Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 103 : Jebakan 14


__ADS_3

“Hei, sudah sampai ....” Andi menegur Syila yang baru saja sampai di kantor, tapi Syila melengos tanpa menjawab, membuat Andi dan Jane sedikit terkejut, sudah cukup sore sebenarnya, Syila tadi lama menunggu taksi onlinenya. Cukup sulit dalam keadaan tangan yang tak berfungsi. Syila sungguh kesal, seharusnya bilang kalau memang tak bisa antar sampai kantor, kenapa dia malah meninggalkan begitu saja, ini sungguh tak bertanggung jawab.


“Hei! kenapa sih?” Andi ke ruangan mereka berdua, Syila duduk di meja kerjanya, ingin segera bekerja tapi dia baru ingat kalau laptopnya ternyata masih di mobil Izraa, bodoh sekali dia, seharusnya dibawa tadi, tapi kan, sulit membawa tas laptop dengan tangan yang tak berfungsi, Syila semakin kesal.


“Izraa ninggalin gue!”


“Hah? kalian udah jadian trus putus, sekarang Izraa ninggalin kamu?”


“Nggak usah ngaco!” Syila kesal karena Andi nggak nyambung.


“Trus ditinggalin gimana?”


“Ya, dia tuh tadi setelah acara review serial, langsung pergi gitu aja, ninggalin gue sendirian, pas gue telepon dia baru bilang mau ketemu client dan nggak bisa antar ke kantor karena arahnya berlawanan.”


“Oh, gitu.”


“Kok! Nggak gitu aja loh Ndi! Ini tuh fatal nggak sih! bayangin deh, kalau gue kenapa-kenapa gimana? kok bisa sih dia seenaknya ninggalin gue?” Syila kesal lagi.


“Kau kan bisa telepon aku atau pakai taksi online, atau telepon papi, atau telepon Alzam, kenapa seolah kau tak punya siapa-siapa dan hanya punya Izraa?” Andi sekarang yang kesal.


“Tidak, bukan begitu maksudku, seharusnya kalau dia bilang dia nggak bisa antar sampai kantor, nggak usah jemput juga, gue kan bisa palai supir dari rumah yang bisa nungguin gue sampai selesai kan? Sekarang gue ditinggalin gitu aja tanpa kabar!”


“Syil, elu kenapa deh? Lu kan udah gede, perkara dia pergi gitu aja, padahal dia nggak pernah begitu, pasti ada alasannya kan? misal client minta ketemuan mendadak, dia harus segera pergi, untuk ketemu client itu. Ingat ya, Syil, dia kerja untuk perusahaan kita loh, lagian, kalau dia lupa kasih kabar, berarti hal yang perlu dia lakuin itu cukup urgent, sampai elu dikesampingkan, elu nggak kepikiran itu dan terakhir, keselamatan lu, bukan tanggung jawab Izraa, tapi tanggung jawab, gue, papi dan Alzam, kami keluarga lu yang punya tanggung jawab itu!


Kenapa sekarang seolah hidup lu cuma ada Izraa aja sih, Syil? Gue yang jadi kesel nih!” Andi beranjak meninggalkan Syila yang baru tersadar.


Tadi dia memang sangat marah hingga tidak bisa memikirkan apapun selain menelpon Izraa, setelah itu dia akhirnya naik taksi online, dia tidak begitu terpikir untuk menghubungi yang lain, dia juga bingung, kenapa dia hanya menghubungi Izraa dan tak menghubungi keluarganya, kenapa dia ... ah sudahlah, ini pasti karena dia marah padanya, maka yang terpikir adalah orang yang membuatnya marah.


Syila akhirnya memakai laptop Andi untuk bekerja, sementara Andi masih banyak pekerjaan untuk semua furnitur yang kurang dan instalasi lainnya, bahkan AC di dapur saja baru difungsikan hari ini, karena AC gedung ini memang sentralisasi, bukan AC yang dipasang sendiri tapi disediakan gedung yang menempel pada atap, tidak bisa diatur oleh tenant, tapi jika ada lembur, tenant harus memberitahukan agar AC dan listrik tidak dimatikan dari pusat atau ruang kontrol di gedung ini.


Hingga akhirnya senja datang, setelah solat maghrib, Syila dan Andi bermaksud untuk pulang, Jane sudah kembali ke ruangannya di lantai lain, setelah solat selesai, Syila bersiap pulang, Izraa baru sampai, dia melihat Andi dan Syila bersiap pulang, mereka keluar dari ruangan Syila.

__ADS_1


“Za, kok balik lagi? kirain mau langsung pulang.”


“Nggak, ada beberapa kerjaan yang harus dikejar hari ini, clientnya minta cepat.” Tanpa menegur SYila, Izraa langsung masuk ruangannya, Syila melihat ke arah Izraa, hendak marah, tapi tidak jadi, karena ternyata dia benar sibuk.


