Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 75 : Berpisah 13


__ADS_3

“Aku sudah dengar soal itu, kemarin sekertaris Ammarhudi telepon aku untuk membicarakan ini, tapi aku meminta mereka menghubungi mami dan papi, karena aku tahu, kau akan terguncang jika akhirnya dengar kabar ini, kita semua tahu, kondisimu sulit saat ini.” Andi sudah datang, mereka mengobrol di kamar Syila. Tak mengapa berduaan saja, sudah biasa sejak kecil, pintu juga dibuka lebar, Andi sudah seperti keluarga sedarah bagi Syila, walau sekarang mereka sedang saling marah.


“Kenapa kau tak langsung beritahu aku?” Syila kesal.


“Kenapa kau menuduhku?” Andi juga masih kesal.


“Karena kau orang terdekatku, seharusnya kau bisa menjagaku lebih baik, aku tahu kemungkinan kau melakukannya sengaja itu tidak ada, tapi … itu tidak membuat kegagalanmu menjagaku sebagai Manager dan juga saudaraku hilang! Kau membiarkan celah itu terjadi.”


“Hei tuan putri! Sejak kapan kau menjadi diktator dan otoriter seperti ini? Bukankah yang sakit tanganmu! Kenapa otakmu yang menjadi kacau!” Andi kesal karena tuan putri ini akhirnya menunjukkan sifat anak orang kayanya ketika sedang terjepit.


“Kau jahat!”


“Tentu saja aku jahat jika orang paling aku percaya malah mencurigai dan langsung menuduhku, kau pikir aku budakmu! Kau boleh bebas menghinaku gitu?! Saat semua orang bahkan pergi darimu dan menghinamu karena kelakuan tuan putri yang sok idealis ini, aku satu-satunya orang yang tetap berjuang agar kau tetap mendapatkan yang kau mau tanpa melewati prinsipmu itu! Tapi sekarang setelah semua upaya yang aku lakukan, satu kesalahan dan kau menendangku.”


Syila terdiam, dia memang selama ini hanya fokus pada kesalahan Andi, dia bahkan melangkahi pemikiran bahwa Andi adalah keluarga, bukan orang lain yang pantas diperlakukan kasar seperti ini. Kedekatan memang terkadang membuat orang jadi merasa boleh melewati batas, karena dalam ekspektasinya, Andi akan paham dengan kelakuan buruknya, seperti biasa. Tapi kali ini, satu yang  Syila tak paham, dia sudah sangat keterlaluan.


“Aku tidak bermaksud lupa budi baikmu.”


“Tapi kau memang keterlaluan, minta maaf kau!”


“Itu memang penting di dalam tipe hubungan seperti kita? Kau tahu kan, kalau aku marah pada orang, aku jarang loh hubungi orang itu duluan, tapi aku hubungi kamu duluan, apa itu kurang? Aku membuat pengecualian padamu!”


“Buatku, mengakui salah itu sangat penting, prinsip yang aku pegang.”


“Baiklah, aku minta maaf ya.” Syila menurunkan egonya, karena walau dia memang marah, tapi dia tak ingin menyakiti lagi kakaknya, walau mereka hanya sepupu, tapi Andi memang salah satu orang terpenting dalam hidupnya.


“Aku maafkan, jangan diulangi ya.”


Syila mendengar itu langsung melempar bantal dengan tangan kirinya, kebetulan bantal kecil itu ada di dekatnya. Dia kesal, kata-kata Andi yang ‘jangan diulangi ya’ itu benar-benar membuat kesal, karena seolah Syila anak nakal yang sering melakukan kesalah, tapi Andi melakukan itu hanya sebagai lelucon saja.


“Tuh kan, udah minta maaf masih melakukan hal yang sama lagi.”

__ADS_1


“Andi!!!” Syila kesal lagi, tapi merengek seperti anak bayi.


“Udah ah, ntar gue dilempar gelas nih lama-lama sama anak keras kepala macam lu.”


“Bagus kalau paham!”


“Syil, jadi Ammarhudi minta apa?” Andi memang tahu masalahnya, tapi dia tak tahu kelanjutan dari masalah tersebut.


“Dia minta aku untuk ikut melakukan konferensi pers dan melakukan tuntutan. Aku akan melakuakn tuntutan, tapi aku tak mau melakukan pernyataan publik, aku tak mau muncul dalam keadaan cacat begini.”


“Kau bisa sembunyikan tanganmu.”


“Semua orang sudah tahu aku cacat Ndi, apalagi yang mau aku sembunyikan, coba?”


“Tapi nama baik novelmu sesuatu yang patut diperjuangkan.” Andi mengingatkan itu.


“Aku tak mau muncul di hadapan public, jangan paksa aku.”


“Kalau kau menolak, Ammarhudi akan melakukan apa?”


“Gila! Kau itu juga korban, kenapa sekarang malah dijadikan tersangka, brengsek sekali memang para pengusaha itu.”


“Aku tak heran, bagi mereka kalau memang ini benar plagiat, maka mereka rugi besar, membayarku mahal dengan berbagai syarat, lalu sekarang ada PH lain yang mengambil gratis dari novel yang sudah terbit, kerugian mereka sama dengan jumlah yang mereka bayar padaku.”


