Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 57 : Pelaku 12


__ADS_3

Tapi Syila berlari dan menarik bahu Fenita dengan kencang, hal itu membaut mereka berdua jatuh, tubuh Fenita mendarat tepat di tubuh Syila.


Cairan hangat terasa di tangan Fenita, cairan yang rembes keluar entah dari tubuh siapa.


“Syila!” Juna berteriak, Izraa melihat itu langsung lemas, dia lemas melihat … darah itu keluar dari tubuh … Syila!


Pisaunya menancap tepat di tubuh kekasihnya.


Juna punya beberapa pilihan untuk dilakukan, tapi dia akhirnya berlari ke luar dengan secepat mungkin, meninggalkan Izraa dan juga Syila di sana.


Fenita bangun dari jatuhnya, pisau yang dia pegang, masih menancap di bahu Syila.


Syila terdiam, tak mampu bangun karena sungguh sakit dan lemas, tangan sebelah kanannya hampir tak bisa digerakkan.


“Syil ... Syil.” Izraa memanggil, Syila diam saja.


“Bawa tasnya, kita pergi, lelaki yang kabur itu pasti memanggil Polisi. Cepat!” Fenita dan anak buahnya berlari ke luar, meninggalkan Syila yang sudah tak mampu bangun karena dengan liciknya Fenita menarik pisau dari bahu Syila, sengaja agar darah Syila banyak keluar, sedang tujuannya membunuh Izraa tak tercapai, tapi membuat Izraa kehilangan Syila, bisa jadi pukulan terbesar.


Makanya Fenita meninggalkan Izraa begitu saja, hanya agar memberi rasa sakit yang panjang bagi Izraa.


Lalu 10 menit kemudian Juna kembali datang, dia sudah memanggil ambulans dan juga Polisi, katanya mereka akan datang sebentar lagi.


Juna melepaskan ikatan Izraa, lalu setelahnya Juna menggendong Syila di punggungnya, sedang Izraa memegangi bagian punggung Syila dan mereka berlari, tepat setelah mereka sudah mencapai halaman pabrik terbengkalai itu, ambulans dan Polisi datang.


Petugas medis buru-buru mengeluarkan ranjang dorong untuk membaringkan Syila, setelah Syila berbaring di ranjang itu, tubuhnya didorong ke dalam ambulans, Izraa masuk juga.


“Kau juga harus diperiksa, kalian ke rumah sakit duluan, aku akan berbicara pada Polisi untuk melacak wanita brengsek itu, akan kupastikan, dia tertangkap!” Izraa hanya mengangguk sembari melihat kekasihnya masih tak sadarkan diri, sementara bahunya sudah ditutup oleh tenaga medis agar darah tak keluar lagi.


Ambulans jalan ke rumah sakit, Polisi mulai menanyai Juna.


“Aku melihat mereka keluar ke arah sana, kita harus segera mengejarnya, Pak.” Juna ikut masuk ke mobil Polisi, lalu mereka mulai mengejar Fenita.


Juna tahu betul, plat 2 mobil itu, Fenita berkendara sendiri dengan tas uang, sementara preman-premannya juga membawa tas uang dan pergi dengan mobil lain, mereka berjalan ke arah yang Juna lihat.


Butuh waktu 15 menit mereka akhirnya menemukan mobil Fenita, lalu mobil Polisi dan mobil Fenita berkejaran.

__ADS_1


Polisi sengaja memasang sirine agar mobil Polisi yang berpapasan bisa sadar dan akhirnya ikut mengejar, total ada 5 mobil Polisi yang mengejar.


“Brengsek, kenapa mereka bisa menemukanku!” Fenita lalu semakin memajukan laju kendaraannya, dia menginjak gas sangat dalam, dia bahkan masuk tol dan menabrak palang yang membatasi antara jalan biasa dan jalan tol.


Karena itu petugas tol langsung membuka palang pembatas yang naik turun secara otomatis itu. Lalu sisa Polisi yang tak masuk jalan tol, langsung menutup pintu tol agar tak bsia diakses, beruntung pintu tol itu sepi, jadi Fenita tak bisa mencelakai orang lain yang hendak masuk.


