Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 62 : Pelaku Tamat


__ADS_3

“Kau masih mengenalku?” Izraa mendatangi rumah Fenita, tidak ada orang di sana selai Rey dan perawatnya serta beberapa pembantu.


Fenita bohong bilang kalau di rumah hanya ada adik dan perawat yang pulang harian, ternyata tidak, ada beberapa pembantu yang mengurus rumah dan makanan Rey, sedang perawatnya memastikan Rey baik-baik saja dengan semua alat penunjang hidup.


Perawat Rey percaya pada Izraa yang datang bilang kalau dia temannya Fenita.


Rey hanya menatap kosong ke depan, air liurnya menetes tanpa bisa dia kendalikan, itu pasti karena syaraf pada tubuhnya sudah tidak berfungsi.


“Ibunya Rey dan Fenita sedang tidak ada di rumah?”


“Ibu jarang pulang, pulang hanya jika ada keperluan, seperti mengambil baju dan dokumen, lalu pergi lagi untuk mengurus perusahaan, mengenai anak-anak, kami yang urus, untuk rumah dan makan, sudah ada yang mengatur, sedang untuk kesehatan Mas Rey, saya yang pastikan.


Gaji kami juga diatur oleh Asisten Pribadi ibu, kami tak berhubungan langsung dengan ibu.”


“Apa ibu tahu kalau Fenita sedang di penjara?” Izraa kembali bertanya.


“Di penjara? Mbak Fenita? Saya tidak tahu, apa perlu saya informasikan ke ibu?” Perawat itu bertanya dengan panik.


“Entahlah, bagaimana kalian biasanya menyampaikan informasi? Seharusnya ibunya Fenita tahu duluan sebelum siapapun.” Izraa kesal, ternyata ada yang lebih parah dari orang tuanya.


“Saya coba telepon Asisten Pribadi ibu dulu, mungkin dia sudah tahu, karena dia yang mengatur urusan rumah.”


Lalu perawat itu melipir ke arah dalam rumah, meninggalkan Izraa dan Rey, Izraa menatap Rey dengan tatapan iba, lalu berbisik.


“Aku sudah maafkan kau Rey, apapun yang kau sebarkan tentangku dulu, aku sudah maafkan. Yang manegemen lakukan padamu, aku tidak tahu sama sekali, aku juga bahkan tidak begitu peduli saat gosip tidak benar itu kau sebarkan, aku tidak peduli apa yang orang anggap tentangku.


Aku akan pastikan managemen bertanggung jawab padamu, karena ini semua atas ulah managemen. Soal kakakmu, maaf ... aku tak mampu memaafkannya, karena dia sudah mencelakai kekasihku, kekasihku seorang perempuan Rey, dia orang yang aku butuhkan saat ini dan kakakmu membuat dia celaka, aku mungkin bisa maafkan kakakmu jika saja yang dia celakai aku saja, tapi ini Syila, maafkan aku Rey, kakakmu harus dipenjara.”


Rey masih terdiam dengan tatapan kosong, tapi ada air mata yang mengalir di sudut kedua matanya. Mungkin dia paham, tapi tak dapat merespon, entahlah, Izraa hanya menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan.


“Aku sudah menghubungi Asisten Pribadi ibu, dia bilang tidak tahu kalau Mbak Fenita masuk penjara, sekarang mereka akan mencoba mencaritahu.”


“Keluarga yang unik, anaknya masuk penjara tidak tahu, pasti karena tidak pernah ada hubungan secara intens makanya tidak tahu saat anaknya masuk penjara, sungguh sangat unik. Baiklah kalau begitu saya pamit dulu ya.”


“Iya Pak, silahkan, hati-hati di jalan ya.”


Izraa lalu berjalan ke luar, Managernya ada di dalam mobil, tidak ikut masuk ke dalam, hanya di dalam mobil saja.


“Bagaimana keadaan Rey?” Manager itu bertanya sambil menyetir.


“Parah, tidak bisa merespon sama sekali. Tapi tidak lebih baik keluarganya, bahkan ibunya tidak tahu kalau anaknya masuk penjara.”


“Hah? kok bisa?”


“Entahlah, Asisten Pribadi yang mengurus rumah dan anak-anak mereka itu bahkan baru tahu setelah perawat Rey menghubunginya, itu juga karena aku yang beritahu, Fenita kemungkinan tidak menghubungi orang tuanya, dia mungkin memakai jasa Pengacara yang disediakan pemerintah. Mungkin dia takut pada ibunya, atau sudah yakin ibunya takkan membantu sama sekali walau dia beritahu.”


“Nggak heran sih anak-anaknya berandal gitu, orang nggak peduli.”

__ADS_1


“Kalau kayak gini, keluargaku terasa jauh lebih baik.”


“Ya, setiap orang punya masalah si Za.”


