meminta Izraa duduk. Mereka semua duduk di sofa ruangan itu.
“Sofia itu sakit, kau tahu kan? lalu saat itu Kevin menjadi Dokter yang merawatnya, dia sangat baik hingga membuat Sofia jatuh cinta, Sofia tidak pernah terlihat memiliki harapan untuk sembuh, tapi sejak mengenal Kevin, dia menjadi gadis yang sangat riang dan bahagia, setiap kali Kevin datang atau kami yang ke rumah sakit, Sofia sangat berbinar, aku melihat harapan di sana.
Maka aku ....”
“Memaksa Kevin berpacaran dengan Sofia?!” Izraa hampir berteriak karenanya.
“Aku tidak memaksanya untuk berpacaran dengan adikmu, aku hanya mengatakan padanya bahwa, anakku suka padanya dan aku ingin dia menjadi menantuku, lalu dia menerimanya.”
“Lelaki itu ingin uang, tak bisakah kalian melihatnya!” Izraa sungguh kesal.
“Kau pikir kami bodoh!” Mami kali ini yang ikut bicara.
“Lalu kenapa kau masih ... jadi ini itung-itunganmu yang busuk itu lagi? kau menghitung keuntungan dengan menjadikan salah satu Dokter sebagai menantu dan menghujaninya dengan uang agar menjaga anakmu, hal yang tak bisa kau lakukan! kau membayar jasa seseorang untuk menjaga anakmu, alih-alih memilih baby sitter atau perawat, kau menjadikan Dokter sebagai menantumu! Kau memang gila!” Izraa berteriak kepada ibunya, bukan ibu kandung tapi dia berhak.
“Tidak ada yang mampu menjaga anakku sebaik dia, jika saja aku harus membayar mahal untuk itu dan aku sanggup, kenapa tidak? lagi pula, dia memang bersedia dibayar jasanya.” Mami berkata dengan dingin, lalu bagaimana mungkin tak ada nilai ketulusan yang menjadi parameternya, hanya karena Sofia butuh orang yang mau menjaganya maka dia membiarkan Sofia berhubungan dengan lelaki yang jelas memanfaatkan uang dan status keluarga itu.
“Kevin bukan dari keluarga kaya raya, tak heran dia bisa dibeli, aku tak memaksanya, aku hanya menawarkan peluang, lalu dia mengambil peluang itu. Kami hanya sekumpulang orang yang memiliki hubungan simbiosis mutualisme.” Papi tak kalah dinginnya berkata.
“Kalian brengsek!”
“Apa bedanya denganmu? kau juga bukan orang tulus, kau meminta bantuan kami untuk mendapatkan Syila, kita hanya keluarga yang saling membantu bukan?” Mami menambahkan.
“Kalian mengerikan, jangan samakan hubunganku dengan Syila, kami berdua tulus, aku tulus pada Syila dan Syila juga sama, kami tidak melakukan ini untuk kepentingan apapun, sedang Kevin, bagaimana kalau dia akhirnya malah membuat Sofia menderita karena tidak mencintainya!”
“Kami akan memotong lehernya kalau dia berani melakukan itu.” Papi dengan dingin berkata itu. Tentu maksudnya tidak benar-benar seperti itu, mereka akan membuat Kevin yang datang dari keluarga biasa saja itu menderita tanpa pekerjaan dan bahkan membuat izinnya dicabut, mereka mampu melakukannya.
Kalau saja Izraa tahu, bahkan papinya secara khusus mendatangi papinya Syila dan meminta agar membujuk putrinya untuk segera memutuskan hubungan Syila dengan Kevin secara halus, apakah kalian ingat ketika Syila berbicara dengan papinya dan papinya bilang bahwa ada seorang ayah yang anaknya cacat ingin agar dia dan Kevin putus karena putrinya mencintai Kevin. Maka itu adalah ayahnya Izraa dan Sofia. Dia yang meminta ayahnya Syila membujuk Syila putus dengan Kevin dan mengatakan bahwa ada perempuan cacat yang membutuhkan Kevin lebih dari apapun untuk bertahan hidup.
Maka dari sini, Izraa seharusnya melepas Syila, betapa hubungan ini sangatlah rumit.
__ADS_1
Kalau menurut kalian bagaimana?