Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 110 : Rencana Pernikahan 48


__ADS_3

Kevin terdiam, dia sungguh terkejut, dia tahu kalau Winda suka padanya tapi dia takt ahu kalau Winda mungkin melakukan langkah sejauh ini, Kevin bingung harus menjawab apa.


“Tentu aku tahu kalau kau sudah memiliki kekasih, anak dari Direktur Perusahaan ini kan? aku akan mencoba membujuknya untuk merelakanmu, jika kau juga tertarik pada anakku, dia anak yang baik dan jika kau mau menerima anakku, mungkin aku juga akan menerimamu di rumah sakit ini dengan posisi yang jauh lebih tinggi.”


Kevin menelan ludah, dia sungguh tak percaya masuk ke dalam keadaan yang sangat aneh ini, dia bingung harus apa.


“Pertama, saya mengucapkan terima kasih karena sudah memanggil dan mengatakan bahwa Winda menyukai saya, itu suatu kehormatan bagi saya karena bisa disukai oleh seorang putri dari pemilik yayasan rumah sakit ini.


Kedua, soal perasaan, itu sulit diatur Pak, karena selain saya memiliki kekasih, saya juga belum berpikir jauh soal pasangan hidup, jika tujuan bapak untuk menjodohkanku dengan anak bapak, aku takut nantinya malah mengecewakan karena tidak banyak perempuan yang bisa menerima saya yang sibuk ini, sejauh ini, hanya Syila yang mampu menyeimbangkan setiap sikap saya.


Lalu terakhir, untuk posisi yang lebih baik lagi, saya tidak terlalu berpikir sejauh itu Pak, yang penting bagi saya adalah mampu menjadi Dokter yang baik, Dokter yang bisa menolong banyak pasien, hingga akhirnya saya bisa banyak belajar, saya bukan orang yang berambisi, tapi berusaha berdedikasi, karena saya mencintai pekerjaan saya.


Maka saya dengan kerendahan hati, berterima kasih tapi tidak bisa memenuhi apa yang Bapak dan Winda harapkan. Bukan karena Syila, tapi karena saya takut akan menyakiti Winda pada akhirnya.”


Kevin mencoba menjawab dengan jujur karena dia benar-benar tak yakin aka nada Perempuan lain yang mampu mengimbangi karakternya.


“Wah, ternyata Winda tidak salah menyukai seorang pria sepertimu, aku ini orang yang tidak cepat putus asa, aku akan menunggumu datang padaku untuk menerima tawaran ini, aku suka calon menantu yang sangat gigih dan tidak mudah terbujuk uang.”


“Kalau begitu, saya izin melanjutkan pekerjaan saya ya Pak, permisi saya pamit.” Kevin lalu pergi meninggalkan ayahnya Izraa dan Winda di ruang kerjanya.


Setelah keluar dari ruangan itu, dia membuka handphonenya dan melihat begitu banyak pesan, dia buru-buru berlari ke ruang UGD, karena ada pasien yang harus diperiksa, Dokter UGD meminta bantuan karena terjadi kecelakaan dengan korban yang begitu banyak


Hari-hari selanjutnya Kevin tetap melaksanakan tugasnya dengan sangat baik, dia terus melayani pasien tanpa pandang bulu.


Dan juga tanpa pandang bulu selalu membuat Syila menunggu, seperti hari ini setelah hari-hari lamaran dari ayahnya Winda berlalu.

__ADS_1


[Hari ini nggak jadi lagi?] Syila menelpon Kevin, dia sudah booking restoran untuk merayakan setahun pacaran, sekarang dia sudah berada di restoran itu, menunggu selama satu jam dan baru menelpon setelahnya.


[Pasienku dalam keadaan darurat, maaf aku tidak bisa datang lagi.]


[Pak Dokter, lain kali kasih tahu ya, biar pacarmu ini nggak nungguin, kalau aku nggak telepon mungkin aku akan menunggu sampai restoran ini tutup, memang Pak Dokter tega pacarnya nunggu lama begitu?] Syila masih berbicara tanpa emosi, padahal ini kali kedua Kevin tidak datang, sebelumnya Syila juga sudah memesan restoran tapi dibatalkan satu hari sebelumnya.


Sekarang malah lebih parah, dia lupa padahal Syila sudah mengirim pesan dua jam sebelumnya dan tidak dibalas, karena curiga Kevin lupa, Syila akhirnya menelpon, walau kecurigaan itu datang setelah satu jam dia menunggu di restoran itu.


[Maafin aku ya sayang.] Kevin hanya bisa bicara seperti itu.


[Tenang saja sayang, aku mengerti kok, tapi lain kali aku dikasih tahu ya, biar nggak nungguin lama begini, tapi aku mengerti kok, kita setting jadwal lain waktu lagi, aku siap-siap pulang aja deh setelah makan, karena aku udah booking, nggak enak kalau langsung pulang aja.]


[Kamu nggak apa-apa makan sendiri?]


