
"Bawa gue pulang deh." Syila meminta.
"Gue udah ngejar lu sejauh ini masih aja nggak luluh." Izraa mengeluh.
"Ini belum apa-apa sih menurut gue, sampe lu donor ginjal mungkin baru cukup, tapi selama belum sejauh itu, ya gue nggak bisa janji."
"Asal nggak minta jantung, kemungkinan gue bakal kasih sih."
"Kalau minta otak boleh?"
"Otak mau diapain? Emang bisa donor otak?" Izraa bertanya dengan lugunya.
"Buat di makan, begini, nyam nyam nyam." Syila memperagakan seperti seorang psikopat yang sedang makan daging yang dipegang kedua tangannya.
"Lu penulis cerita creepy pasta atau gimana sih?"
"Bisalah dikondisikan." Syila tertawa riang. Izraa melihat dengan sekilas, betapa menyenangkannya mendengar tawa renyah Syila.
"Ngomong-ngomong soal makan, gue laper, sarapan dulu ya?"
"Hah? Dimana?"
"Terserah, apa mau di rumah lu aja? Sekalian kenalan sama papi."
"Za! Lu mau bunuh gue?"
"Biar satu sama, elu kan tadi mau bunuh gue juga, makan otak." Izraa tertawa.
"Di fastfood deket sini aja, bareng Andi, biar nanti kita anter lu pulang trus abis itu gue pulang sama Andi."
Izraa mengangguk dan memutar mobilnya ke arah restoran fastfood itu. Saat sudah sampai Andi terlihat cemberut sedang duduk di pojokan.
"Nape lu? Marah?" Izraa bertanya dengan muka tanpa bersalah.
"Gimana nggak marah, kalian tinggalin gue, kalau papi liat gimana? Untung gue kreatif, jadi ke sini dulu, gue berasa kalian pacaran beneran tau kalau kayak gini."
"Kita emang beneran kok pacarannya." izraa lagi-lagi menjawab sekenanya.
"Emang iya Syil?"
"Nggak usah dengerin, kita emang bener pacaran tapi lu tau kan kenapa? Jadi nggak usah tanya-tanya."
"Yaudah pesen makan sana." Andi menyruh Syila memesan makanan.
"Nih." Izraa kembali menyodorkan dompetnya.
"Nggak usah, gue punya uang sendiri." Syila menolak lalu bangkit.
"Gue pesenin juga, cepet deh." Izraa memaksa Syila mengambil dompetnya. Izraa memakai topi, dia artis takut dikenali, akan ada kerumunan minta foto yang kadang melelahkan, ditambah Syila takut papinya tahu mereka bertemu.
Syila mengambil dompet itu takut ada keributan yang memancing mata dan pendengaran orang, mengingat Izraa sangat suka seenaknya dan tidak peduli impactnya ke orang. Syila memesan makan ke kasir, tipikal sekali di restoran fast food pasti makanan itu dipesan di kasir lalu dibayar sebelum disediakan. Saat kembali Syila melihat Juna sudah ada di sana.
"Kok bisa tau kita di sini?" Syila bertanya, Izraa terlihat kesal dengan kedatangan Juna. Dia duduk menyender di sandaram kursi dengan tangan terlipat dan kaki menopang. Syila duduk di samping Izraa dan memegang bagian dengkulnya, menandakan keromantisan sepasang kekasih, dia memang ingin Juna masih menganggap mereka jadian.
“Gue yang hubungin, abis elu berdua kabur, masa gue sendirian di sini.” Juna, Andi dan Syila memang seperti itu, sahabat dari kecil bertiga, kalau salah satu tak ada, memanggil yang lain.
“Nih dompet kamu, sayang.” Syila menatap Izraa tanda minta persekongkolan di depan Juna. Izraa mengambil dompet itu lalu merangkul Syila.
“Udah sedeket itu sampai bisa pegang dompet Izraa, dulu pas elu sama Kevin perasaan nggak pernah liat Kevin kasih dompetnya ke elu, kalian kalau makan Kevin yang bayar di kasir.” Juna kecewa, karena ternyata sudah sedekat itu Izraa dan Syila, dulu Kevin dan Syila sering makan bersama dengan Juna dan Andi, makanya dia tahu kebiasaan Kevin yang tidak membiarkan Syila memegang dompetnya.
“Oh gitu, lu tau kan, kalau dompet itu bagian pribadi, kalau elu kasih dompet lu ke orang, itu berarti dia percaya orang itu, berarti kemungkinan Kevin nggak percaya sama lu Syil.” Izraa tertawa puas.