Telepon genggam Izraa berdering, dia mengangkatnya.


[Bos, Syila dipindahkan ke rumah sakit lain, mereka buru-buru dan diam-diam, tapi seperti yang Bos bilang, saya harus menguntit tanpa ketahuan, jadi mereka tidak sadar, rumah sakitnya cukup jauh, di luar kota, saya sudah kirim alamatnya melalui pesan singkat, lengkap dengan nama ruang perawatannya.]


[Ok, aku akan ke sana nanti, tapi jangan lepas pantauan ya, pastikan bahwa kau terus tahu di mana keberadaan Syila, aku harus mengurus dulu masalah di sini.] Lalu Izraa menutup teleponnya.


“Syila kenapa?”


“Dipindahin ke rumah sakit lain sama ibu dan kakaknya, ayahnya pasti menolak tapi dia kalah suara.”


“Hubunganmu dan Syila bagaimana?”


“Untukku, perpisahan bukan jalan keluar, takkan ada perpisahan untuk kami.”


“Kau cukup menakutkan Za, kau terlihat seperti Psikopat dibanding pacar.” Manager itu lalu tertawa dan melanjutkan mengendarai mobilnya.


Mereka menuju penjara.


“Aku sudah menemui adikmu, aku tahu dia siapa dan apa yang terjadi padanya.”


“Kau masih mencoba untuk menyangkal bahwa kau pelakunya? Kau menyangkal kau yang membuat adikku jatuh dari gedung itu? kau ....”


Managemen menanggapi apa yang adikmu lakukan dengan berlebihan, kecelakaan itu terjadi, lalu siapakah yang salah?


Managemen yang mencoba menjaga nama baikku karena kami punya target dan juga kerjasama yang harus dirampungkan, kau tahu bahwa banyak produk dengan nama besar yang bekerja sama dengan kami di mana mereka bergantung penjualannya melalui namaku, sehingga nama baikku hancur itu akan menjadi sebuah ancaman bagi perusahaan, bagi client dan juga nasib pada pegawai managemen.


Lalu ketika adikmu yang memfitahku harus ditangani managemen dan akhirnya celaka, itu juga bukan sesuatu yang dimaksudkan dengan sengaja, ditambah aku tidak tahu sama sekali soal tindakan keras yang dilakukan managemen pada Rey, maka kau tidak berhak membalas dendam padaku yang bahkan ... adalah KORBAN atas fitnah adikmu juga!


Fenita dengar ini baik-baik, aku sangat percaya padamu, Syila juga, kami bisa jadi akan mampu menjagamu kelak kalau saja kau bukan orang jahat, mungki kami akan menjagamu, tapi sekarang, kau membuat kekacauan dengan orang yang salah, aku akan pastikan, apa yang kau lakukan pada Syila dan aku, akan kau bayar dengan lunas dengan adil di pengadilan.


Ibumu mungkin sekarang sudah tahu, karena tadi aku ke rumahmu dan memberitahu kalau kau di penjara, aku juga ....”


“Kau lelaki brengsek! Kenapa kau melakukan itu padaku! kenapa kau memberitahu wanita itu kalau aku di penjara, dasar lelaki brengsek, kubunuh kau!” Fenita mengamuk, hampir saja tangannya mencekik Izraa, tapi ada beberapa penjaga buru-buru menangkap tubuh Fenita.


Izraa hanya tertegun kalau Fenita ternyata juga benci ibunya, entahlah apa yang ada di keluarga itu, Izraa tak ingin terlalu ikut campur, sudah bukan urusannya, dia sudah menyerahkan kasus ini pada pengacaranya, dia minta Syila tak diikutsertakan dalam pengadilan, dia juga meminta pengacara mengurus ini semua dengan baik, pastikan Fenita dihukum sesuai dengan apa yang dia lakukan, Izraa perlu untuk menghubungi Bang Aryo sekarang, karena proyek film itu mungkin akan membuat Syila kembali tenang dan mau berbicara dengan Izraa lagi.


...


“Jadi, sekarang elu udah mau lanjutin filmnya?”


“Bang, ayolah, gue korban penipuan, sorry, korban kejahatan.”


“Satu hal yang mungkin elu dan banyak lelaki nggak tahu, kalau feeling perempuan yang cinta sama kita itu, selalu benar dan presentasi salahnya sangat tipis.

__ADS_1


Syila udah kasih tahu kalau elu berlebihan sama perempuan itu, gue bahkan sedih saat lu bilang dia egois dengan mempertahankan film dan maksa lu buat lanjutin agar film menjadi sempurna, tapi Syila masih terus mencoba menolong lu, sekarang cuma keajaiban yang bisa bawa Syila balik lagi sama lu.” Bang Arti sang Sutradara tahu kalau Fenita wanita yang menjadi pertengkaran terakhir antara Izraa dan Syila itu adalah penjahat. Lalu sekarang Syila bahkan dirawat.


