
“Kak! Kebetulan sekali, kenalkan ini Kevin, dia ... tunanganku.” Sofia mengenalkan kekasihnya yang sudah duduk di sampingnya, sementara Izraa akhirnya mengambil bangku lain untuk duduk bergabung di meja itu, Syila bersyukur kekasih palsunya datang. Karena moment ini sungguh sangat tidak menyenangkan.
“Aku sudah kenal, kau tidak pesan kopi?” Izraa menawarkan kopi pada Kevin.
“Sudah pesan teh, pesananku belum datang,” Kevin menjawab.
Pesanan Izraa sudah duluan, tentu saja, dia kan pemilik kafe, pasti duluan, sedang punya Kevin belum sampai,
“Kenal di mana?” Sofia bingung, kenapa dia sudah kenal Kevin, sama seperti Syila.
“Kau kan tahu kalau papinya Syila ada Direktur di rumah sakit keluarga kita, aku beberaa kali ke rumah sakit untuk bertemu dengan papinya, kebetulan Kevin di sana juga, jadi ya kami berkenalan.” Izraa juga berbohong seperti Syila. Tentu saja, adiknya tak boleh tahu, bahwa perkenalan mereka adalah dulu ketika Kevin menyusul Syila ke lokasi Syuting, padahal mereka sudah putus dan Kevin sudah menjalin hubungan dengan Sofia.
“Oh ya, sama seperti Syila berarti ya. Wah dunia ini sempit, ternyata tunanganku sudah kenal kakakku dan kekasihnya.” Sofia terlihat senang.
“Ya, aku baru tidak tahu kalau Izraa adalah kakakmu, kau belum pernah memberitahuku soalnya.”
“Hmm, jadi begini ....”
“Hubungan keluarga kami memang berat dalam kurun waktu yang cukup panjang, aku baru-baru ini pulang ke rumah karena keluargaku ingin bertemu Syila, KEKASIHKU! Selain itu, aku juga sengaja menyembunyikan status keluargaku dari publik, aku tidak pernah memberitahu bahkan agensiku sendiri tentang keluargaku, jadi tak heran kalau kau cari pun, kau takkan tahu aku kakaknya Sofia.” Izraa menjelaskan, dia tak ingin adiknya yang sulit menjelaskan hubungan keluarga mereka.
“Ya, aku juga tak pernah menyelidiki keluarga kekasihku, jadi wajar aku tak tahu.” Kevin berkata dengan dingin.
“Aku pikir, aku beruntung karena kau menjadi tunangan adikku, aku ingin berterima kasih karena itu membuat ... adikku bahagia.” Izraa tak benar-benar ingin mengatakannya, karena sebenarnya dia ingin mengatakan bahwa, dia beruntung kalau Kevin akhirnya bersama adiknya hingga membuat Syila patah hati dan tak memiliki kekasih.
“Tentu saja, aku memang berniat membuat adikmu bahagia.”
__ADS_1
“Itu niat yang bagus, karena kau tahu lah, walau hubungan kami sempat jauh, aku tetap saja terluka jika adikku terluka dan aku takkan membiarkan siapapun membuat adikku terluka, aku ini pendendam.” Izraa membalas dengan lebih dingin.
Sofia tahu, keadaan ini membuat suasana ini terasa kikuk.
“Duh kak, Kevin nih orang yang baik, dia seorang Dokter yang sangat berdedikasi tinggi.”
“Tentu saja aku tahu, Sofia. Makanya ku setuju jika kau menikah dengannya, tapi aku pikir, mungkin aku dan Syila yang akan duluan, karena uang pelangkahku mungkin mahal jika kau ingin menyalip.”
“Loh kok gitu.” Sofia terlihat menggemaskan saat merengek, “kan Syila juga punya kakak, seharusnya dia juga kan melangkahi kakaknya dong?”
“Nah kau tahu lah, masih panjang perjalananmu, Dik. Pertama kakaknya Syila dulu menikah, lalu aku dan Syila, setelahnya MUNGKIN kau dan Kevin, jadi, kau tidak keberatan kan menunggu lama?” Izraa berkata dengan melihat ke arah Kevin.
“Tentu saja, aku hanya menyerahkan masalah ini pada Sofia dan keluarga kalian, karena untuk masalah teknis aku sulit fokus, aku harus ....”
“Tetap saja, seharusnya kau tidak boleh acuh, karena urusan pernikahan itu bukan hal yang sepele.” Syila berbicara kali ini.
“Sofia! Pernikahan itu urusan darurat loh, kau tidak boleh selalu memikirkan orang lain sementara dirimu menjadi terluka, nggak boleh! Kau harus memperjuangkan hakmu sebagai calon istri.” Syila tak terima Sofia santai sekali menghadapi kecuekan Kevin, karena jujur, saat sama Syila Kevin pun cuek dan itu benar-benar menyakitkan bagi Syila yang memiliki keadaan sehat, tidak bisa dibayangkan saat itu harus dihadapi Sofia yang dalam keadaan tidak sempurna secara fisik, apa itu tidak membuatnya merasa tidak dicintai?
“Iya-iya calon kakak iparku yang baik hatinya, kau baik sekali memikirkan apa yang baik untukku dan tidak, tapi untuk pekerjaan Kevin, aku anggap itu resiko, karena aku mencintai seorang Dokter, maka aku harus terima bahwa aku akan selalu diduakan dengan pasiennya.”
“Jangan bicara sembarangan, kalau kau benar diduakan, Kevin pasti takkan hidup tenang.” Izraa kembali menyerang Kevin.
