
Hari ini jadwal workshop, bertemu seluruh Pemain film tapi lebih santai, membicarakan kendala dan berdiskusi mengenai masalah selama produksi yang sudah setengah jalan.
Syila datang tepat waktu, dia sudah melupakan kejadian dua bulan lalu soal pertengkarannya dengan Izraa, karena setelah itu, baik Izraa maupun Syila sudah paham tentang tujuan film ini, walau terkadang Syila memberi ruang untuk Izraa eksplorasi bagaimana seharusnya Peran Utama mengeluarkan emosinya dalam setiap adegan.
Hubungan mereka semakin akrab walau masih dikatakan jauh jika menandai hubungan mereka sebagai pertemanan, Syila tidak membiarkan baik Izraa dan siapapun mendekat lebih dari hubungan profesionalitas, cukup Juna dan Andi saja diluar keluarga intinya yang boleh dekat dengannya.
“Tapi kayaknya berdirinya seharusnya lebih jauh dong Syil, karena kalau seperti bukumu bilang bahwa ‘aku melihat kau di sebrang sana dan hanya bisa terpaku’. Aneh nggak sih kalau dialognya jelas posisi mereka jauh karena mewakili kata ‘sebrang’ itu, jadi kalau hanya terpisah satu meja, gue rasa kurang bisa men-delivery tulisan lu dengan baik Syil.”
Syila berfikir tanpa menatap Izraa, lalu berbicara, “Nggak kepikiran sih gue, tapi masuk akal asumsi lu, masih sejalan sama tulisan itu. Jadi menurut lu, saat di restoran itu, seharusnya elu berdiri di mana?” Syila bertanya.
“Di dekat pintu masuk.”
“Iya sih, bener juga itu bakal lebih dramatis, Bang.” Syila memanggil Sutradara.
“Napa?” Sutradara mendekati mereka, karena tadinya dia sedang duduk agak jauh.
“Bang, kata Izraa pas adegan 128 itu, pas dia ketemu Hanum di resto, seharusnya jangan cuma terpisah satu meja aja, tapi agak jauh sedikit, misalnya di depan pintu masuk resto, trus nanti lu buat semua orang blur dengan speed di atas si Peran Utama, sementara peran utamanya terlihat fokus saling memandang, wah keren banget ini sih.” Syila terdengar bersemangat, Izraa hanya fokus dengan dialognya lagi.
“Iya keren tuh Syil, Za, cobain besok deh.”
“Yah besok, gue nggak bisa dateng.” Syila kecewa.
“Lu sering banget absen sih, fokus dong.” Izraa terdengar kesal.
“Bukan gitu, gue ada urusan keluarga.” Syila memelas, terdengar cukup lembut, bukan hanya diucapkan ke Izraa tapi juga ke Sutradara.
“Ya terserah lu sih, tapi gue nggak mau diulang adegannya kalau menurut lu masih ada yang kurang.” Izraa benar karena itu akan buang waktu.
“Besok Syila sibuk pertemuan keluarga, udah jangan ganggu dulu.” Sutradara langsung mendelik begitu mendengar itu dari mulut Andi yang datang tiba-tiba, Syila lalu menunduk.
“Tunangan lu? Lamaran?” Sutradara langsung memburunya dengan kata-kata.
“Wah, selamat ya Mbak Syila, nggak nyangka, emang rencana nikah muda?” Hanum nimbrung, entah datang dari mana, seperti setan saja datangnya, tak dijemput dan diantar.
“Syila menatap Hanum dan tersenyum, mungkin.” Syila lalu tersenyum, Izraa tidak perduli, dia masih sibuk menatap dialog.
Tapi ketika Syila pergi, Izraa menatapnya dari belakang, si tuan cuek ini ternyata menangkap keraguan dan keberatan Syila akan pertemuan besok, dalam pikirannya dia mengingat bagaimana Syila dulu berteriak di telepon pada seseorang, saat bertemu dengannya di lift, Izraa tidak terlalu perduli sebenarnya, dia tidak memiliki perasaan pada Syila ataupun pada wanita lainnya, dia hanya penasaran.
Syila sudah pergi karena jadwal berikutnya, ini juga sudah malam, Izraa lalu mendekati Sutradara.
“Bang, take besok bisa ditunda nggak? gue ada janji mendesak.” Izraa bertanya.
“Hah? Serius? Tadi elu yang ingetin Syila, sekarang elu yang ijin. Gimana sih!” Aryo si Sutradara kesal.
“Yaudah, kenapa sih? Ada yang sakit?”
“Iya Bang,” jawab Izraa singkat.
…
Syila berdandan dengan sangat cantik, dia mengenakan gaun yang sangat pas di badannya, tertutup karena dia seorang muslimah yang berhijab, warna gaunnya abu-abu tua, dipadukan dengan hijab warna senada.
__ADS_1
“Udah siap?” Mami masuk ke kamar Syila.
