
Pagi datang setelah semalam diguyur hujan, Syila sedang menatap ke arah jendela, semalam Izraa tidak mampir setelah pulang dari kafe itu
Walau Syila berusaha untuk menutupi perasaan itu, tak dapat dipungkiri bahwa sisa perasaannya pada Kevin masih ada. Bukan masalah dia seorang Dokter yang membuat Syila menjadi silau dan sulit melupakan, jika tampilan mampu membuat Syila terpana, maka dengan mudah Syila akan mencintai Izraa.
Tapi, nyatanya tidak, karena bagi Syila ini bukan masalah tampilan, sama seperti Sofia, Syila melihat betapa kepribadian Kevin sangatlah gigih, lelaki gigih mampu membuat wanita manapun akhirnya jatuh cinta, apalagi dicintai kembali, hal itu pernah dia rasakan dulu.
Sebelum akhirnya hari itu datang.
Di pagi yang dingin seperti ini beberapa tahun lalu Syila datang ke ruang Dokter itu, saat itu mereka masih berpacaran. Kevin sangat dingin, tapi Syila tahu, ada hal yang dia kejar, hingga fokusnya bukanlah hubungan.
Pun untuk hubungan mereka, Syilalah yang mengajukan diri untuk dekat duluan, dia juga yang menawarkan hubungan lebih dekat, Kevin setuju dan mereka menjalani hubungan, ketika itu, di hari ini, sudah setahun mereka menjalin hubungan.
Ketika pagi tiba, Syila mampir karena harus pergi ke kantor penerbit, maka Syila datang dulu ke ruangan Dokter itu, membawa kotak makan yang sudah dia isi dengan masakan ibunya, walau dia tak bisa memasak, tapi dia sungguh berniat membawakan kotak makan berisi sarapan untuk kekasihnya.
“Pagi Dok, belum mulai praktek kan?” Syila masuk tiba-tiba, perawat yang berjaga mengizinkan karena dia adalah anak dari Direktur rumah sakit dan kekasih dari Dokter Kevin, bahkan Syila dan Dokter Kevin sempat dijadikan pasangan yang diidolakan, yang satu Penulis terkenal yang satu lagi adalah Dokter yang sangat tekun dan sama sekali tidak pernah bermain mata dengan siapapun, sikapnya sangatlah lurus, padahal dibalik sifatnya yang terasa dingin, terdapat ambisi yang begitu menakutkan, menginginkan apa yang dimiliki orang lain.
“Hei sayang, masuk.” Kevin sedang melihat laporan yang dikirim perawat padanya, semua berisi dafta pasien yang dia tangani, di sana ada laporan kondisi para pasien tersebut.
“Aku bawakan sarapan.”
“Kok repot-repot sih?”
“Nggak repot dong, kamu pasti nggak baca smsku ya? Aku sudah bilang akan mampir karena mau ke kantor penerbit pagi ini, aku sudah sms dari semalam loh.” Syila sangat hapal dengan kelakuan kekasihnya, pasti pesan singkatnya tidak dibaca, seperti biasanya, padahal dia sudah kirim dari semalam dan tidak juga dibalas hingga pagi ini, makanya dia nekat saja datang dengan niatnya untuk sarapan bersama. Pada tahun ini pesan singkat yang populer masihlah sms bukan aplikasi hijau yang terkenal itu.
“Maaf, aku semalam menangani pasien yang kritis, dia berumur 50 tahun dan keadaannya sempat memburuk semalam, makanya aku tdak sempat lihat smsmu, aku juga tak sempat tidur.”
“Iya sayangku yang baik hatinya, makanya aku tetap datang ke sini walau belum dapat persetujuan darimu, karena aku tahu, kau pasti sangatlah lelah dan tak sempat makan, ini makan bersama ya.” Syila membuka kotak makannya, lalu membagi semua makanan itu, satu kotak untuk Kevin dan satu lagi untuknya, Kevin tersenyum melihat betapa perhatiannya kekasih yang sangat cantik itu.
