Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 67 : Berpisah 5


__ADS_3

“Sudah siapkan yang saya pesan?” Mami masuk ke butik langganannya, butik klasik yang sangat dia sukai, sang Designer telah menyiapkan permintaan maminya Syila, sebuah gaun muslimah anggun yang tidak mencolok tapi tetap terlihat mewah.


Ada 3 orang asisten Designer yang menyambut kedatangan mereka, lalu langsung naik ke atas, ruang khusus untuk tamu VIP.


Mereka sampai di lantai 2 dan langsung dihadapkan dengan berbagai gaun.


Satu orang asisten memperlihatkan satu gaun terlebih dahulu.


“Hmm, Mi … kit aitu mau prelaunching film, bukan tunangan, ini kenapa harus banget gaun sih?” Syila menolak, karena gaun-gaun itu dilihat dari sini saja berlebihan.


“Ini memang gaun untuk acara besar, CIl.” Mami berkata dengan keras kepala.


“Iya ini acara besar, tapi bukan sekelah acara anugrah-anugrahan gitu, baru cuma acara penayangan film aja, Mi. Mbak, ada nggak yang bukan gaun, terlihat formal, tidak berlebihan dan berwarna teduh?” Syila tak mau memakai gaun itu, takkan pernah, itu berlebihan.


“Tidak mau gaun?” Ada suara dari arah lain.


“Tante?” Syila bingung karena maminya Izraa tiba-tiba ada di sini.


“Kebetulan, aku sedang mengambil baju untuk Izraa, dia bilang hanya akan gunakan baju lama, tapi aku memaksa untuk menggunakan baju pesananku, kau tahulah, ini adalah debutnya setelah cukup lama vakum dari dunia perfilman.”


“Oh ya, Tante.” Syila tidak begitu ingin menggubris, karena ada maminya di sana.


“Kalau memang tak suka gaun, bukankah kalian punya koleksi spring summer yang kemarin digunakan pada parade fashion week di London? Ada kolek si hijab seperti jumpsuit dan juga kemeja dengan detail yang indah?” Maminya Izraa berbicara dengan salah satu asisten designer yang membantu Syila dan maminya.


“Iya Bu, tapi maaf, koleksi tersebut belum launching, karena baru akan diluncurkan tiga bulan lagi.” Asisten itu menjawab.


“Ok, tunjukkan katalognya pada Syila dulu, kalau ada yang dia suka, aku akan hubungi Designer kalian.”


“Tapi, Bu ….”


“Ambil katalognya.” Maminya Izraa memaksa, Asisten itu tahu, berapa dana yang digelontorkan oleh maminya Izraa untuk mendukung pemilik butik ini. Maka diberikanlah katalog itu pada Syila.

__ADS_1


Katalog yang belum resmi jadi, hanya digunakan untuk parade di luar negeri saja kemarin, tapi seperti yang maminya Izraa duga, Syila akan suka, karena dia paham betul, bahwa Syila bukan gadis yang suka pakai gaun berhiaskan manik yang banyak, dia adalah gadis dengan karakter kuat nan elegant, pasti maminya dulu sangat ingin Syila tampil dengan anggun, makanya sampai sekarang dia suka memaksa Syila memakai gaun, seperti dulu saat pertemuan keluarga pertama kali, Syila memakai gaun dan jelas, dia tak nyaman.


Kadang orang terdekat suka memaksakan kehendak.


“Ini bagus, aku suka.” Syila menjatuhkan pilihan pada setelan kemeja dan celana panjang berbahan Wollycrepe yang berteksture seperti kulit jeruk mewah, dengan warna nude yang indah.


Kemeja tersebut memiliki detail pada bahunya, detail itu berbentuk seperti cape yang tidak terlalu panjang, hanya sampai pada siku, tapi menambah kesan mewah. Tidak lupa designer tersebut menambahkan aplikasi kerah pita pada kemejanya untuk menambah kesan formal. Tidak sampai di situ, karena diperuntukkan bagi muslimah, maka tangan dari kemeja tersebut panjang berbentuk terompet atau payung dengan cutting yang tidak terlalu panjang, sungguh Syila sangat suka koleksi setelan ini.


Lalu pada celananya, masih berbahan sama yaitu Wollycrepe, cutting dari celana dengan model slacks atau model lurus yang biasa digunakan sebagai celana setelan dari kemeja kerja, cuttingnya yang lurus terasa semakin formal dengan letak pinggang yang cukup tinggi.


“Tante telepon dulu designernya ya, supaya mereka bisa keluarkan koleksi yang kamu suka.”


Lalu maminya Izraa menelpon Designer tersebut, tapi melipir ke ruangan lain.


[Halo Anastasia, aku ganggu ga?] Maminya Izraa berbasa-basi.


[Nggak kok, ada apa tante?] Rupanya mereka memang sangat saling kenal.


