Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 92 : Jebakan 3


__ADS_3

Pagi datang dengan aroma yang lain, Syila jadi lebih bersemangat, setelah selama berbulan-bulan sebelumnya penuh dengan rasa sesak karena sakit yang tak tahu di mana letaknya, sakit itu tak terasa lagi, karena tangan yang tak berfungsi, tapi nyatanya sakit di hati jauh lebih terasa. Padahal hati saja tak tahu di mana letaknya, karena hati yang orang katakana sebagai organ, bukanlah letaknya perasaan berada.


Mau bukti? Ketika kau sakit hati, maka yang kau pegang adalah dada, di mana jantung dan paru-paru berada, bukan dua organ itu yang sakit, tapi kenapa kau merasakan nyeri hebat di sana? Sedang jika memang organ hati yang benar merasakan sakit, kenapa tidak terasa sakit pada tempatnya, di mana organ hati berada di dekat lambung, bukan di dada.


Maka dari sini kita tahu, bahwa hati yang kita maksud, bukanlah organ yang kita kenali selama ini yang disebut hati. Maka pertanyaannya, di manakah letak hati itu berada?


Di manapun hati itu berada, Syila tak begitu peduli, karena saat ini yang dia hiraukan hanyalah bagaimana caranya membuat perusahaannya bisa berdiri sesegera mungkin, dia tak sabar, mengingatkannya tentang rasa itu, rasa semangat saat menulis, hal yang saat ini sulit dia lakukan karena keterbatasannya saat ini.


Tapi saat ini, dia merasakan kembali gairah yang besar, seperti Izraa yang merasakan gairah yang besar terhadap Syila, hal yang tidak bisa dirasakan sejak dia lahir, setidaknya itu yang dia yakini.


“Hari ini jadwalnya apa?” Papi bertanya pada Syila, karena Syila sudah rapi sekali sejak pagi, bahkan ikut sarapan pagi ini sebelum papi dan kakaknya berangkat kerja.


“Hmm, mau dekorasi kantor dan cek legalitasnya, hari ini mulai diurus oleh bagian legal.”


“Harusnya cukup lama kan ya, urus nama dan lain-lain, kamu pasti diminta rekening koran dan dokumen lain-lain.”


“Itu semua sudah diatur oleh legalnya perusahaan orang tua Izraa, Pi. Jadi aku akan cek sampai sejauh mana sudah diurusnya, untuk nama juga harus dicek ke pangkalan data hak kekayaan intelektualitas Pi, supaya tahu nama yang akan kita gunakan sebagai nama perusahaan dan juga merk dagang kita kelak belum digunakan oleh siapapun dan akan langsung dibuatkna hak patennya, agar kelak nggak kejadian lagi kasus kayak kemarin, Pi. Walau novelku pun sebenarnya kemarin juga sudah jelas hak ciptanya, kan pas diterbitin juga sudah ada ISBNnya Pi, itu menjadi penanda kalau buku Syila jelas hak ciptanya, diakui oleh seluruh negara, kalau masih ada yang nakal dengan tetap melakukan plagiasi, itu namanya kenekatan yang bodoh sih.”


“Yasudah, yang penting, kau harus baca dengan jelas akte pendirian perusahaanmu, karena kalau sampai ada tidak sesuai kelak, kau akan rugi sendiri, karena banyak kejadian para pengusaha yang tidak membaca dengan benar akta pendirian perusahaannya dan harus terjeblos pada lubang kerugian karena ada pasal yang merugikannya.” Papi mengingatkan.


“Pasal merugikan? Misalnya apa ya, Pi?” Syila memang cerdas, tapi tak dapat dipungkiri kalau dia memang kurang pengalaman, dia selama ini hanya memperdalam ilmu kepenulisan, walau kuliah bisnis, tapi belum benar-benar membangung bisnis, kalau secara teori dia paham, dokumen apa yang dibutuhkan untuk pendirian perusahaan, tapi untuk intrik perusahaan, dia mana paham, hal itu hanya bisa dikenali oleh orang yang telah banyak menjalani bisnis, seperti papinya, walaupun dia Dokter, tapi dia sudah membangun bisnisnya sebelum akhirnya bekerja pada yayasan milik orang tua Izraa, walau akhirnya bangkrut.


“Kau harus lihat pasal yang memuat para pemegang saham, lalu di dalam pasal itu, apakah ada kalimat yang merugikanmu, misal pembagian deviden berapa banyak lalu siapa yang membayar biaya pajak dari deviden tersebut, apakah hanya dirimu, atau dibagi bersama, karena kalau sampai hanya kau yang menanggung sebagai pemilik utama, maka kau akan rugi, karena hanya devidenmu yang akan dipotong untuk seluruh biaya. Itu salah satunya ya, belum hal lain, seperti berapa banyak saham milikmu, berapa besar suaramu berpengaruh pada keputusan, itu kau harus baca perlahan dan sangat hati-hati. Bagaimana jika sudah selesai, kau berikan akta itu pada pengacara kita, dia mengurus semua urusan legalitas keluarga kita, tak ada salahnya membayar dia lebih untuk memastikan kalau posisimu tidak akan rugi sendirian.” Papi menawarkan jalan keluar.