[Nggak apa-apa dong, aku kan biasa sendiri, apalagi kalau lagi nulis, aku sering kok nongkrong di kafe atau restoran sendirian, jadinya nggak ada yang ribet karena aku cuekin. Jadi, ok kok.]


[Stok maafku tak terbatas, aku bakal terus nunggu untuk pak Dokterku yang sangat baik hatinya dan mengerti kalau ini semua untuk keselamatan orang lain.]


[Baik sekali pacarku, kalau begitu, hati-hati yang pulangnya.]


Setelah itu mereka menutup teleponnya dan sibuk dengan urusan masing-masing.



“Bukan aku yang mengoperasinya? Aku bukan Dokter bedah, jadi bagaimana mungkin aku bisa membedah.” Kevin berkata pada ayahnya Syila.

__ADS_1


“Tapi mereka mengatakan kalau kau melakukan operasi darurat di sana dan membuat malpraktek, ada beberapa Dokter yang menjadi saksi dan juga perawat.” Ayahnya Syila berkata dengan berat hati, dia tak bisa membela calon menantunya karena posisinya sangatlah tidak menguntungkan, kalau dia membelanya, pasti namanya akan terbawa, ini kasus cukup besar, pasien yang melaporkan malpraktek ini adalah orang penting, seorang pejabat yang cukup terkenal, sekarang pejabat itu koma dan semua orang menuduh Kevin yang melakukannya, padahal tak ada tanda tangannya, tapi semua orang menuduhnya, hanya karena dia yang jaga saat itu.


“Aku tidak melakukannya, bukankah Dokter juga tahu kan? aku bukan orang yang suka melewati batas dalam merawat pasien.”


“Aku tahu, aku mengenalmu dengan baik Nak, tapi aku tidak bisa menolongmu kali ini, mereka sudah melaporkanmu atas tuduhan malpraktek, kau mungkin akan segera diperiksa, kau harus bersiap.”


“Kau tahu kan siapa pelakunya? Kau tahu dengan jelas pelakunya adalah anakmu!” Kevin berteriak, ya Alzam saat itu memang sudah menjadi Dokter bedah, tapi baru saja lulus, seharusnya dia tak langsung menangani pasien dengan penyakit yang rumit seperti itu.


“Anakku tidak bersalah, dia hanya melakukan prosedur, mereka bilang kau yang mengintervensi anakku. Makanya operasi itu gagal.”


“Aku tidak mengintervensi, tapi aku hanya memberitahunya bahwa ada beberapa prosedur yang dia lewati, maka akhirnya operasi gagal, tapi itu kan salah satu resiko, bahwa ….”


“Aku lebih percaya anakku, maafkan aku Kevin, hidup itu memang terkadang harus memilih, Alzam tidak bersalah, kalau dia sampai dilaporkan, maka karir kedokterannya akan hancur!”


“Lalu bagaimana dengan diriku! Aku juga seorang manusia yang sudah berusaha dengan sangat keras! Aku menjalankan semuanya dengan hati-hati, Alzam yang salah prosedur dan seharusnya dia yang menanggung semua ini, kenapa harus aku?”


“Karena taka da tanda tangan anakku, maka aku tak percaya.”


“Tak ada tangan tanganku juga, operasi itu terlalu darurat, keluarga pejabat itu minta diistimewakan hingga kita melakukan operasi darurat dengan melewatkan banyak SOP! Makanya tak ada dokumen yang kita penuhi untuk operasi itu, pejabat itu kecelakaan dan kita bertaruh dengan waktu, makanya kita melakukan operasi illegal, aku membantu anakmu, tapi anakmu yang sepenuhnya melakukan operasi itu dan dia takut menolak makanya melakukan operasi yang belum mampu dia lakukan, aku sudah peringatkan tapi ….”


“Cukup Kevin, cukup! Kau tetap harus membuktikan ucapanmu, karena saksi adalah kunci dari kasus ini, aku harus minta maaf karena memilih anakku, maafkan aku Kevin.”


Kevin mendengar itu lalu keluar dengan membanting pintu calon mertua yang tidak pernah jadi mertua itu, dia sangat marah, dia sudah memperingatkan Alzam untuk tidak melakukan operasinya, tapi dia bilang takut kalau dia tak memenuhi keinginan keluarga pejabat itu, karir dia dan ayahnya mungkin mungkin akan tamat, apalagi jika pejabat itu meninggal dunia, mengingat dulu ayahnya pernah kena kasus yang sama dan akhirnya harus keluar dari rumah sakit itu.


Maka Alzam melakukan operasi illegal ini dengan terpaksa dan gagal, karena sebenarnya dia memang tak mampu.

__ADS_1


Kevin sangat marah karena dia harus menanggung semuanya padahal dia sudah berusaha untuk mencegah Alzam, sekarang dia yang harus menanggung, betapa sakit hatinya karena tak mampu melindungi harga dirinya sebagai Dokter dan kehormatannya diinjak-injak oleh orang yang seharusnya membela, ayah dari kekasihnya.


__ADS_2