[Ana, calon mantu Tante mau ada prelaunching film sama Izraa, tapi dia nggak suka gaun, maksudnya bukan gaun kamu nggak bagus ya, anaknya memang berkarakter kuat, lalu tante ingat kamu punya koleksi yang diperagain di parade mode London, trus Tante paksa asisten kamu untuk kasih liat katalognya, calon mantu Tante suka yang koleksi hijabnya, yang warna nude ituloh Ana, kamu ada nggak stok untuk ukuran M, mantu tante sih ukuran badannya S, tapi tentu dia tak suka kalau memakai baju yang slim fit, kira-kira kamu bisa tolongin nggak ya?]


[Ana, calon mantu Tante itu mau launching film yang dibintangi Izraa, ini bisa jadi ajang promosi loh buat kamu, coba bayangin, saat Syila bicara di depan banyak pers besok, bajumu akan ikut disorot juga loh, mereka pasti bertanya-tanya, Syila tuh pakai baju siapa, nanti Tante sekalian bujuk Syila untuk foto dan taruh di sosial medianya lalu tag kamu sebagai designer, itung soft launching sayang. Kan bisa jadi exposure tinggi tanpa budjet buat kamu loh, Tante beli bajunya, hadiah buat calon mantu.]


[Duh, Tante nih emang paling jago deh melihat peluang bisnis, kalau begitu, aku nggak keberatan, seperti yang tante bilang, itung-itung kasih exposure buat baju aku sebelum launching, seneng banget bisnis sama Tante, yaudah, nanti aku minta asisten aku untuk keluarin yang size S dan M karena kebetulan cuma dua size itu aja yang baru ada, tapi yang M kayaknya belum kelar semua, aku minta penjahit aku kelarin deh hari ini. Tapi dicoba dulu Tan, biar ukuranya masuk.]


[Ana! Kamu emang the best!] Lalu maminya Izraa menutup telepon.


“Syila, kamu beruntung, sizenya ada, Ana pasti sudah bilang pada kalian kan?”


“Iya Bu, size S dan Mnya sedang dikeluarkan, tapi kalau memang size M yang digunakan, maka harus ada finishing dulu.”


“Ya nggak apa-apa, Syila coba dulu ya, nanti kalau size S cukup dan tidak terlalu slim fit, ambil yang S saja.”

__ADS_1


“Makasih Tante.”


“Nggak usah makasih, ini mah hal kecil buat Syila.” Maminya Izraa terlihat berusaha sekali mendekati calon mantunya.


Maminya Syila hanya menatapnya dengan wajah datar, sementara Syila mengepas baju, dua orang mami dari kalangan atas itu minum teh di sofa yang disediakan.


“Apa ini benar kebetulan, Jeng?” Maminya Syila bertanya sambil menyeruput tehnya dari cangkir khusus tamu VIP.


“Dalam bisnis tidak ada kebetulan, semua ada perhitungannya.” Maminya Izraa hanya berkata jujur.


“Aku suka sikap terbuka seperti ini, tapi jangan berharap banyak.”


“Aku tidak pernah berharap Jeng, tenang saja, apa yang aku berikan jangan dianggap beban.” Tentu saja dia tak pernah berharap, karena dia sudah yakin pasti menang, dia sudah memperhitungkan semua langkahnya sejak Izraa meminta bantuan.


“Ukuran Snya masih bisa digunakan Tante, mungkin karena berat badan Syila turun makanya ukuran S saja masih over size.”


“Kamu makan yang banyak ya setelah ini, jaga kesehatan, karena filmmu akan menjadi debut kalian berdua, Tante punya feeling yang bagus pada proyek kalian.”


“I-iya Tante.” Syila gugup, takut maminya marah.


“Kalau begitu, kami pamit, pakaiannya tolong disiapkan.” Maminya Syila hendak pulang.


“Siapkan pakaiannya, pembayaran biar tante yang urus ya.”


“Tidak usah Tante, biar Syila aja, nggak mau ngerepotin.”


“Syila, ini hadiah, karena Tante belum pernah kasih kan?”


“Ng-nggak usah Tante … aku.”


“Terima kasih Jeng, sampai ketemu nanti sore di lapangan tenis ya.” Maminya Syila menarik Syila setelah pakaiannya sudah di tangan dan membiarkan maminya Izraa membayar bajunya.

__ADS_1


Maminya Izraa lalu memberi kartu kredit unlimited berwarna hitam bertuliskan American Express, mesin EDC tanpa kabel sudah disiapkan, lalu tertera anka pembayarang tiga puluh lima juta rupiah sebagai harga dari setelah tersebut. Harga yang tidak terlalu fantastis untuk pebisnis sekelas ibunya Izraa.


“Terima kasih karena sudah melayani calon menantuku dengan baik, aku sudah memesankan minuman dan makanan untuk kalian dan juga ini ada voucher belanja di mall milikku, aku sangat senang hari ini.” Walaupun para asisten sudah terbiasa diberikan tip besar dari ibunya Izraa, tapi masih tetap terlihat senang, karena jarang ada pelanggan VIP yang sebaik maminya Izraa, dia memang paling tahu cara membangun relasi, tak heran, bisnis suaminya jadi cemerlang.


__ADS_2