Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 25 : Naif


__ADS_3

Hari ini meeting, merayakan come back-nya Izraa, sesuatu yang membuat Syila kesal, tapi juga lebih lega, walau masa ini pasti akan sulit terlewati, tapi dibanding berpacaran dengan Juna, mungkin Izraa jauh lebih baik, dia tidak mengatur Syila seperti Izraa dan orang tuanya, ini pemikiran Syila saat ini.


Setidaknya, Syila bisa tenang dulu dan memikirkan agar film ini segera rampung, hingga hubungan dia dan Izraa akan selesai juga.


“Ok, kita udah lama break nih Za, lu keterlaluan sih, pake ngagetin, lu lagi ngeprank atau gimana?” Bang Aryo si Sutradara bertanya di tengah meeting.


“Nggak, cuma syarat gue udah terpenuhi aja.” Izraa menengok pada Syila, otomatis yang lain juga.


“Jadi, apa syaratnya Syil?” Bang Aryo bertanya.


“Hah? Gimana? Itu ….”


“Pokoknya gue nggak mau Syila maksa gue lakuin akting di luar batas lagi, sekarang gue berhak melakukan akting sesuai dengan kemampuan dan feeling gue.” Izraa menjawab tanpa diminta.


“Iya, itu.” Rasanya jawaban itu jauh lebih baik dibanding yang sebenarnya. Rasanya dianggap Penulis yang perfectionist lebih baik, dibanding ketahuan dipaksa pacaran.


“Oh, jadi cuma Izraa yang bisa naklukin Syila, yaudah, sekarang syuting pasti lebih tenang, ya.” Bang Aryo menutup meeting dengan pembagian naskah yang telah di perbaharui, karena naskah terkadang perlu modifikasi setelah dirundingkan dengan penulis, pemain dan sutradara.


Syila berjalan ke luar, dia mau pulang, saat sudah di parkiran, tiba-tiba ada sebuah mobil menghampirinya, hampir saja ketabrak.


“Masuk!” Ternyata izraa, Syila kesal sekali, tapi tidak mungkin menolak.


“Bisa pelan-pelan nggak, sih? Bahaya tau, kalau gue ketabrak gimana? Trus mati.”


“Ya nggak mungkin lah.”


“Kenapa nggak mungkin! Namanya kecelakaan, apa aja bisa terjadi, yang hati-hati aja bisa kena apes, apalagi elu yang ugal-ugalan.”


“Nggak mungkin, karena elu baru setujuin persyaratan kita.”


“Ya, nggak bisalah, kalau gue mati, artinya end.”


“Ya, gue susul lu.”


“Astagfirullah, udah jangan ngomong yang serem gitu. Gimana caranya nyusul? mau bundir lu!”


“Itu jauh lebih mudah dibanding ….” Izraa tidak meneruskan kata-katanya.


“Yaudah kita mau kemana?” Syila tidak terlalu peduli dengan pemikiran Izraa, makanya dia tidak tertarik dengan apa yang baru saja Izraa katakan tapi tidak selesai.


“Ke apartemen, nggak ada kerjaan lagi, kan?”


“Kok elu tahu gue nggak ada kerjaan lagi? Trus kita ke apartemen siapa?”


“Satu, gue tau. Kan, gue pacar lu. Kedua, terserah, mau apartemen gue atau lu, yang mana nyamannya aja.”


“Za, jangan macem-macem ya, kita nih baru jadian, jadi nggak usah berlebihan.”


“Bentar deh, gue cuma mau mampir aja, apa itu berlebihan? Jangan-jangan emang Pikiran lu aja yang kejauhan, elu emang mikirnya gue mau ngapain?”


“Za!” Syila memukul bahu kekasih barunya itu.


Tidak lama, apartemen Syila sudah terlihat, mereka masuk ke parkiran, setelah selesai parkir, Syila keluar sendiri dari mobil, Izraa juga, tidak ada fase romantis di mana kekasih membukakan pintu, mereka berdua memang masih tidak merasa hubungan ini sesuatu yang manis seperti itu.


Sudah sampai unitnya, Syila dan Izraa masuk, Syila merasa canggung, tidak pernah membawa lelaki asing selain Juna, Andi dan Kakaknya. Kemarin Izraa bertamu saja dia canggung, apalagi sekarang dia masuk sebagai kekasihnya, tidak ada perasaan yang menggelitik di hati Syila seperti seorang kekasih yang mencintai, tapi hanya perasaan canggung saja.


