Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 55 : Pelaku 9


__ADS_3

“Kau kan tahu, Za, tidak bisa menarik uang sebanyak itu dalam jangka waktu dekat.” Managernya mengatakan itu setelah dihubungi Izraa, dia sedang mencari cara untuk mendapatkan uang itu.


“Aku harus mendapatkannya segera, karena kalau aku tak mendapatkannya, Fenita bisa celaka.”


“Kau hubungi keluarganya. Keluarganya harus membantu masalah ini, karena uang segitu nggak sedikit, walau gue tahu elu punya, tapi itu uang jerih payah lu, Za! Terus elu mau kasih gitu aja uang buat orang yang nggak terlalu lu kenal?”


“Gue emang nggak kenal dia, tapi dia yang selametin hidup gue, sekarang dia butuh gue, jadi gue harus ....”


Telepon pintar Izraa berdering, Izraa melihat sekilas, ternyata dari Syila. Dia tak menjawabnya.


Tapi tak lama kemudian Syila mengirim pesan singkat.


[Apa yang terjadi dengna Fenita?]


Izraa masih fokus bicara dengan Managernya perihal mengambil uang untuk tebusan.


“Aku harus bagaimana, berapa limit mengambil uang di bank?”


“Untuk nasabah prioritas sepertimu, bisa sampai 500 juta, tapi itu juga butuh waktu, hanya itu yang aku ketahui.” Managernya memberikan jawaban yang membuat Izraa kesal, karena 500 juta ke 2 miliar itu masih jauh.


“Berapa uang cash di kotak depositoku?” Izraa bertanya, karena seingetnya, dia menaruh uang cash di kotak deposito untuk keadaan darurat.


“Hanya berapa puluh juta saja Za, karena untuk keadaan darurat.”


“Sial! kenapa aku tak menaruh uang cash yang banyak sih!”


“Karena kau tidak percaya pada apapun selain perbankan, makanya kau menabung dan bermain saham.” Managernya mengingatkan.


“Aku harus bagaimana untuk mendapatkan uang itu?”


“Minta tolong ayahmu.” Manager itu memberikan ide.


“Kau gila!”


“Setahuku ayahmu orang yang konvensional. Dia itu orang yang suka menaruh uang cash dalam jumlah besar di brangkas besar rumahnya.”


“Ya kau benar, aku pernah melihatnya menaruh uang di brangkas di dalam perpustakaan, tapi tetap saja, masa aku harus meminta bantuannya, kau kan tahu bagaimana hubunganku dengannya.”


Manager dan Asisten Izraa memang paling tahu tentang dirinya, tapi kenyataan bahwa yang bisa dimintai tolong hanya ayahnya, itu membuat Izraa menyesal kalau mereka tahu tentang ayahnya dan memaksa Izraa menurunkan harga diri.


[Mereka meminta 2 miliar untuk tebusan!] Syila mengirim pesan lagi, Izraa melihatnya dan terkejut, bagaimana dia tahu soal itu, Izraa langsung menelponnya balik, sementara Managernya pamit untuk kembali mengatur pekerjaan Izraa yang banyak ditunda. Padahal kerugian Izraa sudah cukup banyak karena masalah Fenita, dia harus banyak membayar pinalti untuk pembatalan-pembatalan yang dia lakukan demi menjaga Fenita, seperti iklan dan endorsement.


[Kau tahu dari mana soal uang tebusan itu?] Izraa bertanya.


[Tidak penting aku tahu dari mana, tapi apakah itu benar dan sekarang kau sedang mencari uang itu bukan?] Syila bertanya dengan kesal.


[Bukan urusanmu, bisakah kali ini kau tidak egois dan membiarkanku fokus mengurus penculikan Fenita?]


Syila tahu kalau dia merengek untuk meminta Izra melibatkan Polisi karena masalahnya mulai kacau, maka Izraa takkan mau mendengarnya. Maka satu-satunya cara adalah ....

__ADS_1


[Aku akan membantumu mendapatkan uang cashnya, berapa kau bisa ambil di bank?]


Izraa terdiam, sebenarnya dia enggan untuk meminta bantuan perempuan, apalagi soal uang, tapi ini urgent, begitu uangnya sudah bisa diambil, dia bisa langsung mengganti uang Syila.


[Hanya 500 juta dan beberapa puluh juga di deposit box.]


