
“Mungkin kita akan jadwalkan lagi operasi kedua ya.” Papi bicara pada Syila saat sarapan pagi.
“Apakah harus operasi lagi?” Syila bertanya.
“Ya, harus operasi lagi, makin cepat makin baik.”
“Pi, kalau terapi aja gimana?”
“Nggak bisa hanya terapi Nak, karena memang luka tusuk itu cukup dalam, kita harus perbaiki secara bertahap, terapi itu hanya membantumu untuk memperbaiki beberapa bagian saja, sisanya masih harus ditangani dengan operasi.”
“Cil, ikutin aja apa kaga papi ya.” Alzam setuju dengan papi.
“Apa ada yang aku tidak ketahui mengenai kondisiku?” Syila akhirnya bertanya hal yang membuatnay selama ini penasaran. Karena papi dan Alzam cenderung tidak menjawab dengan jelas kondisi Syila.
“Tanganmu baik-baik saja.” Papi mencoba untuk tetap membuat Syila tenang.
“Kalau kondisiku baik-baik saja, lalu kenapa terapi tak banyak membantu?”
“Syil, sudah. jangan pikirkan hal lain, sekarang kau harus tetap fokus sembuh, jangan banyak mikirin hal yang lain, aku takut kalau kau malah jadi stres dan menghambat kesembuhanmu.”
“Mi, Pi, Kak, kondisiku parah kan?” Syila memaksa untuk mendapatkan jawaban yang sebenarnya.
“Syil ....”
“Kalau papi nggak mau kasih tahu kondisi yang sebenarnya, aku akan menolah untuk dioperasi, aku bukan anak dibawah umur yang harus mendapatkan wali, aku bisa menolak operasi itu dan kalian tak berhak untuk memaksaku.” Syila mengancam,
“Syil!” Mami kesal mendengarnya dan membentak Syila karena sudha keterlalun.
“Mi, cukup! Bailah Syila, aku akan jelaskan kondisimu secara lengkap setelah sarapan, ke ruang kerjaku, aku akan menjelaskannya sembari memperlihatkan hasil pindai tanganmu.” Papi akhirnya menyerah.
“Pi!” Alzam tak setuju.
“Dia berhak tahu kondisinya seburuk apa.” Papi sengaja menggunakan istilah yang menakutkan agar Syila bersiap.
Sarapan berlangsugn dengan cepat, lalu papi dan Syila masuk ruang kerja, Alzam tidak papi izinkan masuk, dia ingin bicara dengan anaknya berdua saja, dari hati ke hati dan mungkin kabar ini akna menyayat hatinya Syila dengan sangat pedih.
Mereka berdua masuk ruang kerja, Syila duduk di sofa, bukan di depan meja kerja papi, mereka duduk bersisian.
Papi menunjukkan hasil rontgen bahu Syila dan tangannya.
__ADS_1
“Ini bagian yang kami operasi, setelah berbulan-bulan terapi, tidak ada perbaikan, jaringan ini malah makin rusak.” Papi memperlihatkan hasil rontgen dan menunjuk bagian bahu yang dia maksud.
“Kenapa jaringan itu malah makin rusak?”
“Kemungkinan karena tubuhmu menolak hasil operasi pertama sebagai bagian dari perlindungan, ingat kalau kau itu punya penyakit ....”
“Auto imun.”
“Betul, ketika imunmu menyerang tubuh, bukannya melindungi, operasi itu membuat pertahanan tubuhmu malah menyerang jaringan yang sudah kami perbaiki dan mungkin ketika kami lakukan operasi lagi, pada beberapa bulan ke depan, jaringan akan kembali rusak karena masalah penyakitmu itu.”
“Maksud papi, berapa banyak operasi aku lakukan pun, kemungkinan jaringan itu rusak lagi akan ada dan bisa jadi, aku akan selamanya cacat?” Syila terdiam, dia gemetaran, karena dia tahu semua yang dibicarakan papi bukan sebuah lelucon, tapi sebuah pernyataan medis yang dilontarkan seorang Dokter pada pasiennya.
“Syil, kita nggak pernah akan tahu keajaiban apa yang terjadi di depan, kita hanya perlu untuk berusaha, mungkin pada percobaan kedua ini, kau akan sembuh dan jaringan pada bahumu takkan rusak lagi, aku mohon, kita harus berusaha lagi.”
“Papi mau sampai kapan mengoperasiku? Ini akan jadi kali kedua, lalu ketiga, keempat, kelima dan jika terus dilakukan, aku yang akan jadi gila, karena papi tahu dengan jelas, luka operasi itu sangat sakit dan tentu saja akan membuatku trauma jika dilakukan terus menerus.”
“Syil, kamu itu masih muda, kita pasti bisa melalui ini semua, kita harus melakukan langkah yang paling mungkin meskipun presentase keberhasilannya sedikit, karena selama masih ada kemungkinan, pasti aku akan lakukan untukmu.”
“Pi, Syila mau istirahat dulu ya.” Syila hendak keluar dari ruang kerja papi.
