
“Di sini dulu ya.” Izraa mendudukkan Syila di sofa yang baru saja di taruh di ruangannya. Izraa menaikkan kaki Syila agar dia nyaman dan tak lupa membuka sepatunya, “ ini minum dulu air putihnya.” Izraa mengambil gelas yang ada di sana, gelas Syila minum, Syila mengambilnya dan minum.
“Maaf, aku terlihat lemah, aku ....”
“Tidak ada yang memintamu untuk kuat, jadi tak masalah.”
Jane mengetuk pintu ruang kerja Syila dan hendak masuk.
“Bukankah aku memerintahkanmu untuk menunggu di ruanganku! Kenapa kau malah ke sini! kau ini tuli atau bodoh!” Izraa berteriak pada Jane, Syila memegang tangan Izraa, maksudnya jangan terlalu kasar, karena Jane biar bagaimanapun adalah perempuan.
“Ma-maaf pak.” Jane lalu keluar dan menunggu di ruangan Izraa yang bahkan belum ada apapun di sana, belum ada meja ataupun bangku, karena saat ini yang didahulukan adalah ruangan Syila.
“Lanjutkan pekerjaanmu, aku istirahat sebentar dan akan mulai kerja lagi,” Syila berkata. Dia juga mendorong Izraa agar tubuhnya tak terlalu dekat lagi, sedari tadi dia membiarkan izraa begitu dekatnya agar bisa melindungi dia, karena Syila butuh itu. Tapi sekarang dia tak butuh.
“Tidak, kau harus makan dulu, aku sudah minta Andi untuk memberitahu restoran untuk menyiapkan makanan yang kau suka, mungkin sebentar lagi akan diantar.”
“Tidak, aku tidak lapar.”
“Kalau kau tidak lapar, lalu kenapa kau ke bawah?” Izraa bertanya.
“Karena aku ingin ke sana, aku ingin ke restoran itu lagi, rasanya menyenangkan berada di tengah orang-orang, tapi aku tak pernah berpikir kalau mereka akan menyapaku dan memaksa untuk ....”
“Berkenalan?” Izraa menebak kelakuan ibunya, dia pasti menyuruh seluruh Direktur perusahaan untuk makan di sana, padahal biasanya mereka tak pernah makan di sana, ibunya sengaja meminta seluruh Direktur untuk berkenalan dengan calon menantunya, membuat calon menantunya terkena serangan panik karena tidak bisa menyambut uluran tangan Direktur keuangan yang pertama kali memperkenalkan diri.
“Ya, bagaimana kau tahu?”
“Kau pikir ini pekerjaan siapa?”
“Ibumu?”
“Siapa lagi? ratunya di sini kan dia.”
“Dia tak suka padaku?”
“Mungkin, entalah.” Izraa menatapnya dengan penuh khawatir.
“Kenapa?”
__ADS_1
“Apa kau akan menyerah jika dia tak menyukaimu?”
“Aku hidup bukan untuk memenuhi ekspektasi orang, aku hidup untuk diriku sendiri, aku tak peduli, aku suka pekerjaan ini dan aku akan tetap pada pendirianku, perusahaan ini akan jadi milikku.”
“Gadis pintar, kalau begitu, aku lanjutkan pekerjaan, kau istirahat ya, makalah, aku mohon, kalau tidak, aku akan di sini dan menyuapimu.”
“Ok, aku akan makan, jangan coba-coba melakukan hal yang mengerikan macam itu ya!” Syila makin mendorong Izraa.
Izraa tersenyum dan keluar, Andi baru saja tiba di lantai itu, karena lift tadi mengantri, makanya dia lama.
“Bagaimana Syila?”
“Baik-baik saja, biarkan dia istirahat dulu, nanti makanan diantar ke sini kan? Kau sudah minta restoran bikin makanan kesukaan dia kan?”
“Iya, tadi aku sudah minta, sekarang kau tenang saja, aku akan lanjutkan pekerjaan.” Andi lalu pergi bersama tukang furniture lagi. Karena tadi tukang itupun makan di kantin perusahaan dengan voucher yang diberikan oleh Jane, semua karyawan dapar voucher untuk makan siang, sebagai tanda berapa banyak pegawai yang makan, berimbas pada stok bahan makanan dan juga biaya yang harus dikeluarkan untuk makan karyawan selama satu bulan.
Izraa masuk ke ruangannya, Jane terlihat khawatir.
“Kau bukannya aku suruh untuk menanyakan pada Syila dia ingin makan apa? kenapa kau malah membawa Syila ke restoran itu?”
“Apa perintahku kurang jelas? Aku bilang padamu, kalau tanyakan pada Syila dia mau makan apa, kau itu kan lulusan universitar ternama, lalu kenapa tanggung jawab sesepele ini kau tak bisa penuhi? Kau harusnya bilang pada Syila bahwa, aku memintamu untuk bertanya, bukan untuk mengantar ke bawah, takutlah pada perintahku, sedang setiap keinginan Syila, penuhi HANYA JIKA! AKU YANG IZINKAN! PAHAM!” Izraa menekan kata-katanya.
“Iya Pak, maaf, saya akan lebih baik lagi selanjutnya!” Jane menunduk dan memohon.
