Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 33 : Salah Paham


__ADS_3

Sarapan pagi terasa melelahkan untuk Syila karena dia tahu, pasti ada pertanyaan, pertanyaab yang menyebalkan.


"Syil, Papi udh nggak keberatan sama sekali loh sama hubunganmu dan Izraa."


"Kami udah putus Pi, kan Papi suruh waktu itu, jadinya Syila putusin aja."


"Cil, kalian baru putusnya, sekarang masih bisa kembali lagi kok, kamu cuma perlu berusaha aja."


"Pi, memang Papi rela Syila turunin harga diri untuk kembali ke Izraa? lagian cuma karena dia anak kepala yayasan, Papi sekarang malah berubah drastis."


"Eh bukan karena itu Papi berubah drastis, tapi melihat betapa dia sangat perhatiannya ke kamu, makanya Papi setuju."


"Seandainya Izraa bukan anak Pak Hansyar, apakah Papi akan tetap setuju?"


"Papi akan melihat keluarganya dulu, kalau bibit bebet, Bobotnya bagus, Papi akan tetap setuju, latar belakang keluarga hanya pelengkap bagi Papi Syil, yang paling penting itu adalah sikap dia ke kamu, mampu mencintai, menyayangi, melindungi dan menghormati kamu nggak, kalau enggak ya Papi pasti tolak walau anak Ketua Yayasan."


Syila diam saja, walau Syila tahu bahwa Papi bukan seorang yang otoriter dalam memimpin rumah tangga, dia akan tetap memyerahkan keputusan pada Syila, tapi cara Papi menggiring Syila untuk mempertimbangkan pilihannya juga terkadang terlalu kuat.


"Syila memang masih menjalin hubungan sama Izraa Pi, tapi jangan pernah berharap banyak ya, soalnya pacaran aja dulu belum tau deh kalau soal nikah."


"Tuh kan, kamu bohongin Papi, tapi Papi nggak akan marah kali ini, hanya untuk kali ini saja ya, soal pacaran, nggak baik lama-lama, harusnya sih segera dihalalkan."


"Papi!" Syila kesal karena papinya meminta lebih.


"Udah-udah Pi, bukankah sudah kabar baik juga Syila masih berhubungan dengan Izraa, jangan lewat batas lagi ya." Mami akhirnya turun tangan untuk membela Syila.


Sarapan ini sebenarnya berempat tapi perdebatan sengit selalu antar Syila dan papinya.


"Yasudah, yang penting kau harus lebih bijak dalam berhubungan dengan Izraa jangan sampai harus kandas lagi, seperti dulu sama Kev.... "


"Pi, cukup." Mami menginterupsi perkataan suaminya, karena mami tahu dengan jelas, perpisahan Syila dengan Kevin, sementara papi tidak tahu, karena Syila takut kalau papi tahu hal yang sebenarnya, Kevin akan dimusuhi oleh papi dan mungkin karirnya akan tamat, itu yang Syila pikirkan dulu, nyatanya karir Kevin akan baik-baik saja Karena dia memacari Sofia.


Sarapan selesai, Syila bersiap akan kembali ke apartemen, dia dijemput oleh Andi.


Setelah menyiapkan seluruh perlengkapan yang cukup banyak, sesuai janji papi setelah Syila setuju ke rumah Ketua Yayasan rumah sakit itu, papi harus setuju dengan syarat Syila, bahwa makan malam keluarga dua minggu sekali, bukan satu minggu sekali, lagi. Syila ingin mengejar deadline tulisan, makanya butuh tempat yang lebih pribadi.


Saat semua sudah beres, Syila dan Andi menuju apartemen, tidak berapa lama sampai.


Andi tetap di apartemen untuk menemani Syila hingga nanti malam dia akan pulang.


"Syil ada apa sih? kok tampang lu kesel banget dari tadi?" Andi bertanya sembari makan mi instan yang baru saja dia buat.


"Lu tau nggak, acara makan siang kemarin sama Ketua Yayasan rumah sakit itu, ternyata membuat gue tau siapa anak yang bakal mereka jodohin ke gue."


"Siapa?"


"Izraa!"


"Mampus lu!?" Andi tahu, kalau saja hubungan mereka karena cinta, pasti hal seperti ini menjadi sesuatu yang membahagiakan, tapi untuk Syila, dalam hal ini hanya Izraa yang diuntungkan.


Sementara bagi Syila kisah cinta mereka hanya karena keterpaksaan, kalau akhirnya harus bersama dalam ikatan pernikahan pasti akan menjadi pintu penderitaan bagi Syila.


