
Reading scenario berlangsung selama tujuh hari penuh, Syila hanya datang dua hari saja, dia harus menulis juga, karena deadline yang dia buat sendiri, tidak perduli apa yang terjadi, setiap tahun dia harus mengeluarkan minimal satu buku, tapi sudah mau dekat akhir tahun, bukunya belum rampung juga, salahnya karena terlalu sibuk dengan pembuatan film dari judul bukunya yang lain itu.
Hari ini adalah workshop di lokasi syuting pertama, yaitu terminal bus, di mana peran utama untuk pertama kalinya bertemu, tidak syuting di terminal sesungguhnya karena akan sulit booking terminal untuk tutup satu hari penuh, makanya dibangunlah set seperti terminal bus, didatangkan beberapa bus dengan kondisi seperti pada umumnya.
Beberapa pemain sedang makeup, Izraa sudah datang sejak pagi, Hanum juga, mereka sangat dekat, Syila senang karena mereka berusaha membangun chemistry, tapi bagi Hanum, dia lebih senang lagi karena Izraa yang dia kagumi bisa selalu dekat dengannya.
Syila pikir tampilannya membuat dia menjaga marwah, tapi ternyata Hanum seperti gadis muda lainnya, ketampanan mampu mengalihkan dunia siapapun.
“Syil” Izra menyapa, Hanum juga, Syila hanya mengangguk, dia tidak begitu suka basa-basi, tapi kali ini dia memberi senyum sedikit pada mereka berdua.
Lalu Syila menghampiri Sutradara.
“Bang, gimana? hari ini lancar?” Syila memang datang siang, itu karena ada beberapa hal yang ingin Sutradara diskusikan mengenai dialog, Sutradara sangat kooperatif dan menghargai karya Syila.
“Gue sama Izraa ngerasa bagian pertarungan mening dimajuin deh Syil, soalnya kalau lu taruh di bagian tengah, kayak kurang ajeg gitu.”
“Kurang Ajeg gimana, Bang?”
“Ya, kita kan mengusung lelaki yang pandai bela diri, masa scene beladirinya dikit banget.”
“Beda dari buku dong Bang? kan nggak ada bagian bertarung di awal-awal gini, lagian emang gue sengaja taruh di akhir, karena aspek yang mau diusung bukan cuma soal bela diri aja.”
"Ya, modifikasi aja, misal part akhir dimajuin. Lalu abis itu balik ke trek." Izraa datang dan langsung menyambar obrolan.
"Sembarangan! Ya, nggak bisa gitu lah, namanya based on novel, ya ikutin alur novel dong." Syila tidak mau kalah.
"Tapi mbak Syila, aku rasa nggak masalah sih kalau alurnya agak diacak supaya lebih komersil, Mbak." Kali ini Hanum yang ikut mengompori, muka Syila mulai merah padam.
"Ini alasannya, kenapa saya kasih syarat saat novel ini mau difilmkan, supaya nggak seenaknya orang acak-acak karya saya. Baca aja nggak, seenaknya ngatur!"
"Bu-bukan begitu, Mbak, maksud saya ...."
"Kalau Anda mau acak-acak, bikin novel sendiri." Syila masih menatap Hanum dengan tajam, kata-kata Hanum cukup membuat Syila tersulut.
Hanum cuma bisa mengatakan, "Maaf, Mbak."
"Jangan terlalu idealis, Syil, karyamu hanya akan jadi sampah." Setelah mengatakan itu Izraa meninggalkan Syila yang mukanya memerah, sementara Hanum mengikuti Izraa, ada senyum sinis dari wajahnya, dia merasa Izraa telah membelanya.
"Syil ...."
"Elu juga setuju sama mereka, Bang?" Syila berkata dengan membelakangi Sutradara.
__ADS_1
"Gue rasa elu nggak perlu terlalu keras menjaga, Syil, kita tuh saling butuh."
"Ini yang mungkin Abang dan mereka nggak tahu, buat gue, karya gue adalah anak-anak kandung, gue bakal jaga mereka mati-matian untuk bermanfaat, bukan memanfaatkan. Tujuan akhir gue bukan uang Bang, ada pesan yang harus disampaikan dari segi dialog, plot dan skenario, kalau lu dan mereka ubah seenaknya, apa yang udah gue coba bangun, bakal berantakan.
Nggak gampang buat gue bangun komunitas novel gue, gue melakukannya dari bawah banget, saat hanya satu dua orang yang suka, jadi gue nggak akan biarin anak-anak gue dibuat acak-acakan seperti Hanum bilang.
Gue hormat sama lu, Bang, tapi maaf, kalau misal lu dan anak-anak masih ngeyel untuk rubah alur, gue bakal bawa pasal kontrak ke Management. Maaf, Bang."
Syila berjalan menjauhi set, dia menangis di mobilnya, ada Andi yang baru saja datang.
Syila kesal, karena sudah sejauh ini tapi dia masih saja diremehkan.