“Janji nggak akan macem-macem ya, lu gue izinin mampir karena gue percaya elu nggak akan macem-macem.” Syila mengancam.


“Lu kasih gue kode supaya gue macem-macem ya? Pemikiran lu ini yang harusnya lu didik, kalau gue mau macem-macem, saat kemarin lu keluar dari rumah sakit buat cek, nggak akan penuh perasaan lega, pasti nangis-nangis! Tapi nggak, kan?! Semua masih terjaga dengan baik!” Izraa keliatan kesal, Syila akhirnya membiarkan Izraa masuk ke apartemennya.


“Gue kalau nggak ada jadwal di luar, gue bakal sibuk nulis, gue kalau udah nulis bisa lupa waktu.”


“Ok.” Izraa menjawab dengan singkat dan duduk di sofa, dia mengeluarkan buku dari backpack mininya.


“Gue nulis itu bisa berjam-jam, trus gue bakal lupa tuh sama sekeliling.”


“Nggak masalah, gue juga lagi baca buku yang belum kelar.”

__ADS_1


“Yakin nggak masalah?” Syila bertanya lagi.


“Hmm.” Izraa bangun dan pergi ke dapur Syila, dapur yang tidak begitu besar, tapi cukup nyaman.


Dia membuka lemari satu persatu.


“Cari apa?” Syila bertanya, padahal dia mau ke kamar, mau ganti baju yang lebih nyaman.


“Gelas, haus.”


“Itu dibawah, rak nomor dua dari kanan, jangan ambil yang ada gambar kartun Tweety, itu dari fans, cuma gue yang boleh minum pakai itu.” Syila lalu kembali ke kamar, mengganti baju menjadi gamis panjang, kaos kaki dan juga jilbab bergo yang cukup lebar, setelah itu dia keluar.


“Loh kok! kan, gue bilang jangan pakai yang itu! Kenapa malah pakai yang itu?” Izraa memakai gelas yang sudah Syila katakan jangan dipakai, karena itu dari fans, Syila suka sekali, fansnya menggunakan cat dan melukis di gelas itu, katanya untuk menemani Syila menulis, dia hati-hati sekali dengan gelas itu.


“Lu nggak ijinin gue secara langsung, kan? Jadi gue lakuin secara tidak langsung.”


“Apa sih!” Syila makin kesal.


“Indirect kiss, ciuman nggak langsung. Bolehin gue pake gelas yang paling sering lu pakai atau gue minum dari mulut lu langsung.”


Jantung Syila hampir berhenti mendengarnya, jujur ini pertama kalinya lelaki menghormatinya sekaligus merendahkannya, seperti kau sudah diajak terbang ke langit, sekaligus dilempar lagi ke bumi, sakit banget. Pertama Izraa sopan, hanya meminta minum dari gelas yang sama, artinya dia tidak ingin memaksa Syila berbagi bibir, kedua, dia memberi pilihan agar Syila mau menikmati moment bersentuhan bibir. Itu, kan, dua hal yang kontradiktif.


“Pake … gelas itu aja.” Syila lalu berjalan ke balkon dan duduk di sana, dia memang selalu menulis di balkon, pemandangan sibuk orang-orang di dekat apartemenya, kadang membuat dia mendapatkan ide-ide yang brilian. Di balkon itu sengaja Syila taruh bangku dan meja yang cukup nyaman untuk menulis, tentu dengan laptopnya, bukan dengan buku.


Sementara Izraa di dalam, di ruang tamu di depan televisi apartemen itu, Syila membuka pintu balkon apartemennya, AC memang tidak dinyalakan, hanya malam hari Syila menyalakan AC, katanya pemanasan global karena orang terlalu berlebihan memakai berbagai peralatan elektronik.


Satu, dua, hingga tiga jam Syila sudah menulis berbab-bab novelnya, dia merasa pegal, hari juga semakin sore, dia akhirnya menutup laptopnya, masuk kembali ke apartemen dan menutup pintu penghubung balkon dan bagian dalam apartemen.


Saat berbalik dia kaget, ada seorang pria tidur di sofanya.


[Oh iya, Izraa, kan, lagi di sini mampir,] ucap Syila dalam hati. karena terlalu tenggelam dalam tulisannya, dia lupa kalau Izraa masih di sini, Izraa tidak seberisik Juna dan Andi, bahkan kakaknya masih rewel juga kalau Syila menulis berjam-jam, Izraa tidak bersuara sama sekali, hingga Syila lupa kehadirannya.


