
Syuting mulai lagi, semua bersiap, Izraa sampai, dia mencoa mencari orang yang berjanji akan datang, dia tidak fokus membaca skripnya, seorang Izraa ternyata bisa menjadi gila. Orang yang tidak perduli hal lain selain dirinya bisa menjadi begitu membutuhkan orang lain untuk kebahagiaannya.
Sudah lebih dari satu jam, Syila belum datang juga, sementara Bang Aryo mau mulai syuting, Izraa kesal tapi tetap mencoba profesional.
Saat akan mulai take tiba-tiba seorang perempuan datang, semua orang tahu, itu Syila, tapi … ada yang berbeda.
“Wah Syil, semakin syari aja, sejak kapan?” Syuting tertunda dengan kedatangan Syila, semua orang melihat Syila dengan tatapan kagum.
“Insyaallah, semoga istiqomah ya.” Syila hanya mengatakan itu.
Izraa menatapnya dengan tatapan senyum yang aneh, tidak kesal, tapi mengerti kenapa Syila melakukan ini, menggunakan cadar pada wajahnya, pasti tujuannya untuk menutupi wajahnya agar tidak bisa dilihat oleh Izraa.
[Wanita licik.”] Izraa bergumam dan mulai syuting, Syila memang cerdas, tapi dia tidak mengerti, ketika orang sudah mencintai dengan gairah yang liar, bukan apa yang nampak menjadi trigernya, tapi sosoknya yang sudah melekat, toh dalam ingatan Izraa wajah Syila sudah tertanam sangat dalam, sedang kehadirannya dalam bentuk apapun hanya untuk merasakan kenyamanan, bahwa orang yang dia cintai ada di dekatnya.
Syuting berjalan lancar, Izraa kembali seperti semula, fokus dan hebat dalam memerankan tokoh pada novel Syila.
Syila tetap fokus pada novel barunya, tidak banyak koreksi, dia hanya sedang memenuhi janji. Walau terdengar konyol. Dia ingin semua ini segera selesai, dia tidak ingin bertemu Izraa lagi, sungguh menjijikan dan menakutkan baginya.
Makan siang tiba, Syila tenggelam dalam tulisannya hingga tidak sadar, bahwa Izraa telah duduk di sampingnya.
“Jadi, pakai cadar hanya untuk menutupi wajah dariku?” Izraa berkata dengan tenang dan berbisik, tidak ada yang tahu bahwa lelaki itu telah tergila-gila pada penulis bercadar itu.
Syila kaget, dia bahkan langsung menjauhkan dirinya dengan menggeser duduk.
“Mungkin dengan ini kita bisa sama-sama aman, wajahku tidak mengganggumu lagi.” Syila berkata.
“Masalahnya bukan pada tampilan fisikmu saat ini Syil.” Izraa mengatakanya sambil tersenyum sedikit.
“Maksudmu?”
“Masalahnya ada di sini, kau bisa bantu hilangkan?” Izraa menunjuk kepalanya.
“Berati pikiranmu yang kotor, aku tidak bisa bantu.”
“Bukan, bukan pada pikiran, tapi pada kenangan, bagaimana kaki itu terlihat, aku bahkan masih ingat setiap inci dari lekukan kaki itu.”
“Bisa diem nggak!” Syila kesal.
“Masalahnya suaramu malah yang memancing orang untuk tertarik pada obrolan kita.” Izraa berhasil memancing kemarahan Syila, hingga tidak sengaja sedikit meninggikan suara.
“Za, aku mohon.” Syila menatap Izraa dengan matanya yang memelas, cadar itu tidak bisa menutupi wajahnya yang panik.
“Aku pun memohon padamu, aku pun lelah dengan perasaan ini, kau tahu, saat aku memintanya, Tuhan tidak berikan, sementara setelah aku menerima penyakitku, ternyata Tuhan berikan, luar biasa, setelah perasaan itu tidak pernah ada, sekarang muncul dengan akumulasi yang luar biasa.”
“Za ….” Syila memohon, maksudnya agar Izraa berhenti.
“Kau tahu, hanya dengan mengingat wajahmu, aku bisa menjadi seorang lelaki seutuhnya, kata mereka kami itu kaum brengsek. Dulu, Bahkan model paling seksi dan cantik di negeri ini tidak memakai sehelai benang pun di hadapanku, aku tidak mampu merasakan apapun, baik perempuan ataupun lelaki, aku hanya merasa, mereka seonggok daging mentah, tidak ingin kumakan karena tampilannya dan tidak ingin kurasakan karena terasa biasa saja di mataku.
