Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 13 : Celaka


__ADS_3

Syila menunggu Dokter menyelesaikan pemeriksaannya.


“Gimana Dok?” Syila bertanya pada Dokter yang telah selesai memeriksa.


“Nggak apa-apa, kakinya cuma cedera ringan, istirahat dua hari juga udah bisa pulih, kok.”


Syila menghela nafas begitu juga dengan semua yang masih ada di sana.


Dokter pamit pulang, lalu Syila masuk ke ruangan Izraa beristirahat, saat masuk Izraa sudah bangun dan dalam posisi duduk, wajahnya meringis, dalam hati Syila berkata, pasti Izraa kesakitan.


“Za.” Saat menyadari kehadiaran Syila, Izraa merubah mimiknya menjadi lebih datar, seolah ingin menutupi bahwa dia kesakitan.


“Gue nggak kenapa-kenapa, kok. Tadi Dokter udah kasih tahu, kan?”


“Iya-iya, lu nggak kenapa-kenapa kok lelaki kuat.” Syila meledek dan duduk di ranjang Izraa tapi di bagian kaki.


“Serius gue.”


“Sorry ya, seharusnya sebelum shoot, gue cek dulu yang bener, bukannya percaya aja sama kru.”


“Itu kan emang bukan tanggung jawab lu.”


“Emang bukan tanggung jawab gue, tapi gue yang ngotot adegan ini dilakukan, jadi ya karena ngototnya gue inilah, mungkin mereka jadi mengerjakannya asal-asalan karena jadi tambahan pekerjaan, seharusnya gue berenti saat tahu kalau bagian ini terlalu prematur persiapannya.” Syila merasa bersalah.


“Kalau guenya nolak, pasti nggak akan ada adegan ini, kan, Syil?”


“Ok, anyway, cepet sembuh ya, syuting akan dilanjutkan untuk adegan yang emang nggak ada elunya. Gue pastiin semua bakal tetep nunggu lu.”


Lalu Syila hendak keluar, tapi sebelum itu Izraa memanggil, “Syil … makasih ya.” izraa mengatakan dengan tulus.


“Ya, sama-sama.” Syila lalu bergegas keluar.


“Gimana?” Bang Aryo si Sutradara bertanya, ternyata dia sudah di sini lagi.


“Kata Dokter cuma perlu dua hari aja buat istirahat. Kita syuting yang lain dulu, bisa kan, Bang?” Syila memelas.


“Ya bisa sih, yaudah, yang penting 2 hari ya.”


“Iya, dua hari aja kok.”


Lalu Bang Aryo akhirnya mulai meeting jadwal dengan seluruh Pemain, Syila hendak pulang, tapi saat akan ke mobil, Hanum kembali mendekatinya.

__ADS_1


“Ada apa lagi sih?” Syila ketus, karena dia tahu, Hanum sudah menunjukan muka aslinya. Syila juga bukan seorang wanita yang taat agama sekali, Hanum berpakaian lebih baik daripada Syila dalam soal berhijab, sikapnya juga santun dan dia cerdas, tapi terkadang terlalu menyebalkan.


“Kamu suka, kan, sama Izraa?”


“Hah! Serius lu tanya hal sepele kayak gini?” Syila kesal, lagi-lagi pertanyaan itu, dia lalu menjwab, "pertama, kalau gue suka, trus kenapa? bukan urusan lu. Kedua, kan elu tahu, kemarin gue sempet bahagia saat salah sangka kalian jadian. Ketiga, lu bisa fokus nggak sih sama syuting ini?!”


“Jadi yang mana yang bener? Lu suka dan bukan urusan gue atau lu nggak suka?” Hanum masih saja menyebalkan.


“Gue nggak suka secara personal, gue suka secara profesional, ngerti? Gue yakin kok, elu cukup cerdas buat paham akan hal itu.” Syila lalu masuk mobil dan membanting pintu itu.


“Die ngapain lagi?” Andi yang sudah ada di dalam mobil bertanya.


“Biasa menanyakan eksistensi tentang perasan gue ke Om.”


“Masih aja hal basi gitu.”


“Emang sikap gue mencerminkan hal kayak gitu, Ndi?” Syila bertanya.


“Ya, mereka kan, nggak kenal sama lu, nggak kenal Izraa juga, jadi mereka hanya menebak-nebak dari apa yang mereka lihat dan mereka dengar, parahnya lagi, mereka mencoba memahami sesuai dengan kemampuan otaknya mereka.” Andi terlihat kesal juga, karena dia sangat tahu Syila seperti apa, sejauh yang Andi tahu, Syila hanya suka satu lelaki di dalam hidupnya dan perasaan itu belum tuntas hingga saat ini.


“Iya bener sih, masuk akal.”


“Ya maulah.” Walau Juna sudah sangat menyebalkan, tapi buat Syila, Juna adalah teman yang ada sedari dia kecil, Juna adalah salah satu lelaki yang sangat Syila sayangi, walau, ketika lagi kumat gombalnya, rasanya Syila ingin sekali melempar lelaki itu ke laut.


Lalu mereka berkendara ke kafe yang ada pusat kota Jakarta, Juna suka kafe mewah.


Begitu masuk Syila dan Andi sudah tahu harus kemana, karena Juna sudah memberitahu dimana dia duduk.


Saat sudah dekat, Syila baru sadar, ternyata ada Dokter Kevin juga di sana, sedang duduk, Syila sempat terdiam, kenapa Juna harus mengajaknya?