“Iya, Syila akan minta bantuan Mas Roy, dia juga dulu yang bantu Syila cek ISBN dari penerbit, apakah sudah benar, Syila bayar dia terpisah dari tagihan tahunan yang dibebankan dia ke papi, jadi bayar jasanya perproject, Pi.”

__ADS_1


“Ya, bisa begitu Syil, wah anak papi sudah dewasa ya, sudah mau buat perusaan sendiri dan sekarang siap untuk menjadi ibu CEO.”


“Pi, jangan gitu ah, malu tahu!” Syila tertawa ditahan.


Lalu terdengar asisten rumah tangga masuk dari luar rumah ke tempat mereka makan, dia memberitahu kalau sudah ada Izraa yang siap menjemput Syila.


“Kau dijemput Izraa?” Alzam geram, karena sekarang mereka terlihat dekat lagi.


“Hmm, sebenarnya ingin pergi sendiri kak, tap ikan Syila sudah tak bisa menyetir lagi, Andi sedang tidak bisa menjemput karena dia harus cek furniture untuk kantor, itu juga Syila nggak bisa lakukan sendiri, trus supir kan sudah dipakai kakak dan papi, supir satu lagi cuti karena istrinya sakit, cari supir baru tidak gampang, lalu mau pakai taksi online Syila masih tidak berani karena ….”


“SUDAH CUKUP! Aku mengerti.” Alzam kesal karena apa yang Syila katakan sangat logis, memang tak ada jalan lain, Izraa terlihat seperti pahlawan, itu yang Alzam tak sukai.


“Yasudah, aku jalan dulu ya.” Syila mengambil tas yang sudah dia taruh di lemari dekat meja makan, tapi saat dia kan pergi menemui Izraa, mami berteriak dan memberikan sesuatu.


“Iya ibu negara, siap!”


“Terima kasih ibu CEO.” Mami meledek, Syila jadi malu, lalu dia pergi menemui Izraa.


“Sudah siap?” Izraa sedang menatap layar ponselnya saat Syila menghampirinya.


“Iya sudah siap, yuk. Oh ya, ini dari mami buat kamu sarapan katanya.” Syila memberikan bekal yang mami berikan.


“Ah, kok repot-repot sih?”


“Nggak apa-apa, ucapan terima kasih karena mau menjemput anaknya.” Syila membuat perkataan mami terdengar lebih lembut dari sebenarnya.”

__ADS_1


“Aku mau ucapin terima kasih ya.”


“Nggak perlu!” Syila takut mami malah menyebut hal sebenarnya, jadi dia menahan Izraa dan mereka bersiap pergi ke kantor.


Tak lupa Izraa mampir ke kafe miliknya, saat dia sampai, pelayan kesayangan Syila berlari keluar dan membawa 2 cup kopi pesanan Izraa, rupanya Izraa memintanya bersiap jadi Izraa tak perlu turun, gaya bossynya kadang membuat Syila kesal.


“Terima kasih ya, maaf merepotkan.” Syila berteriak pada pelayan itu, pelayan wanita itu hanya tersenyum dan memberi tanda jempol pada Syila, artinya OK.


“Lain kali jangan begitu ya, tak sopan, kita membayar dia untuk melayani di dalam toko, bukan berlarian ke luar toko. Naikkan gajinya, jangan sampai haknya tak terpenuhi.”


“Baiklah nyonya Izraa, siap laksanakan.”


“Eh!” Syila kesal dengan panggilan itu.


“Loh, kau mengurusi bisnisku, meminta aku menaikkan gaji anak buahku, kalau bukan nyonya Izraa, lalu kau siapa? Masa ibuku? Kan nggak mungkin.”


Syila terdiam, begitu cara Izraa menegurnya dengan halus, karena Syila melewati batas, biar bagaimanapun, itu bisnis Izraa, jadi Syila tak boleh mengatur.


“Sorry, gue udah lewat batas.”


“Nggak masalah, kalau hobimu melewati batas, kau hanya tinggal menikah denganku.”


“Za, kau lama-lama membuatku kesal deh!” Syila membuat gerakan seolah akan melempar cup kopinya, tapi tentu dia hanya bercanda.


Izraa terasa berbeda sekali, tidak seperti Izraa yang dingin, dia sedang melakukan langkah apa kira-kira?

__ADS_1


__ADS_2