“Iya.” Syila mengatakannya dengan lemas.
“Maafin Mami dan Papi ya, Nak. Terima kasih sudah mau mengerti.”
“Syila lakuin ini untuk Papi, ini terakhir ya Mi, ini Syila lakuin karena nggak bisa jadi Dokter seperti yang Papi Mau. Tapi nggak lebih dari ini.” Syila menahan tangis.
“Terima kasih sayang.”
Lalu Syila dan Mami naik mobil, di mana Papi, Kak Alzam dan Andi sudah ada juga.
“Cantik amat Princes Acil.” Andi menggoda.
“Ndi!” Mami kesal karena Andi yang duduk di barisan mobil paling belakang meledek.
“Ndi, jangan mancing keributan ya.” Kak Alzam yang menyetir mobil memperingati, sementara Papi ada di sebelah Kak Alzam.
“Sorry-sorry Princes Acil.” Andi mundur lagi ke bangkunya dan terdiam, semua orang terdiam, padahal mereka mau pergi ke acara pertemuan keluarga, tapi ekspresinya seperti akan ke pemakaman, gelap.
Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai rumah Arjuna Ramidi, sahabat Syila sejak kecil dan juga yang mencintai Syila lebih dari seorang sahabat.
Syila keluar dengan langkah gontai. Andi memencet bel di depan gerbang, pintu gerbang terbuka, Juna sudah ada di depan gerbang, begitu mobil keluarga Syila masuk dan parkir, Juna langsung membukakan pintu untuk Papinya Syila. Dia tahu bagaimana membuat seseorang suka padanya. Sikap santun yang berlebihan salah satunya.
Syila keluar, Juna menengok sebentar, sangat cantik sekali Syila di matanya.
Juna bukan lelaki jahat, dia lelaki setia yang tampan dan kaya raya, walau bukan seorang Dokter seperti ayahnya, karena dia memilih kuliah hukum, tapi dia bisa dikatakan cukup sukses karena mampu membangun firma hukum sendiri dan cukup populer di negeri ini.
Seolah Juna mengerti bagaimana dunia yang Syila inginkan, Syila juga sempat berpikir bahwa Juna bisa saja menjadi seseorang yang dia kagumi, tapi Syila akhirnya sadar, Juna bukan seseorang yang bisa membuat Syila jatuh cinta, dia hanya nyaman dan sayang, bukan cinta yang menggebu.
“Syila duduk sini ya.” Ibunya Juna menunjuk bangku di samping Juna, Syila nurut saja.
“Iya Tante.”
“Kok panggil Tante, panggil Mami aja.” Kata-kata maminya Juna membuat Syila menjadi canggung. Dia hanya menunduk saja.
Sudah ada papinya Juna di ujung meja panjang meja makan ini, lalu mami Juna dan mami Syila yang duduk berdampingan, ada Andi yang duduk di samping Mami Syila, lalu di sebrangnya ada Juna, syila dan Kak Alzam.
“Gimana Syil, katanya lagi sibuk proyek film ya?” Papinya Juna bertanya, mereka belum memulai makan malam, para pelayan mulai menghidangkan makanan, tidak di meja makan, tapi di meja panjang agak jauh dari meja itu, konsep makannya adalah parasmanan.
“Iya, Om.” Syila menjawab dengan wajah penuh tekanan. Padahal wajahnya cantik sekali hari ini, lebih anggun dari biasanya, itu membuat Juna tidak berpaling sama sekali.
“Kok Om sih, Papi dong sayang.” Maminya Juna mengingatkan lagi.
“I-iya Papi.” Syila menjawab gugup.
Mami terlihat mengerti Syila sangat tidak suka moment ini, tapi dia tidak bisa menyelamatkan anaknya.
Makanan sudah dihidangkan, tapi Syila hanya makan dengan sangat lamban, dia tidak selera.
“Makan yang banyak Acilaku.” Panggilan itu membuat Syila merinding, Juna suka memanggil Syila sama seperti keluarganya, tapi minus kata ‘ku’.
__ADS_1
“Pak Asad, Yayasan sangat senang dengan proposal program baru itu, saya sudah memberikan banyak opsional yang telah Pak Asad berikan sebelumnya, Pak Ketua sangat ingin menjalankan program itu dengan segera.” Ini yang menjadi alasan Syila duduk dengan tenang di meja makan pertemuan keluarga ini.
“Iya Pak, wah terima kasih sekali ya, saya yakin kalau program itu dijalankan, kita bisa mulai membangun pusat penyembuhan penyakit kanker dengan lebih cepat.”
Yang menjadi ambisi papinya Syila adalah membangun pusat kanker Indonesia, pusat penyembuhan penyakit kanker dengan tekhnologi tinggi, tapi biaya yang dibutuhkan sungguh fantastis, dia tidak mampu. Hingga akhirnya, Papi Syila mendapatkan jalan investasi dari sebuah yayasan rumah sakit ternama, mereka janji untuk mempelajari proposal pembangunan pusat kanker itu dan memberi kesempatan untuk pendanaan pembangunannya.