Dalam hatinya dia sangat bersyukur memiliki Syila yang sangat perngertian, tak pernah marah atau menuntutnya sekedar membalas pesan singkat dan mengangat telepon, seringkali Syila terabaikan tapi Syila selalu mengerti dan menunggu dengan tenang, membuat Kevin yang tadinya sempat menjalin hubungan dengan sesama Dokter di rumah sakit lain dan hubungan itu hancur karena Kevin yang terlalu berdedikasi hingga membuat Perempuan itu akhirnya seringkali marah dan membuat Kevin tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Padahal mereka memiliki pekerjaan yang sama, tapi prioritas Kevin dianggap berlebihan oleh kekasih dulunya itu, dia akhirnya memilih mengakhiri hubungan, membuat Kevin patah hati cukup dalam dan sulit percaya lagi pada cinta.
Tapi Syila Perempuan yang berbeda, dia sangat tidak rewel dan tenang, dia tak pernah sekalipun merengek untuk pergi bersama, sekedar menonton bioskop, makan malam romantis, Syila tak keberatan melewatkan semua kegiatan pasangan itu dan membiarkan Kevin tetap fokus pada pekerjaan.
Alih-alih merengek, Syila malah selalu aktif menghubungi Izraa duluan, jika akhirnya Izraa tak bisa menjawab, maka Syila akan menunggu dan ketika akhirnya Kevin ada waktu, Syila sama sekali tidak marah, sungguh bagi Kevin, Syila adalah Perempuan yang luar biasa.
Satu hal yang Kevin tak tahu, bahwa Syila sama gila kerjanya dengan Kevin, dedikasinya pada tulisan sangat tinggi, jadi dia juga sangat sibuk apalagi jika deadline, sungguh baginya tulisan adalah prioritasnya, hanya papi dan mami yang bisa membuat Syila teralihkan.
Karena itu, mereka sangatlah cocok jika jadi pasangan, mereka saling paham tentang pekerjaan masing-masing.
Bagi Syila Kevin juga sangat pengertian, walau dia terlihat dingin, tapi Kevin sangat mencintai Syila, itu bisa dirasakan Syila, maka hubungan mereka bertahan hingga satu tahun ini.
“Kau mau aku suapi?” Syila lalu menyodorkan sendok berisi nasi goreng.
__ADS_1
Kevin membuka mulutnya dan tersenyum, karena saat ini dia memang sedang membaca laporan. Ini juga salah satu yang membuat mereka sangat cocok, mereka berdua bisa saja bersama tapi tidak saling berbicara, Kevin sibuk dengan laporannya dan Syila sibuk dengan imajinasinya, mereka berdua tidak merasa terganggu satu sama lain walau saling diam.
Saat Syila sadar Kevin tak menyuap dia menggantikan tugas tangan Kevin untuk menyuap, itu membuat Kevin merasa lucu, wanita ini ternyata sangat hangat dan bisa membuat Kevin berdebar setelah patah hati cukup dalam sebelumnya karena hubungan yang hancur itu.
“Mau aku suapi terus atau mau makan sendiri Pak Dokter?” Syila meledek.
“Aku akan lakukan sendiri, baiklah, mari kita makan.” Kevin lalu menyuap makannya. Tak lama kemudian datanglah seorang perawat dengan mengetuk pintu terlebih dahulu dan langsung masuk.
“Maaf Dok, saya mau berikan laporan tentang pasien baru bernama Sofia Arawinda, pasien akan datang siang ini untuk pemeriksaan berkala.” Perawat itu menyebutkan nama Sofia, tapi Syila asik dengan makanannya jadi tidak terlalu mendengar dan tidak peduli, hingga nama itu menjadi tidak familiar ketika kelak dia bertemu Sofia untuk pertama kalinya.
“Oh, Winda, baiklah, taruh dulu di sini, aku akan pelajari setelah sarapan.” Kevin memerintahkan dan Perawat itu lalu menaruh laporan kesehatan adiknya Izraa itu di meja Dokter Kevin, di samping Syila.
“Baiklah, sudah selesai, Pak Dokter bisa kerja lagi, saya juga mau kerja, kita berdua cari uang yang banyak ya.”
“Iya sayang, biar bisa cepat punya klinik sendiri dan menikah.” Perkataan Kevin membuat Syila yang sedang membenahi kotak makannya jadi terdiam, kata menikah membuat Syila sempat sedikit salah tingkah.
“Saya izin pulang ya Pak Dokter, sampai ketemu lagi.” Tanpa menanggapi perkataan Kevin, karena dadanya berdebar cukup kencang, dia buru-buru keluar dari ruangan Dokter itu, pamit pada beberapa Perawat yang dia kenal lalu berjalan ke arah luar untuk menuju mobilnya.
