Cinta Gila Sang Aktor

Cinta Gila Sang Aktor
Bagian 101 : Jebakan 12


__ADS_3

“Syil, besok harus ke lokasi syuting ya, Izraa juga.” Andi dan Syila dalam perjalanan pulang, tadi sehabis makan siang, balik ke kantor dan bekerja lagi, setelah itu Andi yang akan mengantar Syila pulang, Izraa sudah pulang duluan sebelum mereka.


“Iya gue tahu, tadi Bang Aryo udah chat gue.” Syila menjawab.


“Izraa tadi syuting Syil, makanya pulang duluan.”


“Nggak nanya, Ndi.”


“Takut kalau lu bingung, kok Izraa pulang duluan ga nawarin lu pulang, jadi dia tuh tadi titip lu ke gue, karena jadwalnya lumayan padet minggu ini, karena kan serial kita udah mau tayang.”


“Ndi! Gue nggak nanya, kenapa lu jadi jelasin detail banget.”


“Syil, Jane tuh ganjen ya.”


“Duh, elu tuh ya, jangan ngomongin Jane di rumah ya, nanti mami jadi senewen lagi deh, ntar dia ngomong sama maminya Izraa minta dipecat kasihan!”


“Kok elu berasumsi kalau mami bisa nyuruh-nyuruh maminya Izraa buat mecat orang?”


“Dua ibu-ibu itu memang mencurigakan Ndi, mereka sepertinya sudah sepakat, sikap mami ke Izraa juga beda, lu nggak ngerasa, bahkan sikap lu juga udah beda.”


“Apa sih!”


“Gue tahu, menurut kalian Izraa orang terbaik bersama gue saat ini, tapi Ndi, coba pikir deh, niat kalian jodohin gue sama Izraa tuh apa sih? karena dia kaya? Ganteng? Terkenal? Atau karena kalian pikir, dia memang harus tanggung jawab karena sudah menjadi alasannya gue cacat?”


“Syil ah! Kurang-kurangin ngomong cacat-cacat mulu, elu masih terapi, tangan lu pasti bisa pulih, lu cuma harus sabar.”


“Bukan itu pertanyaan gue Ndi, pertanyaan gue dalah, apakah kalian niatnya tulus? Atau ingin ngejebak Izraa? Kalau dia ternyata nggak cinta sama gue? kalau dia selama ini cuma menganggap nggak ada perempuan yang bisa buat dia bergairah, makanya gue dianggap satu-satunya di dunia ini, trus tiba-tiba besok dia ketemu wanita lain? Sementara kami sudah menikah dan akhirnya kami cerai, siapa yang jadi korban? Gue juga kan Ndi? Termasuk Izraa, karena selama ini kita secara tak langsung, memaksa dia menanggung beban ini sendirian.

__ADS_1


Salah satu alasan gue mau menerima ini semua, karena gue mau keluarga Izraa tak merasa harus balas budi lagi, salah satu alasan gue sih sebenarnya, walau gue suka, tapi gue juga mau mereka mulai menerima bahwa, pernikahan kami, bukan jalan keluar untuk balas budi.” Izraa berkata dengan logikanya.


“Syil, kalau jodoh lu Izraa gimana? apa elu akan menolak?”


“Sama seperti kebalikannya Ndi, gue nggak akan pernah menolak, dia jodoh gue atau bukan, gue akan terima kok. Tapi kan, ini hati gue aja masih belum condong Ndi, maksudnya ... gue nggak ngerasa selalu butuh Izraa dan sedih saat dia nggak sama gue, bahkan nggak takut kehilangan dia saat banyak wanita suka sama dia. Jadi ....”


“Nggak Syil, lu nggak bisa ambil kesimpulan bahwa lu nggak cemburu, lu nggak cinta, karena Izraa memberi lu rasa aman sepenuhnya, lu tahu Izraa nggak akan pernah berpaling, dalam dunia percintaannya, elu adalah tokoh utama, nggak ada second lead, semua hanya figuran tak berarti, baik perempuan maupun laki-laki bagi Izraa, itu membuat lu merasa aman, lu akan cemburu kalau ketemu lawan yang tepat, Jane bukan lawan lu, walau Jane itu sangat cantik, tapi kau tahu, Izraa suka berbicara dengan orang yang cerdas, sedang Jane hanya mengandalkan tampilan, Izraa bertemu banyak wanita yang lebih cantik di lokasi syuting, tapi perempuan cerdas dan membuatnya bergairah, hanya lu, makanya lu nggak ngerasa insecure, akhirnya rasa cemburu itu nggak ada.”


“Kejauhan ah, Ndi. Yang gue yakin saat ini hanya, gue nyaman berteman dengannya, buat gue Izraa itu keluarga, karena kami mengalami banyak kesulitan bersama dan keluarga kami saling kenal, maka gue menganggapnya seperti elu dan Alzam, tak pernah membayangkan kami tidur di tempat tidur bersama, tak ada gairah itu Ndi. Masih milik Kevin sepertinya hati ini.”


