
Syila terbangun, dia sempat merasa pusing sekali, kepalanya berat, dia sempat lupa apa yang terjadi sebelumnya, begitu dia ingat bahwa Izraa tadi ada di sini, dia melihat sekeliling apartemennya, tidak ada tanda-tanda Izraa di sana, Syila merasa lega.
Saat mengusap kepalanya, dia baru sadar, dia sudah tidak menggunakan jilbab lagi, dia buru-buru memeriksa bajunya, lengkap, tapi kenapa dia merasa sakit pada bagian pribadinya, jantungnya terasa bergemuruh, keringat dingin mengucur, dia buru-buru ke kamar mandi untuk memastikan sesuatu.
Saat di kamar mandi, dia tidak melihat apapun yang aneh, semua pada tempatnya, tapi nyeri pada bagian pribadinya tetap terasa, dia mulai menangis, membayangkan apa yang telah Izraa lakukan selama dia tertidur, lagian kenapa juga dia mereasa kantuk yang sangat saat Izraa datang tadi, tidak mungkin Izraa memberi sesuatu pada gelas minumannya karena ini apartemen Syila semua minuman dan makanan Syila yang siapkan.
Tapi dia merasa aneh karena bisa mengantuk dan bahkan tidak bisa bergerak saat Izraa menggendongnya ke kamar.
Dia harus memastikan apakah saat ini dia menjadi korban pelecehan atau tidak, tapi dia harus kemana? Syila buru-buru kembali ke ruang tamu dan membuka laptopnya, dia harus mencari tahu, kira-kira dia harus kemana untuk memastikan bahwa dirinya masih … perawan atau tidak.
Setelah mengetahui harus pergi ke mana, Syila bersiap, tentu dengan pakaian yang biasa dia pakai, bukan pakaian yang bercadar, itu jelas bukan sesuatu yang akan Syila kenakan, itu hanya untuk menghindari Izraa.
Sudah sampai di rumah sakit, ini rumah sakit kecil, Syila sengaja ke sini karena ingin melakukan pemeriksaan areal pribadinya dengan hati-hati.
Dia masuk mengambil nomor dan menunggu, dia harus bertemu dengan seorang dokter spesialis kebidanan atau dibilang SpOG.
Setelah Melewati beberapa proses administrasi akhirnya tiba giliran bertemu dengan SpOG yang saat itu sedang bertugas. Dia masuk dengan diantar seorang perawat perempuan, saat masuk ruangan ada seorang Dokter lelaki, Syila menakar umurnya sekitar empat puluh tahunan.
Dia duduk di hadapan Dokter tersebut yang terpisah dengan meja.
“Jadi apa keluhannya?” Dokter Ichsan, nama yang tertera pada jas Dokternya bertanya.
“Hmmm.” Syila sedikit gugup menjelaskan.
“Ini dengan Mbak Syila ya, keluhan yang dirasakan saat ini apa, Mbak?” Dokter itu mengulang pertanyaan.
“Begini Dok, saya ….” Syila ragu, dia bingung harus menjelaskannya dari mana. Tidak mungkin dia menceritakan kalau curiga diperkosa, bisa-bisa jadi urusan Polisi.
“Sudah di tensi ya tadi?” Prosedur standar yang harus Syila lakukan sebelum bertemu Dokter, sepertinya Dokter Ichsan sedang mencoba menenangkan Syila agar segera mengungkapkan keluhannya.
“Sudah Dok.” Perawatnya datang memberikan hasil pemeriksaan tensi darah Syila. Dokter melihat hasilnya dan berkata, “agak tinggi ya, kenapa? kamu gugup?” Dokter itu mencoba lagi.
“Begini Dok, sa-saya … saya ingin memeriksa … memeriksa ….”
“Ya? periksa apa?”
“Saya ingin memastikan apakah saya … saya ….”
“Ya, Anda kenapa?”
“Apakah … saya masih … pe-perawan, Dok?” Akhirnya Syila mengungkapkan apa yang dia maksudkan dari tadi dan tujuan dia datang ke rumah sakit ini.
“Oh, baik.” Dokter itu berkata dengan tenang, seperti itu adalah hal yang biasa, tidak ada tatapan curiga atau menyelidik.
Perawat menyiapkan tempat tidur untuk pemeriksaan, tapi Syila dan Dokter masih harus membicarakan lebih jauh dulu.
“Mau masuk Kepolisian atau TNI?” Dokter itu bertanya sembari terus mencatat, entah apa yang dicatat, dia bertanya pertanyaan standar saja, biasanya alasan seseorang memeriksa keperawanan selain tindak pelecehan seksual, tentu saja mau tes masuk Kepolisian atau TNI.
“Nggak Dok.” Syila menjawab singkat.
“Ada alasan khusus untuk melakukannya?” Mimik wajah Dokter itu menjadi serius dan menatap Syila, kalau memang bukan karena mau tes instansi tertentu, berarti indikasinya adalah pelecehan.
