Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 29 : Dipecundangi


__ADS_3

“Nih tuan putri, kopinya.” Syila sudah membelikah kopi yang diminta Hanum, dia mau tidak mau harus membelikan kopi langganan Hanum yang kebetulan ada di dekat lokasi, karena lokasinya di rumah sewa yang dijadikan set dekat dengan pusat kota, jadi apa saja yang dibutuhkan ada.


“Terima kasih calon adik iparku.” Hanum tersenyum dan meminum kopinya, Izraa melihat itu dari kejauhan.


Syuting dimulai, Izraa dan Hanum mulai pengambilan gambar.


Mereka membangun dialog dengan sangat baik, Hanum banyak belajar dari Izraa sehingga aktingnya naik kelas.


“Bang bagian yang Hanum rangkul bahu Izraa berlebihan nggak sih, karena kan saat ini mereka belum menikah dalam adegan ini, jadi ….”


“Syil, profesional dong, elu cemburu cuma karena Hanum pegang bahu Izraa.”


“Bang! justru elu yang nggak profesional, masa cuma gara-gara gue pacar Izraa trus pendapat gue dianggap kurang objektif, padahal itu pengamatan seorang Penulis loh Bang.” Syila membela diri, dia tidak pernah berniat mengatakan itu karena perasaan pribadi. Lagian, dia tak merasakan apapun pada Izraa ... saat ini.


“Num, Za, Syila bilang jangan pegang-pegang bahu.” Lalu semua orang meng-cie-cie kan Syila, hal itu membuat Syila kesal, karena Bang Aryo malah meledek, dia juga marah, seolah pendapatnya berlabel ‘pacar Izraa’ bukan karena dirinya seorang Penulis.


“Bang, bisa lanjut? Dengerin Syila ya, saat ini dia mengambil pendapat dari sisinya sebagai Penulis, dia nggak posesif, yang begitu justru gue.” Izraa mencoba membela Syila.


Sikap dingin Izraa memberi tahu semua orang bahwa dialah yang lebih mencintai Syila, membungkam semua orang.


“Yaudah yuk, lanjut yuk.” Bang Aryo mulai, syuting berjalan kembali.


Setelah empat jam pengambilan gambar, lalu semua istirahat, Syila dan Izraa makan bersama, tiba-tiba Hanum datang.


“Gue mau makan steik dong, deket sini kok, bisa jalan belinya.” Hanum meminta Syila, dia seolah tidak melihat Syila sedang makan.


“Num, nggak punya kaki buat beli sendiri? Perlu gue kasih tau rasanya nggak punya kaki?” Izraa berkata dengan kasar.


“Bukan gitu Za, Syilanya mau kok, ya kan Syil?” Hanum memerintah dan mengingatkan tentang perjanjian mereka.


“Ya, biar gue beliin.” Syila mengalah, dia benar-benar telah kehilangan taringnya.


“Bisa abis makan aja nggak?” Izraa menarik tangan Syila, Hanum cemberut melihatnya.


“Nggak apa-apa, aku juga udah selesai, tuh liat, tinggal sayurnya aja, aku nggak gitu suka sayur.” Syila lalu jalan membeli makanan kesukaan Hanum.


Saat Syila pergi, Izraa mendekati Hanum.


“Apa ini karena elu pacaran sama Alzam, makanya bisa seenaknya sama Syila?” Izraa langsung pada intinya.


“Sekalinya elu nyamperin gue, cuma buat nanyain ini?”


“Apalagi? Nggak ada yang lebih penting dari Syila.” Hanum tercekat mendengarnya, dia hanya main-main saja sebenarnya, tidak terlalu serius memeras Syila, tapi ucapan Izraa keterlaluan untuk seorang wanita yang menyukainya dan memperlihatkannya dengan jelas.


“Gue, Syila dan Alzam, itu urusan kami, jadi minggir.” Hanum mendorong Izraa untuk minggir dan akhirnya dia sedikit tergeser paksa.


Dari kejauhan ada yang mengambil gambar moment tersebut, moment Hanum dan Izraa sedang bertengkar, orang itu adalah orang yang sama telah mengambil foto Izraa dan Syila di restoran fast food kemarin.


Syila datang dengan pesanan Hanum, dia memberikan makanan itu pada Hanum.