“Terserah, toh hubungan itu telah berlalu.”Syila tersenyum terpaksa, seharusnya tidak ada yang membangkit memori itu, siapapun tahu, Kevin memang tidak percaya Syila atau memang ada sesuatu yang disembunyikan Kevin di dompet itu, pernah terpikir oleh Syila, tapi cintanya yang besar, menolak memeriksa secara diam-diam, hingga akhirnya dia ditinggalkan dengan sangat menyakitkan, tanpa Syila perlu marah, karena tidak berhak.
“Yaudah, gue sebagai sahabat, bisa apa selain mendoakan, yang penting papi mami harus tahu loh, Syil.”
__ADS_1
“Juna awas! Kalau sampai elu bilang ke mami papi, jangan harap gue bakal maafin lu dan mau anggap lu sahabat lagi, gue bakal benci banget sama lu.”
“Lu mau backstreet gitu? masih jaman Syil? Malu lu sama Izraa? Atau dia nggak memenuhi kriteria mantu idaman papi?” Juna masih menyerang Izraa.
“Bukan begitu, gue nggak mau ribut sama papi, kan elu tau, gue udah sering membangkang, gue mau damai aja dulu, nanti kalau lebih serius lagi, gue pasti omongin kok ke mereka dan cuma gue yang berhak ngomongin ini ke mereka, bukan yang lain. Jadi jangan ada yang jadi pengaduan ya!” Syila mengancam tiga lelaki itu.
“Kita sih pasti jaga mulut, tapi nggak tau yang ono noh.” Andi menunjuk Izraa.
“Semalem kayak orang gila telpon gue, minta malam itu juga ke rumah lu, macam anak abg lagi berantem lu Za, norak!” Andi kesal, karena dari semalam ternyata Izraa mengejarnya.
“Salahin sepupu lu, telepon gue direject, HP dimatiin, ya paniklah gue.”
“Kalian berantem hebat sampe Syila tutup telepon gitu, wah tanda tak baik tuh, baru seumur jagung aja banyak konflik.” Juna memang cari kesempatan untuk selalu menjatuhkan Izraa.
“Bukan Izraa penyebab konfliknya, tapi Hanum.” Syila membela kekasih palsunya.
“Lah kok bisa?” Andi bingung.
“Oh iya, gue belum cerita ya ke kalian, jadi semalem, Kak Alzam bawa perempuan buat dikenalin, kalian tahu, kan, kalau Kak Alzam susah banget dapet cewek yang menurut dia tuh sepadan untuk dijadikan kekasih, sekalinya suka sama cewek, eh si Hanum, kata mami, dia cewek terhormat yang sangat anggun, pengen muntah gue dengernya, nggak tahu aja dia gimana Hanum ngejar Izraa.” Syila meminum jus pesanannya.
“Hanum lawan mainnya Izraa di film lu?” Juna bertanya.
“Siapa lagi?”
“Tapi Hanum selain yang itu tadi, kejelekannya sebenarnya nggak ada, maksud gue, dia memang anggun, bisa menempatkan diri, tidak terlalu gegabah dan cukup berkelas.” Izraa tiba-tiba mengemukakan pendapatnya, hal ini lagi-lagi membuat Syila naik pitam.
‘Yaudah, kan gue udah bilang, elu jadian aja sama dia, bisa klop, kan nggak ada kejelekannya!” Syila kesal.
Juna melihat itu kecewa, ada nada cemburu dari perkataan Syila, cemburu berarti memang suka, sepertinya Juna tidak bisa berada di antara mereka.
“Itu masalahnya, gue maunya sama lu.” Izraa mengatakannya dengan sangat mudah tanpa menatap Syila dan makan makanan pesanannya. Tidak dilibatkannya harga diri tinggi, karena untuk mengatakan itu, biasanya agak sulit, memperlihatkan cinta bagi seorang lelaki adalah memperlihatkan kelemahan, jarang laki-laki mau terlihat lemah.
“Mau sama gue, tapi puji cewek lain, aneh.” Syila masih kesal.
“Iya bener, aneh lu Za, pantes aja Syila marah, lagian elu ngapain telpon dia, seharusnya semalem telpon gue, jadi biar adem hati lu.” Andi protes.
“Biasanya kalau Andi nggak ada, elu telpon gue.” Juna menetapkan batasan yang tajam pada hubungannya dan Syila, bahwa hatinya telah jauh berpaling, bahkan saat ada masalah Syila memilih menelpon Izraa.
