Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 85 : Rekan Bisnis


__ADS_3

“Syil, jujur gue agak kaget dengan info ini, karena tadi lu bilang cuma suruh makan malam bareng aja, nggak ngomong apa-apa, gue aja kaget, apalag Alzam dan Papi, tapi yang buat gue paham sih, maminya Izraa perhatian banget ya sama lu, sampai segitunya supaya buat lu tetep bahagia.”


“Tetep bahagia ya? kok itu terlalu naif sih Ndi.”


“Hah? jadi, apa tujuannya ngajak lu bisnis bareng? Bukannya ini karena dia merasa bersalah karena anaknya udah bikin lu celaka? Jadi dia tuh mikirin supaya elu tetep bisa nyaman walau kondisi lu nggak sehat.”


“Insting gue mengatakan ada keuntungan di balik ini semua, ya ... seinget gue dulu dia pernah cerita soal kecelakaan Winda adiknya Izraa, dia aja yang anaknya sendiri, masih tetep dikalahin untuk bisnis, maka gue nggak mikir bahwa dia melakukan ini untuk menyamankan perasaan gue, tapi pasti ada keuntungan yang dia coba dapatkan dari ini semua.”


“Hah! elu curiga ini, tapi tetep mau lakuin?” Andi tak habis pikir.


“Karena gue nggak punya tujuan hidup lagi Ndi, maksudnya semua rencana gue untuk selesaikan buku selanjutnya, kabur ... gue nggak punya apapun lagi, gue butuh harapan dari orang-orang yang nanti gue bantu untuk terbitin bukunya, para Penulis baru itu. Gue setidaknya masih bisa melakukan hal yang bisa membuat diri gue masih merasa dekat dengan dunia kepenulisan, menjadi editor itu ide yang baik sih. Jujur gue nggak kepikiran tapi maminya Izraa bisa kepikiran, itu karena dia memang wanita dengan pemikiran bisnis yang hebat.”


“Jadi ... lu sekalian mau belajar dari dia, semacam win-win solution? Kalau ternyata keuntungannya menikahi elu dan Izraa gimana? kalau akhirnya seperti yang Alzam takuti, gimana?”


“Pernikahan itu persetujuan dua orang, gue nggak terlalu takut, selama gue nggak mau, pasti pernikahan itu takkan pernah terjadi.”


“Wah sangat percaya diri sekali ya adik sepupuku ini ya.”


“Hanya itu yang gue punya saat ini, itu juga tinggal sisaan, Ndi.”


“Syil, kalau gue, kalau ellu tanya apa gue setuju sama keputusan lu ini, gue selalu berada di sisi, di mana elu bisa bahagia, jujur gue juta sempat bingung, karena elu masih kalut, gue bingung gue harus apa, secara elu tahu, talent gue cuma elu, gue nggak punya talent lain untuk dimanageri.”


“Ndi, makasih ya, maaf kemarin udah sempat bikin kesal.”


“Udah gue maafin kok, jangan gitu lagi ya, kalau marah, ya marah aja, tapi jangan nuduh.” Andi lalu mengusap kepala Syila yang tidak memakai jilbab itu.


Sementara di kamar Alzam yang pintunya terbuka, Hanum duduk di samping Alzam, mereka duduk di tempat tidur Alzam, makanya pintu kamar dibuka hanya agar semua orang nyaman karena Hanum masih orang lain.


“Setelah beberapa bulan ini, aku pertama kalinya melihat dia tersenyum lagi dengan semangat seperti tadi, setelah kejadian itu, aku benar-benar terkejut karena penasaran apa yang membuatnya begitu senang.”

__ADS_1


“Kenyataan itu tidak bisa menafikkan kenyataan lain, Num. Kenyataannya, wanita itu tidak benar-benar tulus.”


“Kau pikir adikmu bodoh? Dia bahkan lebih tahu dunia bisnis dibanding dirimu yang hanya tahu anatomi tubuh manusia, kalau soal bisnis, jelas adikmu jauh lebih hebat, tapi kalau dia ambil kesempatan ini, artinya ... dia benar-benar sudah paham resikonya.”


“Tetap saja aku tidak suka adikku seenaknya dikendalikan keluarga itu.”


“Siapa yang akan tahu, siapa yang akan mengendalikan siapa?”


“Maksudmu?” Alzam memang tak pernah paham strategi.


“Sejak aku kenal Syila pertama kali, aku tahu kalau kemampuan berpikirnya di atas rata-rata orang normal, karena dia mampu membaca situasi lalu membalikkannya, itu mungkin yang para Penulis miliki sebagai keahlian, mereka tuh terbiasa bikin plot, belajar untuk membuat situasi dan kondisi yang ideal, membolak-balikkannya sesuai yang mereka mau, maka cara baca situasinya selalu jauh di depan orang lain, selalu beberapa langkah di depan orang lain, maka jangan pernah takut kalau Syila mengambil keputusan yang gegabah, dia sudah memikirkan segalanya dengan baik. Kau hanya perlu mengawasi, kalau kelak dia gagal, kita masih di belakang dia kok, lagian apa sih yang paling kamu takuti Zam?”