[Baiklah, aku juga bisa ambil sekitar segitu di bank dan aku juga punya cash di deposit box sekitar 200 juta, aku selalu menaruh uang banyak di deposit box untuk urusan mami, mami terkadang butuh cash untuk jual beli berliannya.]


[Bagus berarti kita sudah memegang 1,2 M. Aku akan coba meminjam uang dari kolegaku.]


[Jangan! jika kau meminjam uang dari kolegamu, maka mungkin masalah ini bisa tersebar, kau punya nama baik, jangan sampai ....]


[Kau pikir aku masih peduli dengan omongan orang dan nama baikku, selagi nyawa orang taruhannya?]


[Aku saja yang akan usahakan, berarti kita kurang 800 juta lagi, aku akan carikan, berapa lama dia memberikan waktu untuk kita?] Syila bertanya lagi.


[Tiga hari, dia mengirim pesan jumlah uang, waktu dan alamatnya.]


[Baiklah, aku akan usahakan, aku mohon kau percaya padaku, Fenita juga penting untukku, aku sangat mohon padamu untuk menungguku, aku akan memberikan uangnya paling lambat besok malam, jadi kau masih punya waktu untuk mengambil uangmu.]


[Ya, aku akan menunggumu.] Izraa mulai tenang, Syila juga tak main-main, dia bertekad untuk membantu, dia juga tahu kalau Fenita bukan orang yang seharusnya menerima semua ini karena masalah Syila dan Izraa.


...


“Tumben lu minta ketemuan, bukannya sudah sibuk dengan pacar baru?” Juna datang dengan cepat begitu Syila meminta dia datang ke rumahnya, karena untuk bertemu di tempat lain masih beresiko tinggi, Fenia sudah diculik, kalau Syila gegabah dan ikut diculik, berapa uang yang harus Izraa siapkan untuk dua wanita itu, makanya Syila akhirnya meminta Juna sahabatnya datang, tentu kalian ingat dia kan?


“Aku butuh bantuan, Jun.”


“Ya Jun, aku butuh sekali bantuanmu, ini soal ... uang.”


“Hah? kau kenapa? aku tidak akan percaya kalau kau bilang terlilit hutang, karean setahuku, sahabatku satu ini paling anti berhutang.” Juna kembali dengan nada bicara yang hangat, seperti dulu mereka bersahabat.


“Jun, bisakah aku tak memberikan alasannya, hanya pinjamkan, aku akan kembalikan setelah menyiapkan dananya, kau itu kan pengusaha, setahuku kalau kau menarik dana di bank atas nama perusahaan, limitmu lebih besar dibanding kami yang tabungannya atas nama individual.” Syila memohon.


“Kami? Kau bicara seolah yang punya masalah keuangan ini bukan hanya kau, tapi ada orang lain juga. Apakah ini masalah dengan saudaraku si Izraa itu! apakah dia yang terlilit hutang?” Juna mulai mengeluarkan jurus merendahkan Izraa, karena dia memang tidak suka dengan Izraa yang merebut Syila darinya, itu dalam pikiran dia.


“Kau tidak kenal saudaramu sendiri? Apakah Izraa tipikal orang yang suka berhutang? Bukankah kau tahu, sekaya apa keluarganya!” Syila kesal kekasih palsunya dihina.


“Ya juga sih, keluarganya lebih kaya dari keluargaku, ya sudah, kau butuh berapa?”


“800.”


“Ya ampun, segitu aja pinjam! Syil, malu-maluin ah.”


“800 juta!”


“Hah! banyak banget, kukira 800 ribu, kau butuh uang sebanyak itu untuk apa?”


“800 juta dan ... cash!”

__ADS_1


“Kau judi online?! Atau kau mau cuci uang? kau kenapa Syik!” Juna menjadi khawatir, karena uang sebanyak itu berani Syila pinjam.


“Sembarangan, kau pikir aku berjudi dengan jilbab ini! aku ada dananya, tapi tak bisa ditarik dari bank, aku butuh dananya cepat, besok sore uangnya harus sudah ada. Makanya aku akan membayarmu kembali begitu danaku bisa ditransfer padamu atau aku ambil cash secara parsial. Lagian, tadi kan aku sudah bilang, kalau aku tidak bisa memberitahu alasannya.”


“Kalau begitu aku tidak bisa pinjamkan, itu pilihanmu, kau memang sahabatku, tapi uang 800 juta itu tidak sedikit, hampir 1 miliar, aku butuh alasan dan ... jaminan.”