"Gue nggak sejalan sama lu, tapi kalau lu sampe nangis gini, gue lebih baik kita patungan buat bayar pinalti deh." Andi geram melihat Syila menangis.
"Dia bilang karya gue sampah. Setelah bertahun-tahun gue melakukan banyak hal, tidur cuma beberapa jam dan dia bilang karya gue sampah, jerih payah gue selama ini cuma dianggap sampah!!"
Syila terisak.
"Gue sewa orang apa buat pukulin dia?" Andi si sepupu kemayu sungguh bisa mengeluarkan sifat maskulinnya jika ada yang menyakiti Syila.
Karena Andi kenal Syila, dia perempuan kuat, tapi jika soal karyanya, dia cenderung sensitif.
"Cabut ajalah. Udah besok lagi pikirin, nggak bisa gue liat wajah tuh laki tengil! brengsek!!!"
Begitu sudah sampai lokasi, Syila bergegas ganti baju, Andi tidak, karena dia tidak suka Gym.
Setelah selesai ganti baju olahraga, Syila lalu menuju treadmillnya.
Ini adalah Gym langganan Syila, walau di apartemen ada treadmill, tapi di Gym ini jauh lebih lengkap. Makanya Syila memilih olahraga di tempat ini.
Tidak disangka kakaknya Syila juga sedang ada di Gym ini.
"Acil!" Dia berteriak memanggil adiknya dengan nama kesayangan. Karena dulu Syila cadel, dia sering memanggil dirinya dengan sebulan Acila bukan Asyila, dari situlah kakaknya memanggil Syila dengan sebutan Acil, menular keseluruh keluarganya.
"Kak, tumben ngegym." Syila masih di atas treadmillnya.
"Iya dong, kan gue mau gedein badan."
"Ah, paling juga lagi ngincer cewek, abang lu mah emang gitu, anget-anget tai ayam."
"Apaan sih lu, sono ganti baju, kita adu angkat besi aja, gimana?" Kakaknya Syila kesal dengan perkataan Andi.
__ADS_1
"Ogah, gue mah jagain Acil aja."
"Alesan lu, awas mata jelalatan ke piti disini ya." maksudnya Personal Trainer.
"Heh, jaga bacod lu ya, gue suka cewek." Andi menunjuk kakaknya Syila.
"Elu yang jaga jari, kenape tuh jari ngetril."
Lalu dia berlari begitu mengatai sepupunya, lawakan seperti ini sedikit membuat Syila bisa tersenyum, walau belum bisa melupakan rasa sakitnya setelah kejadian tadi.
Sementara telepon genggam Syila terus berdering, tapi Syila menaruhnya di tas dan tas dititpkan di loker.
....
Sementara di lokasi syuting.
[Iya pak, kayaknya Syila ngambek deh, tadi sempet ngancem bawa kontrak pas ngomong sama saya.] Sutradara menelpon Produser.
[Lagian lu pada ngapain minta yang enggak-enggak wajarlah dia marah, gue aja kalah, apalagi kalian.] Ada nada kesal dalam perkataannya.
[Pak, Hanum mau bicara.] Sutradara memberikan telepon genggam pada Hanum, mereka berdua memang berniat bicara secara pribadi dengan Produser, mencari dukungan mungkin.
[Kenapa, Num?]
[Om, tadi dia juga kasar loh ke Hanum, masa Hanum disuruh bikin novel sendiri kalau mau alurnya diacak.] Ternyata Hanum adalah keponakan dari Produser.
[Dia emang arogan, Hanum. Nggak usah diambil hati ya, kamu acting aja yang bagus, ini bisa jadi gerbang kamu. Inget, nggak semua orang bisa dapat kesempatan ini ya, projek pertama langsung peran utama dan dapat film yang bagus. Om percaya kamu bisa jadi aktris hebat kedepannya.]
[Iya Om, cuma Izraa aja keberatan loh sama alurnya.]
[Wah, Izraa harusnya tahu diri tuh. Syila mati-matian mau dia jadi peran utama, Om sempat nolak. Udah pokoknya, Hanum harus fokus aja ke acting ya.]
Dalam hatinya Hanum berpikir, Izraa tidak boleh tahu kalau kalau Syilalah yang ingin dia ikut bergabung, padahal ditentang pemilik produksi. Hanum mengira Syila pasti suka dengan Izraa, pemikiran yang cetek sekali.
Buat Syila yang terpenting adalah, karyanya bisa menjadi yang terbaik dan Hanum bukan kategori itu di mata Syila.
Setelah menutup telepon Hanum lalu kembali ke set, dia memang sangat menyukai Izraa, padahal sebelumnya dia adalah wanita yang sangat sulit suka lelaki, dia punya banyak pertimbangan, maklum dia dan Syila punya kepribadian yang keras.
_____________________________
Catatan Penulis :
__ADS_1
Aku tidak perduli kalau kau tidak semanis karyaku, tapi jangan sentuh apa yang aku yakini benar, atau kau akan tahu, apa itu namanya perih karena kata-kataku.