“Syila kemarin telepon gue, dia mau pending peluncuran film, dia akan bayar pinalti, dia bilang ini hanya ditunda saja, jadi dia akan bayar pinalti penundaan, dia minta gue buat hitungin berapa kira-kira yang harus Syila bayar, gue bilang mungkin jumlahnya fantastis karena ini akan menjadi kerugian bagi PH, tapi Syila bilang tidak ingin meluncurkan film di tengah begitu banyaknay insiden.”


“Aku akan bantu selesaikan filmnya Bang, kan ini cuma tinggal menambal beberapa hal yang tidak sempurna lalu masuk kembali ke ruang editing kan? Ayolah Bang, justru banyaknya berita ini, kami korban kejahatan, bisa jadi situasi yang cukup ramai karena nama kami selalu dibicarakan, akan baik sebagai promo film, hanya tinggal lepas di pasar, film ini bahkan tidak perlu cari massa karena kami sudah ada di kondisi dibicarakan oleh massa itu sendiri, Bang, ini bisa jadi momentum.”


“Ini yang sebenarnya gue pikirin Za, tapi Syila gimana?”


“Ini kan mimpi Syila Bang, jadi ... aku mohon bantu aku ya.”


“Gue pikirin dulu deh, tapi mungkin kita tak boleh ganggu Syila, dia akan sangat marah kalau tahu kita melanjutkan tanpa meminta izin dari dia.”


“Marahnya akan reda, kalau kita sukses naikin filmnya jadi box office di negara ini, jadi, jangan ragu Bang, lu tahu kan, kisah dari novel best seller dimainkan oleh aktor ternama dan PH yang terkenal menelurkan karya besar, ini momentum Bang, kita nggak boleh lewatin.” Izraa mencoba mempengaruhi Aryo agar setuju, Aryo terlihat bersemangat.


...


“Lu bilang sama Izraa kalau kita bakal nikah, karena itu syarat yang gue ajuin ke elu!” Juna datang ke rumah sakit, tentu rumah sakit yang baru, di mana Syila dipindahkan.


“Iya.”


“Tapi kan ... syaratnya bukan itu!” Juna kesal karena kemarin dia dihajar oleh saudaranya, Izraa datang dengan wajah memerah karena marah ke kantor milik Juna, bahkan Juna harus berteriak agar para pegawainya membela dia dari Izraa yang memang tidak pernah memberi ampun pada siapapun yang mencoba merampas miliknya, apalagi yang mencoba merampas adalah saudaranya sendiri.


“Aku hanya tidak ingin dia menemuiku dulu, aku harus fokus pada tanganku, aku ingin menulis lagi. Lagi pula, kau tidak ingin menikah denganku?” Syila bertanya tanpa perasaan, hanya lontaran pertanyaan yang dingin.


“Aku ingin menikah dengamu, tapi jangan menikah denganku karena kau merasa buntu! Bahkan kau berkata dengan mudah seolah pernikahan itu seperti janjian nonton bareng saat kita masih SMA. Aku muak melihat ekspresi itu, bagaimana mungkin aku bersetubuh dengan wanita yang menikah denganku hanya agar pacarnya menjauh, kau membuat harga diriku jatuh berantakan kalau begitu.”


“Jadi lamaraku ditolak?”


“Syila!” Kesal sekali rasanya Juna mendengar sahabatnya menyepelekan pernikahan.


“Lagian, kau memberi pinjaman sebanyak itu, hanya minta temani makan malam bersama para clientmu akhir tahun ini, sungguh permintaan yang sangat mudah.”


“Kau kan hanya pinjam uangnya Syil, bukan minta, jadi sebenarnya memberi syarat pun, itu sudah kejam sebagai seorang sahabat, makanya aku minta yang mudah saja. Toh uangnya akan kau kembalikan, pada kenyataannya, malah uang itu sama sekali tak terpakai.


Lalu soal hari itu, ketika kau akhirnya di tusuk Fenita, aku sungguh marah pada perjanjian yang kita lakukan atas nama orang tua kita, kau memintaku berjanji untuk keluar dari tempat itu jika terlalu bahaya, kau memintaku lari jika kau kenapa-kenapa untuk meminta bantuan Polisi, aku benar-benar merasa pecundang saat itu.”


“Kok gitu sih Jun! justru karena kau, Fenita tertangkap, aku dan Izraa selamat, kau harusnya bangga, karena mampu menolong kami dan membuat wanita itu di penjara.”


“Ya, aku bangga sih sama diriku.”


“Huh, dasar lelaki narsis ... tapi kau benar-benar orang yang sangat bisa diandalkan, kau sahabat nomor satuku.”


“Kalau Izraa dan Andi?”


“Mereka kan bukan sahabat!”


“Terserahlah!”

__ADS_1


__ADS_2