
“Kuat lu ketemu dia lagi?” Andi berbicara di dalam mobil dengan Syila, mereka akan pulang ke apartemen.
“Kuatlah, profesional aja.”
“Kalau aja waktu itu kalian menikah, pasti sekarang udah punya anak ya, Syil”
“Bawel ih.”
“Bokap pasti bakal bikin pesta 7 hari 7 malam kalau lu jadi sama Dokter Kevin.”
“Berisik!” Syila kesal karena Andi membawa lagi kenangan ketika itu, masa mudanya begitu manis saat bersama Dokter itu.
“Nggak mau ngafe dulu?” Andi bertanya.
“Udah tau nanya.” Syila akhirnya putar balik, ke kafe langganan.
Saat masuk kafe, Syila memilih tempat yang biasa dia duduk, untung tidak ditempati orang lain.
“Mbaakkk, kirain nggak ke sini.” pelayan wanita yang sudah biasa melayani Syila menghampiri.
“Udeh cepet bawain kopi Syila sono, lagi mumet nih.” Andi meminta.
“Kenapa?” Pelayan itu memang cukup dekat.
“Biasa, urusan anak muda, gih.” Andi meminta lagi.
“Lah emang aku udah tua.” Pelayan itu akhirnya meninggalkan Syila yang sibuk menerawang kenangan yang sudah berlalu beberapa tahun itu.
Kopi sudah datang, dengan camilan, Syila masih saja menikmati suasana kafe, walau sebenarnya dia tenggelam dalam suasana hatinya sendiri.
“Syil, Om, noh.” Andi menunjuk pintu masuk, Syila baru sadar, tentu saja dia ke sini, ini kan harinya dia ke sini, Syila tahu betul jadwalnya, lagipula ini kafe langganan Izraa.
“Yaudah biarin aja, sih.”
“Sapa lah! Kan, abis baean.”
“Ogah, anggap aja nggak liat, lagian matamu itu, jelalatan, liatin orang aja.”
“Dih, mata tuh dipake buat liat, bukan buat melamun.” Andi nggak mau kalah.
“Sapa Cil.”
“Elu aja!” Syila kesal.
“Ih nih anak.” Andi beranjak mendekati Izraa, dia sudah duduk di meja tempat biasa duduk, Izraa dan Syila punya kebiasaan yang sama, jika sudah suka pada sesuatu, mereka cenderung konsisten, seperti saat ini, saat mereka duduk di tempat yang sama.
“Za, nongkrong di sini juga?” Andi menyapa duluan.
Izraa menatap Andi sekilas, mengangguk lalu sibuk dengan kopi yang sudah ada di meja lagi.
Andi kembali ke meja Syila setelah basa-basi menyapa Izraa.
“Cil, nggosip yuk.”
Sudah tahu sepupunya lagi melow, malah diajak gibah.
“Apa sih? lagian sejak kapan ngegosip perlu ijin, langsung aja.”
“Dih, dia penasaran juga.”
“Lama, ah.” Syila kesal.
“Si Om, ternyata dateng ke sini ama cowoknya.”
Andi tertawa cekikikan, SyIla mendengar itu spontan ikut cekikikan. Andi sampai langsung menutup mulut Syila dengan tissue karena takut mengganggu orang sekitar.
Syila melihat ke Arah Izraa yang saat itu ternyata sedang menatap Syila juga, Syila mau tidak mau mengangguk tanda menyapa, Izraa hanya memalingkan mukanya, seperti biasa, si cowok dingin.
“Kalau sekarang gue minta PJ, mungkin dikasih kali ya.”
“Si bego, lu mau bikin kesalahan yang sama lagi.” Andi tertawa tertahan dengan perkataan sepupunya.
__ADS_1
“Tadi mereka pake cincin nggak sih?” Syila menambah lelucon yang membuat Andi kembali tertawa tertahan, Syila yang tadinya sedih menjadi terhibur sampai menangis karena tertawa.
“Duh, untung gue bukan akun gosip ya, kalau enggak gue foto trus abis itu gue upload, banyak followers gue deh.” Tambah Syila lagi.
“Masih kurang follower lu yang jutaan itu, Cil?” Andi sekarang menyerang sepupunya.
“Heh, ngapain lu berdua di sini!” Seseorang menyapa, ternyata Kakaknya Syila, Alzam.
Dia datang langsung meminum kopi Syila dan duduk merangkul Syila, Syila bersandar pada kakaknya.