“Amit-amit, nggak suka gue ama itu orang, mening Izraa kemana-mana deh!” Andi kesal mendengar nama itu, tapi Andi tak tahu soal Winda atau Sofia adalah kekasih Kevin, calon adik ipar Izraa yang dia ketahui baru-baru ini, karena sudah lamanya dia putus hubungan dengan keluarga akibat kecewa karena membiarkan Sofia menjalani operasi amputasi kakinya tanpa dukungan orang tua, memilih bisnis dan meninggalkan dua anak yang masih belum dewasa, sejak itu Izraa memutus hubungan mereka dan bahkan tidak menerima support keuangan dari keluarganya, mencari urang sendiri, untung dia memliki warisan wajah yang tampan hingga bisa menjadi artis terkenal.


Pembicaraan selesai, lalu mereka berdua terdiam menikmati senja dan mengarah pulang ke rumah Syila.


Sementara Izraa di lokasi syuting.


“Iya Bang, gue cuma pengen cepet selesai aja, karena harus fokus ke perusahaan Syila.”


“Jadi ... hubungan kalian sejauh itu?” Bang Aryo tiba-tiba bertanya, semua orang sedang mengerjakan lokasi agar bisa sama seperti terakhir syuting.


“Ya, kami akan segera menikah.”


“Wah, nggak nyangka gue, dulu tukang berantem, tahunya menikah.”


“Yah, namanya hidup, siapa yang sangka gue bakal nikahin wanita yang sama sekali nggak buat gue tertarik, dia itu dulu juga galak, main pukul karena merasa bisa silat, padahal badannya mungil gitu. Mentalnya gede, tapi kemampuannya nggak sehebat itu.” Izraa ingat ketika dulu Syila sok menantangnya duel.


Bang Aryo tertawa ngakak, “Pasti elu terpikat sama kecerdasannya kan Za? Dia itu emang pinter banget, walau setiap kali gue ngobrol, gue ngerasa pikirannya terlalu klasik untuk umurnya saat ini, kayak ngeliat orang tua terjebak ditubuh anak remaja gitu, kan lu tahu, badannya mungil tapi dewasa banget.”

__ADS_1


“Ya, kecerdasan dan tentu saja, karena dia cantik.”


“Kalau itu kan tergantung selera Za, kalau mau ngomong cantik, Hanum lebih cantik, dia juga dulu kan sempat sangat mengejar lu, tapi elu pilih Syila kan?”


“Ya, Syila memang selera gue.”


Izraa sengaja mengatakan akan menikah dengan Syila, membuat gosip itu menyebar dengan cepat, membuat Syila terpojok dengan cepat, teknik yang mami gunakan dipakai oleh Izraa.


Syuting berjalan, sementara syuting berjalan, gosip tentang pernikahan mereka juga berjalan.


...


Pagi tiba, Syila dan Izraa tidak ngantor karena harus ke lokasi syuting, Izraa datang ke rumah dan diajak papi untuk sarapan, Alzam pergi pagi sekali karena ada jadwal operasi, Syila dan mami duduk juga di meja makan, mereka sarapan nasi goreng.


“Za, jadi syuting sampai kapan?” Papi bertanya.


“Dua bulan Om, kalau tidak ada tambahan jadwal lagi, karena Izraa harus membagi waktu juga untuk kantor.”


“Oh begitu.”


“Za, selesaiin aja syuting, kantor biar Syila yang jagain.” Syila berkata dengan santai sekali.


“Kau yakin? Bukannya kemarin kau bahkan bilang aku yang atur sistem intern kantor karena kau merasa tidak tertarik?” Izraa kesal karena Syila hanya ingin jauh darinya, itu pasti alasan Syila menyuruh Izraa tidak fokus ke perusahaan mereka.


“Za!” Syila kesal karena membuka hal itu.


“Kau gimana sih? katanya mau belajar bisnis, yang detail dong, gimana perusahaan jalan kalau kau pilih-pilih, kau harus atur semua, kecuali kebutuhan dapur, mungkin kau tak perlu atur karena ada OB, tapi kalau semua kebutuhan internal kantor, kau harus tahu, kalau kau banyak fleksibelnya, pasti kau gampang ditipu bawahan.” Benar saja papi marah, Syila melotot ke Izraa, tapi yang dipelototi tidak peduli, dia juga kesal karena Syila tak sadar, Izraa saat ini mengerjalan semua proyeknya, Izraa syuting serial, padahal dia adalah artis layar lebar, harus menurunkan kelas menjadi artis serial karena itu adalah novel milik Syila, lalu perusahaan itu, sungguh terlalu gadis ini!

__ADS_1


“Iya Pi, Syila kan cuma kasihan ama Izraa, takut Izraa kecapean.” Syila mencoba menyelamatkan muka karena dianggap tak serius oleh papi.


__ADS_2