“Maksud gue, dia bukan perempuan jahat yang berniat buruk sama kakak lu Syil, bisa aja mereka jodoh, elu mau nentang yang datangnya dari Tuhan? Seperti kita, di antara jutaan wanita, kenapa gue cuma bisa liat lu, nggak perempuan lain?” Izraa memang menggunakan logikanya ketika dimintakan pendapat, dalam hatinya tidak ada Hanum, tapi secara logika, Hanum memang bukan orang jahat dan benar bahwa dia cantik, anggun dan terhormat, dia tidak menggoda Izraa seperti wanita lain, walau menyatakan sikap kalau dia tertarik pada Izraa, tapi tetap menjaga kehormatannya dengan tidak menawarkan tubuh.
“Gue nggak suka sama dia.”
“Itu masalahnya, Tuhan nggak selalu kasih yang lu suka, tapi dia kasih yang lu butuh, mungkin Hanum yang Alzam butuh.” Izraa kembali berkata dengan logikanya.
Dalam hati, Syila setuju, tapi tetap egonya menahan pikirannya untuk menerima Hanum.
Sementara dari jauh, tanpa mereka sadari ternyata ada seseorang yang memotret, dia terus mengawasi dan mencoba mendapat detail Izraa dan Syila, beberapa moment kemesraan mereka tertangkap jelas, walau Izraa menggunakan topi, tapi pada titik orang itu mengambil gambar, dia bisa melihat jelas, siapa pria yang ada dibalik topi itu.
Setelah sarapan dadakan bersama itu, akhirnya Syila dan Andi mengantar Izraa pulang, setelahnya Andi dan Syila pulang ke rumah.
...
“Darimana kalian? Tadi katanya cuma urus dokumen.” Mami kesal melihat Syila yang baru pulang dengan Andi, dia bahkan masih memakai baju tidur, tidak mandi dan tidak berdandan, jilbab pun seadanya, untung tadi ketika Andi menariknya keluar, Andi meminta Syila pake jilbab dulu, papi pun cukup keras soal jilbab, walau ke gerbang depan saja, Syila harus pakai Jilbab.
“Ini mah, masalah naskah, aku harus segera meeting zoom mendadak, tadi kita di restoran fast food, biar nggak ganggu, takut mami papi ke ganggu. Jadi Syila sama Andi pergi ke sana.”
“Makanya, pilih kerjaan yang bener, jadi nggak harus repot bahkan di hari libur gini.” Papi lagi-lagi merendahkan pekerjaan Syila.
“Maksudnya kayak Dokter gitu Pi? Yang saat mami lahiran aja, Papi nggak bisa lihat karena ada operasi mendadak, gitu Pi?” Syila tidak mau kalah, papi melotot mendengarnya.
“Syil udah ya.” Andi menarik Syila agar berhenti melawan, tapi tidak mempan.
“Semua pekerjaan, kalau dilakukan dengan hati akan menjadi baik Pi, Syila jadi Dokter malah bahaya untuk pasien, karena Syila akan setengah-setengah melakukannya, Syila tidak suka jadi Dokter, Syila sukanya jadi penulis, walau hari libur sekali pun, Syila nggak masalah, karena Syila suka, sama seperti Papi yang nggak masalah ninggalin mami lahiran sendirian dan memilih orang lain, karena dedikasi Papi sebagai Dokter, Syila, mami dan Kak Alzam paham, tapi kenapa Papi nggak pernah paham dengan yang Syila suka.” Syila lalu pergi ke kamar, ini yang membut Syila memilih tinggal di apartemen, dibanding rumah yang dia belikan untuk orang tuanya, dari jerih payah menulis, itu saja tidak membuat papinya terkesan.
Syila mandi dan bersiap kembali ke apartemen bersama Andi, setelah rapih dia pamit dengan mami, mau pamit papi tapi kata mami jangan, biarkan papi istirahat, takutnya malah Syila sakit hati karena dicuekin papi.
__ADS_1
“Syil, Mami, papi sayang kok sama Syila, semua orang tua mau yang terbaik untuk anaknya, kamu ngerti itu, kan?”
“Ngerti Mi, makanya Syila masih pulang, karena tahu, kalian rindu dan Syila juga rindu, tapi terus terang, luka ini selalu tertoreh setiap Syila pulang, Syila cuma takut, nantinya melakukan kebodohan karena rasa sakit ini yang semakin lama akan semakin dalam kalau ditorehkan terus. Syila udah berusaha semampu Syila, tapi di titik ini Syila bahagia. Bukannya setiap orang tua juga harusnya bahagia melihat anaknya bahagia?”