"Gue udah kasih tau papi kita itu masih pacaran, maksudnya supaya dia nggak terlalu rewel, tapi Ujung-ujungnya dipaksa buruan nikah."


"Cil, kasihan, sedih banget ya kisah cinta lu."


"Ngomong-ngonong soal kisah cinta, lu tau nggak kalau adiknya Izraa ternyata adalah Sofia."


"Sofia siapa Cil?"


"Oh iya, Sofia pacarnya Kevin."

__ADS_1


"Pacar baru?"


"Bukan, Sofia itu Winda, Winda itu Sofia, mungkin nama panjangnya atau entahlah."


"Hah?! lu mau dinikahin ama kakaknya yang udah ngerebut pacar lu? Wah rumit sekali nasib percintaan lu Cil."


"Tapi ada yang ngeganjel sih di hati dan pikiran gue, ini soal Izraa."


"Kenape lagi die Cil?"


"Kayaknya Izraa ga akur deh sama keluarganya, kemaren ada kejadian, jadi Izraa datang tiba-tiba dia kayak kesel keluarga gue dipanggil, dia nerobos masuk dan marah-marah, terus adiknya sempet ucapin makasih juga ke gue, gue pikir Izraa udah lama nggak pulang, makanya reaksi mereka liat Izraa pulang tuh sendu banget."


"Elu perduli?" Andi heran.


"Lebih ke penasaran sih Ndi."


"Ati-ati kejebak sama rasa penasaran lu itu ya."


"Hmm, gue cuma mau tau aja kenapa bisa dia ga akur gitu."


"Bukan urusan lu, begitu proyek film selesai, hubungan kalian juga selesai, game over, inget itu."


"Inget kok gue, tenang aja."



Hari Ini jadwal Syila datang ke lokasi dicancel, karena deadlinenya sudah benar-benar di ujung tanduk, dia harus segera menyelesaikan novel berikutnya, walau ini sudah melebihi targetnya satu buku satu tahun, tapi dia ingin melampaui rekornya sendiri dengan mencetak dua buku dalam satu tahun ini.


Setelah berkutat hampitlr empat jam dengan tulisannya, dia baru sadar belum makan sedari pagi, saat melihat jam, sudah jam satu siang, dia lalu melihat ke dapur, melihat apa yang bisa dimakan, hanya ada mi instan, Syila akhirnya membuat yang ada saja sebagai makan siang.


Setelah selesai masak, dia makan dan membersihkan tempat makannya, saat telah selesai, Syila istirahat sebentar karena tidak ingin ada masalah dengan pencernaannya, bersamaan dengan itu dia melihat telepon genggam, aneh, pikirnya. Kok, tidak ada satu pesan pun dari Izraa, kalau di pikir-pikir memang sudah dua hari ini Izraa tidak mencarinya, biasanya dia selalu menelpon, mengirim pesan singkat atau bahkan datang.


Apa Izraa sesibuk itu di lokasi syuting? Apakah ada masalah dengan dirinya sampai tidak menghubungi Syila, apakah ini karena masalah keluarganya? Atau ada masalah lain, apakah ada wanita yang menemaninya saat ini sehingga dia lupa menghubungi Syila?


“Astagfirullah!” Syila menepuk jidadnya, kenapa dia berpkir yang tidak-tidak, Izraa hanya pacar terpaksa, kenapa harus sibuk memikirkan dia yang tidak menghubungi?


Tanpa sengaja dia ternyata sedang membuka mesin pencarian dan mengetik nama Izraa, dia membuka profil Izraa di Wikipedia, dia hanya ingin memastikan siapa orang tuanya, ternyata benar Pak Hansyar, tapi nama ibunya berbeda, bukan nama gadis istrinya Pak Hansyar, apakah itu berarti istrinya Pak Hansyar adalah mami tirinya Izraa?


“Ini kenapa gue buka browser nyari ke Wikipedia sih!” Syila benar-benar tidak sadar telah sangat penasaran dengan keluarga Izraa, “kenapa gue harus peduli, bodo amat, bodo amat!”


Syila berusaha mengumpulkan energi dan pikirannya untuk kembali menulis, kenapa dia akhir-akhir ini terlalu sering memikirkan Izraa, Syila merasa harus kembali pada jalur yang benar, tidak memiliki perasaan apapun pada kekasih terpaksanya.