“Acila kenapa?” Ternyata Andi si tukang pengaduan yang meminta Alzam datang.
“Nggak apa-apa.”
“Ketemu sama Dokter Kevin.”
“Ndi!” Syila kesal karena Andi penyebab kakaknya tahu.
“Jangan dibahas deh.” Syila makin tenggelam di pelukan kakaknya.
“Cila cuma perlu sabar aja, setelah urusannya dengan wanita itu selesai, Cila bisa berada di sisinya lagi.” Terkadang Alzam bisa menjadi begitu kejam jika soal adiknya.
“Tidak ada yang tahu soal jodoh, maut dan nasib seseorang, gue cuma nggak mau berharap lebih, itu aja.”
“Eh Zam, mau liat nggak, itu si Om yang gue ceritain, lagi bawa cowoknya tuh.” Andi kembali bergosip.
“Mana?” Dua lelaki ini ternyata benar-benar menyebalkan, bukannya tertarik pada keceriaan Syila yang pudar karena bertemu Dokter Kevin, tapi malah sibuk ngurus Izraa.
Syila kembali sibuk dengan lamunannya.
Sementara dari dekatnya, Izraa juga sedang membicarakan Syila.
“Dia penulsi yang gue ceritain,” Kata Izraa.
“Oh itu yang buat karir lu naik lagi? Masih kelihatan ….”
“Kecil?” Izraa menebak.
Karena bagi Izraa Syila memang seperti anak kecil, bukan seperti seorang wanita, seperti wanita-wanita lain, tidak ada bedanya.
“Trus kapan mulai bikin tesis lagi Za?” satu-satunya sahabat Izraa di dunia ini mengingatkan.
“Tesis? Gua aja lupa kalau gue harus bikin tesis.” Izraa tertawa.
“Za, kapan pulang?” Sahabatnya itu riba-tiba merubah mimik wajahnya menjadi suram.
“Gus, ngomongin yang santai aja ya.” Izraa meminta Bagus berhenti membicarakan keluarganya.
“Yaudah, mau ngomongin apa? gimana lawan main lu di film itu? cantik?”
“Biasa aja.”
“Kalau gitu, yang cantik anak kecil itu?” Bagus meledek Izraa.
“Apalagi dia, buat gue, dia cuma anak kecil yang cerdas, kecerdasan otaknya membuat gue tertarik.”
“Ya, awalnya cuma tertarik sama otak, lalu tubuh trus nikah deh.”
“Busyet, jauh amat, nggak lah, nggak mungkin.” Izraa menyangkalnya, dia lupa bahwa bukan dia yang menentukan takdir seseorang.
Bagus memang tidak tahu penyakit Izraa, karena hanya Izraa dan Dokternya saja yang tahu.
…
“Pagi.” Izraa datang tepat waktu ke lokasi syuting, semua sudah berkumpul, mereka akan doa dulu, baru memulai syuting, biasanya seperti itu, Syila juga hadir hari ini. Tapi dia terlambat karena semalam pulang larut sekali.
“Cil, lu nggak pake kaos kaki?” Andi mengingatkan, karena terburu-buru Syila lupa memakai kaos kaki, walau cara berpakaiannya belum gamis panjang, tapi dia sebisa mungkin menutup kakinya dengan kaos kaki.
“Nggak apa lah, kan gue pakai celana kulot lebar, nggak keliatan juga kaki gue.”
“Yaudah sana, udah selesai pada doa tuh, ntar si Om marah-marah lagi karena lu telat.”
__ADS_1
“Padahal gue bukan pemain, tapi bisa-bisanya dia marah kalau gue telat, yang harusnya marah kan gue ya, Ndi?”
“Iya kali, gih sono.”
Syila bergegas berlari ke lokasi syuting, Izraa, Hanum dan Bang Aryo sedang berdiskusi.
“Bang, sorry.” Syila ikut bergabung.
“Syil ini adegan yang cukup sulit buat Izraa, kita sih udah pastiin slingnya aman, tapi lu liat ya, peradegan, apakah cukup atau nggak?” Bang Aryo berkata.
“Iya Bang, jujur kalau adegan action gue juga butuh pendampingan.”
“Za, lu yakin nggak mau pake stuntman?” Bang Aryo bertanya lagi.
“Bang, lu kan tau, gue nggak pernah pake pemeran pengganti.”
