
Syila kembali melihat Izraa dengan tatapan terkejut, karena Izraa ternyata mencari konser Fenita di youtube, apakah Izraa tertarik pada Fenita? Syila berdebar karenanya, perasaan iri apa ini?
“Fenita orang yang sangat mengagumkan ya?” Izraa dan Syila memutuskan untuk pergi keluar, mereka rindu udara luar, karena beberapa hari ini harus di rumah untuk pemulihan.
Andi menyetir, mereka ke kafe langganan seperti biasa, duduk di tempat di mana Izraa biasa duduk saat ke kafe itu.
“Gue heran deh, Za. Kok bisa ya, elu selalu dapat ini bangku, maksud gue, kenapa ini bangku selalu kosong setiap kali elu dateng?” Andi bertanya, dia tak melihat keadaan saat bertanya, hanya langsung saja memotong perkataan Syila.
“Kafe ini milik temanku, dia hampir bangkrut tahun lalu karena kafe ini tidak banyak pengunjung, wajah saja, karena kopi buatannya terlalu monoton, lalu aku ajarkan dia membaut varian kopi yang jauh lebih beragam dan diminati anak-anak muda zaman sekarang, maka dari itu kafe ini jadi ramai.”
“Cuma karena itu?” Andi masih tidak percaya.
“Ya, ada satu lagi tapi tak terlalu penting, aku ikut menanamkan modal saat dia bangkrut itu, jadinya kafe ini dimiliki dua orang, aku dan temanku itu.”
“Pantas saja! Itu adalah jawaban pentingnya Za, malah kau skip. Mau kelihatan baik di depan adikku?” Andi kesal, karena tinggal jawab saja kafe ini sebagian miliknya, jadi bangku itu pasti selalu ditandai reserved, jadi tak ada yang bisa duduk di bangku itu.
“Yasudah, kenapa kau jadi marah, aku cuma menjelaskan. Jadi nggak usah nuduh-nuduh.” Izraa tak terima dituduh sengaja ingin terlihat hebat di depan Syila, karena Izraa tahu, dia sudah hebat.
“Fenita tuh cantik ya, Za?” Syila masih terjebak dengan pesona Fenita.
“Ya, dia tinggi semampai, wajah yang oval dan sikap yang anggun, dia memang cantik.”
Syila langsung menatapnya dengan tajam, Izraa tak begitu paham, dia sibuk dengan pesanan kopinya, dia sungguh rindu aroma kopi.
“Kalau Fenita seleramu bukan?” Pertanyaan yang cukup provokatif, Izraa masih tak paham arahnya.
“Aku kita Fenita itu selera semua lelaki.” Masih dengan santai Izraa mengatakannya, sedang Syila sudah merasa sangat panas pada dadanya.
“Syil, kamu keringetan, kenapa deh?” Andi sadar kalau Syila berkeringat pada bagian dahi, hal yang wajar ketika seseorang menahan marah.
“Nggak apa-apa, keringet doang!” Syila menjawab dengan ketus.
“Yaudah santai, gue kan cuma bilang.”
“Yaudah, gue cuam jawab kok, aneh deh lu!” Syila masih marah-marah ke Andi.
“Kok jadi kurang ajar sih!” Andi kesal karena Syila membentaknya.
__ADS_1
Syila terdiam, Izraa juga jadi melihat ke arah Syila, situasi ini terasa sangat mengintimidasi, Syila benar-benar sulit mengendalikan emosinya, ada apa ini!
“Sorry Ndi, gue cuma ... ini tangan gue sakit, jadinya agak panasan.” Syila mencoba mengalihkan pembicaraan agat tak terlihat sedang sangat marah pada jawaban Izraa.
“Pulang aja kalau tangannya sakit.” Izraa kembali terlihat khawatir pada Syila.
“Nggak mau, orang bosen kok, makanya minta ke sini.” Syila malas diperhatikan oleh pria yang sudah memuji wanita lain.
“Yaudah terserah, pokoknya kamu nggak boleh nulis dulu ya.”
“Ngetik kali Za.” Andi mengoreksi.
“Iya itu, nggak usah terlalu sok detail lah.”
“Kalian berdua kenapa sih, kenapa pada jutek amat, gue udah nyetirin kalian kayak supir loh! Yang satu ketembak, yang satu tanganya patah, nggak pada tau terima kasih deh.” Ando kesal lalu pergi ke kasir hendak memesan kue dan kopi lalu pindah meja, dia merasa lebih tenang sendirian, daripada jadi bulan-bulanan dua anak muda yang tak tahu diri, padahal mereka sedang sakit, seperti si buta dan si pincang.
“Kau jangan terlalu kasar pada Andi.” Syila menegur Izraa.
“Kau bilang aku yang kasar! Tapi kenyataannya, kau yang duluan sewot ke dia.”
“Ya aku kan sakit tangannya.” Syila masih berbohong dan membela diri.
Syila tersadar lagi kalau Izraa sakit karenanya, karena pulang dari rumahnya.