“Ya, aku takut aja kalalu Syila sampai dimanfaatkan, dikendalikan lalu akhirnya ....”


“Dipaksa menikah dengan Izraa?”


“Ya, itu salah satunya.”


“Maksudmu?”


“Mereka itu saling cinta Zam, emang nggak bisa lihat apa? mereka pernah saling marah dan mungkin skarang mereka saling mencari alasan untuk kembali dekat, biarkanlah Zam, Izraa bukan lelaki jahat, dia orang yang baik dan mapan, bertanggung jawab dan cukup umur, jadi ....”


“Kau kan pernah suka padanya, jadi menganggap dia berlebihan.”


“Apa sih, cemburu bukan waktunya dong sayang, aku pernah tertarik padanya, tapi tidak pernah jatuh cinta, sejatuhnya aku padamu, jadi tenang saja ya, kau tetap memiliki hatiku utuh kok.”


“Num, kita cuma berdua nih, jangan aneh-aneh deh.”


“Ih! Siapa yang aneh-aneh! Aku cuma bicara apa adanya, yaudah aku keluar ya, takut kalau ada yang ketiga. Soal Syila, kamu ngomong berdua ya sama dia, kasihan adikmu, dia takkan jalankan niatnya tanpa izin darimu. Walau dia sok bilang akan tetap jalankan niatnya.”

__ADS_1


“Ya, aku akan bicara dengannya, makasih ya udah mau ikut mikirin masalah keluarga ini.”


“Ya tentu saja, karena aku akan menikahi kalian semua, bukan cuma kamu saja.”


“Termasuk Andi?” Alzam sudah mulai bisa bercanda, benarlah kata mami, kalau Hanum bisa membantu membujuk.


“Ya dong, semuanya termasuk satpam di depan rumahmu!” Hanum lalu pergi sambil tertawa, mami juga sudah keluar dari kamar, sepertinya dua orang yang akan menjadi pasukan pembela kebahagiaan SYila berhasil membujuk dua Raja yang di rumah itu, mami dan Hanum saling melempar senyum, tanda misi berhasil, lalu mereka berdua minum teh cantik di meja makan sambil membicarakan beberapa berlian edisi terbaru dari vendor langganan mereka, dua orang wanita yang mampu menyeimbangkan kemampuan diri dan juga penghargaan diri.


Sementara jauh di tempat lain ada tiga orang sedang bicara di kantor pada sebuah gedung yang sangat besar dan tinggi, gedung lain milik keluarga Izraa, di mana di sanalah bisnis utama keluarga itu berjalan, bisnis pertambangan. Padahal ini sudah malam sekali, tapi tiga orang itu tetap bertemu untuk rapat perusahaan baru.


“Kau yakin dia akan terima?” Mami bertanya pada Izraa.


“Tentu saja, wanita itu takkan pernah bisa menolak tentang dua hal, menulis dan juga membantu sesuatu yang berdekatan dengan tulisannya. Idemu sungguh hebat, aku salut.” Izraa menyeruput kopinya, papinya Izraa hanya diam dan melihat salinan legalisasi untuk perusahaan baru.


“Kita akan biarkan dia memilih nama perusahaannya agar dia merasa ini memang perusahaannya, karena kalau dia merasa ini perusahaan kita, dia takkan berkembang.” Papinya Izraa mengatakan itu setelah meneliti dokumennya.


“Ya tentu saja, ini akan jadi perusahaanya, karena ini memang perusahaannya, aku menginvestasikan dana yang cukup banyak untuk perusahaan ini.”


“Salahmu sendiri tak mau pakai uang kami.” Maminya Izraa mengingatkan kalau dia sudah menawari dana dari perusahaan keluarga saja, bukan dari dana miliknya.


“Karena dia calon istriku, maka semua harga milikku adalah miliknya, maka aku akan menggunakan seluruh yang aku miliki untuk membuatnya bisa menjadi milikku.”


“Terserah kau saja, tapi ingat perjanjiannya, kau harus tetap mengisi posisi salah satu direksi di perusahaan kami untuk berlatih.”


“Aku tahu itu, tapi nanti setelah kami menikah.”


“Ya, dalam 6 bulan ini kan?”


“Ya, dalam 6 bulan ini.”

__ADS_1


Lalu mereka semua menyeruput kopinya, sungguh keluarga yang mengerikan, menggunakan otak untuk merencanakan kehidupan orang lain.


Lalu apakah Syila benar akan menjadi kerbau yang dicucuk hidungnya?” Mengikuti semua yang mereka inginkan?


__ADS_2