Saat sedang memperhatikan Izraa tertidur, Syila mendekat, dia hanya Syila ingin melihat buku apa yang sedang Izraa baca, buku itu ada di dadanya terbuka dengan cover menghadap ke atas, ‘OUTLIERS, karangan Malcolm Gladwell’ buku yang bagus, dalam hati Syila berkata, saat dia akan beranjak ... magnet wajah polos Izraa membuat Syila semakin ingin melihat wajah itu lebih seksama, karena selama ini Syila tidak terlalu memperhatikan wajah itu.


Dia berjongkok mendekati Izraa yang tertidur di sofanya dalam posisi terlentang, tentu Syila hati-hati agar si pemilik wajah tidak bangun.


[Tampan sekali lelaki ini, astagfirullah!] Syila bangun karena kaget, kenapa dia tiba-tiba ada di dekat wajah Izraa dan hampir memegang wajahnya, memang benar katanya, kalau hanya berduaan saja, yang ketiga setan.


Saat selesai wudhu, Syila keluar dan bersiap memakai mukena.


“Cil.” Izraa memanggil dari depan.


“Ya?” Syila menjawab sembari mendekati pintu kamar, karena tadi dia wudhu di kamarnya.


“Ngapain kamu?”


“Mau siap-siap salat magrib, mau jadi imam?” Syila bertanya.


Izraa menatap Syila dengan tatapan aneh.


“Kau, kan tahu, aku … tidak pernah melakukan itu.”


“Ya masa nggak bisa sama sekali, tidak pernah kan, bukan berarti tidak bisa.”


“Aku tidak pernah dan tidak bisa.” Izraa menunduk, baru kali ini dia melihat Izraa begitu kecewa pada dirinya.


“Yaudah, masih bisa nafas, kan? Masih bisa berdiri tegak, kan? Belajar, belum terlambat, kok. Yaudah gue salat dulu ya, abis itu, gue kasih lu buku lama gue tentang tata cara salat yang baik dan benar, salat wajib dan sunah, ok.” Syila lalu menutup pintunya dan mulai salat.


Saat sudah selesai, dia kembali memakai jilbab bergonya dan mencari buku yang sudah dijanjikan untuk Izraa.


“Nih, untung masih gue simpan di sini, kadang salat sunah suka lupa tata caranya, biasanya kalau buku yang udah nggak dibaca, gue simpan di gudang apartemen ini. Elu beruntung.”


Izraa mengambil buku yang cukup tebal itu.


“Tapi lebih bagus, kalau belajar agama, ada gurunya, Ustad gitu, biar nggak salah paham. Mau gue kenalin sama Ustad yang gue kenal?” Syila menawarkan bantuan.


“Nggak, gue ….”

__ADS_1


“Malu? Bintang top, kok, nggak bisa salat.” Syila tertawa terbahak-bahak.


“Lucu?” Izraa kesal, Syila lalu menutup mulutnya, dia tidak sadar kalau tadi sudah keterlaluan.


“Sorry. Nggak ada kata terlambat, lagian Ustad yang gue kenal, nggak lemes kok mulutnya, mereka mengerti kalau imej kalian sebagai artis itu penting. Gimana?”


“Elu aja yang ajarin gue, kan, elu sering salat tuh, masa nggak bisa ngajarin?”


“Bisa sih, yaudah, tapi jangan sekarang ya, capek, lu baca-baca dulu, pelajarin, setelah itu besok baru kita mulai. Lu praktekin di depan gue, kalau salah, gue benerin, kalau Alfatihah hafal dong? Itu soalnya ayat paling penting dalam salat.”


“Hmm, tau deh, mungkin masih.”


“Astagfirullah! udah, hafalin dulu deh bacaan salat hari ini, besok kita belajar salat, ya.”


“Ok, makan malam dulu ya, laper.”


“Laper? Yaudah gue masakin ya.”


“Bisa?”


“Bisa dong, mau makan apa?”


“Apa aja, yang penting enak.”


“Ok.” Syila lalu ke dapur dan mulai masak.


Setelah dua puluh menit mereka sudah di meja makan apartemen Syila.


“Serius?” Izraa menunjuk mangkoknya.


“Kenapa? enak kok, cobain dulu.”


“Ya pasti enaklah, orang mi rebus pake telor sama sawi doang!” Izraa kesal, dia sudah membayangkan ketika Syila bilang bisa masak, paling tidak dia akan menyajikan yang lebih baik lagi daripada sekedar mi rebus pakai telor dan sawi.


