Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 115 : Wanita itu


__ADS_3

“Apa kau baik-baik saja?” Izraa bertanya, mereka sedang sarapan bersama di restoran VIP kantor, Andi juga bersama mereka, obrolan selalu terbuka walau ada Andi, karena dia tahu semua hal tentang Syila, tak ada yang terlewat sama sekali.


“Apa memang yang bisa membuatku tak baik-baik saja?” Syila berusaha tak membahas hal itu, Izraa tidak peka.


“Aku akan pastikan kalau kalian takkan pernah bertemu lagi.” Izraa rupanya merasa bersalah.


“Tak apa, takdir Tuhan kan selalu berbeda, bertemu lagi juga tak mengapa, aku sudah kebal.”


“Hei, kau ingin sesuatu?” Izraa mencoba membujuk lagi.


“Bukankah, proyek balas budi ini sudah cukup mahal, Izraa?” Syila berkata dengan lemah.


Izraa terdiam dan lalu berdiri, pergi meninggalkan Syila dan Andi di sana.


“Syil! Keterlaluan ah!” Andi kesal, karena jelas Izraa marah pada perkataan itu, semalam saat bertemu pasangan itu, Izraa jelas membelanya, sekarang dia berusaha untuk menenangkan hati Syila, tapi Syila malah menyerangnya.


“Perlu Ndi, karena kalau kami terlalu dekat dan menikah, aku bisa mati berdiri karena melihat pasangan itu.”


“Kau masih mencintainya? Ini sudah berapa tahun terlewat loh!” Andi kesal karena ternyata sepupunya itu masih mencintai lelaki bajingan seperti Kevin.


“Bukan cinta, tapi perih yang masih teringat oleh otak dan hatiku, betapa harga diri aku runtuh Ndi dan betapa bodohnya aku, menjadi satu-satunya yang berusaha melindungi hubungan, sedang dia bisa begitu tenangnya menggendong gadis itu lalu mengecup keningnya, sesak sekali nafasku saat itu, kalau bisa, aku ingin menjambak rambutnya dan menyeret wajah wanita itu di aspal, tapi urung karena dia bahkan lebih butuh Kevin dari pada aku! Kenyataan yang sulit dibantah, bahkan saat seperti itu saja, aku masih harus terpaksa memilih hati Nurani dan rasa kemanusiaan, dibanding hatiku sendiri, kau bisa bayangkan bagaimana menderitanya aku dan sekarang kalau kami benar menikah, akan jadi apa hatiku?”


“Maka kau harus belajar mencintai orang yang mencintaimu, jangan kau malah terus menahan rasa sakit itu dan membuat orang yang mencintaimu pergi.”


“Kau tahu dengan jelas kalau Izraa tidak mencintaiku, dia hanya menganggapku obatnya.”


“Itu lebih baik, setidaknya, dia akan menjaga dan melindungimu, kalau dia memang tak bisa sembuh, maka kau akan jadi satu-satunnya, kau akan jadi wanita tunggal dalam pernikahan itu, takkan ada wanita bernama Winda atau Sofia lagi yang akan merebutnya darimu, itu jauh lebih baik karena cinta bisa goyah, tapi keyakinan logikanya pada manusia yang dia anggap obat, itu tak tergoyahkan, kau akan jadi orang yang sangat bahagia, karena dia hanya akan fokus padamu.”

__ADS_1


“Andi aku ingin dicintai, bukan dijadikan terapi bagi pesakitan mental macam itu, apalagi dikasihani, yang tidak mau ditolong Andi, aku ingin dicintai, sebusuk apapun aku dan pemikiranku, aku hanya ingin cinta Andi, aku ingin merasakan ada orang yang mencintaiku tanpa sebab dan alasan, tapi Izraa, dia memanfaatkan tubuhku, fisikku untuk sembuh, kalau kelak dia sembuh, maka habislah aku, dia akan menjadi lebih gila daripada Kevin, karena mungkin dia ingin merasakan gairah dunia yang dari dulu tak bisa dia nikmati karena keterbatasan.”


“Terserahlah, aku hanya merasa bahwa, kau sangat cocok dengan Izraa, sama-sama keras kepala dan gigih, tapi terserah saja, kau habiskan makanmu, kita harus bekerja lagi.”


Mereka lalu meneruskan sarapan dan kembali lantainya untuk bekerja, Izraa tak ada di tempat, kata pagawai mereka, Izraa pergi ke client, tapi tak beritahu client mana.


Syila mendapatkan surat panggilan dari HRD perusahaan keluarga Izraa, ini pasti untuk teguran atas makan di kantin mereka, Syila hendak pergi, Andi temani, karena tak ingin sepupunya dipojokkan, Syila lalu menuju lantai yang tertera di surat panggilan itu.


Kelapa HRD di sana menyambut Syila dan membawanya ke ruang meeting yang tidak terlalu besar, karena mereka hanya bertiga saja.