“Aku akan minta HRD untuk memberikan surat peringatan pertama padamu, untukku ini fatal, kau mempermalukan Syila, sungguh surat peringatan itu tidak ada apa-apanya dibanding apa yang Syila rasakan, setelah melihat dia berlari ke kamar mandi, kau bahkan masih bisa makan dengan Direktur keuangan itu! sungguh kau itu luar biasa tak berpikirnya!”
“Maaf Pak, itu karena Ibu Syila tak mau berjabat tangan dengan Direktur keuangan dan langsung berlari ke kamar mandi, aku mencoba untuk menanangkan Direktur itu agar tidak marah pada Ibu Syila, makanya aku duduk makan dengannya dan ....”
“KAU PIKIR SIAPA DIREKTUR ITU! siapa dia, sampai harus kau tenangkan? Dia itu pegawai perusahaan ini, kami menggajinya, sedang Syila, kau pikir siapa dia? hingga kau lebih memilih menenangkan Direktur keuangan dibanding Syila, mungkin besok Syila akan memimpin seluruh sekertaris di perusahaan ini dan dengan mudah mendepakmu, kau tidak paham juga posisinya di sini setelah semua yang aku arahkan?” Izraa sungguh geram, betapa bodohnya sekertaris ini, sungguh benar sikap Syila yang membuatnya merasa rendah diri di hari pertama, karena Jane jelas tak menganggap Syila sebagai bosnya.
“Baik Pak, maaf. Selanjutkan akan saya pastikan kalau hal ini takkan pernah kejadian lagi.” Jane bersikap lebih profesional sekarang, hal yang sebenarnya harus dia lakukan sejak lama, bukan bersikap centil pada Izraa, seolah lemah, ini bukan drama wanita miskin ketemu lelaki kaya, oh ayolah.
Jane keluar dengan pandangan kosong dan tertunduk.
Andi masuk ke ruangan Izraa.
“Wanita itu ular, dia tidak mencegah kami sama sekali untuk ke bawah, Syila bahkan sempat bertanya padanya, apakah di bawah banyak orang, lalu wanita itu bilang, tidak terlalu banyak, tapi ada beberapa orang saja.”
__ADS_1
“Dia memang ular, maka Syila harus menginjak kepalanya dan mengeluarkan bisanya, aku takkan membiarkan dia lolos begitu saja karena hari ini, ceritakan padaku apa yang terjadi hingga kalian ke bawah?” Izraa meminta Andi bercerita dengan lengkap.
“Jadi begini ....”
SATU JAM YANG LALU
“Bu, mau makan apa? Nanti saya minta restoran siapkan.” Jane masuk ke ruangan Syila saat dia sedang bekerja.
“Aku ingin makan di sana, apa di sana ramai?” Syila bertanya, sementara tiba-tiba Andi datang karena ada hal yang ingin dia tanyakan.
“Hmm, tidak ramai bu, hanya ada beberapa orang saja.”
“Ndi, makan di bawah yuk, sekalian jalan-jalan ke bawah, lagian nggak banyak orang.”
“Ok, yuk.” Andi dan Syila ditemani Jane ke bawah menggunakan lift VIP.
Begitu sampai restoran, betapa terkejutnya Sila karena ternyata banyak sekali orang di sana.
Seketika ruangan hening begitu Syila masuk, dia sungguh merasakan situasi yang tidak enak, dia merasa menjadi sorotan.
Syila perlahan mundur untuk keluar sembari mengangguk-angguk tanda sopan santun, tapi terlambat, Direktur keuangan, meja makannya yang paling dekat dengan Syila berdiri dan buru-buru mendekatinya.
“Halo Bu Syila, saya Barry, Direktur Keuangan, salam kenal ya.” Lelaki itu menyodorkan tangan, Syila terdiam memandang tangan itu, dia tak bisa menyambutnya, tentu saja! Tangannya kan, cacat!
“Bu, ini adalah Pak Barry, dia dua kali mendapat penghargaan sebagai Direktur dengan KPI tertinggi dan membawa perusahaan ini sebagari perusahaan yang ....” Jane mencoba menjelaskan, senyum liciknya terlihat samar.
“Aku harus ke toilet dulu, maaf, permisi.” Syila berlari meninggalkan tangan Barry yang masih terulur itu. Andi mengejar Syila dan berhenti saat Syila masuk ke kamar mandi wanita.
Jane lalu menyambut uluran tangan Barry, “Terima kasih Pak, maaf ibu Syila harus begitu urgentnya ke kamar mandi, boleh saya bergabung makan dengan Bapak?” Jane berpura-pura mencoba menyelamatkan muka Syila, padahal dia puas, karena membuat orang penting di perusahaan ini tersinggung. Menurutnya ... Dia lupa, kalau ini perusahaan milik keluarga Izraa, maka seluruh Direktur hanyalah pegawai bagi keluarga itu, sama seperti dirinya.
__________
“Jadi, dia bohong soal orang-orang yang kami lihat di restoran itu, sebelum aku memerintahkannya untuk bertanya pada kalian mau makan apa?”
“Ya, dia berbohong, kalau dia bilang di restoran banyak orang dan kau meminta kami makan di atas, kami takkan pernah turun, kasihan sekali adikku, dia jadi musuh setiap wanita yang merasa mampu memilikimu.” Andi mengatakan itu dengan sinis dan pergi.
Sungguh Jane membuat Izraa marah, tapi dia tahan, ada satu wanita lagi yang harus dia peringatkan!
__ADS_1