
“Ini Sofia anak bungsu saya.” Semua mengangguk pertanda salam kenal.
Sofia, nama yang berbeda … wanita yang membuat kisah percintaan Syila dan Kevin kandas, wanita yang bahkan tidak tahu bahwa dia telah merebut kekasih seseorang.
Syila berdiri lalu pamit mau ke kamar mandi, dia tidak mampu menahan air mata, semua orang fokus pada kehadiran Sofia sehingga mengabaikan Syila.
Syila masuk ke kamar mandi, di ruang yang sama, seorang pelayan memberitahu lokasi kamar mandi itu.
Syila menutupnya, menyalakan kran wastafel dan mulai terisak.
Dulu wanita itu disebut Kevin bernama Winda, perempuan yang membuat hubungan Syila dan Kevin hancur, tapi bahkan Winda atau Sofia ini mungkin tidak menyadari bahwa, dia telah menjadi perebut kekasih orang.
Syila merapikan makeupnya dan segera keluar lagi, dia tidak ingin papi kesal karena dia terlalu lama di toilet.
Saat Syila kembali ke ruang tamu, dia melihat semua orang tertawa seperti membicarakan sesuatu yang sangat menyenangkan, bagaimana bisa Syila menutupi rasa sakitnya, jangankan tertawa, tersenyum pun terasa sulit.
“Syila duduk sini, Nak.” Tumben Papi manis.
“Ini Sofia, Om Hansyar dan Ibu, mereka adalah ketua yayasan tempat ayah dan kak Alzam kerja.” Sesi perkenalan Syila memang terlewat tadi.
“Iya, saya Syila Om, Tante, So … Sofia.” Syila menunduk, dia berusaha menahan perih.
“Halo Syila, kau cantik sekali.” Sofia berkata, sepertinya perkataan itu memang tulus.
“I-iya, halo Sofia.” Syila masih gugup dan canggung.
“Syila, Om dan Tante undang kamu dan keluarga ke sini, tidak sedang membicarakan bisnis, jadi santai saja.” Rupanya kegugupan Syila terlihat, bukan itu yang menyebabkan Syila gugup, tapi rasa sakit yang tidak ingin Syila tunjukkan.
“Iya Om.” Syila memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
“Tuan maaf, makan sudah siap.” Seorang Pelayan memberitahu, lalu Pak Hansyar mempersilahkan seluruh tamunya untuk makan siang.
Saat sudah di meja makan semua orang duduk sesuai arahan dari nyonya rumah, ruang tamu yang tidak jauh beda dengan rumah Syila, mereka memang berasal dari keluarga di kelas yang sama.
Pak Hansyar Ketua Yayasan Rumah Sakit Bumi Perkasa, sedang Papi Syila adalah Direktur rumah sakit tersebut, tak heran dia begitu ingin Syila menikah dengan anaknya Pak Hansyar, karena jika saja itu terjalin, maka hubungan bisnis akan sangat lancar, dulu dengan keluarga Juna pun, Papi memang hanya mengharapkan hubungan bisnis yang baik, karena papanya Juna bisa membawa Papi Syila lebih dekat dengan Ketua Yayasan, Pak Hansyar. Tapi gagal, nasib orang siapa yang tahu, sekarang Ketua Yayasan itu malah tertarik menjalin hubungan pribadi secara langsung, tentu gayung itu akan bersambut jika Syila bersedia.
Makanan yang terhidang di meja makan sangat enak dan mewah, makanan berasal dari Negeri sendiri memang berbeda.
“Syila, Om dengar kamu ada proyek film, ya?” Hansyar si Ketua Yayasan bertanya pada Syila.
“Iya Om, ini sih novel Syila yang dilamar untuk jadi film, bukan proyek Syila, tapi Proyek Production House, Syila hanya bergabung saja untuk memastikan film berjalan sesuai novelnya.” Syila merendah.
“Wah kamu Penulis hebat ya, Om dengar juga kalau semua novelmu selalu best seller.”