“Nih.” Syila melemparnya,


“Hati-hati dong, nanti jatuh, elu mau balik beli lagi?” Hanum marah.


“Jangan keterlaluan lu ya, gue ngantri udah lama banget jalan kaki pula, katanya deket, taunya jauh! Elu bisa ngancam gue, tapi kalau keterlaluan, jangan salahin kalau gue nggak mikirin apapun selain nyingkirin lu dari sini.” Syila kesal, Hanum melihat bahwa kali ini Syila bukan marah, tapi murka, dia tidak mau cari masalah, karena akan menjadi polemik jika akhirnya mereka bertengkar, sudah pasti Hanum akan kalah jika dia bersaing dengan Syila.


“Makasih ya calon adik ipar.” Hanum mengambil makanannya dan berlalu.


“Mau sampai kapan jadi babunya dia?” Izraa bertanya dengan sarkas.


“Sampai kita putuslah, kita putus aja ya? dia ngancam gue, kalau bakal kasih tahu papi soal hubungan kita, gue takut.” Syila belajar akting dari Izraa.


“Oh gitu, yaudah, jadi babu aja selamanya kalau itu bisa buat lo stay di sisi gue.” Izraa berdiri dan meninggalkan Syila yang duduk karena kelelahan, Syila memandang tubuh Izraa dari jauh, tampan sekali, tapi sayang, bukan seorang imam yang baik bagi Syila.


Syuting selesai, mereka semua pamit pulang, Hanum bilang nebeng karena dia ingin makan malam keluarga di rumah Syila, awalnya Syila menolak, tapi mami telpon, minta Hanum diantar ke rumah, padahal Syila mau pulang ke apartemen, bukan ke rumah, tapi apa daya, Syila harus menahan ini agar kakaknya bahagia, dia bahkan bisa lakukan lebih untuk keluarganya.


Mereka berkendara selama satu jam, lokasi memang cukup jauh, Andi duduk di depan di samping Syila sedang Hanum di belakang.


“Syil, beli kue dulu buat om, tante pernah bilang om suka banget sama kue bika ambon, tuh ada yang enak di depan bentar lagi.” Hanum tiba-tiba minta berhenti.

__ADS_1


“Yaudah jangan lama-lama, gue tungguin di sini nggak mau turun.”


“Yaudah, elu kan emang supir gue.” Hanum lalu turun dengan membanting pintu keras, menyebalkan sekali.


“Dia mau beliin bika ambon buat papi Syil? Wah dia perhatian banget ya, jangan-jangan bener kata Izraa sebenarnya dia baik, cuma ya nyebelin aja.”


“Bodo amat, paling disuruh mami atau dia carmuk, taulah, dia tuh suka banget disanjung-sanjung.”


“Tapi tadi dia bilangnya ‘mami pernah bilang’ artinya itu adalah apa yang dia ingat Syil, dia beneran perhatian ama papi, wah bakal susah nih buat misahin Alzam sama Hanum.”


“Pasti pisah, orang Hanum nggak suka ama kakak gue kok, gue yakin itu.”


Hanum kembali ke mobil dan dia sudah membawa beberapa box kue.


“Banyak amat, katanya mau beli bika ambon doang.” Andi bertanya.


“Om suka bika ambon, Alzam sukanya bolen pisang, Syila sama elu kan sukan puding coklat, masa om makan kue kalian manyun.” Hanum tertawa.


Sementara Andi melirik Syila, menandakan apa yang dia katakan mungkin benar, Hanum memang menyebalkan, tapi dia bukan orang jahat.


Sudah sampai rumah, Alzam sudah menunggu di depan, Syila merasa Alzam berlebihan, ngapain sampai mondar-mandir di depan nungguin ceweknya, norak banget, Syila kesal melihatnya.


Andi turun duluan, Syila masih merapihkan parkirannya, Hanum belum keluar.


“Gue beliin lu puding coklat, bayaran buat kopi sama steik tadi, makasih ya.” Lalu Hanum keluar mobil.


[Dia fikir gue bakal ketipu apa sama kelakuan palsunya?] Syila berkata dalam hati, dia lalu turun dari mobil dan melihat dengan aneh, kenapa mereka nggak masuk masih di luar aja?


“Syil! Lu harus jelasin semua, lu pikirin jalan paling aman buat lu jelasin semua, ok!” Alzam terlihat panik, tapi saat Syila akan bertanya apa yang dimaksud Alzam, Papi berteriak dari dalam.


