
“Kejujuran itu soal niat Za, niat itu nggak bisa dilihat seperti angin, cuma bisa dirasain, jadi dari mana kamu yakin Syila mau untuk bicara dengan pers yang banyak itu?” Produser bertanya.
“Aku akan melakukan apapun agar namanya tetap bersih.” Izraa sudah bertekad, sekarang dia harus susun strategi.
…
Mami pulang dan melihat Syila sedang ditemani Alzam dan Hanum makan malam, papi tidak kembali ke rumah, karena janji temu dengan Produser tadi membuatnya harus banyak mengalihtugaskan pasien dan sekarang dia harus membayar itu sebagai beban kewajiban yang harus ditunaikan. Papi memang sangat berdedikasi dengan pekerjaannya, menurun pada Alzam.
“Mi, lama banget arisannya.” Syila bertanya, dia sedang asyikl menyuap ayam goreng tanpa tulang, semua hal dimudahkan untuk Syila karena kondisinya.
“Mi, makan dulu, Hanum siapin piring ya.”
“Nggak usah Num, mami sudah makan tadi, mami ke kamar dulu ya.” Mami berwajah murung.
“Mami kenapa?” Syila bertanya, semua orang tidak tahu kalau tadi mami tidak pergi arisan, mami juga sebenarnya belum makan, dia tak nafsu makan karena tuntutan itu, dia benar-benar merasa tak berguna, karena tidak bisa melindungi anaknya.
“Capek kayaknya.” Alzam menjawab sekenanya saja, lalu mereka bertiga melanjutkan makan, setelah makan selesai, meja makan dibereskan oleh asisten rumah tangga, sementara Hanum dan Syila duduk di halaman, Syila bilang ingin ngobrol di sana.
Sejak sakit, Hanum sering sekali menjenguk calon adik iparnya, bukan karena dia ingin mengambil hati Alzam, tapi sebagai sahabat yang merasakan apa yang Syila rasakan, dia sudah menyayangi Syila seperti adiknya sendiri.
“Kau tidak mau mulai menulis, Cil?” Hanum bertanya.
“Pakai apa? Lupa kalau tangan gue cacat?” Syila tidak ketus jawabnya, dia menjawab dengan lemah.
“Kau masih punya tangan kiri. Lagian menulis itu hanya kiasan, kau hanya harus terbiasa mengetik dengan satu tangan saja, aku bisa bantu.”
“Caranya?”
“Bukankah kalau Penulis itu memikirkan alur, aku bisa bantu kau mengetik sementara kau memikirkan alurnya.”
“Tidak, aku tidak suka membenani orang, apalagi kau, nanti kesannya sangat memanfaatkan.”
“Aku tidak merasa memanfaatkan, ini aku lakukan agar tetap dapat peran jika nanti novelmu dibuat film lagi, aku lagi ambil hati Penulis hebat, aku pandai kan?”
“Ya, kau memang pandai, aku akan memberimu lagi peran jika kelak bukuku difilmkan lagi, janji.” Syila memberikan jari kelingkingnya. Karena hubungan intens ini Syila tahu Hanum berusaha terus untuk menghiburnya tapi tidak ingin terlihat berlebihan, makanya terkadang dia suka berceloteh tentang manfaat bersikap baik pada dirinya, padahal Syila tahu, kalau Hanum tulus, Syila bisa merasakannya, bahkan Hanum menawarkan bantuan untuk mandi tadi, Syila menolak.
“Janji loh, kalau sampai tidak kau tepati, awas saja.” Hanum juga memberikan jari kelingkinya dan mengaitkan jari itu pada milik Syila.
“Tapi kamu tahu kan, itu mustahil, karena tanganku tidak bisa sembuh.”
“Belum sembuh, bukan tidak bisa!” Hanum tidak suka Syila berkata pesimis.
__ADS_1
“Ayah sudah bilang, kalau aku memang sulit untuk bisa pulih, karena beberapa penyakit bawaan, pasti Kak Alzam sudah cerita kan?”
“Syil, apa yang orang bilang, belum tentu benar, biarpun ayah dan kakakmu ahli, ingat ini, Tuhan jauh lebih ahli, jadi jangan terlalu pesimis. Mungkin ini titik balik, kau akan menjadi kupu-kupu yang indah lagi.”
“Kalau kucing gimana?”
“Maksudnya?”
“Aku nggak suka jadi kupu-kupu, aku sukanya jadi kucing.”
“Cil, ah!” Hanum pura-pura kesal, dalam hatinya dia senang, karena Syila sudah bisa bercanda dan tertawa.
“Kapan kau menikah dengan kakaku?” Syila tiba-tiba bertanya.
“Hei, itu tidak sopan tahu!” Hanum kesal karena Syila bertanya hal yang biasa ditanyakan orang saat ada acara keluarga.
“Aku hanya ingin tahu saja, kapan kalian berencana menikah, aku tidak ingin, aku menjadi ….”
“Aku dan Alzam belum bicara sejauh itu, aku masih mengejar karir, Alzam juga baru beberapa tahun jadi Dokter setelah co-*** kemarin selama hampir 2 tahun. Dia juga pasti masih menikmati dulu menjadi Dokter, kalau kami menikah, maka fokus kami akan berbeda.”