“Tuh kan, dia beneran sibuk, lu nggak usah drama deh, macam bini muda takut suaminya kembali ke bini tua.” Andi bicara seperti itu, mereka sudah di lift VIP.


“Ndi!” Syila kesal, karena perumpamaan yang digunakan Andi, sungguh tak enak didengar.


“Yaudah, gue balik kalau begitu, kayak bini tua yang taku suaminya ke rumah bini muda, gitu maunya?”


“Ndi!!!” Syila memukul bahu Andi dengan tangan kirinya, tentu saja karena Andi ada di sebelah kirinya, kalau di sebelah kanan, Andi takkan bisa dipukul.


“Udah ah sakit, yuk.” Andi menarik tangan Syila dan mereka berdua keluar dari lift, tak sengaja bertemu dengan mami dan papinya Izraa yang juga baru saja hendak keluar dari pintu putar yang dibukakan oleh pengawal mereka, karena mami dan papi Izraa tak menggunakan kartu apapun, namanya juga bos, ya serba dilayani.


“Syila!” Mami langsung menyapa Syila dan menarik mereka berdua untuk bicara di kafe yang masih berada di gedung itu, tentu milik keluarga Izra juga.


“Bagaimana dengan perusahaan?” Mereka terpaksa duduk bersama untuk sekedar minum teh, tentu Syila minum kopi, padahal sudah lelah, tapi terpaksa harus beramah-tamah.


“Bagaimana dengan client yang Izraa temui tadi? Apakah kalian akhirnya mendapat proyek?” Mami bertanya lagi.


“Proyek? Hmm, proyek apa ya, Bu?” Syila tak paham.


“Izraa belum beritahu? Wah, aku seharusnya tak beritahu padamu dulu ya? mungkin Izraa ingin memberikan kejutan, wah aku sudah membuat rencana anakku gagal. Maaf ya.”


“Client apa ya, Bu?” Syila masih fokus pada identitas client itu, karena seharusnya bukan proyek, memang proyek apa?”


“Yasudah, kalau begitu mami dan papi keluar ya, eh maaf, bapak dan ibu keluar ya.” Mami dan papi meledek Syila yang masih bertahan memanggil secara profesional padahal semua orang tahu siapa dia dan Izraa.


Kedua bos itu pamit, meninggalkan Syila yang bingung dengan proyek yang dimaksud.


“Proyek apa sih, Ndi?”

__ADS_1


“Kalau lu nggak tahu, apa ada kemungkinan gue tahu? Udah ah, elu tuh mau dapet ya? aneh banget sih hari ini, penuh dengan drama.” Andi menarik Syila agar segera pulang, karena Syila terlihat marah-marah melulu dan curigaan.


Sementara mami dan papi masuk mobil, lalu mami menelpon Izraa.


[Kau belum beritahu soal proyek itu pada calon istrimu?] Mami bertanya.


[Belum, kenapa memang?]


[Sepertinya aku membuat kejutanmu berantakan.] Mami berkata dengan tenang, wanita pebisnis memang beda, sudah melakukan kesalahan pun, masih bisa santai dan tak panik.


[Kau memberitahunya?]


[Hanya clue saja, dia langsung sedikit marah, terlihat dari wajahnya.]


[Besok paling dia merengek diberitahu, yasudah, aku harus bekerja lagi.]


[Kau masih di kantor?] Mami bertanya.


[Ya tentu saja, aku harus selesaikan proposal.]


[Wah, luar biasa, sudah jadi pebisnis gigih anakku, rupanya, aku salut pada gadis itu, mampu membuat anakku menyukai bisnis, perusahaan itu ternyata bukan taman bermain, tapi sebuah tempat pelatihan yang tepat untukmu.] Mami terdengar bangga.


[Kututup teleponnya, lain kali jangan katakan apapun yang aku sedang kerjakan pada Syila.]


[Siap bos kecil, jangan lupa deadline-mu ya, kau harus segera menikah!]


Lalu mereka berdua menutup teleponnya setelah mami mengingatkan Izraa tentang pernikahan.


Sementara di jalan lain, Syila terlihat sedang gusar, dia tidak sabar ingin tahu, proyek apa yang dimaksud, lalu kenapa Izraa menyembunyikannya, kenapa dia tak bilang detail? Apa benar kata Andi, bahwa client yang dia temui sangat berharga hingga membuatnya bisa lupa mengabari Syila? Kalau begitu, Syila sudah salah duga dan dia merasa bersalah, itu yang Syila pikirkan saat ini.


Tapi dia tak bisa dapat jawabannya saat ini, karena tak mungkin menghubungi Izraa yang sedang sibuk sekarang, dia harus menunggu besok, tapi kok terasa lama ya.

__ADS_1


__ADS_2