“Alhamdulillah Om.”
“Kan, novelmu sudah dilamar Production House, yang lamar kamu udah ada belum?” Tiba-tiba pembicaraannya bergulir ke arah yang menjadi tujuan awal pertemuan ini.
“Belum kok Pak, Syila ini agak selektif.” Papi yang menjawab.
“Bagus tuh, kita nggak boleh asal-asalan memang kalau mau memilih pasangan hidup.”
Syila tersenyum terpaksa, asal-asalan gimana, orang yang Syila cintai dan berharap dinikahi oleh orang itu direbut oleh anakmu Om, Syila bergumam dalam hati.
“Syila, Om dan Tante boleh bicara secara pribadi denganmu setelah makan?” Wah Hansyar ini benar-benar seorang lelaki yang tidak suka buang waktu, Syila gelagapan ditanya begitu.
“Hmm, terserah Papi aja Om.” Syila akhirnya hanya bisa mengatakan itu.
“Papi terserah Syila, tapi ada baiknya Syila mendengar dulu apa yang mau Om katakan mungkin berita yang baik.” Papi begitu, berkata tidak ingin memaksa, tapi bukannya menyelamatkan anaknya malah mendorong dengan perkataan yang diplomatis, Syila tidak ingin mempermalukan orang tuanya dengan menolak secara frontal, itu tidak sopan, Syila dididik untuk bersikap santun, walau tidak suka, hal yang tidak kita sukai tidak perlu diperlihatkan.
Setelah makan selesai, pasangan Hansyar pergi mengajak Syila ke ruang lain, Syila menebak itu kerja, sementara papi, mami dan Alzam pulang duluan, Syila sempat keberatan, tapi akhirnya dia mengalah, toh dia tidak akan celaka, ini hanya soal berbicara, Syila bisa menolak jika pembicaraan itu terlalu membuatnya tidak nyaman.
Saat masuk ruang kerja, Syila melihat ruang itu cukup besar, ada sofa mewah begitu pintu dibuka, Hansyar mempersilahkan Syila duduk, sementara Nyonya Hansyar menyiapkan kopi di mini bar yang terdapat di ruang kerja ini, mini bar tapi isinya kopi, Syila sempat tersenyum melihat itu.
“Syila maaf ya kalau kamu tidak nyaman, kita ngobrol santai saja ya.” Syila yang tadinya duduk lalu berdiri lagi, bermaksud untuk mendekati nyonya Hansyar, rasanya tidak enak, tuan rumah menyiapkan kopi sementara Syila yang masih begitu muda terduduk saja.
“Sini Syila bantu.” Syila mengambil kapsul kopi untuk mesin kopi yang ada.
__ADS_1
“Ya ampun anak baik sekali, duduk aja, kamu tamu, biar Tante yang siapkan.”
“Nggak apa-apa Syil, Tante suka kok buat kopi, mesinnya baru itu, makanya tamu selalu disuguhkan sekalian dia mainan.” Hansyar tertawa menjelaskan kelakukan istrinya.
Syila juga tersenyum dan duduk kembali di sofa sebrang Hansyar, sungguh pasangan yang harmonis, di usia senja ini masih mesra, seperti papi dan mami, impian Syila adalah memiliki suami yang mau menerima semua kelakuan Syila dan tidak pernah meninggalkannya, seperti mami yang tidak meninggalkan papi ketika terpuruk dulu karena masalah fitnah Mal Praktek itu.
“Syila kenapa kemarin akhirnya nggak jadi Dokter? Bukannya udah sempat masuk Fakultas Kedokteran?” Pertanyaan yang menyebalkan.
“Syila masuk Fakultas itu karena anjuran papi, Om. Tapi ternyata Syila tidak nyaman, Syila merasa bukan bidang yang bisa Syila tekuni.”