“Karena aku ingin hidup tenang, maka aku berusaha untuk tetap setia. Tapi, apakah nilai kesetiaan itu sama dengan yang kau pegang? Seperti misalnya masalah yang kalian hadapi, apakah tanganmu sudah membaik? Aku dengar dari papimu kalau kalian sempat terancam bahaya karena wanita lain?” Kevin si sok tahu kembali menyerang Izraa.
“Wanita lain, tapi bukan selingkuhan, wanita itu bahkan teman kami berdua, ya kau tahu, terkadang banyak orang PURA-PURA BAIK, padahal menyembunyikan hati yang busuk. Beruntung saat itu Syila datang dan ... akhirnya harus terluka karena menyelamatkanku, cintanya sangat besar, dia melawan rasa takut karena takut aku terluka, ya kan sayang?” Izraa menatap Syila yang ikut pura-pura kalau mereka sepasang kekasih, Syila teringat bahwa dulu dia sempat memberitahu Kevin bahwa dia tak benar-benar pacaran dengan Izraa, tapi sekarang dia ingin Kevin tahu, kalau Izraa benar kekasihnya, harga diri di depan mantannya harus diselamatkan.
__ADS_1
“Ya sayang.” Syila menjawab, Andi melihat itu tersenyum karena perutnya tergelitik, melihat dua orang yang seperti kucing dan anjing itu akur dan saling panggil sayang.
“Tapi itu tindakan gegabah, seharusnya kau menunggu Polisi agar semua aman.”
“Kalau aku menunggu Polisi, maka leher Izraa sudah selesai digorok, jika saja aku tidak gegabah, kita semua mungkin sudah ada di pemakaman Izraa hari itu dan mungkin juga aku akan menyusul karena rasa bersalah. Aku hanya memilih resiko yang paling kecil dari banyak kemungkinan yang paling besar bahayanya, maka aku mengambil kesempatan ini untuk membuat wanita itu teralihkan.”
“Wah, aku tidak menyangka bahwa kalian BENAR-BENAR pasangan yang sangat saling mencintai.” Kevin menyindir Syila yang dulu ngotot mereka hanya pacaran bohongan.
“Tentu saja, kau pikir apa lagi yang mampu membuatku mengorbankan diri selain cinta? Masa uang? kan kau tahu, aku bukan dari keluarga yang kekurangan hingga serakah karena uang, bahkan papiku menjalin kerjasama dengan keluarga Izraa, tentu saja motifku hanya cinta dan takut kehilangan, tak ada yang lain.”
“Sama seperti yang aku dan keluargaku lakukan untuk Syila saat ini, membangun perusahaan itu untuk Syila, bukan proyek balas budi, tapi proyek taman bermain, aku ingin kekasihku menjadi senang dan bisa bersenang-senang sementara rencana pernikahan kami juga masih dibicarakan. Tidak ada salahnya menciptkan taman bermain yang menguntungkan untuk kekasihku agar dia merasa bahagia, niatku membahagiakannya terefleksi dengan apa yang aku lakukan.” Izraa langsung menyerang pada titik paling utamanya, perkataan Kevin tentang proyek balas budi pasti menyakiti Syila, makanya dibalas langsung oleh Izraa.
“Wah taman bermainmu mahal sekali Syila, kakakku sepertinya memang tergila-gila padamu. Saat banyak kekasih bahkan hanya memberi bunga dan makan malam romantis saja untuk membahagiakan kekasihnya, kakakmu malah melakukan hal gila dengan membangun perusahaan untuk membuatmu bahagia. Kau memang wanita yang sangat luar biasa.” Sofia terlihat senang, karena bisa kenal dengan wanita yang membuat kakaknya berubah.
“Dan dia berhasil, aku bahagia setiap hari datang ke taman bermain kami yang bisa bermanfaat untuk banyak orang, seperti kau bilang kalau kau bahagia saat Kevin harus membagi waktu dengan pasiennya, aku bahagia ketika aku yang dalam keadaan terbatas ini masih bisa bermanfaat untuk orang yang punya cita-cita yang sama denganku, yaitu menjadi penulis yang mampu membuat karyanya dikenal banyak orang dan menginspirasi lebih luas.”
“Aku tak sabar untuk bisa selalu mengobrol denganmu Syila, nanti saat kau sudah menikah dengan kakakku, keluarga kami akan ramai karena kau pasti tinggal bersama kami kan.” Sofia berkata hal yang membuat Syila terkejut.
“Apa? gimana?”
“Tentu saja itu hanya harapan orang tuaku Syila, kau tahu lah kalau mereka terkadang berlebihan, tenang saja, kalau kau tidak suka, kita bisa membeli rumah atau apartemen yang ingin kau tinggali setelah menikah, jangan terlalu terbebani dengan perkataan adikku.”
“Ya, tentu saja.” Syila mulai khawatir, kenapa seolah ini semua sudah pasti, ini kan hanya omong kosong baginya karena dia tak benar-benar memikirkan pernikahan itu, baginya obrolan saat ini hanya sebagai ajang membela harga diri saja di depan Kevin.
“Kita memang harus sering ngumpul gini sih, biar bisa deeptalk dan saling kenal.” Andi yang sedari tadi diam akhirnya berkata, “toh sebentar lagi kita jadi saudara kan?”
__ADS_1
Langit semakin gelap, mereka masih terus mengobrol, Syila benar-benar merasa lega karena ada Izraa yang beberapa hari ini dingin dan sekarang membelanya.