“Syila! Masuk!” Papi berteriak seperti orang yang sedang sangat marah, Syila sedikit berkeringat, tapi di dorong kakaknya untuk masuk.


Papinya membawa Syila ke ruang kerja, sidang apalagi ini yang akan Syila hadapi, dia melihat ke arah Alzam, Alzam membuat gerakan menggores leher, pertanda Syila akan mati di ruang kerja papi, tentu itu hanya kiasan, keringat Syila semakin banyak.


“Duduk.” Papinya memerintah, dia duduk di depan Syila mereka berdua terpisah oleh meja kerja yang cukup besar, ruang kerja papi adalah kamar terbesar kedua setelah kamar utama, kamar papi mami.


“Syila tahu apa kesalahan Syila?” Kata pembukaan yang membuat Syila semakin ketakutan.


“Syila buat salah apa Pi?” Syila menatap papinya dengan menunjukan mata kucing agar ada pengampunan dari papi.


“Ini apa?” Papi membeirkan telepon genggamnya pada Syila.


“Apa ini!” Syila kaget karena melihat ada fotonya dengan Izraa sedang duduk di restoran fast food, tangannya memegang paha Izraa dan ada satu foto lagi, Izraa merangkul Syila, sungguh terlihat benar-benar sepasang kekasih!


“Papi yang seharusnya tanya, apa ini Syila?! Kau membohongi orang tua?” Papi melembutkan suaranya, tapi justru ini yang paling ditakuti karena melembutkan suara saat marah adalah tanda kekecewaan yang dalam.


“Syila bisa jelasin Pi, kita tuh nggak ada apa-apa, kita tuh cuma temen aja, rekan kerja.” Syila mencari alasan.


“Itu justru jauh lebih memalukan, kau tidak ada hubungan apa-apa tapi mau dirangkul, kau perempuan baik-baik, tidak patut dirangkul seenaknya oleh lelaki asing!” Papi kembali meninggikan suara.


“Nggak maksud Syila, itu kita rame-rame nggak cuma berdua, ada Andi, ada Juna, ada ….”


“Baju itu saat kamu pagi-pagi belum mandi langsung pergi dengan Andi kan? apa karena kau bersama pria itu?”


“Pi, itu tuh nggak seperti yang Papi kira, kita tuh cuma ya begitu aja, saling pengenalan, Syila sama Izra hanya ….”


“Selesaikan hubungan kalian seperti janjimu, kalau tidak, papi juga akan melanggar janji dengan melanjutkan perjodohanmu dengan Juna.”


“Tapi Pi!”


“Keluar.” Papi sudah pada keputusan akhirnya.


Syila bangkit dengan perasaan yang sedih dan marah, dia keluar dari ruang kerja papi, saat sudah keluar ada Andi di sana, Syila langsung di tarik ke kamarnya, sudah ada Alzam dan Hanum di sana.


“Jadi? Ada apa?” Andi bertanya, rupaya Alzam belum memberi tahu semua orang masalah ini.


“Papi tahu, aku sama Izraa masih pacaran.” Syila menjelaskan.


“Kok bisa?” Andi kaget,

__ADS_1


“Ada yang sebar foto kita di resto fast food kemarin.” Syila menatap Hanum saat sedang berkata, Hanum merasa dituduh.


“Bu- bukan gue! demi Tuhan bukan gue, gue nggak bilang apa-apa ke siapa-siapa, apalagi foto, gue juga ngancem lu cuma bercanda aja, cuma main-main, nggak bener-bener mau bocorin hubungan lu sama Izraa, bukan gue.” Hanum panik.


“Kamu mengancam adikku? Serius kamu lakuin itu?” Alzam yang malah marah.


“Gue … gue ….”


“Iya tuh, dia meras Acil, suruh-suruh Acil, dia bilang bakal aduin hubungan Syila ke papi, makanya Acil kasihan banget disuruh-suruh.” Andi menambahkan garam dalam kepedihan kejadian ini.


“Bener Cil?” Alzam bertanya.


“Iya, bener!” Syila jadi kesal lagi.