Setelah sampai mobil dia lalu berteriak karena senang, menikah dengan orang yang dicintai sungguh terasa sangat menyenangkan sekali didengarnya, Syila jadi membayangkan memiliki klinik sendiri, Syila akan bekerja di sana tetap sebagai Penulis sembari membantu suaminya mengurus keuangan, klinik kecil saja, tidak perlu besar yang penting mereka bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan akhirnya bahagia selamanya, sungguh kenangan yang indah saat itu.
Sementara di waktu yang lebih siang, pasien bernama Winda itu datang, dia sudah mengambil nomor antrian dan perawat sedang memberitahu bahwa pasien berikutnya adalah Winda pada Dokter Kevin.
“Kok Winda sih? Kan dia baru datang, apa dia menyelak antrian?” Kevin kesal karena dia tak suka kalau antrian pasien diselak, sebagai orang yang pernah hidup sulit, tahu sekali kalau orang susah itu biasanya diperlakukan tidak adil.
Karena perawat yang bertugas memanggil pasien tidak tahu sedang ada masalah di ruangan Dokter ini, maka dia memanggil Winda dan membiarkannya masuk, sementara Dokte Kevin masih menegur perawat itu.
“Tetap saja, tidak boleh ada pasien yang menyelak, dia harus antri sesuai antrian.”
Winda mendengar itu dengan jelas, Dokter Kevin dan Perawat itu terkejut karena Winda ternyata ada di depan pintu.
“Saya tidak bermaksud menyelak Dokter, baiklah, saya akan pastikan kalau antrian saya sesuai, maafkan saya Dok.” Sofia hendak keluar dengan menekan tombol kursi rodanya.
“Dok! Dia anak pemilik Yayasan, rumah sakit ini milik ayahnya!” Perawat itu berkata dengan panik dan mengejar Sofia. Mendengar itu, Kevin terdiam, dia memang berprinsip, tapi bukan berarti ingin dipecar juga.
Tak lama kemudian perawat kembali dengan seorang pasien lain.
“Sofia Arawinda bilang ingin menunggu sesuai antrian Dok.” Perawat itu memberitahu karena pasien yang dia bawa itu bukan Sofia.
“Baiklah, ayo kita periksa sesuai antrian.” Walau Kevin sedikit khawatir, tapi dia harus kembali fokus untuk para pasiennya.
Setelah 5 orang di periksa, akhirnya giliran Sofia yang akan diperiksa, begitu masuk Sofia tersenyum.
__ADS_1
Kevin berusaha untuk bersikap sangat tenang, walau dalam hati dia begitu ingin meminta maaf agar wanita ini tidak marah dan bisa saja membuat orang tuanya memecat dia sekarang juga.
“Halo Dok, maaf ya tadi saya menyelak antrian.”
Kevin yang pura-pura liat monitor komputernya melihat ke arah Sofia dan tersenyum, “Maaf jika saya harus menjalankan peraturan, karena saya tak ingin ada pasien yang sudah lama menunggu, haknya diambil, tapi karena Perawat saya sudah memberitahu saya tentang latar belakang Mbak Winda, saya akan lebih hati-hati lagi, tapi jujur, saya lebih suka menangani pasien yang memang mengantri dengan baik, kecuali darurat, sebaiknya ke UGD saja.” Kevin berusaha untuk tenang dan tetap tak kehilangan muka, walau dari kalangan menengah ke bawah, dia sangat tidak ingin diinjakl-injak.
“Tentu saja saya akan mengikuti peraturan Dok, terima kasih karena mengingatkan saya, walau ini rumah sakit milik orang tua saya, tapi saya tidak boleh mengambil hal orang lain.”
“Atau Mbak Winda bisa memanggil Dokter ke rumah saja, biar nyaman.”
“Apa karena saya memakai kursi roda saya terlihat selemah itu, Dok … Dokter Kevin?”
“Tidak, bukan karena lemah, tapi karena kenyamanan, kau bisa menggunakan fasilitas itu karena memang kami juga punya jenis pelayangan seperti itu.” Kevin tetap mencoba untuk tenang.