Mami memeluk Syila dan menguatkannya.
“Akan mami bicarakan pelan-pelan ya, sayang.” Lalu Syila pamit, kak Alzam tidak ada di rumah, katanya mau pergi dengan Hanum, Syila kesal lagi mendengar nama itu.
Andi sudah di mobil dan siap mengantar Syila.
…
Hari ini lokasi syuting di rumah sewa yang digunakan sebagai tempat tinggal Izraa dalam karakter film itu, dari pagi semua sudah siap, Syila datang bersama Izraa karena Izraa memaksa menjemput, seperti biasa.
Hanum melihat mereka dari jauh dan mendekati Syila.
“Dik Syila, wah makin mesra saja.” Izraa dipanggil untuk make up dan meninggalkan dua perempuan itu.
“Bukan urusanmu, MBAK HANUM!” Syila menekan kata itu.
“Nggak usah panggil Mbak, nama aja lah Dik.”
“Nggak apa MBAK HANUM, mukamu memang pantas untuk dipanggil Mbak.” Ada nada penghinaan dalam panggilan itu, Hanum jadi kesal.
“Kamu nggak takut aku aduin ke, om?” Hanum sepertinya mulai menjadi licik, benar dugaan Syila bahwa Hanum bukan perempuan yang baik.
“Lu mau aduin? Yaudah silahkan, tapi gue pastiin elu putus ama kakak gue.” Syila mengancam balik.
“Silahkan, siapa yang bakal jauh lebih hancur, gue atau kakak lu, mau bukti?”
Syila menatap Hanum dengan kesal.
[Kak Alzam, boleh tolong ke sini, Hanum butuh bantuan.] Hanum ternyata menelpon kakaknya Syila.
“Eh lu gila! dia ada jadwal operasi, abis itu dia banyak jadwal visit ke pasien-pasiennya, ngapain lu paksa dia buat dateng ke sini. Dia nggak bakal dateng juga.” Syila lalu meninggalkan Hanum.
Tidak lama kemudia, Syila melihat Kak Alzam datang, dia buru-buru lari mendekatinya.
“Kak, bukannya elu ada jadwal operasi sama visit? Kok ke sini?” Syila kesal dan menatap Hanum dengan tatapan kesal.
“Hanum nggak pernah minta tolong kakak Syil, sekalinya minta, pasti mendesak sekali, jadwal operasi kakak mundurkan.”
“Hah! Gila lu! ninggalin Pasien cuma buat perempuan?”
“Maafin aku ya Kak Alzam, aku udah buat kakak ninggalin pasien, padahal aku cuma mau dibantuin reading naskah, maafin Hanum ya.” Hanum bertingkah seolah dia korban, menjijikan.
“Nggak apa-apa Hanum, Syila jangan terlalu keras sama Hanum ya, tolong dibantuin, please.” Alzam memohon, itu membuat Syila terkejut, kakaknya benar-benar suka Hanum, nggak kebayang kalau Hanum tiba-tiba menjauh sesuai ancamannya, pasien ditinggalkan itu suatu mukjizat di keluarga Syila, Pasien adalah hal paling penting yang harus selalu didahulukan, tapi kalau Kak Alzam bisa berubah sikap gitu atas prisipnya, berarti Hanum sangat berharga di mata Kak Alzam, persis seperti Izraa ke Syila.
“Yaudah, kalau nggak ada yang urgent, Kakak balik ke rumah sakit dulu ya.” Kak Alzam pamit.
“Udah liat kan, sedalam itu dia menghargai kehadiran gue, mau bukti lagi?” Hanum tersenyum menang.
“Apa mau lu?” Syila mengalah.
“Saat ini, belum ada, tapi mungkin nanti, kita liat aja. Oh iya, gimana kita mulai dengan kopi dingin di kafe langganan?” Hanum tersenyum licik.
____________________________________
Catatan Penulis :
Kau tahu, seseorang yang kau taruh di tempat paling tinggi di dalam hatimu, bisa saja menjadi orang yang akhirnya paling merendahkanmu.
Karena nilai seseorang tidaklah mutlak.
Maka jika kau direndahkan, jangan bertahan, kau harus pergi, kau harus menyelamatkan dirimu sendiri, karena dirimu tidak punya siapa-siapa untuk berlindung, selain kaki sendiri.
__ADS_1
Jika akhirnya kau direndahkan lagi dan lagi, mengertilah, kau bukan di tempat yang tepat.