“Udah makan, banyak orang kelaparan di luar sana, jangan banyak ngeluh.” Syila mulai makan.


“Serius makan malam pertama kita cuma sama mi begini?” Izraa masih kesal.


“Hmm, enak kok.” Syila tersenyum, senyum itu membuat Izraa akhirnya terdiam dan mulai makan, paling tidak dia bisa melihat wajah itu, wajah yang membuat dirinya bisa merasakan gejolak emosi yang dalam.


Apa ini yang orang sering bilang sebagai perasaan cinta? Kata yang masih Izraa belum bisa temukan karena kebingungan, kebingungan mendefinisikan rasa yang dia hadapi saat ini.


Izraa pamit pulang setelahnya, sudah cukup malam, Izraa ingin menginap, tapi tentu saja Syila takkan membiarkan itu terjadi, terlalu lama dengan Izraa bisa membuatnya menjadi kurang waras.


Setelah Izraa pulang Syila sibuk membereskan apartemennya, setelah semua beres, Syila duduk di sofa dan mengambil bantal sofanya, saat dia memangku bantal itu, perlahan dia mencium bantal itu, wangi Izraa tertinggal di sana, Syila baru ingat, tadi Izraa tidur di atas bantal ini, sebentar dia tersenyum mengingat moment Izraa tertidur, lalu sadar, dia tidak boleh terlalu tenggelam dalam hubungan gila ini.


Tapi Syila sempat berpikir, sudah sampai belum ya Izraa di rumah, ini malam hari, perasaan khawatir yang dia rasakan sebenarnya wajar, untuknya saat ini Izraa seperti Juna, teman lelaki yang cukup dekat, setelah kunjungan ke apartemen Syila, sewajarnya Izraa mengabari kalau dia sudah sampai rumah.


[Katanya doang pacaran, masa prinsip dasar pacaran nggak ngerti, mengabari!] Syila berkata dalam hati, lalu sadar, bahwa ini hanya hubungan sesaat yang terpaksa dia jalani, jadi untuk apa dia sibuk memikirkan Izraa sampai dengan selamat atau tidak.


Sementara Izraa sudah sampai apartemennya juga, dia mandi dan setelahnya mencoba untuk tidur, tapi tidak bisa, wajah Syila terbayang lagi.


[Lama banget angkatnya.] Izraa video call.


[Kau pikir hidupku cuma melihat layar handphone?!] Syila sebenarnya sengaja menunda menerima panggilan Izraa, dia tidak ingin terkesan menunggu kabar dari Izraa.


[Setidaknya handphone sesuatu yang sangat penting, kan? taruh di dekatmu, supaya aku telepon, kau bisa langsung angkat!] Izraa protes.


[Loh, seharusnya yang marah itu aku, sudah satu jam lebih, kau tidak kasih kabar kalau sudah sampai, eh telepon malah marah-marah!]


[Kau menunggu kabarku?]


[Ti-tidak, kau sudah gila!] Syila tidak sadar keceplosan.


[Buktiknya kau bisa dengan tepat menyebutkan waktu, dari aku pulang sampai sekarang. Artinya, kau menungguku memberi kabar.] Izraa tersenyum licik.


[Aku kira wajar, kau baru saja dari apartemenku, lalu pulang, siapapun yang datang ke tempatku, saat pulang selau aku tunggu kabar, apakah sudah sampai atau belum, sama seperti Juna, Andi dan kakakku, tidak ada yang istimewa.] Syila membantah, raut muka Izraa berubah, jadi dingin lagi.

__ADS_1


[Kalau kekhawatiran itu disebut biasa saja dan wajar, aku bisa terima, Juna sahabat dari kecilmu, Andi sepupu sekaligus pengasuhmu, apalagi kakakmu, kalian punya hubungan darah, kalau aku, kau namai apa aku? Tidak ada nama yang pantas atas kekhawatiranmu, selain kekhawatiran seorang kekasih, bukan?] kata demi kata terdengar menghujam bagi Syila.


[Namanya adalah, rasa khawatir sesama manusia, itu namanya, sudah ya, sudah malam.] Syila menutup sambungan video call tersebut, dia tahu, telah memberikan alasan tidak masuk akal atas rasa khawatirnya, toh mereka berdua juga masih saja menyangkal perasaan itu.


__ADS_2