“Tidak, saya pikir pergi keluar membuat saya jadi lebih baik Dok, seperti bertemu dengan orang yang sangat berdedikasi pada pekerjaan, Doker Kevin.” Sofia tidak terlihat centil saat mengatakannya, tapi Kevin tahu kalau Sofia simpati padanya, maka dia selamat atas penolakan tadi, dia juga jadi tahu, hati Sofia baik, seorang anak orang kaya tapi sangat baik hatinya, tidak arogan, apakah kecacatan membuatnya menjadi lebih manusiawi padahal dia bisa menggapai apapun yang dia inginkan secara arogan di rumah sakit ini, mengingat dia anak dari pemilik rumah sakit.
“Baiklah, itu pemikiran yang sangat baik, aku akan mulai ya, aku bantu naik ya?” Dokter Kevin memapah Sofia untuk ke tempat pemeriksaan, yaitu sebuah ranjang yang cukup bagus.
Sejak saat itu, Winda atau Sofia selalu mencari alasan untuk bertemu ddengan Dokter yang sangat dia kagumi, Sofia tahu kalau mungkin Dokter Kevin sudah punya kekasih, tapi Sofia sangat menyukainya, dia terus datang ke rumah sakit itu untuk diperiksa, Kevin juga perlahan jadi tahu, kalau Sofia sedang mendekatinya, pada awalnya Kevin tidak terlalu mempedulikannya, karena baginya Syila adalah Perempuan yang sangat cukup untuk seluruh hidupnya, terlebih Kevin dari dulu memang selalu punya penggemar seperti Syila, mereka adalah dua orang yang diidolakan, makanya terbiasa dengan perhatian dari lawan jenis, tidak menjadi sesuatu yang mereka anggap penting dan dipikirkan, hanya sesuatu yang mereka akan selalu lewati.
Cara Kevin memandang Sofia pun tidaklah istimewa, dia hanya memperlakukan Sofia dengan baik saja, tidak berlebihan, seperti pasien yang lain, hingga hari itu tiba, hari di mana untuk pertama kalinya dia dipanggil ke ruang kerja pemilik Yayasan, orang itu jarang sekali datang ke rumah sakit, hanya jika ada masalah darurat saja dia akan datang, tapi hari ini dia datang khusus untuk berbicara dengan Kevin.
Di hari ini Kevin sungguh sangat gusar, dia takut kalau mungkin ada sikapnya yang tak sesuai dengan keinginan Sofia, Kevin bersiap untuk diberi peringatan atau malah mungkin dipecat, dia benar-benar bersiap.
Dia memasuki ruangan pemilik Yayasan rumah sakit itu, setelah masuk, untuk pertama kalinya dia disapa secara langsung oleh lelaki itu, lelaki yang aura kekayaannya sudah terlihat sejak kamu menatapnya, dia menyuruh Kevin untuk duduk di sofa mewah di ruang kerja itu, Kevin duduk dengan gugup, lalu lelaki itu duduk membawa gelas kopi yang sudah ada sejak Kevin masuk itu, dia menawarkan Kevin kopi, tapi dia bilang tidak terima kasih, setelah itu ayahnya Sofia yang sudah pasti ayahnya Izraa pun berkata.
“Sofia selalu berbicara padaku tentanmu.” Kevin terdiam, dia semakin gugup, mengingat kesalahan apa yang dia buat hingga dipanggil secara personal seperti ini, tapi karena dia orang yang berwibawa, maka sikap tenangnya menutup semua kegugupan ini.
“Baik Pak.” Hanya itu yang Kevin katakan.
“Kau biasa memanggilnya Winda kan?”
“Ya.” Kembali jawaban singkat.
“Winda anakku bertanya padaku apakah kau sudah memiliki kekasih, karena dia bilang tertarik padamu.”
Kevin terdiam, dia sungguh terkejut, dia tahu kalau Winda suka padanya tapi dia takt ahu kalau Winda mungkin melakukan langkah sejauh ini, Kevin bingung harus menjawab apa.
“Tentu aku tahu kalau kau sudah memiliki kekasih, anak dari Direktur Perusahaan ini kan? aku akan mencoba membujuknya untuk merelakanmu, jika kau juga tertarik pada anakku, dia anak yang baik dan jika kau mau menerima anakku, mungkin aku juga akan menerimamu di rumah sakit ini dengan posisi yang jauh lebih tinggi.”
Kevin menelan ludah, dia sungguh tak percaya masuk ke dalam keadaan yang sangat aneh ini, dia bingung harus apa.
__ADS_1
Tapi kalian tahu bukan, apa yang dia pilih?