Tapi sekarang, hanya membayangkan wajahmu saja, aku merasa kelaparan, bukan, bukan pada perutku, tapi pada …,” Izraa menatap Syila dengan tatapan menjijikan, “pada hasrat lelakiku, aku harus menahannya berkali-kali jika wajahmu terlintas dalam benakku, menahan untuk tidak ke toilet, karena rasanya semakin lama, kegiatan itu terasa menjijikan dan rendah.”
“Berhenti bicara, kau menjijikan.” Syila mengatakannya dengan dingin.
“Aku tidak peduli, aku hanya ingin dirimu, itu saja, tidak yang lain.”
“Tapi aku tidak menginginkanmu, itu masalahnya.”
“Aku akan memberikan apapun yang kamu mau, hanya … ijinkan aku sekali saja, melihat … tubuhmu.”
Plakkk!!! … tamparan keras Izraa rasakan pada pipinya, Izraa tidak kaget, dia sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.
“Syil!” Andi mendekatinya.
“Diam kau, atau aku akan melaporkan setiap tindakanmu kepadaku sebagai pelecehan.” Syila mengatakannya dengan berbisik agar yang lain tidak dengar.
“Aku tidak peduli, kalau penjara bisa menahanku untuk berbuat jahat padamu, lakukanlah, supaya kau aman.” Mata Izraa memerah saat mengatakannya, Syila tidak tahu betapa Izraa menahan sekuat tenaga untuk tidak melakukan tindakan yang mengerikan pada seseorang yang sangat dia inginkan.
“Ini apa-apaan sih, baru juga baikan, kenapa sekarang begini lagi?” Andi bertanya, mereka sudah dibawa Andi ke ruang yang lebih pribadi.
“Beritahu sepupumu ini, tamparan tidak akan menghentikanku, dia yang memulai segalanya, dia yang membuatku seperti ini, maka dia harus bertanggung jawab.” Izraa menatap Syila tajam dan keluar dari ruangan.
“Cil! Ada apa?” Andi memaksa.
“Gue bingung jelasinnya dari mana.” Syila menangis, Andi mendudukannya dan memeluk sepupu yang sudah dia anggap adik kandung itu.
__ADS_1
“Intinya aja.”
“Kalau gue berdekatan sama Izraa, kemungkinan cepat atau lambat, dia akan melakukan pelecehan ke gue.”
“Apa! Maksudnya? Izraa bukan orang yang kayak gitu, dia nggak suka perempuan Cil, jadi nggak mungkin banget dia ….”
“Dia memang nggak suka perempuan dan juga lelaki, tapi masalahnya, dia tergila-gila sama tubuh gue!” Syila berteriak tertahan.
“Hah! Kok bisa!!!” Andi bingung.
“Jadi, dia bilang kalau dia itu, punya penyakit … Aseksual.” Syila berbisik di telinga Andi.
“Hah, apaan tuh? Dia nggak bisa bangun gitu?”
“Ssstt, jangan kenceng-kenceng, ah.” Syila memperingatkan.
“Iya, maaf, trus lanjut.”
“Iya, jadi dia itu tidak punya hasrat seksual, baik ke perempuan maupun laki-laki. Bukan perkara nggak bisa bangun loh, dia bisa bangun, tapi nggak ada yang bisa jadi trigger atau pemicunya, gitulah pokoknya, gue juga belum observasi lebih dalam.”
“Lah, kalau gitu, seharusnya dia nggak suka dong sama lu, elu kan perempuan.”
“Itu masalahnya, dalam otaknya Izraa, gue dikategorikan sebagai jenis kelamin ketiga, jadi menurut otak dia yang sakit itu, ada 3 jenis kelamin, satu laki-laki dia tidak suka, dua perempuan dia juga tidak suka, dan ketiga, gue, jenis kelamin yang dia suka.”
“Mati lu! Kalau elu jenis kelamin ketiga yang dia suka, berarti mampus lu! Elukan cuma elu, cuma satu, seorang saja, Syila ya cuma satu, nggak bisa kabur lu, mampus!!!” Andi berkata sambil bolak-balik, dia memang selalu merasa masalah Syila adalah masalahnya.
“Itu dia.” Syila membuka cadarnya, dia belum terbiasa, karena sebenarnya memang niatnya salah, bukan karena Tuhan tapi karena takut dengan tatapan Izraa.
“Jadi selama ini yang kita dan mereka tahu tentang dia itu salah? Dia nggak suka lelaki juga.” Andi mengambil kesimpulan sendiri.