“Yasudah maaf. Apa kita panggil Fenita aja ya suruh ke sini, gimana?” Syila masih kesal dan mencoba menguji Izraa.
“Jangan, dia sibuk, setahuku jadwal dia jam 3 ini ada bakti sosial deh di penjara, makanya jangan ganggu dulu lah.”
“Kok ... kau tahu?” Syila makin panas.
“Dia baru saja mengirim pesan padaku, katanya dia ke penjara Aldo berada.”
“Hah? kau sudah bertukar nomor telepon dengannya?”
“Iyalah, dia penolongku, mana mungkin aku tak punya nomor teleponnya, kau juga punya kan?”
“I-iya aku punya, tapi maksudku, bukankah ....” Bukankah Izraa paling menjaga privacynya, dia jarang sekali memberi nomor teleponnya pada orang lain begitu mudah.
__ADS_1
“Apa?”
“Ya, aku pikir kau selalu merasa dirimu ketinggian dan tidak ingin memberi nomor telepon pada orang yang baru dikenal, tapi sepertinya Fenita berbeda.”
“Tentu saja dia berbeda, dia yang menolongku, kau tahu, tatapannya yang biasa saja saat melihatku, itu sebuah kemewahan yang sulit aku dapatkan.”
“Maksudmu tatapan biasa saja?”
“Ya, saat aku tertembak, aku melihat Fenia dengan sangat panik menelpon Polisi dan ambulans, aku melihatnya sangat panik, tapi dia begitu cerdas mengambil keputusan, termasuk tidak berusaha membangkitkanku, karena tahu itu akan fatal karena peluru mungkin saja sudah menembus organ dalam.
Lalu kami ke rumah sakit dan akhirnya dia mengantarku pada papi, saat itu aku melihat dia orang baik, dia tidak mengambil foto atau video apapun saat kejadian itu terjadi, dia menatapku dengan kasihan sebagai orang yang sedang tertimpa kemalangan, bukan orang yang bisa dimanfaatkan karena terkenal, aku sulit mendapatkan hal itu dari wanita lain. Bahkan kau pun memanfaatkanku.”
“Izraa! Kau ini keterlaluan ya, aku tidak memanfaatkanmu, aku hanya ... hanya ....”
“Apa? kau bahkan datang ke kafe ini kan? untuk profiling aku? untuk mendapatkan informasi tentangku sebelum akhirnya memilihku untuk menjadi peran utama di film itu? kau bahkan mau pacaran denganku karena ... kau ingin filmu bisa selesai dengan baik, Iya kan?”
“Artinya bukan aku yang memanfaatkanmu saja! Tapi kita berdua yang saling memanfaatkan! Jadi jangan ngaco ya, lagian bodo amat deh mau manfaatin atau nggak, kalau lebih suka sama perempuan kayak gitu, kenapa sama aku? malu ketemu Fenita? Atau mau aku mak comblangkan?” Syila kesal sekali mendengar direndahkan dan dibandingkan dengan wanita lain. Rasanya Syila ingin menggigit kepalanya Izraa karena berani sekali membandingkan Syila dengan perempuan itu.
“Ya, katakanlah begitu.” Izraa tak dapat menampik, dia juga memanfaatkan Syila untuk objek percintaan yang dia belum pernah rasakan sebelumnya, perasaan itu sakit tapi membuat kecanduan, karena perasaan cinta terasa sesak di dada namun mampu membuat kita tesenyum dengan bahagia.
...
“Hari ini ada 8 orang yang bawa makanan Pak untuk dibagikan kepada seluruh narapidana yang ada di tempat ini.” Fenita mengisi formulir kedatangan untuk bisa masuk ke dalam penjara, targetnya adalah Aldo.
Fenita dan 8 orang lain dibawa masuk ke dalam, ke sebuah aula agar dia bisa memberikan makan pada para narapidana.
Saat dia menyiapkan semua, seluruh narapidana sudah mulai berdatangan, semua berbaris untuk mengantri mengambil makanan yang enak.
Fenita terus mencari wajah itu, wajah yang kata Syila adalah penguntitnya, Fenita berusaha untuk menemukan pelaku karena waktunya tak banyak.
Fenita bertugas memberikan makanan pada para narapidana, dia pertama menyendok nasi dan lauk untuk para tahanan.
Satu persatu para tahanan mengerubuti makanan yang sudah siap untuk dibagikan.
Hingga akhirnya pandangan Fenita sudah yakin, bahwa pria yang di hadapannya adalah Aldo.
“Kau itu ... masuk penjara karena menculik Syila kan?” Fenita sangat kesal, ingin rasanya dia pukul lelaki ini tapi dia terlalu kecil untuk melawan.
__ADS_1
"Kau siapa? anteknya? mau menyiksaku? atau sudah ada racun di sini?" Lelaki itu berkata dengan arogan.
"Aku akan memastikan hidupmu seperti di Neraka.