Fenita masih terus menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia menjalankan mobilnya tanpa pikir apapun, termasuk keselamatannya, apalagi keselamatan orang lain, akibatnya ... karena ada tikungan yang cukup tajam, yang padahal sudah diberi rambu aah tikungan, tapi karena dia melaju dengan kecepatan tinggi, maka mobilnya oleng ke arah kiri dan ... sebuah truk kontainer tepat berada di depannya, tentu saja masih ada kendaraan besar di dalam jalan itu, karena jalan ini baru saja ditutup setelah Fenita menabrak palang jalan tol itu.


Mobilnya menubruk dengan kencang truk kontainer itu, hingga ringsek masuk ke dalam bagian bawah truk itu.


Mobil Polisi berhenti, Juna yang ikut juga ikut turun dengan para Polisi yang hendak memeriksa keadaan wanita itu, tetap dengan waspda karena Juna bilang, kemungkinan Fenita bawa senjata tajam.


Melihat ke arah dalam mobil Fenita tak sadarkan diri, bangku supirnya mundur ke bagian belakang mobil, karena tumbukan hebat itu, airbag mobil juga sudah lepas, hingga akhirnya Fenita selamat.


Polisi membuka pintu mobil Fenita, lalu mencoba mengeluarkan Fenita dari dalam mobil dan petugas medis memeriksa keadaan Fenita, dia masih hidup, walau mungkin banyak bagian tubuhnya yang terluka parah.


Fenita dibawa ke kantor Polisi dengan masih didampingi Juna.


...


Maminya dan papinya Izraa tak bisa membantah itu, ini kali kedua Syila masuk rumah sakit, lagi.


“Mi, sudah, ini bukan kesalahan Izraa, toh wanita itu yang menjebak mereka.” Papinya Izraa mengingatkan mami, kalau masalah ini sumbernya dari Fenita, mereka sudah mendapat ceritanya dari Izraa saat sampai.


“Perempuan itu memang salah, tapi saya ingat betul, bagaimana kamu membelanya kemarin, bagaimana anak saya kau kasari hanya karena anak saya memohon kau bertanggung jawab pada project filmnya, kau bilang anak saya egois! Kau bilang mimpi anak saya tidak penting! Lihat sekarang, perempuan yang mimpinya kau abaikan, bahkan menyerahkan tubuhnya untuk menolongmu! Aku berterima kasih karena kejadian pertama kau membantunya, menyelamatkan Syila, tapi maaf, mungkin kali ini, kita harus mengukur ulang perjodohan ini, karena aku tak mau menyerahkan anakku pada orang yang bahkan lebih percaya wanita lain selain wanita yang jelas selalu berada di sisinya, walaupun terkadang harus mengorbankan mimpinya!


Aku hanya ingin memberitatahu kalian, sejauh apa anak saya membela anak kalian, dia menghabiskan uang ditabungan dan jug deposito untuk membantu anak kalian menolong perempuan jahat itu, sekarang dia bahkan terbujur kaku, saya pastikan, hanya keajaiban yang mampu meneruskan perjodohan ini!” Mami setelah mengatakan itu lalu menjauh, orang tua Izraa hanya terdiam, tak mampu berkata lagi, kejadian ini memang murni salah Izraa yang terlalu percaya orang yang tak dikenal, hanya alasan balas budi bodoh yang membuat Izraa akhirnya ikut mencelakai Syila.


“Maafkan aku.” Izraa berkata pada Papi Syila yang masih dihadapannya.


“Membelamu di depan mami, bukan berarti aku mengabaikan perlakuanmu pada anak gadis yang sangat aku jaga, aku masih ingin kau menjadi menantuku, tapi maaf, Syila yang akan memutuskan dan asal kamu tahu, istriku tak pernah sekali pun ikut campur dengan urusan kami, dia selalu menempatkan dirinya netral. Tapi kalau dia sampai semarah itu, artinya kau sudah keterlaluan.”