“Ya, orang harus menekuni bidang yang dia suka, maka akan menjadi cemerlang, seperti kamu sekarang, menjadi Penulis best seller dan akhirnya akan difilmkan bukunya.” Hansyar berkata, lalu nyonya Hansyar memberikan kopi kepada Syila, Syila mengambilnya sebelum gelas itu sampai di meja, sebagai tanda sopan santun.
“Ya, mungkin karena kamu melakukannya dengan hati,” timpal nyonya Hansyar.
“Mungkin seperti itu Om, Tante.” Syila meminum kopinya.
“Syila, Om punya anak lelaki,” ini nih, ini inti dari pembicaraan ini, sementara Hansyar masih berbicara, Syila sibuk memikirkan kata-kata untuk menolak perjodohan ini, “dia bukan seorang Dokter, dia orang yang baik dan cukup tampan, pekerja keras, cuma dia sedikit keras kepala.” Lanjut Hansyar.
“Ya Om.” Syila menjawab singkat dulu, toh belum ada kata pembuka perjodohan, siapa tahu ini hanya informasi, fikiran naif Syila bermain.
“Dia sudah cukup umur untuk menikah, makanya Om bermaksud untuk …. “
BRAK!!! Pintu masuk tiba-tiba terbuka dengan sangat kencang menerjan dinding, orang yang masuk seperti sengaja, masuk dengan tiba-tiba dan membuka pintu lalu membantingnya dengan kasar.
“Ngapain kalian memanggilnya ke sini!” Seorang pria masuk dengan kasar ke ruangan ini, Syila kaget dan bingung, siapa pria ini?
Pria ini berdiri lebih maju dari pandangan Syila, Syila berusaha melihatnya, dia hendak berdiri dan memegang meja agar bisa berdiri perlahan dan tidak mengganggu pertengkaran ini, tanpa sengaja, tangannya menyenggol gelas kopi yang ada di meja itu, posisi gelas jadi miring dan akhirnya kopi panas itu terkena tangan Syila yang menyenggol gelas, reflek Syila meringis.
“Aw! Panas!” Syila lalu mengibaskan tangannya untuk meringankan rasa panas itu.
“Syil! Panas?” Lelaki itu memegang air kopi yang masih tersisa di gelas yang miring itu, “iya panas! Astaga! Sakit? Perih?” telapak tangan Syila yang mulai melepuh itu dipegang oleh lelaki ini dengan hati-hati dan dia menarik Syila ke kamar mandi yang ada di ruang kerja, dia membasahi tangan Syila yang melepuh dengan air mengalir dari wastafel.
Setelah sudah merasa luka lepuh itu lebih ringan, lelaki ini menarik Syila lagi ke sofa tempat dia duduk tadi, Hansyar dan istrinya masih terpaku melihat lelaki ini.
“Gel luka bakar Mi, mana gelnya!” Lelaki ini sedikit meninggikan suara pada Nyonya Hansyar, karena kesal melihat Nyonya Hansyar masih bengong.
Lelaki itu membuka penutup tube gel itu dan mengeluarkannya, lalu dengan hati-hati mengoleskan gel itu, Syila meringis.
“Sakit ya?” Lelaki ini bertanya, dia masih terus meniup tangan Syila setelah mengoleskan gel itu, wajah khawatirnya terlihat sekali, bahkan tangannya bergetar karena menahan kesal melihat Syila terluka.
“Nggak apa-apa, cuma luka kecil kok.” Syila membiarkan pria itu merawat luka bakarnya.
“Lagian kenapa bikin kopi panas-panas sih, Mi! seharusnya tuh, kopinya ….”
“Za, hei, aku memang ingin kopi panas, bukan salah Tante Hansyar kok. Lagian salah aku juga, tadi kesenggol tanganku gelasnya.” Ya, Izraa adalah pria ini, yang menerobos masuk dengan kasar dan memanggil Hansyar dan istrinya papi dan mami.
“Kan, aku udah bilang! Kamu tuh hati-hati, terlalu ceroboh kamu!” Izraa kali ini memarahi Syila, walau bibirnya masih saja meniup-niup telapak tangan itu agar perihnya berkurang, Syila hanya cemberut karena dimarahi.