“Iya, dia nggak suka lelaki, dia Psyco Ndi, gimana ini, gue takut.”
“Tapi, kayaknya dia tuh nggak bakal deh jahat sama lu, maksudnya kayak memperkosa atau lain-lain gitu.”
“Mulut enteng bener sih ngomongnya.”
“Ya, maksud gue dia seharusnya lebih terhormatlah dari itu.”
“Out dari proyek ini, out Syil, gue bakal bilang elu setujuin semua hal di filming ini, elu harus out.”
“Nggak bisa!”
“Saat seperti ini elu masih aja mikirin idealisme, ini lebih gawat, soal masa depan dan kehormatan, Syil!”
“Bukan itu Ndi, masalahnya kalau gue keluar dari proyek ini, dia akan tetap ikutin gue, karena pas gue absen dari syuting beberapa hari lalu, dia ternyata ngintai gue di rumah, dia ikutin gue di rumah, Ndi, nggak ngaruh, ini malah bakal bikin dia semakin gila, karena semakin sulit dia mendapatkan apa yang dia inginkan, maka dia akan mengambil dan menaruh yang dia inginkan di dekatnya, ingat, prinsip Psycopat.” Syila bergidik mengatakannya.
“Serius!!! Dia nguntit lu! Lapor Polisi Syil?”
“Tapi dia belum melakukan hal apapun yang bisa jadi bukti kejahatan, bahkan saat nguntit gue kemarin, dia nolong gue, gue hampir jatuh di tangga darurat. Ditambah proyek ini nilainya gede banget, akan banyak pihak yang rugi kalau gue laporkan Izraa, Ndi.” Syila menangis.
Andi memegang kepalanya, dia bingung dan khawatir.
“Berarti dia dari awal udah mulai nguntit lu ya, trus dia ungkapin tuh kalau dia suka apa lu, begitu?”
“Nggak dari awal, tapi dari ….” Syila menutup matanya.
“Apa? Dari kapan?” Andi kesal Syila memotong perkataannya.
“Sejak, dia liat telapak kaki dan betis gue yang sedikit keliatan abis wudhu.
“Syila!!!” Andi kesal, dia tahu, Syila pasti lupa pakai kaos kaki, seharusnya dia pakai kaos kaki wudhunya, kaos kaki yang bisa dinaikan ke atas tanpa dibuka karena ada lubang pada bawah telapak kakinya, jadi saat dia selesai wudhu, kaos kaki itu otomatis bisa dipakai lagi tanpa melepasnya. Syila benar-benar membuat Andi marah.
“Sorry ….”
“Bodoh banget sih lu!” Andi kesal.
“Gue bener-bener nggak tahu hal sesepele ini bisa jadi masalah besar.”
“Itu kenapa gue selalu nggak pernah bosen ingetin lu, karena elu selalu sepelein soal aurat kaki nih, makanya sekarang kejadian, kan! Ini bukan sepenuhnya salah Izraa, ada sebabnya, wajar dia minta tanggung jawab.”
“Kok elu jadi belain dia, sih!” Syila marah dan mendorong bahu Andi.
“Yang kita hadapi itu bukan orang jahat, Syil. Tapi, orang sakit. Orang kalau sakit, carinya obat, kemanapun dia bakal kejar tuh obat yang udah pasti nyembuhin, mengganti wanita lain sebagai obat jelas nggak bisa, apalagi lelaki lain. Kita harus cari cara, supaya dia lepas dari lu dan mengubah pikirannya kalau elu tuh obat.”
__ADS_1
“Caranya?”
“Apple to apple, kita coba ya, gue baru kepikiran, semoga cara ini berhasil.”
“Apple to apple apa?”
“Udah lu tenang aja, biar gue yang selesaiin masalah ini sesama pria, gua bakal coba tuker kepala.”
“Ya, terserah, pokoknya tolongin gue, Ndi.” Syila memeluk kakak sepupunya itu.
Andi lebih takut kalau keluarga Syila tahu, bisa-bisa dia yang dipenggal sama Papi dan Kakaknya Syila, karena dianggap tidak mampu untuk menjaga Syila, mereka sangat percaya Andi makanya membiarkan Syila pergi kemanapun asal sama Andi, kalau Syila kenapa-kenapa, Andi juga tidak akan bisa hidup lagi, karena Syila itu adik kesayangan semua orang.
…
Andi mencoba mengajak Izraa bertemu, Izraa setuju, dia pikir ini mungkin untuk membicarakan masalah mereka, dia tahu, Syila sangat percaya Andi.