Lalu papinya Syila ikut menjauh, orang tua Izraa mencoba mendekati Mami, maminya Izraa tak membela anaknya, dia datang sebagai kawan, memeluk maminya Syila yang sedang kalut.


Tak lama seorang Dokter bedah dan beberapa Perawat keluar dari ruang operasi.

__ADS_1


“Tidak apa-ap pisaunya menusuk tak terlalu dalam, tapi memang  Syila kehabisan banyak darah, kita hanya perlu mentransfusi darah saja, lalu melihat lagi keadaanya.” Dokter itu menjelaskan keadaan Syila lalu pergi.


Syila harus diobservasi dulu, baru masuk ruang perawatan.


Juna datang setelah beberapa lama, dia mendekati semua orang, lalu menjelaskan kronologinya, kronologi yang sudah dia jelaskan pada Polisi saat menunggu keadaan Fenita.


“Kita perlu tempat yang tenang untuk bicara.”


“Om sudah meminta untuk disiapkan ruang VIP, kita ke sana, Syila masih diobserbasi selama 2 jam, jadi kita bisa ke sana dulu.” Papinya Syila meminta semua orang ikut padanya, untuk ke ruang perawatan VIP, di mana ruang itu luas dan ada sofa mewah yang buat mereka bisa nyaman mendengarkan apa yang terjadi.


“Syila meminjam uang padaku, 800 juta, katanya untuk membantumu menebus Fenita, dia akan ganti patungan denganmu, aku memberikan tapi pada hari berikutnya. Tapi saat hari berikutnya, setelah dia memberikan uang itu padamu, Syila setuju dengan ideku untuk menemui Aldo, aku bilang padanya untuk minta win-win solution pada Aldo, agar kau tak perlu memberikan uang sebanyak itu, karena jika Aldo dalangnya, apa yang Syila berikan sebagai pertukaran, pasti membuatnya melepaskan Fenita.” Juna menjelaskan di ruang perawatan VIP, semua orang duduk dengan nyaman.


“Apa  pertukarannya?” Izraa terkejut karena Syila ternyata menemui Aldo.


“Syila akan buat buku yang menuliskan tentang Aldo, bukankah itu akan menjadi trofi bagi Aldo, yang memang katanya sangat mengagumi Syila. Aldo setuju, lalu Syila mengajukan syarat untuk melepaskan Fenita.


Tapi ada perkataan Aldo yang membuat kami sadar, kalau Aldo bukanlah dalang dari penculikan itu.


Aldo sangat membenci Fenita itu benar, tapi Aldo tidak pernah berniat menculiknya, bagi Aldo Fenita adalah wanita ****** yang sempat mengancamnya karena berani mencelakai Izraa, tapi dari perkataannya, Aldo tahu, kalau Fenita bukan benar-benar musuhnya.”


“Maksudnya?” Andi yang juga sudah ikut bergabung bertanya, dia terlambat karena sedang mengurus masalah perfilman Syila.


“Fenita berkata begini, beraninya Aldo mencelakai Syila dan bermaksud mencelakai Izraa, karena tidak boleh ada yang melakukannya, selain dia, selain Fenita maksudnya.


Hanya dia yang boleh mencelakai Izraa dan Syila, makanya dia datang ke penjara untuk ikut menyiksa Aldo, bahkan Fenita katanya membayar beberapa orang di penjara untuk menghajar Aldo, karena berani mengambil apa yang seharusnay Fenita lakukan.”


“Wah, wanita itu Psikopat! Dia menghajar musuh dari musunya karena marah telah didahului menyerang, sungguh psikopat yang sangat mengerikan.”


“Dia benar-benar ingin menyiksamu Za, dia ingin kau, maaf ... mati!”


“Dia siapa, Za!” Papi bertanya dengan kesal pada Izraa.


“Aku tidak tahu ....”


Hanya itu yang Izraa bisa katakan.

__ADS_1


__ADS_2