“Iya maaf.” Syila akhirnya hanya bisa mengatakan itu.
“Kita perlu ke Dokter nggak sih? Ini bisa bahaya nggak ya?” Izraa bertanya pada papinya, Pak Hansyar mendekati mereka dan melihat tangan Syila.
“Za, cuma luka bakar ringan kali, jangan bikin malu ah.” Syila protes, tangannya diraih oleh Pak Hansyar.
“Kamu lupa, kamu gunain tangan ini untuk nulis loh! Kalau kenapa-kenapa, kamu bakal pensiun dari nulis, emang bisa? Bisa kamu nggak nulis lagi? Bisa masuk rumah sakit jiwa kamu, setiap hari kerjanya cuma di depan laptop sambil nulis, nggak kebayang aku, kamu bakal kayak gimana stressnya kalau nggak bisa nulis lagi.”
“Ih amit-amit Za!” Syila mengetuk-ngetuk kepalanya pertanda menolak sial.
Sementara pria dan wanita separuh baya itu hanya terdiam melihat dan mendengar Izraa dan Syila berkata, mereka terlihat terkejut, tapi juga terlihat haru, tatapan apa itu, Syila melihat tatapan aneh, bahkan Nyonya Hansyar seperti menahan air mata yang akan jatuh, mata mereka terlihat berkaca menatap Izraa.
“Kak!” Suara wanita, Sofia memanggil Izraa dengan sebutan Kakak.
Sofia mendorong kursi rodanya mendekati Izraa dan memeluk kaki Izraa karena dia di kursi roda, sehingga hanya bisa meraih kaki Izraa, Syila aneh melihatnya.
Izraa berbalik melepas tangan Sofia dan membungkuk agar posisi mereka sejajar.
“Katanya udah gede, masa nangis gini, cengeng.” Izraa dengan lembut mengusap kepala Sofia, sementara tangis Sofia semakin kencang dan memeluk Izraa dengan erat.
__ADS_1
“Dih, nggak malu kamu, nggak berubah, masih cengeng dan jelek.” Suara Izraa bergetar, dia sepertinya menahan luapan emosi melihat Sofia dan dipeluk oleh adiknya ini.
“Yaudah, Kakak anter Syila pulang dulu ya, jangan cengeng, udah gede juga.” Izraa melepas pelukan itu, Sofia terlihat tidak rela melepaskan pelukan, tapi dia tahu tidak boleh memaksa Izraa.
Izraa merangkul Syila dan menariknya keluar, saat melewati Sofia, tangan Syila yang tidak terluka ditahan, Sofia lalu berkata dengan lembut dan sendu.
“Terima kasih ya Syila.” Ucapan yang membuat Syila bingung, tapi tetap ada rasa sakit saat melihat wajah gadis ini. Syila mengangguk untuk membalas ucapan terima kasih Syila.
Mobil Izraa sudah ada di depan pintu rumahnya, Izraa membukakan pintu mobil dan memastikan Syila masuk dengan aman. Hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya, rasa khawatir itu ternyata benar adanya.
Lalu setelahnya Izraa masuk ke mobil dan mulai berkendara dengan tanpa berbicara.
Sebenarnya Syila punya banyak pertanyaan, tapi dia tidak ingin bertanya sekarang, takut Izraa marah, tangannya juga masih terasa perih, kopi itu memang panas sekali, akhirnya mereka berdua tetap diam menuju rumah Syila.
Setelah tiga puluh menit berkendara, akhirnya mereka sampai, pintu gerbang dibuka oleh pelayan keluarga Syila, saat sudah masuk mobilnya, Izraa segera keluar mobil dan membukakan pintu mobil untuk Syila menggandengnya menuju pintu masuk.
“Za udah, sampai sini aja ya, aku takut papi liat, nanti dia ngamuk, maaf ya.” Syila menahan Izraa ikut masuk ke dalam.