“Tapi bahaya Yo, lu kan nggak ada basic untuk adegan lumayan bahaya ini, walau gue tau elu jago bela diri, tapi ini lebih ke akrobatik, Za.”
“Gue bakal hati-hati dan berusaha sebaik mungkin, Bang. Tapii, pastiin alat semua aman.”
“SIap Za.”
Lalu syuting dimulai. Mereka sudah memasang sling di tubuh Izraa, karena adegan beladiri ini cukup berbahaya, dimana peran utama akan bertarung tapi dengan gerakan yang cukup luwes makanya harus pakai sling karena lompatan-lompatannya akan lebih dramatis.
“Action!” Sutradara memulai syuting, Izraa yang telah berlatih sebelumnya begitu luwes, dia membuat semua orang terpana dengan gerakan yang begitu hebat.
Syila tersenyum puas, hingga beberapa detik adegan akan dihentikan, tiba-tiba salah satu tali sling yang menahan tubuhnya untuk berayun putus … semua orang berteriak, Izraa berpegangan pada satu tali lainnya, tapi tiba-tiba tali itu juga ikut putus.
Brak ….
Izra jatuh ke tanah dengan jarak yang lumayan tinggi.
“Astagfirullah!” Syila berteriak, semua crew mendekati Izraa, Syila terdiam di tempatnya, dia gemetar, baru kali ini dia melihat seseorang kecelakaan kerja.
“Cil!” Andi memeluk Syila, sementara yang lain buru-buru membawa Izraa ke ruangan yang dijadikan klinik darurat.
Hanum menangis melihat itu dan menghampiri Syila, dia mendorong tubuh Syila sembari berkata kasar.
“Ini semua gara-gara lu."
“Apa-apaan sih, lu!” Andi tidak terima adiknya di dorong kasar begitu.
“Kalau lu nggak kekeh minta adegan ini dimunculkan dan minta Bang Aryo nyiapin semua alatnya mendadak, Izraa nggak akan celaka!”
Hanum masih menunjuk-nunjuk Syila.”
“Heh perempuan! Lu tahu nggak, Syila cuma pengen filmnya sempurna, nggak ada maksud nyelakain orang.” Syila kalut, hingga tak mampu membela dirinya.
“Sempurna yang egois, hingga membuat orang celaka! Kalau Izraa kenapa-kenapa, gue pastiin karir lu sebagai penulis bakal selesai!” Hanum mengancam, Syila mendengar itu menatap Hanum dengan tajam.
“Kalau lu segitu khawatirnya sama Izraa, seharusnya lu liat keadaannya sekarang, bukannya malah nyerang orang, tujuan lu ngomong gini apa? cuma buat nyerang dan jatuhin gue?! percayalah, gue nggak cuma sekali ketemu orang macem lu dan gue selalu bisa hadepin orang macem lu! kalau lu bilang bakal berentiin karir kepenulisan gue, gue bakal bikin elu out dari film ini, percayalah, gue bisa bikin itu jadi kenyataan!” Syila meninggalkan Hanum yang terlihat kesal karena Syila masih saja galak walau sudah terlihat merasa bersalah.
Syila menghampiri Izraa di ruangan yang dijadikan klinik dadakan, sudah ada dokter di sana.
“Gimana Bang?” Syila bertanya pada Sutradara.
“Lagi di cek Syil, kakinya keliatan lumayan parah.” Syila lemas.
“Kita harus bawa dia ke rumah sakit, Bang?”
“Nggak tau, tunggu nanti, bisa-bisa syuting terhambat nih, Syil, ganti pemeran kali ya?”
“Bang! lu gila! orang celaka malah lu ngomongin kerjaan!” Syila kesal, kenapa semua orang bersikap begitu di saat seperti ini, tidak ada yang memikirkan keadaan Izraa sesungguhnya, mereka hanya perduli pada syuting ini.
“Sstt, Syil jangan tereak—tereak , ah, gue kan cuma kasih jalan keluar aja.”
“Tunda syutingnya sampai Izraa pulih, gue pastiin, nggak akan ada yang bisa bisa gantiin dia di peran ini.” Syila mengatakannya dengan pelan tapi penuh penekanan, Bang Aryo terlihat kesal.
“Terserah lu, gue mana pernah lu dengar sih, Syil.” Bang Aryo pergi dari lokasi.
Syila menunggu Dokter selesai mengecek keadaan Izraa, Syila ingin memastikan Izraa baik-baik saja.
__ADS_1