“Tidak hanya ingin tes saja.” Syila menunduk.
“Apa ada rencana menikah dalam waktu dekat sehingga harus melakukan pemeriksaan ini?” Dokter itu tidak salah, dia harus menggali lebih dalam untuk memastikan bahwa dia bisa menolong Pasien dengan maksimal.
“Belum Dok.” Syila menatap Dokter dengan tatapan memohon, jangan tanya lagi Dok, itu yang Syila katakan dalam hati.
__ADS_1
“Apakah ada … tindakan kekerasan?” Dokter itu akhirnya terpaksa bertanya lebih jauh.
“Tidak Dok!” Syila buru-buru mengkoreksinya, dia memang tidak berencana melaporkan ke Polisi, apapun yang terjadi, Papi bisa menggorok lehernya jika masalah ini sampai ke publik, saat ini Papi sedang bangun karirnya, Syila tidak ingin namanya menjadi tercoreng karena kasus ini.
“Saya akan mencoba membantu anda sebaik mungkin, jadi bisa tolong bantu saya untuk mampu menilai keadaan Anda secara tepat, kalau Anda tidak memberitahukan keadaan Anda dengan detail, saya bisa saja memberikan kesimpulan yang salah.” Masuk akal, Syila mengerti akhirnya, dia harus memberikan alasan.
“Saya … saya jatuh Dok, dari sepeda, lalu saat jatuh itu, saya merasa organ intim saya sakit, lalu ada bercak darah, saya takut itu membuat saya menjadi tidak perawan lagi.” Syila berusaha mengucapkannya dengan sungguh-sungguh, sehingga terlihat jujur. Karena bagian dia bilang bahwa ada bercak darah hanya sebuah cerita pendukung agar pemeriksaan ini masuk akal dengan alasannya.
“Oh, baik. Memang banyak kasus seperti itu, tenang saja ya, hasil pemeriksaan bisa menjadi bukti jika selanjutnya kau akan menikah dan perlu membuktikan bahwa pernah terjadi kecelakaan, yaudah, ikut saya ke ranjang, biar saya mulai periksa, ya.”
Syila dituntun oleh Perawat yang dari tadi membantu Dokter, Syila dibaringkan di tempat tidur, lalu Perawat itu membantu membuka celana Syila, tempat tidurnya khusus, Syila harus menaruh kakinya pada bagian atas penopang kaki, sehingga posisi Syila seperti akan melahirkan, posisi ini untuk membuka areal intimnya agar bisa dilihat dengan leluasa oleh SpOGnya.
Saat sudah pada posisi sesuai prosedur, Dokter duduk di hadapan kaki Syila, Syila sedikit kikuk, tapi dia tahu bahwa Dokter sudah disumpah jadi selalu melakukan apapun berdasarkan profesionalitas saja.
Pemeriksaan dilakukan dengan alat bantu spekulum, alat ini untuk membuka bagian intim menjadi lebih lebar, setelahnya Dokter akan memeriksa apakah selaput masih utuh atau tidak.
Pemeriksaan terjadi selama hampir dua puluh menit, Dokter tidak mengatakan apapun saat pemeriksaan.
Setelah selesai, Syila dibantu lagi memakai celananya dan setelah itu menemui Dokter di mejanya lagi.
“Baik Mbak Syila, semuanya baik-baik saja, bahkan tidak diketemukan memar atau luka traumatik pada areal tersebut, selaput masih utuh.”
“Ja-jadi, saya masih perawan Dok?” Syila seperti tidak percaya.
“Ya, betul Mbak.”
“Tapi kenapa saya merasa sakit pada bagian intim saya Dok?” Syila bertanya.
“Mungkin sudah dekat dengan jadwal haid, apakah ketika haid mengalami syndrome premenstrual? Atau nyeri pada perut dan bibir kelamin?”
“Yasudah, itu alasannya. Mungkin Anda gugup jadinya lupa tentang itu.”
“Iya sih Dok, bisa jadi.”
Syila merasa bodoh sekali, kenapa dia lupa bahwa saat ini memang dekat dengan jadwal haidnya, saat haid Syila memang selalu merasakan sakit pada perut, pinggang dan bagian intimnya, pasti karena curiga dengan Izraa makanya dia tidak memikirkan kemungkinan itu.
Pemeriksaan selesai, hasil pemeriksaan sudah diberikan kepada Syila, dia keluar dengan perasaan yang senang, sebelum ke sini, dia tadi juga sudah memeriksa setiap inci tubuhnya, dia ingin melihat, apakah Izraa melakukan hal lain pada tubuhnya, tapi semua tampak baik-baik saja, tidak ada memar atau bercak merah, tanda yang ditinggalkan saat seseorang melakukan ciuman kasar.
Syila lega dan senang, Izraa tidak melakukan hal rendah padanya.
“Syil!” Seseorang memanggilnya dari belakang saat dia sedang berjalan ke arah luar rumah sakit. Syila menoleh dan ….
“Dokter Kevin?!”