Itu menjadi sebuah kesempatan emas yang sangat diinginkan oleh papinya Syila, makanya dia memaksa Syila untuk mau menuruti pertemuan ini untuk menyenangkan Juna, pada akhirnya membuat papinya bisa membantu ambisi papinya Syila.
“Ya Pak Asad, kita bisa segera membicarakan detailnya.” Syila hanya mendengar, dia bahkan tidak perduli dengan perkataan Juna, Syila hanya menunduk saja.
Juna bukan tidak mengerti Syila tidak suka ini semua, Juna yakin, pada akhirnya Syila mampu membuka hatinya, Juna berjanji akan membahagiakannya.
“Syil, jadi kapan kalian berdua akan mengurus dokumen?” Maminya Juna bertanya tiba-tiba, Syila menatap mata maminya Juna, pertanyaan macam apa ini, dokumen apa yang diurus? Dokumen kontrak kerja?! Menyebalkan! Rasanya Syila akan meledak.
“Syil, cepat atau lambat kita akan ke sana juga kan?” Juna menatap Syila dengan wajah memelas. Syila memandang Juna kali ini, dia seperti ingin menangis saja, dia merasa dijebak, karena papinya bilang ini hanya makan malam biasa saja, bukan makan malam serius, sehingga harus membicarakan dokumen pernikahan!
“Aku … aku ….” Rasanya Syila ingin berteriak dan pergi, dia benar-benar merasa dijebak.
“Ngapain lu!” Ada seseorang yang menyapanya saat Syila ingin berdiri dan membentak semua orang karena berani menjebaknya, tiba-tiba wajah seorang lelaki sudah ada depan wajahnya, itu membuat Syila kaget, bukan hanya Syila tapi semua orang, wajah itu dekat sekali, dia bertanya tepat di depan wajah Syila yang sedang sangat marah.
“Izraa?” Syila bingung kok ada Izraa di sini? Sedekat ini lagi, Izraa agak membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada Syila saat bertanya.
“Katanya ada urusan keluarga sampai ijin! Terus lu ke sini, pertemuan apa ini!” Izraa membentak Syila.
“Hah?” Syila bingung.
“Za, ada apa?” Maminya Juna bertanya karena terkejut dengan sikap Izraa yang sangat dekat dengan calon menantunya, setidaknya itu yang ada di benak maminya Juna.
“Aku yang seharusnya tanya tante, kenapa pacarku ada di sini!” hening. Semua diam, termasuk Juna, dia bahkan tidak bisa mencerna perkataan yang keluar dari Izraa, sepupunya itu.
“Za ….” Syila tadinya berniat membantah, tapi Izraa berbicara lebih keras lagi.
“Aku tuh setia sama kamu ya, aku sampe diberitain enggak-enggak di belakang, cuma untuk menutupi hubungan kita, kamu bilang tidak ingin privasi kita berdua terganggu, makanya aku tahan itu semua, tapi apa sekarang, kamu selingkuh sama sepupuku!” Kemampuan akting Izraa tidak bisa dianggap enteng, Syila semakin bingung, tapi tiba-tiba mata Izraa membulat sempurna, di titik ini Syila mengerti.
“Aku … aku … maafin aku sayang, aku hanya makan biasa aja kok, Juna kan sahabatku dari kecil, aku udah cerita, kan? Aku nggak tahu kamu sama Juna sepupu, aku juga nggak ada apa-apa ama Juna, sayang. Kita cuma teman, iya kan Jun.” Pukulan telak dari Syila dan Izraa untuk mereka yang menjebak Syila dalam pertemuan ini.
“Aku nggak akan maafin kamu kalau kamu bohong.” Setelah mengatakan itu Izraa pergi tapi sebelum itu Izraa memberi kode dengan gerakan kepalanya agar Syila mengejarnya.
“Sayang, tunggu sayang.” Syila berhasil kabur, sementara semua orang masih mencoba mencerna semua ini.
Tapi Syila dan Izraa sudah di parkiran, Izraa masuk ke mobil, Syila ikut masuk, setelah itu Izraa buru-buru menyalakan mobil dan keluar dengan terburu-buru, agar serangkaian kejadian ini semakin membuat kedua keluarga itu percaya bahwa mereka sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
Saat mobil sudah keluar, Izraa membuka telapak tangan kirinya, Syila menyambut telapak tangan terbuka itu hingga tangan mereka melakukan gerakan tos.
Lalu mereka berdua tertawa dengan kekonyolan yang baru saja mereka lakukan.
__________________________
Catatan Penulis :
Aku tidak pernah tahu, bahwa hubungan antara dua orang manusia bisa menjadi sangat menyenangkan, walau aku tetap tidak bisa mendefinisikan, sejauh mana kita mampu berjalan dan tertawa bersama (Asyila).
__ADS_1