“Ndi, Syil, gue ajak Dokter Kevin nggak apa-apa, kan?” Juna memasang wajah tak bersalah, Syila memelototi Juna, sementara Juna hanya tersenyum.


“Dari mana, Syil?” Dokter Kevin bertanya.


“Abis syuting.” Syila menjawab ramah. Dia juga memesan minuman dan makanan, begitu juga Andi.


“Cowok lu mana?” Juna tiba-tiba bertanya hal yang Syila sangat tidak ingin bicarakan, apalagi Izraa hanya pacar bohongan.


“Apa sih lu!” Syila memberi kepalan tangan pada  Juna.


“Syila … udah punya pacar?” Dokter Kevin bertanya dengan hati-hati.

__ADS_1


“Udah Dok, kenal kok, si Izraa sepupu saya.” Juna masih saja melanjutkan jebakannya, ternyata ini alasan dia mengajak ketemuan, Syila kira dia ingin memperbaiki hubungan, memang salah Syila, dia terlalu loyal pada hubungan persahabatannya dengan Juna.


“Oh Izraa, wah, sangat sepadan ya.” Kata-kata Dokter Kevin menyayat hati Syila.


Sementar Syila tidak bisa menjelaskan pada Dokter Kevin bahwa dia sudah putus dengan Izraa yang pacar bohongannya di depan ayahnya, dia tidak ingin Juna tahu kalau dia sudah selesai dengan Izraa walau pacaran bohongan, tapi hubungan bohongan ini memberi keuntungan Syila untuk menghindari hubungan terpaksa dengan Juna. HIdup Syila terlalu rumit padahal umurnya masih sangat muda.


“Sepadan ya, apalagi sekarang lagi syuting bareng, wah, pacaran mulu dong di set.” Juna terus saja menabur garam pada luka.


“Oh Izraa ikut dalam film yang diadaptasi dari novelmu, Syil?” Dokter Kevin bertanya.


Syila mengangguk saja, lalu meminum jus pesanannya.


“Peran utama lagi, katanya elu cukup kekeh ya Syil mau jadiin Izraa peran utama, bahkan elu minta gue cek berkali-kali itu kontrak supaya memastikan ada poin dimana elu berhak menentukan peran utama pada pasal di kontrak itu, gue nggak tahu kalau elu bermaksud memaksa Produser buat jadiin Izraa peran utama, itu karena elu pengen Izraa jadi peran utama, kan? supaya elu bisa deket sama Izraa, ya?”


“Emang lu pikir gue serendah itu, Jun? bukannya kita udah cukup lama kenal untuk tahu karakter masing-masing?” Syila terpancing, Juna hanya tersenyum sinis, dia sedang membalas Syila, Juna memang seperti anak kecil jika sedang marah. Maklum anak orang kaya yang manja.


“Jun, jodoh nggak ada yang tahu, Syila pasti memilih Izraa karena profesionalitas aja, tapi saat berjalannya syuting, mungkin mereka mulai saling tertarik.”


“Dok!” Syila sudah benar-benar kena jebakan Juna, dia sengaja mengajak Dokter Kevin yang dulu merupakan saingan terberatnya, tapi tahu kalau mereka berdua tidak akan pernah bisa bersatu, jelas pengaruh Dokter Kevin bagi Syila sangatlah dalam, makanya dia ingin menyakiti Syila dengan pertemuan ini.


“Sini ikut gue, lu.” Andi menarik Juna menjauh, dia tahu, Syila bisa sangat murka kalau dia tidak menjauhkan Juna dari tempat ini.


“Nggak apa-apa Syil, aku ngerti kalau ….”


“Mungkin buat Dokter, Syila nggak ada artinya, mungkin buat Dokter, penantian Syila bukan hal berharga, mungkin buat Dokter, perasaan Syila cuma perasaan cinta monyet. Tapi satu hal yang harus Dokter tahu, buat Syila berat banget lupain kenangan kita, bahkan setelah beberapa tahun berlalu. Itu semua nggak bisa membuat Syila merasakan apapun lagi ke lelaki manapun!”


“Syil, aku turut bahagia jika kamu bersama pria sebaik Izraa dan aku bahagia jika kamu bahagia dengan lelaki lain, aku tidak bisa memintamu bertahan denganku tanpa kepastian.”


“Aku bertahan pada perasaan ini bukan untuk siapapun, aku bertahan untuk diriku sendiri, Dok! Jadi jangan mengatur hidupku, Izraa dan aku tidak punya hubungan apapun, Izraa hanya menolongku untuk lepas dari hubungan terpaksaku dengan Juna kemarin, itu saja.” Syila lalu bergegas pergi, sementara Andi dari jauh langsung mengejar sepupunya.


Dokter Kevin yang ditinggalkan menatap Syila dari kejauhan, dalam wajahnya, ada senyum lega, karena dia masih memiliki hati wanita muda itu.


_________________________________


Catatan Penulis :


Mereka takkan paham, begitu beratnya menjadi orang yang mencintai tanpa dicintai kembali, perih karena harus jatuh harga diri, tapi tak mampu melepas, bahkan harga diri tak lagi terasa ada.


Cinta memang sulit ditafsirkan.


Bahkan bagi filsuf dunia apalagi aku yang hanya roman picisan saja.

__ADS_1


__ADS_2