Syila melihat wajah Izraa kesal, tapi akhirnya dia mengangguk.
“Yaudah masuk sana.” Izraa menyuruh Syila masuk, Syila patuh, saat akan membuka pintu, ternyata ada orang dari dalam yang juga membuka pintu.
“Cil, udah pulang?”
“Papi!” Syila terlonjak kaget melihat papinya, dia takut, karena Izraa masih di sini, belum pergi, bisa habis hidup Syila dimarahi papi.
“Oh ada Izraa, masuk dulu yuk.” Kok, perlakuannya beda? Syila mulai paham, pasti gara-gara papi udah tahu Izraa anak siapa. Syila kesal melihat papinya, dia terlihat matrealistis sekali.
“Izraa mau kopi?” Papi menawarkan masih dengan kata-kata lembut.
“Tidak, terima kasih Om, air putih saja.” Izraa menolak, sikapnya canggung.
“Pi! Izraa capek, mau pulang aja katanya.”
“Lah, orang capek suruh cepet-cepet pulang, istirahat aja dulu di sini ya.” Syila semakin kesal dengan sikap papinya.
“Om, tadi Syila kena kopi panas tangannya, minta tolong cek ya Om, takutnya besok lukanya makin parah, biar nanti kita bawa ke rumah sakit kalau makin parah.” Izraa tetap fokus pada tangan Syila.
“Ah cuma kena kopi, dia mah strong kok, tenang aja ya, kita juga ada obat luka bakar, sini coba liat,” papi melihat luka Syila yang memang dibiarkan terbuka, “ini mah luka kecil, sembuh beberapa hari juga.”
“Tuh kan, Izraa emang lebay nih, masa tadi om sama tante Hansyar ampe dimarahin, nggak boleh tahu!” Syila memarahi Izraa dengan lembut.
“Dia artinya khawatir sama kamu, hargai itu.” Papinya tersenyum melihat Izraa, Syila semakin bergidik melihatnya.
“Pi, udah biarin dia pulang, kamu capek mau buru-buru pulang kan, Za?”
“Iya, saya pamit ya Om.” Izraa lalu segera keluar, setelah menasehati Syila dengan banyak wejangan, seperti jangan lupa mengoleskan gel beberapa jam sekali, minum obat pereda nyeri dan serentetan pesan lainnya, Syila hanya mengangguk-angguk, papinya juga tersenyum saja.
Setelah mengantar Izraa ke mobil dan melihat Izraa keluar gerbang, papi dan Syila masuk ke dalam rumah.
“Cil, kamu sama Izraa masih pacaran kan?”
“Udah putus, kan, Papi yang suruh.” Syila menjawab seenaknya.
“Balikan aja lagi, ya, Papi sekarang dukung.”
“Ogah, masa aku minta balikan, dimana harga diriku?” Syila dan Izraa tentu masih dalam perjanjian pacaran itu, tapi dia tidak ingin papi tahu, makanya jawab asal saja.
“Kalau kamu suka dia dan mau sama dia, Papi setuju kok, serius deh, Izraa anak baik, lihat dia bahkan jagain kamu loh, kena luka bakar dikit gitu aja dia paniknya kayak gimana, dia pria yang tepat untuk kamu loh.”
“Pi, dianya yang tepat atau Om dan Tante Hansyarnya yang tepat?” Syila menatap papinya dengan tatapan tajam, lalu setelah itu pergi ke kamar, papinya terdiam mendengar itu.
Setelah membersihkan tubuhnya, Syila berbaring di tempat tidurnya, dalam pikirannya dia merasa aneh, kenapa Izraa tadi menahan tangis di depan Sofia?
Kenapa om dan tante Hansyar juga menatap Izraa dengan sendu?
Pikiran-pikiran tentang perasan Izraa membuat Syila lupa tentang Sofia atau Winda yang dulu membuat hubungannya dengan Kevin kandas saat sedang cinta-cintanya.
__ADS_1