“Ya, tapi tetap saja, menjadikanmu tersangka adalah langkah yang tidak bijak.”


“Kata Izraa, kemungkinan mereka punya bukti, kemungkinan surat kontrak kerjasama itu, makanya Ammarhudi amat marah, karena dia jadi tak percaya padaku sama sekali.”


“Kok bisa ada surat itu?”


“Ada yang mengirim anonim suratnya, kemungkinan itu juga dipalsukan.”

__ADS_1


“Hah! Siapa lagi yang menjadi musuhmu?” Andi kesal, ada saja orang yang hendak membuat Syila jatuh, memang benar kata orang pepatah, pohon semakin tinggi, maka angin semakin kencang. Begitu juga dengan Syila, semakin tinggi namanya, semakin banyak masalah menimpa Syila.


“Tidak tahu.”


“Kalau begitu, kita lakukan langkah counter dulu. Kita pastikan bahwa memang ada surat kontrak itu, kita harus bersikap kooperatif yang cerdas, Cil. Kita temui Ammarhudi dulu, kita pastikan dokumennya ada, kita harus minta salinannya, untuk memastikan kalau bukti itu valid.”


“Ya, aku pikir itu yang perlu kita lakukan, tapi aku tidak bisa ke PH itu, aku ingin kau bantu aku untuk ke sana, bisa kan?”


“Ya, aku mengerti, lihat … tak ada yang mengertimu selain aku kan?” Andi mengingatkan lagi, kalau dia adalah orang terakhir yang harusnya dicurigai.



“Kamu tidak bisa datang seenaknya begini trus minta alat bukti begitu saja, Syila saja bersikeras tak mau ikut pernyataan publik, sekarang malah minta barang bukti, bisa saja kan kalian menghilangkannya?” Andi menemui Ammarhudi di ruangannya di perusahaan PH itu, mereka berbicara bertiga dengan sekertarisnya.


“Pinjamkan kami copy-annya saja, tidak perlu yang asli, kami ingin tahu surat palsu itu.”


“Tidak bisa, aku tidak mau ambil resiko, kalau kalian memang melakukannya, kalian pasti bisa mencari celah untuk menangkal, aku ingin kalian melakukan pernyataan publik denganku.”


“Pak, kita kan bisa loh tuntutan bareng dan pihak bapak saja yang melakukan pernyataan publik, Syila tak bisa muncul di depan banyak orang, dia trauma kejadian terakhir kemarin.”


“Tidak bisa, aku ingin Syila duduk bersama kami saat konferensi per situ.”


“Lagian kenapa Syila harus melakukan itu sih pak?” Andi tidak menemukan alasan tepat kenapa Ammarhudi sangat kekeh ingin Syila melakukan pernyataan publik itu.


“Karena kalau dia berani muncul di hadapan banyak orang, artinya siapapun yang melihatnya akan percaya kami berdua adalah korban dan jika memang Syila menipu kami, PH yang melakukan perjanjian kerjasama ganda denganya itu pasti akan marah pada Syila, karena berani menuduh mereka plagiat dan muncul dihadapan publik, ini adalah cara kami membuktikan Syila tak terlibat, maka dia harus berani muncul di hadapan publik bersama kami.


Apa yang dikemukakan Ammarhudi adalah sesuatu yang masuk akal bukan? Kalau memang Syila tak salah, maka dia tak seharusnya takut muncul di hadapan publik, kalau dia takut, artinya ada yang ditutupi, sebagai pengusaha, wajar dia akhirnya tidak percaya.


“Pak, Syila tak berani muncul di hadapan publik bukan karena kontrak kerja ganda yang bapak butuhkan, tapi dia trauma karena saat ini, dalam pikirannya, dia itu cacat! Kami tak menuntut bapak maklum, tapi aku coba jelaskan kondisinya, dia seorang wanita hebat yang berprinsip kuat, uang bukan masalah baginya, papinya adalah salah satu Direktu rumah sakit ternama, kakaknya Dokter yang sangat kompeten, ibunya keturunan ningrat walau bukan dari garis utama keluarga kerajaan di negeri kita ini, uang bukanlah masalahnya, dia wanita yang cemerlang.


Wanita cemerlang itu saat ini sedang runtuh percaya dirinya, karena tangannya yang cacat itu, jangankan untuk muncul di hadapan publik untuk membantu membela karyanya, dia membantu dirinya untuk sekedar keluar kamar saja sulit! Itu yang saya sedang coba sampaikan. Dia bukan pengecut, tapi saat ini dia sedang ada masalah dengan mentalnya.” Andi menjelaskan panjang lebar, berharap Ammarhudi paham.

__ADS_1


“Ndi, aku punya anak perempuan juga, aku ingin sekali paham dan maklum, tapi coba kau pikirkan ini, selain punya anak perempuan, aku juga punya ratusan pegawai untuk dikasih gaji, maka dari itu, aku tidak bisa berdiri membela satu orang, aku tidak mengecilkan masalah Syila, tapi masalahku lebih besar. Maaf, kami tetap pada keputusan kami, Syila ikut pernyataan publik, atau aku akan melaporkannya juga.”


Andi terdiam, ini sungguh jalan yang sulit, Syila benar-benar dalam masalah.


__ADS_2