“Halo Bu, Syila, maaf mengganggu waktu Anda, tapi ini sangat penting karena saya harus mengirimkan laporan pada pihak yang menyelidiki penyusupan makan siang ini, jadi terpaksa saya memanggil Ibu.”


“Tak apa Ibu Citra, saya juga paham, baiklah, kira-kira apa yang bisa kami lakukan untuk memperbaiki kesalahan ini?” Syila tidak ingin mencari keributan, apalagi hatinya sedang kacau.


“Ganti rugi dan permintaan maaf, bu.” Citra kepala HRD itu berkata.


“Permintaan maaf secara tertulis?”


“Hei! kau keterlaluan Citra, ini bahkan belum diinvestigasi kenapa pegawai kami bisa digiring ke sana dan dibohongi, bahkan pegawai kami diantar seseorang untuk ke kantin itu, seharusnya kalian cek CCTV dan melihat siapa yang mengantar pegawai kami ke kantin itu!” Andi marah hingga menghardik Citra, karena permintaannya jelas, itu adalah cara mempermalukan Syila di keramaian.


“Kami tidak bisa memperlihatkan rekaman itu karena sifatnya confidential, tapi saya sudah melihat rekamannya dan memang ada orang lain yang bersama pegawai ibu, tapi … dia bukan pegawai kami, orang itu tidak ada yang kenal, Bu.”


“Loh, bukankah bahkan orang itu juga ikut menuduh pegawai kami di kantin itu, kenapa sekarang dia jadi orang yang tidak dikenal, aneh sekali, apa kalian sengaja untuk ….”


“Andi diam, maaf Bu, Pak Andi memang selalu bersemangat jika membelaku, baiklah, aku akan lakukan, ganti rugi dan permintaan maaf itu akan aku lakukan, karena walau diinvestigasi pun, anak buahku tetaplah salah karena teledor, tak paham isi kontrak kerja dan main ambil keputusan sendiri, percaya pada orang yang salah. Maka aku akan melakukannya.”


“Syila! Tapi ini akan mempermalukanmu!”

__ADS_1


“Mereka pegawaiku, selama mereka masih bekerja padaku, maka menjadi tanggung jawabku atas kesalahan yang mereka lakukan pada pihak lain di kantor ini, Andi ini bukan soal malu atau tidak, apalagi harga diri, ini soal tanggung jawab. Aku akan lakukan itu, tapi aku punya masalah melakukan itu di keramaian, maka aku minta tempat yang private untuk merekam permintaan maafku, apa itu tidak masalah?”


“Tentu saja, kami akan sediakan tempatnya, hanya orang yang terkait saja yang akan di sana, jika ini semua sudah dilakukan, maka kami akan menutup masalah ini.” Citra lalu mengantar Syila dan Andi keluar dari ruangannya dan mereka kembali ke lantainya.


Syila dan Andi ada di ruangan, Izraa masih belum kembali.


Salah satu pegawai Syila masuk dan bertanya, Syila menjelaskan bahwa konsekuensi ini harus dia tanggung, pegawai itu menangis karena paham, ini akan mempermalukan Syila di depan banyak orang, dia bahkan bermaksud menggantikan Syila melakukannya, tapi Syila tolak.


“Mereka memang mengincarku, tak apa sesekali kalah, toh kalian juga dijebak karena aku, targetnya sejak awal juga aku, maka biarkan aku memberikan apa yang mereka mau saat ini ya. Biar kita bisa cepat kerja dan mulai perusahaan ini, ingat kita bahkan belum dapat kandidat Penulis yang bisa kita bantu cetak karyanya, jadi … jangan fokus pada hal lain, biar urusan seperti ini menjadi urusanku.


Pegawai itu berjanji dalam hatinya, kalau dia akan mengabdi pada Syila, seorang yang terlihat muda ini, ternyata punya pemikiran yang sangat hebat.


Syila dan Andi lalu berkutat pada pekerjaan mereka lagi.



“Jadi, dia setuju melakukan itu?” Seorang wanita bertanya pada Citra.


“Dia akan lakukan lusa.”


“Kita akan permalukan dia, kita akan buat dia jera dan mungkin tidak betah.” Wanita itu berkata sambil tertawa.


“Ini sebenarnya bahaya, apa tak masalah?” Citra memastikan.


“Tak masalah, siapa yang berani padaku?” Wanita itu bertanya lagi.


“Tentu saja, siapa yang berani padamu?” Citra mengatakannya sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


Rencana mereka sepertinya memang akan berhasil, membuat Syila mempermalukan dirinya, dia ingin membuat Syila tak berharga dan dimusuhi oleh semua orang, dia tidak ingin nama Syila menjadi baik.


Wanita ini memang ular berbisa. Syila memiliki musuh yang mengerikan, karena bermain tanpa terlihat, menusuk dari belakang, selalu bersiap dan langsung menyerang bahkan tanpa Syila sadari.


__ADS_2