“Aku pikir kamu perempuan cerdas yang bermartabat, bagaimana kamu bisa mempermainkan hubungan orang untuk kepentinganmu sendiri? Aku mengejarmu dan berusaha membuatmu suka, karena aku pikir kau pantas diperjuangkan, tapi ternyata aku salah, maaf, jika aku selalu mengganggumu, aku tidak akan pernah mengganggumu lagi, Ndi, tolong antar dia pulang, sekarang.”


“Zam, aku ….”


“Kok gue yang anter!” Andi protes.


“Acil lebih butuh gue dibanding siapapun saat ini, antar dia dan gue janji, nggak akan pernah ganggu lu lagi Num, sorry kalau gue selama ini selalu buat lu risih dengan ngejar cinta lu, mulai sekarang gue akan mencoba untuk menerima, bahwa bahkan hubungan kita hanya permainan untukmu, seperti kau menganggap hubungan Acil dan Izraa hanya permainan.”


“Zam gue nggak maksud gitu, gue beneran ….”


“Ndi tolong bawa pulang Hanum ya.”


Andi menyeret Hanum ke luar Alzam tidak mau lagi menatap Hanum.


“Cil, gimana bisa foto itu beredar, elu sama Izraa eknapa nggak hati-hati sih?” Alzam bertanya. Dia tak lagi ingin memikirkan perempuan yang mempermainkan adik kesayangannya.


“Izraa udah pake topi tapi ternyata orang itu tahu, kalau itu Izraa dan pas banget posisinya motoin kita Kak.” Syila menjelaskan.


“Emang kamu sama Izraa benar-benar masih pacaran?”


“Aku memang pacar dia, tapi tidak seperti kekasih pada umunya, ini aku lakukan untuk proyek film kak, karena Izraa mau keluar proyek ini, jadi aku membujuknya dengan bersedia menjadi kekasihnya.”


“Ah serius! Kamu beneran alasan pacaran cuma karena itu, bukan karena saling suka?” Alzam terkejut.


“Iya Kak.”


“Syil, putusin deh cepet, lu nyiksa perasaan orang kalau begitu.”


“Izraa tahu kok, kalau aku nggak suka sama dia, kita jadian juga cuma terpaksa, dia justru meminta kesempatan, aku memberinya, itu saja.”


“Aku takut Syil, saat tiba giliran kau sangat menyukainya, dia akan lelah mengejarmu dan melepasmu, lalu kau terluka, lihat seperti aku dan Hanum, begitu aku tahu dia tidak sebaik yang aku pikirkan, aku tidak ingin dia jadi kekasihku lagi, gimana kalau nanti terbalik? Kamu suka dia, tapi dia sudah tidak ingin hubungan itu lagi?”


“Amit-amitlah, Syila juga lelah suka sama orang, sayang sama orang tapi malah harus berpisah, apa Syila nggak boleh bahagia?”


“Apa kamu bahagia sama Izraa?”


“Tidak tahu, belum tahu, saat ini aku cuma jalanin aja, murni untuk proyek film.”


“Apa ini hanya pembuktian ke papi? Makanya kau bersikeras mempertahankan proyek film itu padahal udah nggak sehat sama sekali. Dengan Izraa mengancam keluar dan kamu bersedia menjadi pacarnya, apa bedanya kamu dan Hanum, kalian bermain-main dengan cinta. Hanum bisa aku usir dan aku lupakan, kau adikku, maka aku harus menjagamu, pastikan kau memilih jalan mana Cil, bersamanya dengan berusaha mencintai, atau berpisah saja, relakan proyek itu bahkan batal, ini masalah besar, papi murka begitu dapat foto itu dari koleganya yang melihat di akun gosip. Izraa artis besar, kau Penulis ternama, sungguh umpan yang besar untuk para wartawan.”


“Iya kak, Syila juga bingung harus apa.”


___________________________________________________


Catatan Penulis :


Kau tahu kata-kata ini ... apa rasanya, mendapatkan sesuatu yang sangat kau inginkan, ketika sudah tak ingin? jadinya sia-sia, karena selesai.


Pada waktu di mana aku melihatmu dengan sinar mata memuja, kau diam, bahkan berpaling, lalu lari.


Saat aku pergi, apakah kau rindu?


Tebakku tidak, karena bagimu aku pengganggu yang nyata, maka ketika aku pergi, kau akan merasa lega.


Begitu kan?

__ADS_1


__ADS_2