“Hei, abis periksa? Kamu sakit?” Dokter Kevin memegang bahu Syila.
“Nggak Dok, cuma periksa rutin aja.” Syila berbohong, lagian kenapa Dokter ini ada di sini, ini bukan tempat prakteknya.
“Oh, lain kali, hubungi aku kalau kamu mau cek lab ya, nanti aku bantu, jadinya nggak perlu antri tinggal datang aja.” Dokte Kevin menawarkan bantuan.
“Nggak usah Dok, ini juga kebetulan aja, kok Dokter di sini?”
“Iya, lagi ada yang butuh, ada Pasien darurat kecelakaan dekat sini, Dokter spesialisnya nggak ada, jadi aku ditransfer sementara waktu.”
“Oh gitu.” kenapa bisa kebetulan sekali sih, Syila kesal sendiri.
“Mau makan siang bareng? Aku free sekarang.” Dokter Kevin mengajak.
__ADS_1
“Nggak Dok, makasih ya.” Syila hendak pergi.
“Apakah berteman saja kita tidak bisa sekarang?”
Syila berhenti dan mengurungkan niat untuk pergi, dia berbalik lagi menghadap Dokter Kevin.
“Kita berteman kok, tapi kan, temenan tidak harus makan siang bareng.” Syila tersenyum.
“Syila kau yakin tidak menyukainya seperti yang kau katakan?”
“Apa maksudmu?” Dokter Kevin melewati batas.
“Izraa. Semenjak kau bergaul dengannya, kau banyak berubah.”
“Berubah bagian mananya? Sudah berani menolakmu?” Syila menatapnya dengan tajam, hal yang tidak pernah dia dulu.
“Syil maaf, saya cuma mau ….”
“Bukankah seharusnya saya melakukan itu dari dulu, tau diri, bahwa saya hanya cadangan.” Syila berjalan pergi meninggalkan Dokter Kevin yang terkejut dengan perubahan Syila.
[Dia sudah mencintai lelaki lain sepertinya, kukira dia akan bertahan sampai aku kembali.] Dokter Kevin berkata dalam hatinya dan memandang punggung gadis itu dengan tatapan kecewa.
Syila masuk ke mobilnya, dia menutup pintu mobil dengan membantingnya, masalah Izraa belum selesai, Dokter Kevin menambah kesal harinya, bertemu dengan Izraa saja sudah begitu menebalkan, ditambah bertemu dengannya, sungguh bikin kesal.
Syila tidak sadar bahwa fokusnya sudah benar-benar teralihkan pada lelaki lain, walau sebenarnya bukan sesuatu yang bisa disebut cinta juga.
…
[LIMA JAM LALU]
“Bagaimana bisa seorang model tidak terlihat cantik, tapi kau yang hanya seorang penulis dengan umur yang begitu muda terlihat sangat menggairahkan?” Izraa mengatakannya, Syila sudah tertidur sempurna.
Izraa menatap wajahnya terus, dia mengusap kepalanya, mencium keningnya dan merasakan harum Syila dengan sangat dalam.
“Kau harum sekali Syil, lihat, melihatmu masih tertutup sempurna saja, hasratku muncul, dulu, wanita tanpa busana sama sekali tidak mampu membuatku tertarik.”
Izraa membuka jilbab Syila, melihat rambut ikal Syila yang hitam kemerahan, pasti bukan karena diwarnai, ini rambut aslinya.
“Cantik sekali, rambut ini, wajah ini dan tubuh sampai kaki itu, kenapa kau begitu menggairahkan sekali sayang?”
Izraa hendak membuka kancin gamis Syila, tapi terhenti.
“Allah, Allah, aku mohon jangan, ya Allah.” Syila bergumam, walau suaranya lemah tapi tegas terdengar.
Tiba-tiba tangan Izraa terasa kaku, ada rasa malu yang menyelusup ke dalam hatinya, perasaan tidak nyaman apa ini? Izraa lalu menatap wajah Syila yang sangat cantik di matanya.
Wajahnya begitu teduh, jika Izraa melakukan hal rendah, pasti wajah itu akan rusak oleh kesedihan dan rasa malu, Izraa melepas pegangannya pada baju Syila, dia merebahkan Syila pada posisi yang nyaman, dalam pikirannya, dia ingin sekali melihat tubuh itu secara utuh dan merasakan kenikmatan yang selalu mereka katakan mampu menukar apapun demi kenikmatan tersebut, tapi entah kenapa, Izraa menjadi malu saat ingin melakukan itu, dia merasa bahwa dirinya tidak serendah itu.
Dia keluar apartemen Syila, wajahnya terlihat datar dan pikirannya kosong.
____________________________
Catatan Penulsi :
Aku tidak pernah tahu, bahwa ada manusia yang mampu aku cintai begitu hebat, ternyata ada manusia yang tidak mampu aku keluarkan dari pikiranku, bahkan ketika waktu terasa berat.
Aku tidak pernah tahu, bahwa kau begitu memabukkan.
__ADS_1