Syila terdiam, apa yang Juna katakan memang tidak salah, siapa yang mau pinjamkan uang sebanyak itu tanpa alasan dan jaminan, sekalipun Juna sahabat sekaligus orang yang menyukainya, tapi uang sebanyak itu tidak akan mudah dipinjamkanb begitu saja.


“Baiklah, aku akan ceritakan, tapi aku mohon, jangan beritahu siapapun, termasuk orang tua kita, termasuk orang tua Izraa.”


“Baiklah, ceritakan padaku.”


“Kau tahu kan, beberapa waktu lalu Izraa itu ditembak setelah dari rumahku, dia ditembak oleh beberpa orang suruhan Aldo, orang yang menculikku, tapi penembakkan itu bisa segera diketahui dan Izraa selamat karena ada satu wanita yang menolongnya, namanya Fenita, dia itu orang yang baik dan selalu menolong kami.


Dia juga menolong kami untuk menyelidiki Aldo, secara terstruktur Fenita akhirnya mendapatkan informasi kalau Aldo adalah anak dari seorang mafia di negeri ini, maka masalah ini semakin besar.”


“Wah, Aldo yang menculikmu anak mafia? Wajar saja pikirannya gila dan berani menculikmu. Lalu?”


“Fenita ditabrak oleh salah satu orang yang menembak Izraa, dia pasti orang suruhan orang tua Aldo atau Aldo sendiri. Lalu Fenita masuk rumah sakit, beruntung dia selamat, tapi keberuntungan tak selalu memihak kami, Aldo atau orang tuanya beraksi, mereka menculik Fenita dan meminta tebusan 2 miliar untuk mengembalikan Fenita.


Kami hanya diberi waktu 3 hati, Jun. Aku hanya bisa ambil 500 juta, begitu juga dengan Izraa, lalu aku juga punya uang simpanan 200 juta di deposit boxku. Maka dana yang kurang adalah 800 juta, hanya kau yang terpikir olehku mampu membantu.” Syila menceritakan semua secara singkat.


“Wah, kalian benar-benar pasangan sial, sudah kubilang kalian tak cocok.”


“Jun, bisa nggak jangan bahas masalah itu dulu? Ini menyangkut masalah nyawa orang loh.” Syila memperingatkan.


“Aku mulau takut padamu Syil, kau seberani ini menolong Izraa atas nama wanita itu. Aku akan membantumu, tapi ... aku juga ingin kau berani mengambil resiko yang lebih lagi.”


“Apa maksudmu Jun?” Syila tak paham.


“Tak ada yang gratis di dunia ini Cil, aku akan bantu, tapi ... aku punya syarat.”


“Jun, aku mohon, jangan kejam, aku jarang meminta tolong bukan?”


“Dan aku selalu siap menolongmu, aku ingin kau menghargai itu juga, kau kenal aku sudah lama dan Izraa baru saja kau kenal, tapi kau bisa meletakkan harga diri dengan meminta bantuanku untuk lelaki itu. Maka aku meminta upahku karena menolongmu, aku ingin kau berjanji memenuhi syaratku, maka uang itu akan siap besok siang.”


“Jun ... aku mohon.”


“Tidak CIl, kali ini aku ingin kau paham mengenai kehadiran seseorang, kalau aku memang tulus padamu, tapi bukan berarti kau bisa menginjakku dengan berlaku seenaknya mentang-mentang kau tahu, aku mencintaimu.”


Syila paham, bahwa begitu tahu ini semua untuk membantu Izraa, Juna pasti kesal dan kecewa.


“Baiklah, tapi jangan paksa aku menikah denganmu, itu keterlaluan hanya untuk 800 juta saja.”


“Ya, aku takkan memintamu untuk menikah denganku, syaratnya mudah, asal kau penuhi, uang itu akan siap besok sore.” Juna kembali mengimingi soal uang itu akan mudah didapat jika Syila setuju syaratnya.


“Baiklah, baiklah aku akan memenuhi syaratnya, kau juga harus menepati janji.”


“Baiklah, itu bagus, aku akan mulai minta pegawaiku siapkan dana cashnya.”

__ADS_1


Juna lalu pamit pulang Syila menatap punggun Juna dengan sedih. Juna saja berubah, apakah Izraa juga akan berubah begitu Fenita selamat?


Lucu sekali percintaan ini, Juna pada Syila, Syila pada Izraa dan Izraa pada Fenita. Cinta bersegi yang berat.


__ADS_2