Sementara di tempat yang jauh dalam waktu yang sama Izraa juga memperhatikan telepon genggamnya, dia tidak sedang melihat social media, dia sedang menunggu, seseorang menghubunginya.


Managernya mendekati dia dan bertanya.


“Kenapa lu, dari kemarin uring-uringan mulu.”


“Nggak, nggak apa-apa?”


“Apa gara-gara Syila nggak dateng ke lokasi?”


“Nggak juga, gue bisa dateng ke apartemennya kalau mau.”


“Terus kenapa?”


“Nggak apa-apa kok.” Izraa menutupi apa yang sebenarnya dia rasakan.


“Gue kemarin baca buku bagus, lu baca deh, judulnya tertinggal, karya penulis terkenal, sekelaslah sama Syila.” Manager Izraa juga suka membaca, makanya mereka berdua cocok


“Oh ya, ceritanya tentang apa?”

__ADS_1


“Jadi ada seorang lelaki yang punya mimpi tinggi gitu sebagai tokoh utama dari novel, karena dia terlalu sibuk ngejar mimpinya, dia jadi melupakan orang-orang disekitarnya, tentang bagaimana mereka selalu ada tapi diabaikan.”


“Oh ya, menarik.”


“Ya, jadi ini tuh cerita tentang self healing gitu dan mensyukuri apa yang udah kita miliki. Jadi ada satu adegan yang menurut gue tuh cukup iconic banget, dimana si perempuan yang selalu nemenin lelaki itu dari bawah, udah lama pokoknya nemeninnya, akhirnya lelah dan mau memutuskan untuk pergi, tapi sebelum itu dia mau memastikan sesuatu, dia mau kasih ujian ke lelaki tokoh utama itu, apakah lelaki itu cinta atau nggak ke dia, karena bisa aja kan, lelaki itu cinta tapi kayak teralihkan aja gitu sama mimpinya.”


“Ujian dari cewek itu apa?” izraa terlihat penasaran


“Jadi si cewek ajak makan dong si lelaki peran utama di novel ini, lalu mereka pesan makanan, tapi si cewek biarin lelakinya untuk memesan, cewek itu bilang, pesankan untuk dia, dipesen dong makanan sama lelaki itu, pas makanan udah sampai, si ceweknya nanya ke si lelaki itu, apakah dia yakin ini enak, maksudnya makanan yang lelaki tokoh utama pesankan, lelaki itu jawab, enak banget, kamu kan tahu, aku suka makanannya.


Si cewek itu akhirnya makan pesenan lelaki itu dan tiba-tiba sekitar sepuluh menit kemudian cewek itu sesak nafas, lelaki itu panik, dia panggil ambulans, setelah diperiksa ternyata perempuan itu alergi udang! Jadi si lelaki tokoh utama itu ternyata pesenin udah bakar untuk dimakan sama mereka berdua, udang gede-gede gitu, di novelnya di deskripsiin sih udang macam apa.


Kata dokternya, cewek itu untung selamat karena lelakinya buru-buru panggil ambulans, jadi bisa cepet ditolong.”


“Kok lelaki itu nggak tahu kalau ceweknya alergi udang, padahal kata lu tadi, si cewek kan udah lama nemenin lelaki itu.”


“Pinter, itu ternyata ujiannya, untuk si lelakinya itu, dia mau tahu, apakah hal sesederhana itu, lelaki yang dia temani selama ini tahu, pada saat lelaki itu pesan udang, cewek itu udah tahu jawabannya, kalau dia harus ninggalin lelaki itu, lu tau nggak, ketika lelakinya tanya apakah dia tahu kalau dirinya alergi udang, cewek itu jawab, tahu, terus kenapa masih tetap makan udangnya, cewek itu bilang, karena untukku cinta itu seperti hidup dan mati, walau mendekati kematian, aku hanya ingin tahu, apakah cinta yang aku rasakan, sama seperti yang kau rasakan.


Gue sih kalau jadi lelakinya, bakal ketonjok banget sama apa yang dikatakan perempuan itu, karena pada prinsipnya, kalau kita cinta seseorang, pasti kita akan selalu penasaran dengan apa yang disukai, apa yang tidak disukai dan apa yang mengganggu orang yang kita sukai itu, kalau orang yang kita suka nggak sepenasaran itu tentang diri kita, artinya cinta bertepuk sebelah tangan, ya nggak sih?”