“Bukan karena aku kan?”
“Hih, kamu siapa emang? Artis?”
“Makanya nulis lagi yuk.”
“Nanti deh.” Syila meninggalkan Hanum untuk kembali ke kamarnya, sementara Hanum kembali ke ruang tamu, Alzam sedang menonton.
Hanum berbohong, karena sebenarnya rencana pernikahan itu sudah sempat dibicarakan Alzam, bahkan seharusnya bulang depan adalah tanggal yang dipersiapkan Alzam untuk bertemu dengan orang tua Hanum, tapi Hanum meminta Alzam untuk menunda dulu, sampai Syila pulih.
Hanum memang sebenarnya bukan orang jahat, dulu dia begitu karena belum kenal Syila dan memang suka pada Izraa, maklum, wanita kalau mencintai seseorang cenderung menjadi bodoh lalu berubah menjadi jahat ketika tidak dicintai kembali.
Alzam yang tidak bisa memikirkan hal lain, ingin bicara pada Hanum mengenai penundaan ini, tapi tak tega, takut kalau Hanum kecewa, makanya dia diam saja, Hanum yang akhirnya bicara dan membicarakan ini juga pada mami dan papinya Syila, Hanum tidak bilang kalau ini untuk Syila, takut kalau mereka sampai merasa tak enak.
Hanum mengambil pekerjaan yang dia sudah tolak sebelumnya, pekerjaan yang shedulenya adalah waktu pertemuan keluarga itu, dia memakai alasan itu agar semua orang merasa tenang dan bisa fokus pada Syila.
[Aku perlu bicara, ini penting, ada masalah pada karyamu.] Izraa mengirim pesan singkat, notifikasi pada layer telepon pintar Syila tertera pesan itu secara lengkap.
Syila membukan pesan itu lalu menghubungi Izraa.
[Maksudmu apa?] Syila langsung marah begitu izraa mengangkat teleponnya.
__ADS_1
[Kita harus bicara, aku mohon. Ini tidak bsia dibicarakan melalui telepon.]
[Maumu apa sebenarnya? Belum cukup aku sakit? Tidak bisakah aku tenang sedikit saja?] Syila sangat kesal, karena Izraa masih saja mengganggunya.
[Aku tidak ingin apapun darimu, tapi kau harus tahu, bahwa ‘anak-anakmu’ sedang dilecehkan oleh orang tak bertanggung jawab.] Izraa memakai kata anak-anak karena Syila selalu mengatakan bahwa dia adalah ibu dari novel-novelnya.
[Aku mohon, aku akan ke rumahmu besok, boleh kah?] Izra bertanya.
[Tidak, karena ibuku takkan mengizinkan, aku takkan menyakitinya.] Syila lalu menutup teleponnya, kalaupun ada masalah, dia akan cari tahu pada Andi. Tapi itu nanti sajalah, dia masih enggan menelpon sepupunya itu.
…
“Syil, keluar dulu yuk, ada yang papi dan mami mau bicarakan.” Mami masuk ke kamar Syila, hari sudah siang, Syila sedang menonton televisi di kamarnya, tempat yang paling banyak dia tempati selama sakit ini.
“Ada apa?” Syila bingung, tapi mami menggenggam tangannya dan menarik lembut Syila untuk ikut.
Mereka ke ruang kerja papi, Syila jadi deg-degan, karena jarang sekali mami dan papi ingin bicara bersamaan di ruang kerja yang formal seperti ini.
Mami membuka pintu ruang kerja itu dia masuk masih menarik menuntun Syila dengan lembut, Syila ikut masuk, mami duduk di sebelah papi di sofa pada ruang kerja itu, begitu mami duduk, Syila baru lihat, ada orang lain di sana.
“Ka-kau! Kenapa kau kemari?” Syila kaget.
“Mami yang minta dia datang.” Mami ingin membuat Syila tenang.
“Mami? Ada apa?” Syila bingung, karena mami tampak tenang dengan kehadiran Izraa di sini.
“Duduk dulu.” Mami bahkan meminta Syila duduk berdampingan dengan Izraa, walau duduk mereka masih sangat jauh, tidak berdekatan seperti mami dan papi.
“Ok, aku akan jelaskan kedatanganku, tapi mungkin ini akan sedikit membuatmu terkejut, tapi kau harus tenang dan mendengar penjelasanku dengan baik, ok?”
“Ya, aku sudah sangat siap, katakana ada apa?” Syila kesal karena Izraa tidak langsung pada intinya.
“Syila, ini hal yang mungkin akan membuatmu terguncang, tapi percayalah Nak, mami dan papi akan tetap bersamamu, tidak peduli apapun yang terjadi.”
“Iya, Syila tahu kok, tapi ini ada apa ya?” Syila mulai tidak sabar dan penasaran, ada masalah besar ap aini?
“Syil, ini soal novel yang dibuat filmnya.”
“Novel itu? Ya, yang peran utamanya kau dan Hanum, ada apa dengan novel itu?”
“Kau mungkin akan kena sangkutan hukum karena novel itu ditemukan memiliki surat perjanjian kerja sama ganda ….”
__ADS_1
“Apa? Aku tidak paham.”