“Syil, ini mengenai Izraa, aku ingin kalian melanjutkan hubungan ini lagi.”
“Aku tidak mau dia hidup senang sementara anakku sakit seperti ini, menanggu kebodohannya, dia harus bertanggung jawab!” Papi terlihat marah.
“Pi, aku tidak sedang hamil hingga Izraa harus bertanggung jawab dan menikahiku, aku sendiri yang memutuskan untuk menyelamatkannya, maka ini murni kesalahanku, tak ada andilnya dalam hal ini. Aku yang salah! dan aku takkan pernah mau menikah dengannya hanya karena tahu tak ada yang mau padaku lagi setelah kecacatan ini. Aku lebih baik hidup sendiri selamanya daripada harus dipaksa menikahi orang yang harus bertanggung jawab pada penyakitku.”
Syila lalu keluar kamar dan hendak masuk ke kamarnya, dia benar-benar kalut, dia sangat takut tapi dia tak ingin terlihat lemah dan membiarkan Izraa terpaksa menikahinya.
Syila masuk kamar dan menangis sejadinya, hal yang dia tahan sedari tadi.
Dia merasa kesepian dan tak punya siapapun, dia tak percaya siapapun lagi.
...
“Aku nggak habis pikir Za, bagaimana reporter itu tahu kalau Syila sakit?” Bang Aryo terlihat gusar, karena sudah beberapa hari Syila tak mau mengangkat telepon, PH dan management berjanji pada Syila takkan ada yang mengungkit penyakitnya di sesi acara kemarin, tapi mereka kebobolan.
“Syila sedih sekali.” Hanum ada di sana, mereka sedang datang untuk acara launching film di beberapa tempat.
Izraa hanya diam saja, dia terlihat gusar dan sedih.
__ADS_1
“Tiga hari film tayang, lumayan banyak penontonnya, ini akan jadi berita baik untuk Syila.” Hanum berkata, “Alzam bilang, Syila sangat bersemangat hadir kemarin, tapi harus dipatahkan dengan serangan reporter sialan itu!” Hanum kesal lagi.
“Num, lu bawain hadiah dari PH dan management ya, permintaan maaf, kan elu orang dalem nih di keluarga Syila, jadi aku minta tolong supaya kau datang padanya dan sampaikan permintaan maaf kami.” Bang Aryo memang sudah tahu kalau Hanum pacaran dengan kakaknya Syila.
“Ya, akan aku sampaikan, tapi beberapa hari ini dia sulit ditemui, bahkan Andi sudah tak pernah kelihatan lagi di rumah, kata mami, Syila curiga Andi yang keceplosan ngomong dan akhirnya reporter itu tahu, hubungan mereka sangat renggang.”
“Wah Syila kok bisa kehilangan akal gitu?” Bang Aryo kaget.
“Wajar Bang, namanya juga dalam kondisi kalut, nggak bisa kita salahin kalau dia jadi hilang akal.” Izraa yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara, dia banyak menahan diri sejak kemarin, dia sungguh ingin menghajar orang yang berani menyakiti Syila, tapi tidak bisa saat itu.
“Num, aku ikut ya, aku harus meliaht keadaan Syila.”
“Nggak bisa dong Za, kan elu tahu kalau papi sama mami belum bisa terima lu lagi, jadi nggak bisa.”
“Gue harus ketemu, kita datang tiba-tiba saja.”
“Za, elu mau gue diputusin Alzam!” Hanum menolak dan Izraa jadi tahu, kalau dia memang tidak bsia mengandalkan siapapun saat ini.
Izraa lalu pergi ke luar ruangan tempat para artis istirahat sebelum sesi nonton bareng penggemar dibuka.
Dia ingin menelpon Syila.
Izraa terus berusaha menghubungi Syila, tapi telepon genggamnya memang mati.
Syila benar-benar tak ingin diganggu, dia lalu menelpon Alzam, Alzam mengangkat setelah telepon ketiga kalinya.
[Aku harus bicara denganmu, penting.]
[Kau pikir karena kau anak pemilik yayasan rumah sakit ini, maka kau berhak untuk menyuruh kami para tenaga medis untuk ikut perintahmu?]
[Aku bicara bukan sebagai anak pemilik yayasan, tapi aku bicara sebagai orang yang sangat peduli pada adikmu, karena di dunia ini, takkan ada yang akan pernah peduli pada adikmu, sepeduli aku!" Izraa terdengar tegas.
[Kau mau apa?!] Alzam mengalah, karena apa yang Izraa katakan, sulit dibantah, papi dan Alzam tahu, takkan ada lagi pria yang paling mungkin menerima Syila kelak dengan kecacatannya.
[Aku perlu bicara langsung.]
[Aku off jam 10 malam nanti, temui aku di rumah sakit,] Alzam akhirnya luluh.
[Aku akan ke sana nanti malam.]
__ADS_1
Lalu Izraa menutup telepon genggamnya, dia harus mendapatkan semua orang di pihak Syila, memihaknya juga, karena Syila takkan pernah akan mencoba kembali padanya jika mereka tak merestui. Izraa akan berusaha sekuat tenaga.