Izraa terdiam, sebenarnya itu yang selama ini mengganggunya selama dua hari, dia merasa sangat membutuhkan Syila setelah bertemu orang-orang yang sudah sepuluh tahun ini tidak dia temui, tapi Syila seperti tidak peduli, Syila bahkan tidak bertanya, tentang pertemuan menyedihkan itu, tidak bertanya apakah benar bahwa mereka adalah orang tua dan adiknya, Syila tidak menghubunginya sama sekali.


Izraa tahu Syila memang tidak mencintainya, tapi apakah hubungan yang terjalin selama Sembilan bulan terakhir ini tidak membuat Syila peduli sedikit saja pada Izraa, sebagai teman saja sudah cukup bagi Izraa, karena teman pasti peduli, tapi Syila sama sekali tidak perduli.


Enam bulan perkenalan dan tiga bulan menjalin hubungan, tetap membuat Syila tidak peduli sama sekali tentang Izraa, Izraa menjadi sedikit kacau karena ini, rasa diabaikan itu akhirnya bisa Izraa rasakan, tapi ternyata rasa seperti itu tidak enak.


“Za, lu yakin ok?” Managernya itu membuat lamunan Izraa buyar.


“Gue ok kok, yuk mulai take lagi.” Izraa berdiri dan meletakan telepon genggamnya begitu saja.



“Num, apa kabar lokasi?” Hanum mampir ke apartemen Syila dengan Kak Alzam, mereka kembali bersama setelah Hanum berusaha menaklukan hati kakaknya Syila, jadi terbalik sejak kejadian Hanum ketahuan mengancam Syila dulu, Hanum jadi mengejar Alzam karena mulai merasakan bahwa Alzam mencintainya dengan tulus, hubungan Syila dan Hanum pun, menjadi jauh lebih baik dan dekat.


“Yaelah baru dua hari Syil, udah kangen aja, kangen set apa kangen Izraa?” Hanum meledek.


“Kalau Izraa mah gampang, tinggal telepon orangnya juga bakal dateng ke sini.”


“Syuting berjalan lancar kok Syil, Izraa sih semakin keren aktingnya, oh ya, satu lagi, sejak pacaran ama lu, dia jadi berubah, kemarin dia mau loh, diajak makan malem bareng, semua orang seneng sih dia jadi lebih ramah, mau makan bareng-bareng kita.”


“Hah? Dia mau diajak? Tumben.” Syila merasa suatu getaran yang aneh, kesal, kesal apa ini, dia bertanya dalam hatinya.


“Iya, dia juga mulai hangat ke semua tim, gila, Syila emang keren nih, bisa ngubah Izraa.” Hanum masih saja kagum, dia sebenarnya tidak salah, tapi dia tidak mengerti, bahwa itu bukan perubahan yang menyenangkan bagi Syila.


[Kata Hanum, Izraa jadi hangat ke semua tim, bisa dikatakan, semua anggota tim mereka kebanyakan wanita, apa itu artinya Izraa jadi hangat ke semua wanita? Apa karena dia sudah sembuh makanya sekarang dia merasa bisa mencintai banyak wanita! Jadi itu alasannya kenapa Izraa tidak menghubungiku dua hari ini, karena bersenang-senang dengan wanita-wanita lain? Aku yang menjadi alasan dia sembuh, sekarang dia seenaknya sama wanita-wanita lain, sungguh sifat aslinya keliatan! Baguslah, dia jadi tidak menggangguku lagi, tapi seharusnya dia putuskan aku dulu, dia harusnya bijak, dulu rasanya gelap karena dia tidak bisa merasakan cinta, apakah karena terang akan perasaan cinta, dia jadi serakah ingin mencintai banyak wanita, itu tidak baik!] Syila bergumam dalam hatinya, marah.


Saat Syila sedang termenung, Hanum dan Alzam sedang nonton, ada pesan masuk, Syila malas sebenarnya melihat, pasti dari lelaki serakah itu.


[Syila ini Maminya Izraa, besok ada waktu, Tante ingin ketemu.] Syila kaget, telepon genggamnya sampai hampir lepas karena kaget, maminya Izraa minta ketemuan, wah ada apa lagi ini, tapi menolak rasanya tidak sopan.


[Iya Tante bisa, tapi besok Syila ke lokasi syuting pagi sampe sore, udah dua hari absen karena deadline nulis. Ketemuannya malam boleh Tan?] Balas Syila.


[Boleh, nanti tempatnya Tante kasih tau ya. Makasih Syila.]


________________________________


Catatan Penulis :


Tentu saja, cinta perlahan hadir bagi jiwa yang sepi.


L

__ADS_1


__ADS_2