Mereka berdua duduk bersama di sebuah kafe dekat lokasi syuting, syuting sudah selesai, Syila pulang duluan.
“Gue udah tahu semua, gue mau kasih elu penawaran, gimana?”
“Sebutin.” Izraa mengatakannya dengan datar, untuk jenis kelamin yang tidak dia minati, Izraa cenderung dingin. Berbeda jika Syila yang dihadapannya, Izraa bisa menerkam seperti macan.
“Ok, pertama, besok saat elu off syuting, kita ketemuan, gue bakal tunjukin penawaran gue ke elu.”
“Sebutin dulu, kalau gue nggak tertarik, gue nggak mau.”
“Gue mau tuker kepala.”
Izraa tertawa dengan sinis.
“Syila udah kasih tahu lu, kan, apa penyakit gue?” Izraa bertanya.
“Iya, udah.”
“Tuker kepala? Lu waras? Nggak akan berhasil! Jauh sebelum lu lakuin, gue udah lakuin itu, lu pikir Dokter yang terapi gue, Dokter yang kurang mampu? Dia Dokter ternama di negeri ini, Bodoh banget penawaran lu!” Izraa bangkit dan langsung menuju mobilnya, saat dia masuk mobil dia memukul setir karena kesal dengan ucapan Andi, dia pikir Izraa diam saja dengan penyakitnya ini.
Dan semua ucapan Andi membawanya pada ingatan saat dia berumur 25 tahun, di mana ketika namanya sedang di puncak karir, ketika dia menjadi Aktor papan atas.
(KETIKA IZRAA BERUMUR 25 TAHUN)
“Za, Groupie nungguin depan kamar tuh, anak Pejabat. Temuin bentar dah, kalau lagi nggak mood, nggak usah diajak main.” Main yang dimaksud Manager Izraa adalah berhubungan intim. Mereka sedang tour keluar kota, makanya Izraa ada di kamar hotel.
“Capek gue.” Tidak ada yang tahu penyakitnya, tentu saja, dia sedang di puncak karir, siapapun bisa jadi pengkhianat.
“Cantik Za, serius, cium-cium aja kalau lagi nggak mood.”
Izraa akhirnya mengizinkan seorang wanita yang bersedia memberikan tubuhnya untuk selebritis yang dia suka dan biasanya dipanggil Groupie itu masuk ke kamar, Izraa hanya memakai handuk kimononya.
Wanita itu masuk, cantik sekali, dengan rambut hitam sehat yang terurai di kuncir kuda tinggi, wajahnya ber-makeup tipis tapi dengan tegas memberitahu siapapun yang melihat wajah itu, bahwa gadis ini begitu cantik, dia memakai rok super mini dengan atasan kaus super ketat. Tidak lupa tas dan sepatu berhak tinggi dengan merk ternama, dikenakan juga.
Tujuannya datang pada Izraa jelas, dia ingin menyerahkan semua yang bisa dia serahkan untuk idolanya.
“Berlin, duduk.” Izraa sudah duduk di sofa kamar hotelnya, wanita itu bernama Berlin.
Dia tidak duduk, tapi langsung menubruk Izraa dengan tubuh yang dibalut kain seadanya itu, rok mini dan kaus ketat.
Setelahnya, hujaman bibir Berlin menikam seluruh wajah Izraa, sayang, Izraa hanya terdiam, dia dingin dan datar.
Berlin semakin gila melihat sikap Izraa, mungkin Izraa bukan Aktor pertama yang dia jadikan obsesi.
Berlin mulai menghujam bibirnya semakin ke bawah tubuh Izraa, tiba di bagian yang paling pribadi dari tubuh Izraa, Berlin berhenti dan dia terkejut.
“Kau tidak menginginkanku?” Berlin bertanya dengan wajah kecewa, karena bagian pribadi itu seharusnya terpancing dengan gerakan sensual yang Berlin lakukan tiba-tiba, dalam pikirannya, semua lelaki akan begitu.
“Tidak.” Izraa masih menjawab dengan dingin.
Berlin kemudian melakukan hal lebih jauh lagi, dia melucuti seluruh kain yang menutup tubuhnya, hingga yang Izraa pandang saat ini, hanya tubuh polos dari Berlin, wanita yang begitu yakin, Izraa akan menjadi miliknya.
____________________________________
Catatan Penulis :
Kutandai mengandung konten dewasa ya, sorry sedikit liar bagian ini. Jadi, yang masih di bawah umur tidak diperkenankan membaca part ini. Semoga yang baca tidak ada yang di bawah umur ya.
__ADS_1